
Menjadikan mata hitam itu dipenuhi dengan kabut yang mengerikan. Hingga membuat ruangan yang sudah dipenuhi dengan darah itu semakin menjadi-jadi. Dengan suara tembakan dari pistol api, peluru itu mulai mengenai targetnya.
Setiap amunisi yang ditembakkan itu selalu mengenai tubuh orang itu. Menjadikan tubuh yang terlihat kokoh kini berubah menjadi momok yang sangat jelek. Dimana terlihat banyak lubang di setiap inci tubuhnya kini.
"Kau-"
"Sepertinya kau masih belum menyerah tuan, tapi tenang saja mau anda mati ataupun tidak saya tetap bisa mencari tau orang yang ada di belakangmu"
"Kau adalah sosok iblis, nona Martin" tatap tajam orang itu membuat Luna yang sedang memasukkan pelurunya tersenyum tenang.
"Terimakasih atas pujiannya, anda merupakan orang ke seratus lebih yang mengatakan hal tersebut" jelas Luna yang membuat permukaan tubuh laki-laki itu semakin menggelap.
"Oleh karena itu saya harap anda bisa tertidur dengan tenang, tuan" lanjut Luna yang mencondongkan senjata miliknya dan menarik pelatuknya.
Dengan suara tembakan yang keras, mata yang tadinya menatap dirinya dengan penuh kebencian tertutp rapat. Hembusan nafas kasar itu mulai menurun dan semakin menurun. Membuat suara telpon berdiring di sela-sela kejadian itu.
"Saya sebentar lagi akan sampai bos"
"Bagus" jawab Luna singkat dan dengan cepat menutup telponnya.
Dengan aura membunuhnya yang kasar, ia mengambil jam tangannya kembali. Meninggalkan ruangan itu lalu melangkah masuk ke dalam mansion lewat pintu belakang.
Dimana keinginannya untuk menghindari kedua anaknya saat ini harus gagal. Di saat kedua sosok anak kecil kini telah berdiri di balik pintu sambil menatapnya.
"Sejak kapan kalian ada disini?" tanya Luna dingin.
"Sejak mom meminta kami untuk pergi dari ruangan bawah tanah" jelas Navin yang tak kalah dingin dari ibunya.
Terutama saat melihat pakaian atas milik ibunya dipenuhi dengan darah segar yang diwarnai merah terang.
"Mom, kenapa mom tidak membiarkan kami mengurus orang itu? Bukankah lebih mudah jika kami yang mengurusnya?" tanya Laura yang sebenarnya ingin mengurus penyusup yang ditangkap kakaknya itu.
"Kau tidak bisa melakukannya dan juga penyusup yang masuk ini tidak semudah yang kalian pikirkan" jelas Luna yang tidak ingin kedua anaknya melakukan hal-hal yang kotor sepertinya.
Dikarenakan ia juga menyadari sosok dan peran yang saat ini ia mainkan, yaitu seorang ibu yang seharusnya mengajari hal baik bukan hal yang buruk. Apalagi musuh yang ia hadapi saat ini pasti tidak mudah.
"Tapi mom-"
"Navin, Laura, mom akan menjalaskannya setelah makan malam" potomh Luna yang membuat kedua anak itu terdiam dan mengganguk pelan. Membiarkan sosok ibunya pergi dan menaiki tangga ke lantai dua.
__ADS_1
Laura yang melihat kepergian ibunya hanya bisa menghembuskan nafas kasar lalu menatap wajah kakak laki-lakinya yang sama-sama gelap. Dengan tatapan mata yang dingin, Navin mengepalkan kedua tangan kecilnya.
"Laura, mari kita kembali ke kamar" perintah Naavin tegas membuat Luna yang mendengarnya menatap kakaknya dengan penuh harapan pasti.
"Apa kakak memiliki ide?"
"Pikirkanlah kembali ucapan mom, maka kau akan menyadari sebuah keanehan yang ada" jelas Navin yang saat ini IQ nya sedang online. Membuat otaknya semakin cair dan cair.
Tidak sebanding dengan adiknya yang saat ini terlambat dalam berpikir dan sebanding dengan hewan.
"Kak, apa kau membandingkanku dengan hewan lagi?" tanya Laura yang menyadari tatapan mengejeknya.
"Kamu terlalu banyak berpikir Laura, aku tidak mungkin membandingkanmu dengan hewan" jelas Navin yang tidak ingin memberitau pikirannya. Karena jika adik perempuannya mengetahui apa yang ada dipikirannya tadi, sudah dipastikan ia akan muntah darah.
"Benarkah? hmm sepertinya kau berbo-"
"BAiklah ayo cepat kembali, dan lakukan tugas kita masing-masing" sela Navin yang mencoba mengalihkan pembicaraan. Membuat Laura yang mendengarnya dengan cepat mengikuti kakak laki-lakinya dan mengoceh tidak jelas.
