
Aroma rempah-rempah menyebar di ruangan itu, membawa kenikmatan untuk Indra penciuman setiap pelanggan yang ada di sana. Nuansa klasik dengan berpadukan tema Eropa yang kuat menyajikan pemandangan yang indah nan mewah.
"kencan yang normal" ucap Luna yang sudah duduk di salah satu bangku di restoran tersebut.
"Ya begitulah" tanggap Leon singkat dan membuka beku menu yang diberikan oleh pelayan di sebelahnya.
"I.."
"saya ikut saja" sela Luna yang tau Leon akan membicarakan tentang menu. Luna hanya ingin meminimalisirkan waktunya. Karena dirinya juga akan bertemu dengan Luxury Company. Tentunya Luna harus bersiap dan menggunakan waktunya sebaik-baik mungkin.
"baiklah" ucap Leon yang menunjuk beberapa menu hidangan dari makanan pembuka sampai makanan penutup. Kemudian mengembalikan buku menu dan menatap Luna yang sedang sibuk dengan handphone miliknya.
Mata Leon menilai penampilan Luna, menatap lekungan yang diciptakan, warna lensa mata, garis pipi dan berbagai macam lainnya. Mencari kesamaan di setiap inci tubuh wanita tersebut dan menjadikan nya bukti. Matanya bisa melihat bahwa Luna Nypole dan Luna Luxury memiliki kesamaan dan ada pula perbedaan nya.
Lensa mata milik Luna Nypole sama dengan Luna nya yang dulu hanya berbeda dengan cahayanya. Dimana Luna Nypole memiliki lensa mata hitam gelap dan kelam. Seakan-akan matanya mengatakan bahwa orang yang ada dihadapannya ini berada di dalam kesepian tanpa cinta atau kebahagiaan dan hanya memperlihatkan bahwa wanita dihadapannya ini hanya memiliki satu tujuan yaitu sesuatu hal yang berbahaya.
Berbeda dengan Luna nya yang dulu, lensa mata yang bewarna hitam itu penuh dengan ketenangan dan memiliki cahaya yang lembut. Matanya penuh dengan kejujuran dan kepolosan membuat semua orang yang melihatnya pasti akan jatuh cinta. Lembut dan polos itulah Luna nya, perempuan pekerja keras yang selalu menatap apapun dengan takjub. Mereka berdua berbeda tetapi dia tau bahwa ini hanya penilaian dari satu sisi karena jika dia menilai ke bawah di bisa melihat dari tulang hidungnya.
Tulang hidung Luna Luxury memiliki keistimewaan sendiri, tulang hidungnya berbentuk mancung dan dimana lekuknya sangat indah. Seperti yang dia lihat Luna Nypole juga memiliknya, tulang hidung yang sering dia cubit kepada kekasihnya dulu. Mata Leon mengetahui bahwa hidung Luna Nypole dan hidung Luxury sama yang tentunya itu membuat banyak spekulasi tentangnya.
Leon sudah bersama dengan Luna lebih dari satu tahun dan dia sudah sering mengamati Luna. Memperhatikan setiap gerakannya mau itu gerakan yang kecil dari mengangkat pulpen atau gerakan besar dalam mempresentasikan. Gerakan-gerakan yang masih dia ingat lembut, halus namun tetap stabil membuat pekerjaan perempuan itu terlihat penuh makna.
'Jika dari wajah kurang artinya dari gerakan makannya' pikir Leon dan tepat setelah itu beberapa pelayan datang lalu menyajikan beberapa makanan. Hidangan pembuka, hidangan utama dan hidangan penutup semuanya disajikan dan diletakkan dengan rapi.
__ADS_1
"Selamat menikmati makanan anda, tuan" pamit penyaji dan meninggalkan kedua insan itu makan dalam satu meja.
Leon melakukan gerakan nya seperti biasa tetapi matanya sesekali ke arah Luna. Melihat gerakan wanita itu tanpa membuat Luna merasakan rasa curiga padanya. Mungkin dia curang dan dibilang laki-laki yang aneh tetapi semua ini harus dia lakukan untuk mendapatkan hasil semaksimal mungkin.
