My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 170 : Dasar Orang Gila!


__ADS_3

Luna yang merasakan pendekatan tersebut, dengan cepat mengenali bau milik lawan jenisnya. Dimana bau tersebut merupakan bau tubuh yang telah lama ia kenal dan juga ia tidak sukai selama ini.


Seolah-olah mengingatkan dirinya tentang rasa sakit yang dialami oleh dirinya 8 tahun yang lalu. 


Terutama bau itulah yang mengakhiri kehidupan manis dan juga polosnya. Yang mana tangan kanan yang ia gunakan untuk mengunci dan menjeratnya saat ini adalah tangan yang ia gunakan untuk memukul wajahnya saat itu.


Dengan bunyi tamparan yang keras, Luna menjauhkan dirinya dari tubuh milik Leon dan memukul wajahnya itu dengan kesempatan yang ada. Untuk membalas bekas tamparan yang ia berikan saat itu.


Sebuah tamparan yang seharusnya tidak ia rasakan saat itu. Sehingga kebencian lama dan juga kebencian baru ditambahkan ke dalam dan diperhitungkan ke dalam lubuk hatinya.


Plak**


Dengan sebuah suara tamparan yang keras, Luna memukul wajah Leon dengan keras namun sayangnya itu tidak membuat Leon melepaskan pelukan yang ia berikan kepadanya. Malah dengan kuat menggenggam tangannya dengan erat.


"Kau-"


"Kenapa? Apa kau rindu denganku sampai kau harus menyentuh wajahku dengan cara seperti itu." Bisik Leon, membuat Luna yang mendengarnya menatap Leon dengan ganas.


"Gila. Dasar orang gila." Dingin Leon yang dengan cepat mengeluarkan jarum tipis dari pergelangan tangannya dan menusuk jarum tersebut ke tubuh Leon.


Sehingga membuat tubuh Leon yang keras dan penuh kekuatan itu melemah saat merasakan sebuah jarum ditusuk ke dalam tubuhnya, yang dengan cepat mengenai salah satu titik vital miliknya.


Membuat Leon yang tadinya berdiri kokoh di belakang, goyah dan hampir jatuh ke bawah. Dimana mata berwarna biru gelap itu menatap mata hitam pekat milik Luna dengan penuh obsesi.


"Heh, menyedihkan sekali kau tuan. Sampai-sampai kau berpikir aku merindukan mu selama ini. Apa kau tau, aku tidak pernah merindukanmu bahkan jika aku mengingat bayanganmu sekilas, itu membuat diriku semakin membencimu dan berharap kau mati secepatnya, tuan Martin." Dingin Luna sambil menatap Leon dengan dingin.


Mata berwarna hitam pekat itu membawa kekosongan jiwa, seolah-olah jiwa cemerlang yang ia miliki dulu telah menghilang, dikarenakan keadaan yang pernah ia alami selama ini.


Membuat wajah cantik itu penuh dengan sifat dingin yang bermusuhan. Seperti seekor landak yang melindungi tubuhnya dari duri yang ada di belakang punggungnya dan tidak akan pernah membiarkan orang menyentuh maupun mendekati dirinya.


Walaupun di balik duri itu terdapat sebuah kelembutan yang diciptakan oleh tubuhnya yang kecil dengan tangan dan juga kaki yang menemani tubuh tersebut, membuatnya semakin menggemaskan.

__ADS_1


Dan karena itu lah, Leon selalu menyukai Luna entah itu di masa lalu maupun di masa kini. Bahkan jika dia telah berubah menjadi seekor landak, ia tetaplah seorang wanita yang terus  menetap di  hatinya.


Karena sosoknya itu lah yang membuat  Leon belajar bagaimana cara untuk mencintai seseorang dan menghargai perasaan nya tersebut. Tanpa  melukai hati maupun  kehormatan  nya.


Sehingga kejadian ini terjadi, dan kesalahpahaman yang diakibatkan ketidaksengajaan memisahkan  mereka dan  juga kedua  anaknya.


Luna yang melihat sikap Leon yang tenang dan tanpa rasa sakit sedikitpun, membalik tubuhnya dan pergi meninggalkan orang tersebut di sana.



