
Luna yang sudah mematikan panggilan video call itu, menghela nafasnya pelan. Mengistirahatkan tubuhnya di senderan kursi lalu menutup matanya dengan salah satu tangannya.
Hatinya seakan-akan tidak percaya bahwa laki-laki itu akan melakukan hal gila seperti itu untuknya. Walaupun ia mambaca file yang dikirim anak buahnya sebentar itu semua sudah cukup membuktikan bahwa perkataan anak buahnya tadi memang benar.
Bahkan perubahan ini cukup mengejutkan dirinya. Dari kasta yang berubah sampai keamanan dari ruang bawah tanah. Dimana dari dulu hingga sekarang wilayah bawah tanah merupakan salah satu tempat akses perdagangan kota.
"Sial, kenapa kau melakukan ini?! Apa kau benar-benar bodoh?" pikir Luna yang merasakan bahwa kedamaian yang dia inginkan tidak akan berlangsung lama.
Terutama akses perdagangan kota bukan lagi berada di tangan Leon melainkan di tangan orang lain, yang memungkinkan orang-orang tersebut untuk memanipulasi wilayah perdagangan kota.
Kring*** Kring***
Panggilan telpon itu menyadarkan pikiran Luna dari dunia nyata. Membuatnya dengan cepat mengambil telpon tersebut dan membiarkan orang yang ada di sebrang sana untuk berbicara secara langsung kepadanya.
"Maaf menggangu anda bos, ada yang ingin saya katakan kepada anda secara terpisah" jelas orang yang ada di sebrang sana.
"Katakan secara singkat saja karena aku tidak memiliki waktu untuk mengobrol denganmu lebih lama"
"Kalau begitu baiklah bos, saya akan mengatakan secara cepat bahwa salah satu teman saya yang berada di wilayah bawah tanah baru mengatakan kepada saya bahwa penguasa wilayah bawah tanah berhubungan dengan kelompok BE dan juga kelompok itu memiliki banyak pengikut salah satunya adalah Klan Harimau"
"Itu saja bos, saya permisi dulu" lanjut orang yang ada di sebrang sana yang dengan cepat mematikan telponnya secara sepihak dan membiarkan rasa dingin nan membeku menghampiri dirinya.
"Ahh, sepertinya aku merasakan aura milik bos saat ini" gumam orang tersebut yang tau bahwa atasannya saat ini sedang dalam mood yang buruk.
Dimana prasangkanya saat ini lebih buruk dari kenyataan yang ada. Dengan nafas kelam yang penuh dara, mata hitam itu menunjukkan lubang dalam yang mengerikan. Bahkan saking mengerikannya ia mampu membuat seseorang cacat dengnan satu pukulan.
"Sepertinya kau sudah bertindah terlalu jauh dan melupakan garis batasan milikmu, Kaisar" dingin Luna yang melepaskan seluruh aura membunuhnya.
Terutama semua masalah ini berhubungan dengan pengkhianatan orang tersebut. Rasa pengkhianatan yang ia rasakan untuk kedua kali dalam hidup baru miliknya. Sehingga ia tidak pernah lagi bernar-benar mempercayai orang-orang yang ada di sekitarnya.
__ADS_1
"Apa ada yang ingin anda butuhkan, tuan?" tanya seseorang di sebrang sana.
"Pilih beberapa orang yang ada di pelatihan dan kirim mereka semua ke tempat tinggalku secepatnya dan pastikan mereka semua sudah lulus dalam pelatihan tingkat A" perinah Luna dingin.
"Apa ada sesuatu yang terjadi, tuan?"
"Ya sesuatu terjadi di sini dan tidak memungkinkan diriku untuk menyelesaikannya sendiri."
"Kalau begitu saya akan mengirimkannya paling lambat malam besok, tuan"
"Ya"
Luna mematikkan panggilan itu secara sepihak, mencari nomor telphone milik ayah angkatnya lalu mengirim beberapa pesan kepadanya. Karena ia menyadari bahwa masalah ini bukanlah masalah biasa melainkan masalah yang berhubungan dengan kedua pihak.
Apalagi klan Harimau memiliki hubungan dengan kelompok Black Emperor yang berarti masalah peta itu belum selesai sama sekali. Peta yang akan membawa orang ke salah satu harta karun yang bisa memmbahayakan dunia.
