
"Silahkan masuk nona" sopan supir milik Leon.
"Nona Luna tunggu nona!" teriak lantang Kevin yang berakhir dengan nafas yang terengah-engah.
"Ada apa?" tanya Luna to the point.
"Ada yang ingin saya sampaikan tentang tadi" jawab Kevin.
"kan aku bilang kirim di nomorku saja" dingin Luna.
"Saya tau nona tapi saya khawatir" ucap Kevin pelan agar tidak terdengar oleh orang-orang milik Martin Company.
"Khawatir?" gumam Luna.
"Ya saya cuma ingin bertanya apa anda benar-benar ingin pulang dengan orang itu?" tanya Kevin sambil berbisik pelan. Kevin merasakan rasa curiga dan tidak percaya kepada Leonex Martin yang bahkan tidak pernah sekalipun perusahaan milik Nypole bekerja sama atau akrab dengannya. Yang ada hanyalah pelarian dan penjauhan dari Martin Company.
"Tenang saja Kevin, kamu tidak perlu khawatir" jawab Luna singkat dan berjalan masuk ke dalam mobil.
"Nona hati-hati" ucap Kevin sambil melambaikan tangannya. Membiarkan atasannya yang baru bersama dengan orang yang ternama yaitu Leonex Martin.
Di Dalam Mobil~
Suara air mengalir dari botol wine terdengar lembut dan membuat isi di dalam gelas bergoyang seirama. Leon memberikan red wine tersebut kepada Luna lalu mengecap lembut rasa yang ada di dalamnya.
__ADS_1
"Siapa dia?" tanya Leon dan menatap ke arah sebelahnya. Diamkan Luna meneguk lembut isi red wine yang memiliki keistimewaan itu. Aroma wine yang disimpan lebih lama membuat rasanya menjadi pekat dan harum wine yang harum memanjakan Indra penciuman miliknya.
"Apa kau sedang berbicara denganku?" tanya Luna balik. Dia sangat tidak peduli kepada orang yang ada di sebelahnya, karena yang dia pedulikan sekarang adalah rencana pemanfaatan Leon dan wine yang diterimanya ini.
"Bisakah kau sadar sedikit, di sini hanya ada aku dan kamu" ucap Leon tegas.
"Dan kedua ajudanmu" tambah Luna dan menggoyang kan kembali gelasnya.
"Cih, kenapa aku bisa memiliki tunangan sepertimu ini?!" dingin Leon dan meneguk habis wine miliknya.
"Bukannya kamu tertarik denganku" smirk Luna. Tangannya menjatuhkan gelas yang sedang dia pegang. Gerakan cepat Leon membuatnya terkejut dan refleks tubuhnya menjadi dilanda kebingungan. Dimana Leon menyentuh dagunya dan memutarkan ke arahnya. Wajah Leon mendekat dan menyatukan bibir miliknya dengan milik Luna.
Membiarkan wine yang berada di dalam mulut Leon masuk ke dalam mulut Luna yang sudah kosong dari wine sebelumnya. Tatapan matanya yang dingin itu berakhir menjadi tatapan yang sombong. Seakan-akan mangsanya yang satu ini merupakan pilihan terbaiknya.
"Kamu sungguh manis, nona Luna" smirk Leon dan melepas pegangannya di dagu milik Luna. Secara naluri dia menginginkan bibir wanita tersebut yang basah karena wine yang dia minum. Dan gerakannya tidak bisa berhenti dia memegang dagu milik Luna dan menciumnya yang beruntungnya lagi gelas wine yang dijatuhkan oleh Luna bisa dia tangkap dengan tangannya yang lain. Membuat wine tersebut tidak mengotori mobil miliknya dan membiarkan dia mencium bibir yang manis itu.
"Apa kau gila, tuan Leon?" tanya Luna tegas. Dia berusaha membuat perasaan yang ada di bawah alam sadarnya itu tetap berada di tempatnya. Membiarkan perasaan yang mati tetap ada dan mengubur perasaan manis dan hangatnya di bawah alam sadar. Luna tidak ingin menunjukkan semua sisi nya yang dulu lemah, polos dan hanya menginginkan kasih sayang.
