
'Leon, lihat saja apa yang akan ku lakukan padamu' ucap Luna dalam hati mengutuk Leon tanpa henti.
Merapikan rambut miliknya, mengambil jaket bulu-bulu yang ada di kursi dan mengambil tas yang tergeletak di kursi juga. Hanya saja sebuah kotak dan secarik kertas yang ada didekatnya, membuat Luna ingin mencabik-cabik Leon.
'Terima kasih atas waktunya tunangan ku tersayang' tulis di secarik kertas tersebut.
Tangan Luna meremas keras kertas yang ditulis oleh Leon dan membakarnya dengan pematik api yang Luna bawa. Membakar kertas yang berisi kalimat manis itu dengan api yang membara.
'Lihat saja Leon aku akan membakarmu seperti kertas ini' dingin Luna dan pergi sambil membawa kotak yang diberikan oleh Leon. Kotak yang berisi senjata yang sudah menjadi bahan taruhan. Hanya saja taruhan yang dilakukan Leon untuknya sebagai pengalihan saja.
Luna yang memikirkan taruhan itu membuat pegangan di kotak miliknya semakin erat dan menutup pintu hotel dengan keras.
Dwak**
Langkah kakinya yang tegas pergi meninggalkan ruangan hotel dan kembali ke parkiran untuk kembali ke mansion. Saat Luna pergi seorang penjaga yang ada di dekat pintu kamar tersebut menelpon seseorang. Menelpon atasan yang memperintahkan mereka untuk memberi tau jika noda muda pergi dari kamar.
"Tuan, nona Luna sudah bangun dan pergi meninggalkan Austin BarC" jelas penjaga tersebut.
"ehh ternyata dia bisa menahan dosisnya secepat itu, baiklah kembali ke tempat kerja kalian" dingin laki-laki tersebut dan menutup telpon kembali.
Tubuhnya masih dipenuhi dengan tetesan air karena baru menyelesaikan mandi air dingin miliknya. Bahkan sekarang hidungnya hampir memerah karena kelamaan mandi untuk menunggu bagian bawahnya tertidur kembali.
"Hah... jika hasilnya mengatakan bahwa dia benar-benar adalah Luna Luxury sepertinya aku akan menerkamnya" gumam Leon yang langsung mengeringkan tubuhnya dan rambutnya. Mengganti baju miliknya dengan baju kemiliteran dan berjalan ke luar.
Melakukan pelatihan terhadap bawahannya sambil menunggu tes yang akan diberikan oleh rumah sakit kemiliteran yang dia minta. Leon membutuhkan hasilnya secepatnya untuk menyelesaikan semua yang ada di dalam hatinya. Terutama nafsu dan gairahnya yang selalu bangkit tiba-tiba jika mengingat hal yang dia lakukan bersama Luna di atas ranjang.
"Komandan gawat kedua orang itu bertengkar lagi" lapor salah satu tentara.
"Bawa aku ke mereka" dingin Leon dan pergi bersama dengan anak buahnya. Dua orang yang selalu bertengkar dan merebutkan sesuatu seperti anak-anak. Jelas menguras emosi Leon dan membuat Leon menjadi pemimpin yang ganas terhadap bawahannya.
"Itu komandan" ucap tentara tersebut sambil menunjuk ke arah kedua orang yang sedang melakukan gulat.
Leon yang melihatnya berjalan mendekat ke arah orang-orang yang bertengkar. Dimana banyak orang berkumpul untuk menonton pertarungan kedua orang tersebut. Sampai sebuah aura mencekam dan mengerikan memenuhi tempat latihan.
__ADS_1
Orang-orang yang berkumpul tadi langsung berbaris rapi dan menutup mulut mereka. Aura mematikan yang dikeluarkan Leon dan tatapan tajam miliknya mampu membuat orang-orang yang ada di sana terdiam.
"Jika kalian memiliki tenaga yang banyak kenapa tidak bertanding dengan saya saja?" tanya Leon yang berada di antara kedua orang tersebut.
"Ko.. komandan" gugup kedua pria yang ada di dekat Leon.
"Sepertinya hari ini saya mendapatkan kudapan yang lumayan enak" smirk Leon dan mendekat ke arah bawahannya.
