
Ke esokan harinya,
Luna yang telah menyiapkan semua persediaan beserta persenjataanya, langsung menaiki motor hitam miliknya. Mengambil helm dan juga jaket hitam anti peluru miliknya dan menolehkan kepalanya ke arah kedua anaknya.
Yang saat ini, sedang tertidur di pelukan kepala pelayan dan juga bersandar di kaki jenjang yang berlapis kain hitam Solitaire itu.
Membuat Luna yang melihatnya tidak bisa merasa kasihan saat melihat rasa letih dari kedua anaknya.
"Bukankah sudah ibu katakan untuk tidak mengantar ibu." Jelas Luna yang telah melembutkan alis dan juga wajahnya.
"Ehm."
"Kepala pelayan, tolong antar Laura ke dalam kamarnya. Lingkaran hitam di bawah matanya cukup parah dan dia butuh istirahat yang banyak." Ucap Luna yang dengan jelas melihat kelelahan di wajah anak perempuan nya.
Laura yang berada di dalam pelukan kepala pelayan, mencoba untuk membuka matanya.
Namun sayang, tubuh kecilnya tidak bisa mengikuti niat di hatinya dan membiarkan tubuh itu semakin masuk ke dalam pelukan kepala pelayan. Dimana rasa letih dan juga lelah memenuhi dirinya.
Membuat Laura yang ingin menanggapi ibunya tidak bisa bangun dari tidurnya dan menambah rasa kantuknya.
"Ehm, ibu. . ." Panggil Laura lembut dan menanamkan matanya lelah.
Navin yang melihat kondisi adiknya, kini berada dalam kondisi sadar dan menatap wajah ibunya yang cantik dengan tatapan tertuju pada punggungnya.
Dimana ransel hitam berukuran kecil itu masih belum cukup untuk memenuhi perjalanan ibunya.
"Navin, apa kau merasa tidak puas dengan persediaan ibumu?" Tanya Luna yang dengan jelas menangkap ketidakpuasan di wajah anaknya.
Navin yang mendengar perkataan ibunya dengan cepat menggelengkan kepalanya dan menatap wajah ibunya dengan tatapan suram.
"Navin."
"Hah, bu. Apa ibu tidak bisa tidak pergi ke sana? Aku merasa tidak nyaman saat melihat ibu pergi dari sini." Gumam Navin yang dengan jelas di dengar oleh Luna.
Membuat Luna yang mendengarnya mau tidak mau turun dari sepeda motornya dan mendekati anak laki-lakinya. Memeluk tubuh kecil itu dan berbisik lembut di telinganya, seolah membisikkan nada lembut yang akan memenangkan anak tersebut.
Navin yang mendengar nada lembut milik ibunya mau tidak mau menatap kembali ke arah ibunya dan mengeluarkan jari kelingkingnya. Agar ibunya bisa berjanji kepada dirinya untuk pulang dengan selamat.
__ADS_1
Bahkan jika dirinya terluka, Navin berharap ibunya akan pulang dengan kondisi bernyawa jika resiko yang dihadapi ibunya melebihi harapan ibunya. Sehingga ibunya kesulitan dalam melawannya.
"Berjanjilah untuk pulang makan malam ini, bu.”
“Ya.”
“Jika waktu memang tidak memungkinkan, aku berharap ibu pulang sebelum natal.” Tambah Navin yang tidak bisa memperkirakan kapan waktu ibunya pulang.
“Ya.”
“Hati-hati bu, kami akan menunggumu dari sini.” Ucap Navin sambil melambaikan tangannya yang kecil.
Dengan matanya yang berwarna hitam persis seperti ibunya. Navin melihat kepergian ibunya, sambil mengendarai motor berwarna hitam. Orang-orang yang berdiri disana mendengar suara motor yang menderu kencang.
Luna yang telah menyelesaikan pertemuan dengan kedua anaknya, dengan cepat mengendarai motornya dan melaju menuju lokasi hutan yang ada di wilayah ini. Walaupun jarak beberapa hutan di negara ini banyak dan juga menyebar.
Itu sama sekali tidak menghentikan Luna untuk memeriksa semua kemungkinan yang terjadi di dalam lingkup pengawasannya. Untuk mendapatkan jawaban yang ia inginkan.
Terutama hal-hal yang berkaitan dengan kecelakaan tahun itu. Dimana saat ini, Luna sudah sampai di kantor keamanan pusat, atau bisa dibilang kepolisian.
Tidak lama pintu yang semula tertutup kini terbuka kembali. Memperlihatkan sosok wanita cantik dengan wajah lembut. Yang mana pikiran yang ia miliki sangat berbeda dengan wajahnya yang tenang.