'Pertama sendok kecil bagian kiri baris kedua' ucap Leon dalam hati dan tepat sekali, perkiraan nya benar bahwa Luna memulai makanan nya menggunakan sendok kecil di barisan kedua. Leon tahu kebiasaan kekasihnya dulu lebih suka mengambil sendok kecil di barisan kedua daripada barisan pertama karena menurut kekasihnya dulu itu, sendok kecil tersebut lebih nyaman dia gunakan.
"Apa kamu tidak makan?" tanya Luna bingung dan menatap ke arah Leon.
"Tentu saja aku makan, apa kamu tidak lihat?" jawab Leon tenang. Dirinya tidak ingin membuat Luna curiga bahwa dirinya telah menatap wanita itu lama. Sedangkan Luna hanya bisa mengangkat bahunya tidak peduli dan menyantap kembali hidangan pembuka miliknya. Rasa lembut masuk ke dalam mulutnya memberikan rasa nostalgia dari masakan di wilayah London.
'Tidak salah mereka mendapat bintang 4' ucap Luna dalam hati memuji restoran yang dia kunjungi bersama Leon hari ini. Suara tenang dan hanya menyisakan gesekan sensor, garpu di atas piring. Keadaan mereka hening dan tidak berbicara selama menyelesaikan hidangan pembuka tersebut.
'Seperti yang ku perkirakan' ucap Leon dalam hati. Tangannya berhenti memasukkan beberapa sayuran yang menjadi garnish itu ke dalam mulutnya.
"Jika kau tidak menyukai jamur kau bisa memberikannya kepadaku" ucap Leon yang memandang Luna.
"itu akan merepotkan" ungkap Luna santai dan menghela nafas lega melihat potongan jamur-jamur itu menjauh dari makanannya.
Tuk**
Suara berlawanan yang diberikan dari garpu Leon dan piring Luna membuat Luna menatap laki-laki itu dingin. Leon mengambil jamur-jamur tersebut dan memasukkan nya ke dalam mulut.
__ADS_1
"Apa anda tidak memiliki pekerjaan yang lain?" tanya Luna dingin. Dirinya harus berhati-hati dengan Leon karena apapun yang terjadi dia bisa saja menjadi mangsa bukan sebagai pemburu.
"Saya hanya melakukan pekerjaan yang ringan yaitu memakan makanan yang tidak dimakan oleh tunangan saya" jelas Leon yang sudah menghabiskan jamur di piring Luna.
"Ya... ya... ya tunangan saya sungguh baik" ucap Luna dengan nada mengejek. Dirinya tidak percaya laki-laki ini menggodanya dan melakukan hal-hal yang aneh. Bahkan hal-hal tersebut sama sekali tidak terbayangkan olehnya.
"tidak perlu berdebat dan juga kenapa anda tidak memakan jamurmu?" tanya Leon yang mencoba mendapatkan sebuah clue.
"tentu saja akan memakannya tetapi ada seorang laki-laki yang mengambil jamur tersebut tanpa bertanya dengan pemiliknya" jelas Luna dingin. Membuat Leon memberikan senyum smirknya.
"baiklah kalau begitu biar saya pesankan lagi menu yang bahan utamanya jamur" smirk Leon yang ingin memetikkan jarinya.
"tidak! tidak perlu" teriak Luna dan langsung menutup mulutnya. Dia tidak percaya laki-laki ini memainkannya di tempat ini. 'sial, kenapa aku bisa memiliki hubungan dengannya!' kesal Luna dalam hati.
"kenapa?" tanya Leon.
"rahasia" jawab Luna singkat. Tidak mungkinkan dirinya bilang bahwa dirinya alergi jamur. Bahkan di keluarganya saja makanan harus dikontrol dan selalu dijaga agar tidak membahayakan kesehatan tubuh. Dan beruntungnya hanya satu anaknya saja yang alergi dengan jamur yaitu Laura.
Leon yang menatap Luna hanya bisa memberikan senyum tipisnya. Ternyata dugaan dan rencana yang di siapkan berjalan mulus dan beruntungnya Luna tidak curiga bahwa dirinya dengan sengaja memesan hidangan utama yang berbahan dasar jamur.
'ini akan semakin menarik' pikir Leon yang langsung menyuap potongan terakhir dari hidangan utamanya, meninggalkan Luna yang sibuk dengan pikirannya.
__ADS_1
🔫Leon semakin curiga dengan Luna nih, apakah Luna bakal ketahuan? hmmm pantengin aja layar hape nya^^