Dia tidak menginginkan semua hal yang dulu hanya menjadikannya korban atau kambing hitam saja. Itu semua tidak akan terjadi lagi di kehidupan nya yang baru ini, Tidak akan pernah.
"Aku hanya mengulum seorang tunangan yang tidak bisa fokus denganku dan hanya fokus kepada wine itu" jelas Leon sambil menatap Luna rendah. Tatapannya memiliki banyak hal sikap sombong, merendahkan dan yang terkahir nafsu. Membuat Luna memberikan smirknya dan mengambil gelas wine miliknya di tangan milik Leon.
__ADS_1
Memasukkan cairan tersebut ke dalam mulutnya lalu meletakkan gelas tersebut di atas tempat yang telah tersedia. Tangan Luna menarik dasi milik Leon dengan kasar dan membiarkan wajah laki-laki itu mendekat ke arahnya. Bibir mereka kembali menyatu dan membiarkan cairan yang ada di dalam mulut Luna memasuki rongga mulut Leon.
Tatapannya mengisyaratkan beberapa kata yang membuat Leon hanya bisa menatap tidak percaya dengan wanita yang membuatnya terkejut dan terus terkejut itu.
'Ku kembalikan' isyarat mata yang ditunjukan oleh Luna. Setelah itu melepas tarikannya terhadap Leon, menyapu bibirnya dengan tisu yang ada di dalam tasnya. Dan menatap tajam Leon, tatapannya sama dengan tatapan Leon yang tadi. Sombong hanya saja ada rasa yang tidak ingin dikalahkan di setiap perkaranya itu.
"Saya harap anda tau tuan Leon bahwa saya tidak akan masuk ke dalam lubang yang sama. Walaupun itu keluarga, kerabat, teman bahkan tunangan saya sendiri" ucap Luna tegas. Jika dirinya yang dulu mungkin akan tersipu karena ciuman yang diberikan oleh Leon kepadanya. Tetapi sekarang hanya ada darah kental yang menginginkan pembalasan saja. Membiarkan perasaan nya tidak menang dengan pikiran miliknya.
"Sepertinya saya harus melakukan banyak kencan denganmu, nona Luna" smirk Leon dan menyapu bibirnya lembut. Cairan tersebut sangat manis, apalagi mengalir karena pemberian sponton dari Luna. Tubuhnya yang dulu sering merasakan jijik bahkan tidak pernah tertarik dengan perempuan manapun. Hanya bisa memberikan sebuah ketakjuban dan keinginan yang lebih dalam kepada wanita yang ada di sampingnya.
Wanita yang bertindak dengan menggunakan pikiran tidak perasaan. Wanita yang tidak akan kalah dan tidak takut dengan kematian. Wanita yang membuatnya merasakan bahwa wanita yang ada sampingnya saat ini sangat istimewa. Membuat Leon tidak akan membiarkan Luna dengan mudah dan menariknya ke dalam hutan yang sudah dihuni oleh singa yang banyak.
"untuk apa?" tanya Luna dingin.
"untuk membuat anda menjadi milik saya seutuhnya, karena seharusnya anda sudah tau bukan singa yang terbangun sulit untuk tidur kembali" bisik Leon ke telinga milik Luna.
"Kamu...." tunjuk Luna yang sudah mendorong keras Leon dari sekitarnya tubuhnya. Tidak akan dia biarkan laki-laki dihadapannya itu menjilati telinganya seperti film-film yang seiring ditontonnya ataupun seperti kehidupan masa lalunya.
Luna tidak akan pernah membiarkan laki-laki itu mendapatkan keuntungan darinya lebih banyak dan lebih banyak. Karena cukup untuk kali ini dia berbuat hal yang tidak masuk akal. Bahkan melibatkan bibirnya sendiri untuk membalas laki-laki dihadapannya ini. Jika bukan karena misi, pembalasan dendam, Luna tidak akan pernah membiarkan laki-laki ini masuk ke dalam hidupnya lebih dalam lagi.
'Hanya untuk kali ini saja aku membiarkan mu, Leon' ucap Luna dalam hati dan menatap tajam mata Leon yang penuh dengan ketertarikan tentangnya.
__ADS_1