My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 47 : Motor kesayangan


__ADS_3

Luna sudah mengarahkan dan memberikan tugas kepada Edwin selama dirinya tidak ada beberapa jam kedepan. Karena saat malam dia akan kembali ke markas untuk menyiapkan pertandingan besok dan tentunya akan membuat banyak orang haus akan darah.


"Jangan sampai ada yang tertinggal dan ingatkan mereka check barang yang akan dibawa masing-masing" jelas Luna dan melajukan motor merah milik William yang belum dia kembalikan.


"Siap laksanakan" lantang Edwin sambil melihat kepergian atasannya yang sudah menjauh dari parkiran markas. Detik berlalu sampai menit ikut berjalan bersama Luna yang mengendarai motor. Pakaian nya sudah berganti dengan pakaian santai karena pakaiannya kemarin berbau darah dan dia simpan di balik jok motor. Agar dirinya bisa mencuci nya di mansion miliknya.


"Sepertinya William akan mengomeli diriku karena motor yang merupakan pacarnya berbau darah busuk" Smirk Luna.


Motor Lina berhenti tepat di depan pagar mansion keluarga nya yang memiliki sistem keamanan yang sangat tinggi. Bahkan jika kau memegang pagar bisa-bisa tubuhmu akan menjadi gosong karena alat setrum yang terhubung di beberapa kawat yang diselipkan di besi kokoh.


kamera pengawas langsung mengintai dan memindai seseorang yang sedang ada dihadapan pagar. Hanya butuh waktu 1 menit gerbang mansion itu terbuka lebar. Saat kamera pengintai mengidentifikasi Luna Nypole. Di balik kamera pengawas ada beberapa penjaga yang menjaganya bahkan memiliki jadwal yang sudah ditentukan dengan rapi namun cukup disiplin.


Tangan Luna memutar pegangan gas motor merah milik William dan berhenti di depan pintu depan. Dengan beberapa orang yang sudah menyambutnya dengan senyuman dan pertanyaan.


"mom selamat datang!' girang Laura dan memeluk ibunya hangat. Navin menganggukkan kepalanya sekali sebagai tanda menyapa ivunya. dan dibalas oleh anggukan milik Luna. Bagaikan serigala yang sedang berlari dari pemburu William dengan cepat berlari menuju motor kesayangan miliknya.


Wooosh 🍂


"my darling" teriak William dan mengelus-elus motor miliknya.


"Thanks atas motor nya yang biasa saja" sindir Luna yang membuat William menatap tajam adik temannya tersebut.


"Jangan kau hina pacarku ini" ucap William tegas dan mengendus aroma motor kesayangan yang selalu dicuci hingga mengkilap. Tetapi bau tidak sedap seakan menusuk Indra penciuman miliknya. Dengan cepat Wiliam melepas kunci motornya dari lubang kunci dan membuka jok motor miliknya.


"Ahh motorku!" teriak William saat melihat pakai warna hitam yang dilumuri darah kering.


"Ah pelayan ambil baju itu dan jangan lupa dicuci" perintah Luna.


"baik nona muda" jawab Pelayan yang dengan cepat mengambil pakaian tersebut dan membawanya ke ruang pencucian.


"tidak motorku ternodai" teriak William saat melihat jok motornya yang terkena bercak darah.

__ADS_1


"kalau bernoda cuci saja" saran Luna enteng.


"tidak bi..."


"kau ingin ku sayat ya?" tanya Luna dengan senyuman nya. Tubuh William merinding seketika dan langsung memberikan gelengan cepat.


"tidak perlu tidak perlu" tolak William cepat. Navin yang melihat tingkah laku pamannya hanya tertawa kecil saat melihat pamannya William seperti kelinci dan ibunya seperti seekor singa.


"pfft" ejek Navin.


Luna menggengam kedua tangan milik navin dan Laura l


sambil membawa keduanya masuk ke dalam mansion meninggalkan orang yang akalnya sungguh harus diperhitungkan.



Dengan cepat William menarik lengan baju milik Rangga. Seperi anak kecil yang akan mengadu dengan orang tersayangnya.


"Hahaha sudah tau nyali tidak ada berani kau membangunkan singa yang sedang tidur" tawa Rangga.


