My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 156 : Apa Terjadi Sesuatu?


__ADS_3

Luna yang selesai membersihkan sepatu botnya dengan tenang merapikan pakaian miliknya. Tanpa memperhatikan tatapan Leon yang salah kepadanya. Hingga tidak lama kemudian, pintu yang tadinya tertutup kini dibuka dengan keras.


Suara dobrakan pintu terdengar menggema di ruangan itu. Membuat Luna yang sedang merapikan pakaian mundur beberapa langkah dan membiarkan orang-orang yang ada di luar pintu masuk ke dalam dengan cara yang kasar.


Di mana di saat pintu terbuka, terlihat seorang laki-laki dengan wajah cemas berjalan ke arah Luna. Dan dengan berhati-hati menatap dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dengan suara helaan napas, laki-laki dewasa itu memeluk adik perempuannya dengan lega.


"Beruntunglah tidak terjadi sesuatu denganmu, Luna. Jika tidak manor ini akan hancur keesokan harinya oleh kedua iblis besar dan kecil itu" ucap Rangga lega.


"Bukankah terlalu sayang menghancurkan manor ini, kak?"


"Sayang? lebih baik aku menyayangi dan menjagamu tetap aman dari laki-laki itu daripada terjadi apa-apa denganmu. Terutama kedua iblis besar itu akan datang ke sini membantu kita"


"Mereka akan datang ke sini? apa sesuatu terjadi di sana?"


"Tidak terjadi apa-apa, hanya sebuah pemberontakan kecil saja" sela Jiro sambil melihat keadaan di sekitarnya. Di mana saat ini dia melihat kepala pelayan menutupi luka milik majikannya.


"Dan juga apa yang terjadi dengan kalian berdua? apakah kalian di serang?" tanya Jiro waspada.


"Tidak perlu khawatir Jiro, luka ini disebabkan oleh anjing susu kecil kesayanganku" jawab Leon yang melihat bahwa luka yang ada di lehernya sudah dibalut dengan sempurna.


"Anjing susu kecil? bukankah keluargamu memiliki alergi terhadap bulu anjing?"


"Ini bukan anjing susu kecil biasa, melainkan seekor anjing yang bisa berubah menjadi serigala berbulu domba" jelas Leon sambil melirik ke arah Luna.


Di mana seekor anjing susu kecil yang mereka bicarakan sama sekali tidak peduli dengannya dan bahkan melakukan urusannya sendiri. Membuat kepala pelayan yang melihat tingkah laku patriark mereka menghela napas sedih.


'Sepertinya pesona tuan muda mulai menurun akhir-akhir ini, bahkan seorang wanita muda tidak tertarik sama sekali dengan patriark dan lebih memilih melukainya' pikir kepala pelayan menyedihkan.


"Anjing susu kecil? bukankah kau anjingnya" ejek Rangga yang tidak menyukai keberadaan Leon saat ini.


"Kau-"


"Bisakah kalian berhenti menggonggong" dingin Luna membuat ruangan itu menjadi hening seketika. Terutama kedua laki-laki yang sama-sama mengejek itu.


"Jadi, mengapa kau ada di sini dan apa terjadi sesuatu di sana?" tanya Luna menatap Rangga dan Jito dingin.


"Itu-"


"Tunggu sebentar, aku akan mengangkat panggilan ini terlebih dahulu" sela Jiro yang menyadari bahwa telepon genggam yang ada di dalam saku celana nya sudah berdering beberapa kali.

__ADS_1


Dengan sekali tekan, telepon yang tadinya berdering kini menghasilkan suara raungan keras dari seorang wanita. Membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut dan membeku seketika.


"Apa yang sedang kau lakukan di sana kak?! bukankah aku sudah menelponmu berkali-kali dan kini kau baru mengangkatnya?! Sial, lebih baik kamu cepat kesini dan lihat apa yang sedang terjadi di sini!!" ucap Joe dengan suara raungannya yang keras dan dengan cepat mengakhiri panggilan tersebut.


Membuat Luna yang mendengarnya mendorong Rangga menjauh dan dengan cepat berjalan ke ruang pertemuan sebelumnya. Mengambil kunci mobil jip yang tergeletak di atas meja lalu dengan cepat berjalan ke arah luar.


Tanpa memedulikan siapa pun, Luna membuka pintu mobil kamuflase dan mengemudikan mobil itu. Meninggalkan manor besar yang terawat dengan kecepatan tinggi dan menghilang begitu saja.


Membuat Rangga dan Jiro yang berlari mengikutinya tertegun saat melihat kecepatan mobil kamuflase milik mereka. Mobil itu pergi meninggalkan mereka dan hanya menyisakan serpihan debu.


Sehingga mata mereka beralih dan menatap ke arah Leon yang sudah siap pergi dengan kendaraan miliknya.


"Apa yang kau lakukan, Rangga? cepat minggir!" dingin Leon saat melihat Rangga menghalangi kendaraan miliknya yang ingin melaju.


"Bawa aku juga" ucap Rangga tak kenal takut. Membuat Leon yang mendengarnya berdecak dan membuka pintu mobil miliknya.


"Cepat masuk, jika sampai sesuatu terjadi kepada kedua anakku karena keterlambatan mu, aku akan memenggal dan memajang kepala kalian berdua di ruang koleksiku” dingin Leon yang membuat bulu kuduk orang-orang yang ada di sekitarnya merinding.


