My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 6 : Penyesalan


__ADS_3

"Leon, Aku cuma minta kau menemaniku saja" teriak wanita itu. Navin mengeluarkan smirknya dan langsung mengambil handphonenya milik sang ibu. Kamera dia nyalakan untuk merekam kejadian yang akan dia buat menjadi kehancuran untuk musuh sang ibu ya Lina Luxury kakak yang merupakan musuh utama dari kehancuran sang ibu sedang berteriak sambil memohon ke arah Leon.


"Kak apa kau" ucap Laura yang langsung diangguki Navin. 'Kakaku memang paling keren' pikir Laura yang langsung mengambil Cheesecake dan menonton drama yang akan sangat menyenangkan.


""Leon, Aku cuma minta kau menemaniku saja" teriak Lina membuat pemandangan semua pelanggan terkunci ke arah itu.


"Apa kau tau kau hanya membuang waktuku" tegas Leon sambil berjalan ke arah pintu luar. Lina langsung berlari dan memeluk tubuh Leon dari belakang.


"Leon ini kan cuma pertemuan aja" ucap Lina sambil memeluk Leon.


"Dan juga kamu kan memang suami aku" lanjut Luna sambil memeluk erat tubuh Leon dari belakang.


"Sudah ku bilang kita hanya sebatas tunangan yang ditulis hanya karena keinginan ibuku yang pura pura sakit parah itu dan yang sudah direncanakan oleh kalian." tegas Leon yang langsung menglepas kedua tangan Lina yang memeluk pinggangnya. Jujur saja dia risih dan jijik dengan pegangan tangan ini.


"Dan juga ingat aku bukan suami mu tapi calon yang akan berpisah saat aku menemukan dirinya" lanjut Leon yang langsung pergi keluar restaurant Dan masuk kedalam mobilnya.


"Mohon maaf nona, tapi ini sungguh sangat memalukan" ucap Ajudan milik Leon dan mengikuti kepergian Leon.


"Ahhhhhh!!" Kesal Lina. Lina langsung menatap semua pelanggan yang ada dengan tatapan tajam dan berjalan ke arah kasir.


"Bayar semua makanan semua orang yang ada di sini dan jangan biarkan mereka menyebarkan hal buruk tentangku" tegas Lina yang mengeluarkan black cart nya dan pergi dari restaurant.


Navin langsung menyimpan rekaman tadi dan langsung dia masukkan ke dalam tas miliknya.


"sudah,kak?" tanya Laura yang langsung disenyumi oleh Navin. Luna yang melihat kedua anaknya itu hanya bisa tersenyum dan mengikuti alur cerita yang akan membuat mereka menjalankan semua rencana dengan mudah.


"Bagaimana kalau kita pergi nak, kita harus kembali ke kantor dan tentu saja menyelesaikan punya kalian" ucap Luna sambil berdiri dari kursinya. Navin dan Laura langsung mengikuti sang ibu sambil tersenyum manis bagaikan tidak ada yang terjadi apapun. Mereka bertiga langsung berangkat ke arah kantor untuk menyelesaikan semua yang akan mereka lakukan.


Di Tempat Lain~

__ADS_1


Di dalam mobil yang harusnya terasa sejuk, apalagi dengan harga mobil fantastis yang dipastikan semua sistem mobilnya termasuk yang terbaik. Tapi tidak untuk lelaki itu yang sudah melepas jas dan dasi miliknya.


"Tuan , apa kita ketempat biasa" tanya Ajudan orang itu.


"Ya pergi ke tempat biasa" jawab lelaki itu.


Dia mengambil foto yang selalu dia simpan di belakang kursi penumpang. Dan memeluk foto itu, matanya tidak sanggup menahan cairan bening itu untuk keluar.



"Dimana kamu, aku merindukanmu, aku sangat menginginkan kamu kembali, andai kau tau aku sudah memaafkan kesalahan mu walau aku merasa kepergian mu adalah hal yang benar tapi perasaan dan ingatan ku tidak bisa melupakanmu. Aku mencintaimu Luna." sendu dirinya ya lelaki itu adalah Leonex Martin. Lelaki yang sangat berubah karena kepergian seseorang yang membuat dirinya merasakan rasa bersalah yang sangat besar hingga dirinya tidak sanggup menahan semua kerinduan yang ada. Semua usaha dia kerahkan untuk bertemu kembali dengan mantan sekretaris dan mantan kekasih nya itu. Tapi hasilnya tetap saja nihil dan dia hanya bisa menyalahkan dirinya yang dulu memecat perempuan itu karena penghianatan.