Menandakan potongan-potongan peta yang ada di tangannya saat ini sangatlah berharga. Seperti kata pepatah semakin berharga barang tersebut semakin banyak bahaya yang akan terjadi.
Jika saat ini ia tidak menyiapkan banyak penjaga dan juga keamanan bagian dalam ataupun luar maka nyawanya akan berada di dalam bahaya. Orang yang ada di sekitarnyapun juga ikut ke dalam masalah ini.
Sehingga ia harus menyiapkan beberapa hal untuk berjaga-jaga. Terutama wilayah tinggalnya saat ini bukanlah London City melainkan Mexico City yang bukan wilayah miliknya. Yang mampu menyulitkan dirinya dalam bertindak mau itu dalam hukum ataupun ketidakhukuman (ILEGAL).
Luna yang memikirkan cara untuk mengurangi bahaya saat ini, mendengarkan suara handphone berdering. Yang membuatnya dengan cepat mengangkat handphone tersebut dan menggeser tombol hijau yang ada.
"Ya ayah, aku ada di sini"
"Ayah? apa aku benar-benar setua itu Luna?" tanya laki-laki di sebrang sana. Membuat Luna yang mendengarnya tanpa sadar terkejut. Menjauhkan handphone tersebut dari telingannya lalu menatap nama pemanggil yang tertera di sana.
__ADS_1
Dimana panggilan tersebut sama sekali tidak memiliki nicname hanya berupa nomor saja. Namun Luna mengetahui bahwa orang yang ia angkat ini bukanlah orang asing melainkan orang yang sangat ia kenali.
"Sepertinya anda sama sekali tidak memiliki harga diri, tuan Martin" ucap Luna tenang.
"Aku hanya tidak memiliki harga diri saat bersamamu saja, Luna" jelas Leon dengan suara menggoda miliknya. Membuat Luna yang mendengarnya menarik nafasnya pelan.
"Jika tidak ada yang ingin anda bicarakan maka saya akan tutup telphone ini sekarang juga" jelas Luna yang dengan cepat dibalas oleh Leon.
"Baiklah tutup saja telphone ini dan akan ku pastikan kiita bertemu lagi di lain waktu" ucap Leon dengan suara serak-serak basahnya.
"Tuan Martin jika kepercayaan diri anda melebihi kedua anak saya, maka akan saya ingatkan bahwa kita tidak akan bertemu lagi mau itu lain waktu maupun masa depan nanti" tegas Luna yang dengan cepat mematikan panggilan tersebut.
Menarik nafasnya pelan lalu melemparkan handphone miliknya ke atas kasur hitamnya. Dengan hembusan nafass yang kasar, Luna menahan amarah dan juga kegelisahan hati miliknya.
"Sial, kenapa kau tidak mati saja Leon!" teriak Luna kesal terutama saat mendengarkan suara menggoda milik Leon.
Suara menggoda yang mengingatkannya kepada kejadian malam itu. Dimana kejadian 8 tahun lalu itu dipenuhi dengan nafas yang terengah-engah dan juga anggota badan yang panas. Mau itu dari suhu badan ataupun nafas mereka.
"Sial, kau benar-benar menyebalkan Leon" lanjut Luna yang menyadari bahwa wajahnya saat ini merona malu.
Walaupun ia sudah lama melupakan rasa cinta dan kasih sayang terhadap orang-orang. Ia tidak akan pernah lupa kejadian malam itu. Kejadian di saat dirinya menyerahkan segala yang ada pada dirinya kepada laki-laki yang ia cintai dulu.
Seperti seorang laki-laki yang saat ini juga teringat akan kejadian panas malam itu. Dengan warna merah di telinganya ia tersenyum lembut sammbil menatap keluar jendela prancis itu. Tangannya yang ramping menggengam kuat telphone gengamnya.
Hembusan nafasnya yang panass terdengar menderu di ruangan yang sepi itu. Bahkan suara detikan jam terdengar di sela-sela hembusan nafasnya yang lembut.
"Aku bisa membayangkan wajahmu saat ini, Luna" senyum orang tersebut lembut.
__ADS_1
🔫 Jangan lupa buat beri hadiah, like, comment dan juga Tip ya. Sekian terimakasih and Sayonara~