
Mereka berdua duduk di dalam mobil, mengantarkan Luna kembali ke tempat tinggalnya.
"Tuan Leon, apakah tangan saya terlalu nyaman untuk digenggam?" tanya Luna yang dari tadi mencoba melepas genggaman tangannya.
"Bukankah kita tunangan?"
"Saya mengizinkan anda merangkul dan menggenggam tangan saya tadi dan bagi saya itu sudah menjadi toleransi yang paling besar untuk anda'' dingin Luna.
"Apa kamu sebenci itu denganku, padahal.."
"Ya saya sangat-sangat membenci anda, membenci setiap hal yang ada di diri anda dan juga jika anda ingin menyamakan saya dengan perempuan di luar sana" sela Luna.
"Maaf saya bukan salah satu perempuan yang tergila-gila dengan anda, tuan Leonex Martin" lanjut Luna. Kalimatnya penuh ketegasan dan keyakinan tidak ada kebohongan di sana. Dimana kalimat kebencian Luna berasal dari lubuk hatinya.
Ya jika orang-orang bertanya kepadanya siapa yang paling dia benci, jelas jawabannya adalah keluarga kandung dan sahabatnya. Tetapi nama laki-laki itu juga termasuk, laki-laki yang merupakan kekasihnya dulu tapi sayangnya dia lebih mempercayai bukti CCTV dan omongan orang lain.
Dibandingkan kekasihnya sendiri, membuat luka yang ada di dalam perasaan nya terluka. Andai saja dulu Leon mempercayai nya dan mengatakan
'aku akan menyelidikinya, aku percaya kamu tidak akan melakukan hal itu'
Sudah ku pastikan sekarang Navin dan Laura akan memiliki orang tuan yang lengkap. Hidup sebagai anak-anak yang wajar saja hanya tau bermain dan tertawa. Bukan kedua anak yang dewasa lebih cepat di saat umurnya anak-anak. Semua sikap yang mereka sesuaikan dari apa yang mereka hadapi, itulah yang didapatkan kedua anaknya.
Membuat Luna membenci Leon, membenci tindakan dan ucapannya yang berpura-pura manis. Padahal perkataan nya itu hanyalah omong kosong belakang. Karena itulah dia menjawab lelaki itu dengan jujur.
"Apa memang sikapnya perempuan sangat suka mengatakan perkataan yang tidak sesuai dengan isi hatinya?" ungkap Leon tertawa kecil. Tidak mungkin wanita di sampingnya ini membencinya dan tidak ada perempuan di dunia ini yang tidak tertarik dengannya. Tidak tertarik dengan harta, kedudukan dan juga status yang dimilikinya. Dengan itulah dirinya tidak pernah sekalipun mendengar kalimat kebencian dari orang yang lain yang ada hanyalah kalimat sopan dan hormat yang didapatkan nya. Bukan kebencian seperti ini.
__ADS_1
"pfftt hahahaha sepertinya tuan Leonex sudah gila" tawa dingin memecahkan kesunyian itu.
"Maksudmu?" bingung Leon.
"Jika saya mengatakan suka artinya saya memang suka dan jika saya mengatakan benci maka saya memang benar-benar membencinya" jelas Luna.
"Dan saya membenci anda tuan Leonex, membenci sikap, ah tunggu bukan sikap tetapi membenci apa yang ada pada dirimu itu" tekan Luna dan menghempaskan tangan Leon kuat. Luna membiarkan tangan kanannya itu memerah, membiarkan seluruh tenaganya untuk melepaskan genggaman tangan Leon. Dia kesal sangat kesal dan ingin sekali mencekik orang tersebut tapi sayangnya laki-laki yang ada dihadapannya sekarang ini berstatus sebagai 'tunangannya'
"Keluar..."
"apa?"
"kataku keluar dari mobil ini!" dingin Leon mengusir Luna dalam mobilnya. Entah kenapa saat dia mendengar kalimat Luna membuat emosinya ingin keluar. Kalimat kebencian yang dia pikir itu hanya candaan dan bohongan berbanding terbalik dengan pikirannya. Kalimat kebencian itu seakan-akan dibuat meyakinkan dan setiap pernyataan yang diucapkan Luna adalah sebuah kebenaran.