Dan yang paling dia sesali adalah dia baru sadar bahwa tunangan yang merupakan keinginan dari sang ibu adalah orang yang telah membuat dia merasakan kehilangan seseorang yang dulu sangat dia cintai. Dua bulan yang lalu tepatnya pada tanggal yang tahunnya dia diundang oleh keluarga Lina dan dia mendengar percakapan antara Lina dengan orang yang sangat dia kenali adalah sahabatnya Luna.


Saat dirinya ingin mengatakan kebenaran dia harus menerima hal yang menohok hatinya ibunya meminta dia bertunangan dengan Lina yang merupakan kekasih yang bahkan dirinya tidak pernah cintai.


"Tuan kita sudah sampai" ucap Ajudan Leon, Leon langsung keluar dari mobil tersebut dan berjalan melangkah ke pintu itu.


"Aku akan menelpon mu nanti" ucap Leon lalu memasukkan kuncinya.


"baik tuan" ucap Ajudan itu lalu pergi mengendarai mobil milik sang atasan. Leon mulai menginjakkan kakinya ke dalam apartemen itu ya apartemen tua yang merupakan tempat dirinya lembut bersama mantan sekretaris nya. Dia menyalakan setiap lampu yang ada dan mulai berjalan ke setiap sudut ruangan hingga dia sampai ke tempat yang merupakan gairah cintanya dituangkan di tempat itu.


Leon mulai menduduki kasur king-size itu dan menyentun pelan seprei bewarna putih itu. Dan mengingat hal yang pastinya manis dan sangat bergairah untuk dirinya dan Luna.


"Apa itu sakit?" tanyanya polos.


"Mungkin untuk pertama kalinya sakit tapi nanti tidak" jawab Leon yang membuat Luna mengelus dada milik Leon.


"Bila sakit sekali bagaimana?" tanyanya lagi yang membuat Leon terkekeh ya hal yang dia sukai dari gadis ini adalah sikap polos, sederhana, dan pekerja keras dalam melakukan hal walau dia berasal dari keluarga yang kaya.

__ADS_1


"Kau bisa mencakar punggungku" jawab Leon yang membuat Luna memiringkan kepalanya sedikit.


"Apa kamu tidak sakit?" tanyanya lagi.


"Tidak sesakit saat aku memasuki mu" ucapku membuat Luna merona malu.


Leon menarik nafas pelan, dan merebahkan tubuhnya di atas kasur itu. Kejadian yang tidak mungkin terjadi lagi di apartemen ini. Dan pastinya hal hal bahagia dan menyenangkan yang bahkan dia tidak pernah lagi rasakan selama 8 tahun ini.


Kehidupannya suram ditambah fakta yang membuat hatinya menjadi hancur berkeping-keping. Dia bisa saja menghancurkan perusahaan Luxury tetapi ibunya mendukung Lina. Jika dia adalah orang yang kejam mungkin dia akan durhaka kepada sang ibu tapi dia sudah berjanji dengan Luna untuk selalu menyayangi kedua orang tuanya itu.


"Kenapa kau tidak pulang? keluarga mu pasti menunggu mu" ujarnya sambil menyerahkan laporan yang sudah dia kerjakan.


"Tidak ada yang menungguku paham" ucapku Dingin.


"Kau tau tanpa orang tua mu mungkin kamu tidak bisa lahir di dunia ini dan juga kamu tidak bisa bertemu denganku" ocehnya padaku.


"Jadi?" tanyaku dia tersenyum manis ke arah dan menarik tanganku ke arah pintu ruanganku.


"Pulanglah ada aku disini aku bisa mehendel urusan disini" ucapnya.


"Tapi aku hanya ingin bersama mu" ucapku membuatnya merona malu dan berdehem.


"Ehem.. kalau begitu sayangi orang tuamu cintailah aku tiap hari" ucapnya sambil meniru iklan Yakult dari perusahaan perwakilan Indonesia tadi pagi membuatku terkekeh dan mengecup nya pelan.


"Kalau begitu aku pergi" ucapku yang langsung diberi lambaian tangan olehnya. Aku menarik nafas pelan dan menutup mataku pelan untuk mengistirahatkan pikiranku sambil memegang foto dirinya.


"Aku menyayangimu dan aku menyesalinya, Luna" ucapnya lirih lalu menutup mata menuju alam mimpinya.


__ADS_1


__ADS_2