Membuat tangan kanan Leon yang dari tadi mengikuti jejak tuannya dan selalu mengintai keberadaan tuannya tersebut, melangkahkan kakinya dan keluar dari tempat persembunyian. 


Dimana tangan yang dilapisi sarung tangan itu dengan cepat melepaskan jarum yang baru saja dimasukkan ke dalam tubuh tuannya dan mengenai titik vitalnya 


Sambil menatap  tuannya dengan khawatir terutama tuannya merupakan satu-satunya pewaris yang dimiliki oleh keluarga Martin dan juga salah satu anggota kerajaan yang telah lama dipercayai di negara ini.


"Tuan."


"Maaf tuan, tapi hanya inilah satu-satunya cara kami untuk melindungi tuan dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi kepada tuan. Dan tuan seharusnya tau, resiko apa yang harus kami hadapi." 


"Hah, ya. Kembali ke markas dan cari tau siapa orang terakhir yang menghubungi wanitaku." Dingin Leon yang mendapatkan kembali ketenangannya.


"Baik, tuan." Dengan jawaban yang pasti, orang tersebut kembali ke dalam bayangannya dan memerintahkan bawahannya sambil terus menjaga keamanan tuannya.


Dimana Leon yang merasakan sekilas tatapan tersebut menghela nafas dan memandang langit di atasnya. Langit berwarna merah ke oranye itu membuatnya teringat sebuah peristiwa yang menimpanya dulu.


Sebuah kejadian yang mengharuskan dirinya untuk menjadi sosok yang berani dan tegar dalam mengambil resiko seperti sosok ayahnya. Demi menjaga orang-orang  yang dekat dan juga ia sayangi.


'ah, jika tidak salah bukan aku saja yang berada di dalam ruangan itu. Siapa-?' Gumam Leon yang tidak bisa mengingat kenangan yang terjadi di masa kanak-kanaknya.


Dengan sakit yang berdenyut, Leon menyentuh  kepalanya dan memasukkan kembali tangannya. Sambil berjalan melangkah ke tempat mobilnya di parkir dan kembali  ke markasnya berada.

__ADS_1


Untuk menunggu kabar yang didapatkan oleh bawahannya, dan mencari tau siapa orang yang  berani menghubungi wanitanya saat kejadian seperti ini  terjadi.


[Apakah itu teman atau musuh?] 


Di tempat lain 


Luna yang berada di perjalanan memikirkan kembali lokasi yang bisa ditempati oleh orang tersebut. Terutama latar belakangnya yang gelap, membuat Luna merasakan perasaan Dejavu.


Rasa keakraban ini membuat Luna merasa bahwa dia telah melewatkan sesuatu hal yang penting. Sebuah potongan yang seharusnya memberikan jawaban kepada pertanyaan yang selama ini mengakar di pikirannya.


'Apa ini ada kaitannya dengan kehidupanku atau-, Tidak, jika ini.berkaitan denganku pasti sesuatu pernah terjadi. Tapi dimana? Dan kenapa?' Gumam Luna sambil memikirkan apa saja yang pernah terjadi padanya.


Dimana kenangan masa kecil miliknya mulai bermunculan, terutama sebuah kenangan yang memiliki sebuah  ruangan gelap tanpa cahaya  sedikitpun.


Dengan suara nafas yang terengah-engah, ruangan itu dipenuhi dengan nafas tertekan dan  perasaan ketakutan.


Suara rintihan anak kecil mulai bermunculan di dalam kegelapan. Membuat Luna yang melihat kenangan itu secara sekilas mulai mengingat sebuah kejadian yang pernah ia alami.


Dan menyadari bahwa di masa kanak-kanaknya, ia pernah mengalami sebuah kejadian aneh. Kejadian yang  seharusnya tidak pernah dialami oleh anak-anak  biasa.


Membuat  Luna yang mengingat kilasan tersebut mulai bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan ingatan nya dan kenapa dia tidak bisa mengingat sepenuhnya kejadian yang ia alami sewaktu itu.


Sehingga ia hanya bisa mengingat sedikit  potongan kenangan yang ia miliki, dan hanya menyisakan ingatan tentang ruangan dan juga deru suara yang ada di dalamnya.


'Ruangan-' 



🔫 Jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.


🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~

__ADS_1


__ADS_2