Oleh karena itu Leon harus mempastikan siapa wanita ini sebenarnya. Karena semakin lama dia menahan perasaan ini membuatnya frustasi dan membuatnya kehilangan akal.
"Baiklah, pak tolong berhenti di sini saja" ucap Luna kepada supir mobil Leon.
"tapi nona"
"Tidak apa-apa pak, saya bisa berjalan kaki untuk sampai ke mansion. Anda bisa melihatnya sendiri bukan sudah dekat dengan mansion" jelas Luna. Mobil itu berhenti membiarkan Luna keluar dari mobil milik Leon. Matanya menatap dingin Leon, menatap laki-laki yang mudah berubah-ubah itu.Menatap wajah orang yang baru mengusirnya dan membuat kesan lebih buruk untuk Luna.
"Tuan Leon saya harap anda bisa berhati-hati dalam memilih lawan bicara" dingin Luna dan berjalan menuju ke mansion miliknya. Memasang airpods miliknya dan membiarkan alunan-alunan melodi memasuki pendengaran miliknya. Hanya perlu berjalan beberapa meter dan dia akan sampai ke pintu gerbang mansion. Meninggalkan mobil yang berhenti tidak jauh dari tempatnya berjalan.
__ADS_1
"Tuan Leon apa anda tidak apa-apa?" tanya sang asisten khawatir.
"kembali ke kantor" ucap Leon dingin. Dia menutup matanya sejenak memikirkan cara terbaik untuk membuktikan dan mengatasi perasaan yang dia dapatkan.
Leon akan menyelesaikan beberapa tugasnya di kantor dan pergi ke camp pelatihan. Menemui Febri dan mengurus beberapa hal, diantaranya bukti-bukti yang di dapatkan dan informasi yang sudah di dapatkan oleh Febri. Dia harus mencari tau siapa sebenarnya Luna sebab perasaan yang dia miliki ini semakin kuat.
Jika Luna Nypole merupakan orang yang sama dengan Luna Luxury. Leon berjanji akan membahagiakan wanita itu, meminta maaf atas kesalahannya. Menyelesaikan semua hal dan memulai kehidupan yang baru. Kehidupan yang manis dan sebuah hubungan romantis. Hubungan yang bukan hanya didasari oleh perasaan saja tetapi sebuah hubungan yang didasari kejujuran dan sebuah kepercayaan.
Hubungan yang akan berjalan lebih baik dari sebelumnya. Selain itu dia akan membahagiakan kedua anaknya karena seperti yang dia tau Luna Nypole memiliki anak bernama Navin dan Laura. Jelas bahwa kedua anak itu merupakan anak kandungnya, bila Luna Nypole memang orang yang sama dengan Luna Luxury.
'aku harus secepatnya menyelesaikan ini' pikir Leon.
Di Tempat Lain~
Luna sudah sampai di mansion dan masuk ke dalam kamarnya. Dia bersyukur kedua malaikatnya itu sedang membeli makan bersama kakaknya. Sehingga dia bisa kembali ke kamar tanpa pertanyaan-pertanyaan anak-anak itu.
"Baiklah Luna lupakan semua hal yang terjadi dan kembali ke pekerjaan mu" ucap Luna meyakinkan. Tubuhnya terasa lengket karena keringat tetapi dia harus mendengar apa yang dibicarakan oleh ayah kandung dan orang-orang itu.
Apalagi dengan sengaja Luna memasukkan sebuah alat perekam di dalam kantung asisten ayah kandungnya tadi. Dirinya hanya perlu berpura-pura jatuh ke arah asisten laki-laki tadi dan dengan cepat memasukkan satu alat perekam kecil di dalam kantung tersebut. Licik jelas saja itulah caranya untuk bertahan hidup di dunia yang kejam ini. Jadi jangan salahkan dia melakukan hal-hal yang curang dan menguping rencana orang itu dari rumahnya.
"mari kita dengar apa yang direncanakan orang itu" smirk Luna.
🔫Author mau ucapin makasih buat readers yang beri tau typo dan juga kata-kata yang salah. Jujur komentar yang berisi saran dan kritikan kalian itu sangat membantu. Membuat author akan memperbaiki bab-bab sebelumnya dengan berhati-hati^^
__ADS_1
Terimakasih semuanya^^