Rangga yang mendengarnya juga merasakan kedinginan dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. Menarik Jiro yang berdiri tak jauh dari dirinya dan memasukkan orang tersebut secara paksa.


Sehingga membuat Leon yang duduk di kemudi, menancapkan gas dan membawa mobil itu secepat mungkin. Sambil diikuti dengan iringan beberapa mobil hitam milik bawahannya dan mencoba menyusuk Luna secepat mungkin.



Membuat tangannya memutar kemudi itu dengan cepat dan melihat ke suatu tempat. Di mana tempat itulah yang menghasilkan kabut asap yang memenuhi langit-langit dan mengubah warna langit yang indah menjadi jelek.


Terutama disaat pemandangan yang menakjubkan ditampilkan di sana. Yaitu terlihat sebuah mansion berwarna putih keperekan terbakar di lautan api yang ganas.


Membuat Luna yang melihat kejadian tersebut memarkir mobilnya di tempat yang aman dan keluar sambil membawa telepon genggamnya. Menekan nomor-nomor itu dan memanggil salah satu orang kepercayaannya saat ini.  


Dengan wajah dan tatapannya yang dingin, Luna membuat orang-orang yang berlarian membawa air merasakan ancaman. Dan membuat orang tersebut harus mencari jalan lain maupun berbelok untuk menghindarinya.


Di mana aura yang dia keluarkan memiliki ancaman yang sangat mengerikan. Seakan-akan menekankan mereka bahwa jika mereka berani bertindak tanpa sepengetahuannya maka hanya kematian yang akan menjemput orang tersebut. 


"mengapa aku merasa akan ada hal buruk terjadi di sini?"


"Entahlah, hanya saja aku juga merasakan hal tersebut"


"Dimana aura ini berasal? ini benar-benar menakutkan" bisik yang lainnya.

__ADS_1


Membuat orang-orang yang ada di tempat itu mengalihkan pandangan mereka dan menatap ke arah wanita yang sedang bersandar di dekat mobil kamuflase. 


Di mana wajahnya yang dingin itu tidak pernah luput dari pandangan ke arah mansion putih yang terbakar itu.


Tanpa sebuah gejolak emosi, mata berwarna hitam pekat itu menunjukkan sebuah kematian yang mengerikan. Seakan-akan jiwa orang-orang yang berada di sekitar mereka akan ditarik ke dalam jurang kematian yang sangat mengerikan.


Di mana jiwa yang sudah terperangkap ke dalam jurang kematian itu tidak akan pernah bisa lari kemanapun dan tidak akan bisa lepas dari genggaman tangannya yang halus dan juga ramping.


Sehingga membuat Navin dan Laura yang sedang melihat para tentara berlarian memadamkan api itu menoleh seketika. Terutama di saat mereka merasakan aura dingin yang sangat mereka kenali.


Kedua pasang mata itu menatap wanita yang mereka kenali dan dengan cepat bergegas ke arahnya. Dengan langkah kaki yang kecil dan juga disiplin, kedua anak kecil itu berjalan ke arah ibu mereka dengan cepat dan memeluk pahanya yang kokoh.


Sambil menampilkan sepasang wajah susu kecil, mereka memeluk wanita itu dengan sangat erat.


"Mommy, aku sangat takut" ucap Laura dengan suara celotehan kecilnya.


Membuat Luna yang sedang menerima panggilan tersebut menoleh dan menatap wajah susu kecil itu dengan tenang, dan dengan lembut menyentuh pucuk kepalanya. 


Lalu melanjutkan kembali panggilan miliknya.


"Ya, kirimkan itu secepat mungkin dan jika bisa 2 menit kau sudah berada di sini" ucap Luna dingin membuat orang yang berada di panggilan itu berteriak gila dan mencoba meminta tambahan waktu.


Namun sayangnya sebelum kalimatnya selesai, wanita tersebut sudah memutuskan panggilan secara sepihak tanpa pemberitahuan sedikitpun. 


"Sial, kau Luna!  apa kau pikir aku bisa sampai ke sana dalam 2 menit saja?!" teriak orang itu gila sambil membiarkan para pelayan yang ada di sekitarnya memakaikan pakaian ke tubuhnya dengan rapi. 


Dan sisa pelayan yang ada hanya bisa menundukkan kepala mereka dengan sopan dan juga hormat sambil menunggu perintah dari sang majikan.


"Dan mengapa kalian diam saja di sini? cepat pergi dan siapkan barang-barang yang dibutuhkan wanita gila itu" perintah orang tersebut sambil meneriaki para pelayan dan bawahan yang ada di sekitarnya.


Membuat para pelayan dan bawahan yang mendengarnya dengan cepat berlari dan mengumpulkan setiap barang-barang yang dibutuhkan oleh tuannya.


Dan di setiap gerakan mereka pasti terdengar sebuah kutukan kecil yang berasal dari mulut tuan muda mereka.


"Sial-sial, mengapa aku bisa memiliki leluhur kecil seperti ini!" kesal orang itu sambil menatap cermin besar yang ada di hadapannya dan dengan cepat menyisir setiap cabang rambut merah terang miliknya.



🔫 Terima kasih buat kak izarina ibrahim yang sudah memberikan koin [TIP] lagi untuk mendukung novel ini. Oleh karena itu, jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.

__ADS_1


🔫Sekian terima kasih, and Sayonara~


__ADS_2