Kemudian, suara teriakan kesakitan terdengar di latihan tersebut. Suara kesakitan yang di berikan Leon tanpa kenal ampun dan menatap bawahannya dingin.
"Ada lagi yang ingin bertengkar?" tanya Leon dingin.
"Siap, tidak ada!" tegas mereka semua yang ada di sana.
"Kamu urus kedua orang tidak berguna ini" perintah Leon ke arah salah atau bawahannya. Dia pergi meninggalkan tempat latihan berpasir itu dan menuju tempat latihan yang tertutup. Musim dingin sudah datang dan banyak hal akan tiba sebentar lagi.
Kring** Kring**
"Jelaskan" singkat Leon. Dia sudah memiliki mood yang kurang enak ditambah dengan bawahannya yang kadang sulit untuk di bilangin. Membuat mood Leon bertambah buruk semakin hari.
"Tes yang ada minta sudah hampir selesai" jelas Febri yang menunggu di ruangan rumah sakit kemiliteran. Setelah menunggu di ruangan Leon tadi, Febri kembali lagi ke arah rumah sakit untuk menchek tes yang diminta oleh Leon. Hingga beberapa jam kemudian tes yang diminta sudah hampir selesai dan siap diberikan kepada Leon secara langsung.
"sebentar lagi aku sampai" dingin Leon yang langsung berbelok dan memiliki ke arah kanan. Tempat rumah sakit kemiliteran berada dan hasil dari tes DNA yang dirinya minta juga.
....
Sesampainya di rumah sakit kemiliteran, di dalam ruangan putih dan berbau obat-obatan tersebut. Seorang dokter dengan matanya yang tajam menyelesaikan satu tes lagi.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Leon dingin.
"Sabar komandan, dokter sudah berusaha secepat mungkin" jawab Febri yang merupakan tangan kanan Leon saat ini.
__ADS_1
"Apa tidak bisa lebih cepat lagi?" tanya Leon yang tidak sabar membuat Febri yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas.
'Astaga Leon! Leon! kamu harusnya merasa beruntung hasil tes yang kamu minta selesai dalam kata jam saja bukan hari. Ini bahkan sudah paling cepat setauku' ucap Febri dalam hati.
Kadang-kadang sesekali sikap Leon yang kekanakan muncul di permukaan dan membuatnya sakit kepala. Febri yang merupakan tangan kanan dan salah satu teman Leon. Jelas terkena resiko saat tiba-tiba sikap Leon yang seperti dulu sekali muncul kepermukaan.
Klekk**
"Bagaimana hasilnya?" tanya Leon cepat.
"Hah...hah sabar pak saya bernafas terlebih dahulu" ucap dokter terengah-engah.
"Tidak perlu bernafas yang ku perlukan cuma hasilnya" tajam Leon yang membuat dokter semakin pasrah dan memberikan kertas formula yang merupakan hasil dari tes selama berjam-jam.
"Ini pak" pasrah Dokter. Sekarang sedang tengah malam dan dia harus bekerja dengan keras di waktu tidur yang berharga. Tetapi atasannya yang dingin dan tak berperasaan tidak peduli sekalipun.
"Sabar dok" bisik Febri dan mengusap punggung dokter.
"Terimakasih pak atas perhatiannya" ucap dokter yang sudah terduduk di kursi tunggu.
Leon yang membaca cepat hasil yang tertulis di kertas hanya bisa menutup mulutnya rapat. Hasil yang dia dapatkan dengan cepat dan rambut yang dia ambil dengan susah payah. Memberikan sebuah hasil yang membuat hatinya kecewa dan juga bahagia.
"Apa hasilnya, komandan?" tanya Febri.
"98,76% hasilnya cocok" ucap Leon dan meremas kertas hasil tersebut.
"Ehhh kalau hasilnya sesuai harapan jangan di remas kertasnya, komandan" ucap Febri mengingatkan. Febri tidak mengetahui perasaan yang dipendam Leon saat melihat hasil dari tes tersebut. Dia ingin menangis tetapi ada juga sebuah rasa kecewa.
'Sial kenapa baru sekarang aku mengetahuinya' pikir Leon kesal dan memukul dinding rumah sakit.
🔫Oh ya akhirnya Leon kita pinter dan Luna semakin hari semakin kejam nih, jangan lupa di baca, okay heheheh. Sayonara~
__ADS_1