
Di Tempat lain, tepatnya wilayah Utara Benua Eropa.
Seorang wanita dengan gaun putih bersih, memegang senapan api di kedua tangannya. Matanya yang bewarna coklat muda menatap sekeliling dengan santai. Seakan-akan mayat yang ada di sekelilingnya hanyalah hiasan saja.
Sebuah hiasan yang tidak memiliki nilai sama sekali di matanya. Dimana hiasan yang ada di sekelilingnya kini dihiasi dengan warna merah segar yang mengalir seperti air. Ditemani bau amunisi, ia membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas.
Hingga suara langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya. Membuat senapan yang tadinya ia turunkan, kembali diangkat dan dengan cepat dincondongkan ke arah lawan. Pelatuk yang ada di senapan itu ia tarik dengan kuat, sehingga menghasilkan suara tembakan yang cukup keras.
Mata yang tadinya ia istirahatkan sebentar perlahan terbuka, menampilkan mata coklat muda yang indah dan juga anggun. Namun, mata colat muda itu berubah menjadi kedinginan saat melihat sosok laki-laki yang sedikit tua dari dirinya berdiri di dekat sana.
"Apa ini yang disebut dengan sambutan sayang? aku baru selesai menghadiri acara amal di rumah Madame Rose loh" ucap wanita itu sambil menatap dingin laki-laki di hadapannya.
Denga senyum dingin yang menawan, wanita itu menatapnya dengan datar tanpa perasaan. Terutama pakaian putih bersih yang ia gunakan, kini memiliki noda darah yang menempel di bawah roknya.
"Sayangnya sambutan ini bukan hanya untukmu saja Franc, melainkan seluruh penghuni mansion juga menerima sambutan meriah ini" jelas Henry sambil menatap tenang istrinya.
Dimana pakaian yang ia gunakan saat ini juga dilumuri dengan darah merah segar. Dengan pistol dan juga belati di masing-masing kedua tangannya, ia mengeluarkan aura kepemimpinannya.
"Seluruh penghuni? sepertinya kita kedatangan tamu yang luar bisa sekali. Sampai-sampai seluruh penghuni mansion harus turun tangan secara langsung" ucap Francis yang mengubah aura dinginnya menjadi menawan dan juga lembut.
"Tuan, kami menemukan kertas ini di dalam saku orang yang anda tembak tadi" sela John yang merupakan kepala pelayan mansion.
"Terimakasih Jo, kau bisa kembali membereskan tumpukan-tumpukan mayat yang ada" ucap Henry sambil menerima kertas dari tangan anak buahnya.
"Kalau begitu saya permisi terlebih dahu-"
"Tunggu Jo, sebelum kau melakukan pekerjaanmu tolong panggilkan pelayan kembar itu ke sini, ada yang ingin ku tanyakan kepada mereka berdua" potong Francis yang sudah melepas kedua senapan api di kedua tangannya dan memijat pergelangan tangannya lembut.
__ADS_1
"Baik nyonya, saya akan memanggil Nana dan Nina ke si-"
"Kami di sini, apa perintah anda nyonya?" ucap kedua pelayan bersamaan sambil menunjukkan rasa hormat mereka kepada tuannya.
"Kalian berdua"
"Hehehe, maaf mengejutkan anda kepala pelayan. Kami sedang bertugas untuk mengumpulkan senjata yang digunakan para musuh dan tidak sengaja mendengar nyonya besar mencari kami berdua di sini"
"Yang dikatakan oleh kembaran saya Nina memang benar kepala pelayan" tambah Nana sopan.
"Baiklah kalau begitu katakan kepadaku, apa wanita yang dibawa oleh anak perempuanku baik-baik saja?" tanya Francis yang tidak ingin mengecewakan kepercayaan anak perempuannya.