"Kak, apa kau mendengarkanku? apa yang kau pikirkan tadi? Hei!" panggil Laura yang ingin mengetahui apa yang dipikirkan kakaknya tadi.
Mengambil sepotong pakaian yang bersih dan nyaman, ia duduk di depan meja rias bewarna hitam classis itu. Mengeringkan rambut panjang hitamnya dan menghentikan semua gerakan miliknya. Di saat suara telponnya berdering tidak jauh dari tempatnya berada saat ini.
"Apa kau sudah mendapatkannya?" tanya Luna yang sudah mengangkat panggilan itu dan membiarkan lawan bicara memberikan penjelasan kepadanya.
"Apa bos tau berapa harga obat yang ku berikan kepadanya untuk berbicara? itu melebihi gajihku selama setengah tahun" jelas seseorang di sebrang sana.
"Aku minta jawaban bukan keluhanmu, Samuel" tekan Luna yang membuat Samuel yang mendengarnya merinding seketika.
"Maafkan saya, bos"
"Cepatlah, aku tidak memiliki waktu untuk berbasa-basi denganmu Sam" dingin Luna yang tidak ingin membuang-buang waktunya dengan bawahannya yang satu ini.
"Baiklah-baiklah, aku akan mengatakannya tapi ini mungkin akan membuatmu terkejut bos" jelas Samuel sambil menatap kasihan orang yang adai di dekatnya saat ini.
"Katakan saja itu siapa?"
"B.E"
__ADS_1
"B.E? maksudmu Black Emperor?" terkejut Luna saat mendengar inisial kelompok tersebut.
"Memang di dunia ini ada lagi kelompok yang menggunakan singkatan B.E selain kelompok mereka? Bukankah bos juga sangat mengetahui bahwa hanya Black Emperor saja yang memiliki inisial seperti itu" jelas Samuel.
Membuat Luna yang mendengarnya tanpa sengaja menghancurkan gelas yang ia pegang. Dengan pecahan kaca yang berjatuhan, Luna menatap serpihan-serpihan kaca yang bercampur dengan anggur merah itu.
"Bos, apa kau masih ada di sana?" tanya Samuel yang sama sekali tidak mendengar jawaban maupun suara milik atasannya.
"Aku masih ada di sini, tenang saja"
"Huft, syukurlah. Aku pikir bos akan membunuh atau menyiksa orang lagi dan juga apa yang harus aku lakukan dengan orang ini bos? Apa harus ku bunuh atau kuselamatkan?" tanya Samuel yang memiliki profesi dokter di kampnya.
"Selamatkan saja orang itu"
"Selamatkan? Apa bos yakin? Karena bagaimanapun juga orang ini sudah dipastikan lumpuh di bagian kaki atau tangannya" jelas Samuel yang melihat kondisi orang yang ada di dekatnya saat ini.
Dimana banyak goresan, sayatan maupun lubang di bagian tubuhnya. Walaupun lubang itu tidak melukai organ penting yang ada, itu tidak menghindari kemungkinan bahwa tubuh orang ini akan baik-baik saja kedepannya.
"Apa kau peduli dengannya? Jika kau peduli kau bisa mengembalikkan orang itu atau menyiapkan peti kayu yang baik untuknya nanti" jelas Luna yang dengan cepat dibantah oleh Samuel.
"Siapa aku, berani-beraninya aku menolak permintaan bos ku sendiri. Tenang saja bos akan saya jaga orang ini dengan segenap jiwa dan juga raga" ucap Samuel yang tidak ingin dirinya hancur di tangan atasannya sendiri.
"Bagus, dan juga harga obat yang kau gunakan akan langsung ku transfer ke bank mu malam ini" jelas Luna yang membuat Samuel yang mendengarnya dengan cepat mengeluarkan senyum bahagianya.
"Semoga anda panjang umur dan sehat selalu, bos" ucap Samuel yang tidak lupa menambahkan doa yang baik untuk atasannya.
"Tidak perlu mendoakanku, kau hanya perlu fokus untuk pengobatannya karena orang itu masih bisa dimanfaatkan kedepannya" jelas Luna yang tidak ingin menyia-nyiakan orang maupun umpan yang ia dapatkan saat ini.
Dimana orang yang mencari masalah dengannya bukanlah orang biasa. Melainkan sekelompak klan Emperor yang bisa membahayakan keselamatan orang-orang yang ada di sekitarnya saat ini.
"Baik bos, kalau begitu saya permisi terlebih dahulu" ucap Samuel yang harus melakukan perawatan lebih intensif terhadap pasien barunya kali ini.
Luna yang mendengarnya mematikan panggilan itu, menatap pecahan kaca yang ada di bawahnya lalu mengembuskan nafasnya yang dingin.
"Sepertinya kau tidak akan membiarkanku pergi begitu saja, Kaisar"
🔫Jangan lupa berikan like, komen dan juga dukungan kepada author dengan cara berupa Hadiah, Vote, maupun Tip [sistem NT/MT terbaru].
__ADS_1
🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~