Kini ia sudah mendapatkan hasil yang ia capai. Mengulangi perkataan polisi yang ia dengar, sudah jelas bahwa kebakaran itu memang pernah terjadi di wilayah kantor pusat dulu.
Membuat dokumen yang ingin ia cari untuk mendapatkan informasi tambahan hilang dengan mudah. Tapi tidak semudah menghancurkan barang bukti, walaupun Luna tidak bisa mendapatkan bukti secara fisik.
Luna berhasil mendapatkan bukti secara elektronik, namun itu tetap tidak cukup. Karena bukti elektronik yang disimpan di kantor polisi terlihat lama sehingga datanya kurang meyakinkan.
Apalagi hampir setengah data tersebut tidak mencakup detail yang secara rinci dan hanya ditulis dasar-dasar nya saja.
Sehingga catatan yang tertulis di kepolisian terlihat seperti laporan sehari-hari atau bisa dibilang data yang hanya akan mencakup intinya saja, tanpa menjelaskan detail sespesifik mungkin.
[ "Sayangnya data yang anda inginkan tidak bisa kami perlihatkan. Terutama data-data penting di tahun seperti itu telah hilang sepenuhnya."
"Apa itu karena kejadian kebakaran yang tidak sengaja itu?" Tanya Luna sambil menatap staf polisi yang ada di sana.
__ADS_1
"Ya, bisa dibilang seperti itu tapi tidak hanya kebakaran itu saja. Kalau tidak salah, kantor polisi kami pernah dibobol oleh seseorang. Makanya saat kejadian itu terjadi staf yang ada di kantor hampir lengah, untuk beberapa data yang penting berhasil kami selama tepat waktu. Tapi seperti yang kau dengar tadi dari rekanku, tidak semua data bisa selamatkan dari gudang itu."
"Ahhh, seperti nya kecelakaan itu memang tidak disengaja. Tapi terimakasih tuan-tuan." Senyum Luna lembut, membuat polisi yang ada di sana menghentikan Luna yang ingin pergi meninggalkan kantor.
"?"
"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini, tapi sepertinya saya harus mengatakannya secara langsung. Nona…"
"Ya?"
"Berhati-hatilah saat dijalan, karena kami tidak tau mata siapa yang akan mengikuti anda dan juga kecelakaan itu sengaja dibuat oleh seseorang. Oleh karena itu, berhati-hatilah." Ucap staf polisi itu sambil menjabat tangan Luna.
Membuat Luna yang merasakan pendekatan tersebut merasa tidak nyaman.]
Dan Luna yang mengingat perilaku staf tersebut, mengeluarkan lapisan logam kecil di tangannya.
Dimana bentuk benda yang ada di tangannya sudah terlihat jelas bahwa itu ada flashdisk untuk menyimpan beberapa data penting yang ada di kantor polisi.
Sehingga Luna yang mendapatkan barang tersebut dengan cepat menyimpan nya di kantong bajunya, dan menyentuh jam tangan yang ada di tangan kirinya.
Dengan satu sentuhan, jam tangan berukuran kecil itu terlihat mengeluarkan seekor serangga berukuran kecil yang dengan cepat terbang menuju kamera pengawasan yang ada di luar maupun di dalam kantor tersebut.
Melihat kepergian serangga itu, Luna menaiki motor yang ia parkir dan pergi meninggalkan kantor polisi. Dimana sebelum Luna menaikinya, Luna dengan cepat menghancurkan pencari jejak yang diletakan seseorang di bawah motornya dan pergi menjauh dari lokasi tersebut.
Membiarkan serangga yang ia miliki menghilangkan jejak bukti keberadaannya. Walaupun salah satu rekan polisi itu adalah orang yang menyamar dan merupakan rekan tentara milik klan elang.
Itu tetap tidak merubah kewaspadaan yang dimiliki Luna. Sehingga Luna dengan cepat berjalan menyusuri jalan-jalan kota dan menuju wilayah sepi.
Dengan suara deru motor dan juga tiupan angin yang kencang, Luna dengan cepat menyusuri jalan-jalan sepi yang ada di sekitarnya.
Dimana mata berwarna hitam itu kini melihat pohon-pohon rindang dan juga lebat yang ada di sekeliling nya. Yang artinya dia sudah berada di salah satu lokasi hutan yang ada di kota ini.
Menatap hutan yang tenang dan damai itu, Luna memarkir motornya dan memeriksa hutan yang ada di sekelilingnya. Sambil memikirkan semua kemungkinan dan ingatan tentang ruangan yang pernah ia kunjungi semasa kecil.
"Seperti yang ku duga, bukan hutan ini." Gumam Luna yang membiarkan suaranya menghilang di dalam hutan tersebut.
__ADS_1
🔫 Jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.
🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~