"Tenang saja nyonya, saat perlawanan tadi kami menembakkan obat bius dengan dosis terendah kepada pelayan Neva. Sehingga tidak akan meninggalkan dampak psikologis di otaknya" jelas Nana yang mengetahui bahwa wanita yang dibawa oleh nona muda memiliki psikologis yang lemah.
"Bagus kalau begitu, aku jadi tidak perlu khawatir lagi saat menjelaskannya nanti"
"Kalau begitu, bolehkah kami ambil kedua senapan ini nyonya?" tanya Nina sopan. Terutama saat ini ia dan juga kembarannya bertugas untuk mengumpulkan senjata yang dipakai dalam pertempuran tadi.
"Ambilah dan kerjakan tugas kalian dengan baik"
"Baik, nyonya" balas kedua kembaran itu bersamaan dan dengan cepat mengumpulkan senjata-senjata yang ada di halaman mansion.
"Jadi apa yang akan kau lakukan kedepannya, sayang?" tanya Francis sambil mengeluarkan sapu tangan kecil dari sakunya dan mulai membersihkan darah yang ada di wajah suaminya itu.
"Aku akan mengabari para tetua klan dan juga meminta bantuan kepada klan Singa yang ada di wilayah kedua anak itu" jelas Henry yang membiarkan istrinya membersihkan bercak darah di wajahnya.
__ADS_1
"Tunggu, Klan Singa? bukankah klan itu milik laki-laki yang menghamili anak perempuanku?" terkejut Francis yang sudah menghentikan tangan yang memegang sapu tangan itu.
"Ya, sebenarnya aku tidak bermaksud untuk meminta bantuan kepadanya. Namun para tetua klan mengatakan bahwa akan sulit menangani kasus ini. Terutama wilayah itu bukan milik kita melainkan milik orang lain yang artinya kita butuh persetujuan dari pihak tersebut. Agar memudahkan kita mengakses lewat jalur umum" jelas Henry yang sebenarnya tidak memiliki niat meminta bantuan kepada pihak lain.
Apalagi pihak yang dimintai bantuannya merupakan orang yang pernah meninggalkan anak perempuannya saat hamil di tengah-tengah hujan. Sehingga membuat harga diri yang ia miliki terluka karenanya.
"Jalur umum? kenapa kita harus menggunakan jalur umum? Bukankan jalur bawah tanah lebih mudah di akses?"
"Aku juga memiliki pemikiran seperti itu, namun sayangnya jalur bawah tanah Mexico City mengalami perubahan. Sehingga sulit untuk mengakses permintaan milik kita"
"Kenapa bisa begitu? apa ada yang terjadi di sana?"
"Entahlah, yang ku tau pemilik jalur bawah tanah kini bukanlah orang yang dulu. Melainkan orang asing yang berhasil masuk wilayah itu"
"Orang asing? sepertinya ini lebih sulit dari yang ku duga" gumam Francis yang ditanggapi oleh anggukan kecil Henry.
"Dan juga, apa kamu sudah mengabari kedua anak itu? pasti mereka akan terkejut jika mengetahui orang itu yang akan membantu tugas mereka nanti" lanjut Francis yang sudah bisa membayangkan ekspresi kedua anaknya, terutama aura yang akan dikeluarkan oleh anak perempuannya tersebut.
"Aku hanya sempat mengabari Jiro saja tadi, karena keadaan kita yang sedikit mendesak" jelas Henry yang ingin mengabari kedua anaknya, namun dihentikan oleh serangan mendadak musuh.
Bahkan handphone yang ia gunakan, tidak tau dimana saat ini. Entah itu selamat atau sudah hancur berkeping-keping karena tembakan berlawanan.
'Sepertinya aku harus meminta bantuan John untuk mencari keberadaan handphone ku nanti' pikir Henry tenang.
🔫 Untuk bab kedepannya akan berkaitan dengan hubungan Luna dan Leon, terutama pasal kerja sama tim dan untuk para pembaca, jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.
__ADS_1
🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~