"Sudahlah tinggalkan motormu disini nanti akan dicuci oleh para pelayan dan juga kamu ikut masuk atau menemani pacarmu dibersihkan?" tanya Rangga.


"Jelas saja ikut ke dalam" jawab Rangga dan berjalan bersama dengan Rangga ke dalam mansion. Di dalam mansion mereka sudah disambut oleh ruangan yang digunakan sebagai tempat berlalu-lalang nya para pelayan untuk melakukan tugas. Langkah kaki Rangga dan William menuju ruangan arah lurus dan berbelok ke arah kanan dimana ruangan itu terdapat ruang keluarga.


Pintu ruang keluarga dibuka sopan oleh para pelayan dan terlihat Luna yang sedang berbicara dengan pelayan kembar bernama Nana dan Nina.


"sister Neva, bagaimana?" tanya Luna datar.


"Tenang Nona muda pelayan Neva sudah terbiasa bekerja di area bagian dapur" jelas Nana yang menggunakan ikat rambut bewarna pink.


"Dapur?"

__ADS_1


"Iya nona karena masakan dan keahlian cukup baik membuat kepala pelayan meletakkan pelayan Neva di area bagian dapur" jawab Nina yang menggunakan warna ungu muda.


"Baiklah kalian bisa kembali ke pekerjaan kalian dan jangan lupa biarkan dia sebisa mungkin nyaman di mansion ini" tekan Luna di akhir katanya. Nana dan Nina menunduk hormat menjalankan tugas dari tuannya.


"Baik nona muda" jawab keduanya bersamaan dan pergi. Saat di depan pintu kedua kembar itu menunduk saat berselisih jalan dengan para tuan muda.


"Selamat pagi tuan muda semoga hari anda menyenangkan" sopan keduanya dan keluar dari ruang keluarga. Rangga dan William berjalan ke arah Luna, Navin dan Laura duduk di sofa.


"Ada apa Luna kau mengkhawatirkan seseorang?" tanya Rangga yang merasa jarang dengan sikap adiknya. Dengan senyum tipis Luna menatap mata kakaknya.


"Ya begitulah aku hanya tidak ingin membuat dia trauma karena sesuatu yang ku perbuat di Mexico" dingin Luna. Dirinya tidak ingin membuat Sister Neva merasa trauma dan dirinya juga tidak ingin membuat sister Neva berada di dalam bahaya. Apalagi banyak titik terang pembalasan dendam nya dimulai.


"Wow adikmu punya sikap pengasih juga" puji William sambil memakan biskuit dari toples di atas meja.


"Hoho William brother sepertinya lidahmu harus disikat dengan pisau" ancam Luna.


"Tenang bercanda-canda" kekeh William. Dia tidak akan membiarkan nyawanya hilang duluan sebelum dia menemukan kekasih bahkan Samapi sekarang saja di masih menjomblo dari lahir karena ketidaktarikan terhadap perempuan dan juga lingkungannya yang selalu diamankan.


"Mom bukannya mom ingin menjelaskan masalah itu" ucap Navin sambil menatap mata ibunya. Dia menginginkan penjelasan lebih detail tentang berita yang dia dapatkan dan bicarakan di telpon.


"masalah? masalah yang mana kak?" bingung Laura. Otaknya masih berada di titik loading apalagi dia baru bangun tidur dan langsung cuci muka karena ibunya akan datang.


"Baiklah mau masalah atau berita yang mana?" tanya Luna.


"Hutan" singkat Navin. Walau berita kebakaran hutan hanya masuk ke dalam peringkat 15 besar di website berita London dan tidak bisa mengalahkan berita keluarga Luxury tetap semua hal memiliki sangkut pautnya tersendiri.


"Eeeeeh!" seru ketiga orang yang ada di dekat Luna dan Navin saat mendengar berita tentang hutan. Karena jujur mereka sering minat info berita tapi yang trending dan tentunya mereka tidak tau berita yang sangkut pautnya dengan hutan.


"Berita apa itu?" tanya Laura yang sudah membangkitkan sifat keingin tauan nya yang tinggi.


__ADS_1


🔫Double up loh ini jangan lupa Like nya seimbang jangan enggak nanti gak bakal doubel/crazy up lagi loh *_*


__ADS_2