My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 28 : bitch?


__ADS_3

Di dalam perjalanan ke London yang menghabiskan beberapa jam, di dalam pesawat semua tentara sedang bermain game yang mengasah otak bersama tangga dan yang kalah harus menyebutkan strategi dalam pasukan. Sedangkan Navin dan Laura sedang mengobrol dengan Neva lalu bertanya tentang kisah ibunya dulu.


berbeda dengan Luna yang membuka laptopnya dan memasukkan memory card itu ke dalam laptopnya dengan earphone yang berada di telinganya. Tangannya mengetik dan mencari video yang dimaksud oleh kakaknya itu matanya meneliti setiap video yang ada di memori card itu hingga sebuah nama tertulis di bawah Video itu.


Lina Luxury20087368266


Tangganya menatap sekeliling nya tidak ada yang memperhatikannya, lalu tangganya membuka video itu. Volume earphone yang dia setel sedang terdengar jelas suara itu. Dia sangat mengenal suara perempuan itu, Perempuan yang merupakan mantan saudarinya sedang melakukan hal yang tidak senonoh dengan lelaki yang tidak dirinya kenal.


Luna melewati semua desahan yang ada di video itu hingga sesuatu yang menarik membuatnya mendengarkan pembicaraan yang baginya menyenangkan.


<><><><><><><><><><><><><><><>


'*Kapan kau berhenti mengejar laki-laki itu'


'Tunggu aku mendapatkan hal yang ku inginkan'


'Aku sudah menunggumu dan membiarkanmu aborsi tapi kau ingin aku menunggu lagi?'


'Tenang saja jika sesuatu yang keluarga ku inginkan sudah ada dan ku dapatkan kita bisa membuatnya lagi'


'Kau harus berjanji'


'tentu saja ah.. pelan pelan*'


<><><><><><><><><><><><><><><>


Luna menghentikan video itu dan menutup laptopnya cepat. Telinganya masih sangat jelas dalam mendengar dan dia sangat yakin itu suara Lina tetapi siapa laki-laki Yanga dan bersamanya.


Walau ini adalah video tetap saja karena ini adalah hal yang senonoh dan direkam di ruangan gelap hanya terdengar suara dan punggung laki-laki yang tanpa helai kain itu saja.


'Apa yang dicari oleh keluarga luxury' pikir Luna karena semua yang dibicarakan Lina terkait dengan yang dibicarakan Neva hari ini. Hal yang dicari mereka sesuatu yang membuat Lina bersama dengan Leon.


'Tunggu Lina Aborsi berarti dia pernah hamil?' pikir Luna sambil mengingat ucapan Lina dengan lelaki itu. Walau dirinya tau Lina sering berganti pacar tetapi dirinya tidak tau bahwa Luna sudah tidak lagi perawan dan hal yang membuatnya terkejut adalah Lina melakukan hal itu beberapa tahun lalu. Artinya itu baru-baru saja saat dirinya pergi.

__ADS_1


'Apa yang dicari Keluarga Luxury' tanya Luna pada dirinya sendiri. Hingga sebuah tepukan bahu membuatnya menoleh dan menatap ke arah Kaka laki-lakinya itu.


"Apa yang kau pikirkan hingga seserius itu, Luna?" tanya Rangga.


"Sesuatu" jawab Luna lalu memasukkan laptop nya ke dalam tas ranselnya.


"Apa kau sudah menontonnya? bagaimana ? apa ada rahasia?" tanya Rangga kepo.


"Tentu saja ada dan pastinya sangat luar biasa" senyum Dingin Luna lalu duduk ke kursinya.


"Sepertinya sangat luar biasa hingga adik perempuan kun ini sangat tertarik" ucap Rangga.


"Tentu saja dan juga ada apa?" tanya Luna.


"Ah sebentar lagi kita sampai di London jadi siap-siaplah" ucap Rangga yang diangguki oleh Luna. Rangga duduk di sebelah Luna dan menyenderkan kepalanya di bahu adik perempuan yang sangat dirinya sayangi itu.


"Apa kau beneran ingin ikut dua duanya?" tanya Rangga sambil mengengam erat tangan adiknya yang dingin seperti es.



Rangga memberikan laporan yang dia genggam dengan tangan kirinya dari tadi dan dia berikan kepada adik perempuannya itu.


"Ada apa?" tanya Luna lalu membuka laporan itu.


"Klan Singa ikut pertandingan itu dan juga klan harimau juga" ucap Rangga.


"Lalu" ucap Luna enteng sambil melihat nama-nama peserta yang akan mengikuti pertandingan area kematian yang khusus untuk para mafia.


"Aku sudah tau dari Joe bukannya Klan singa milik keluarga Martin dan juga klan harimau milik keluarga Luxury" ucap Rangga.


"Lalu"


"Lalu lalu terus apa kamu tidak takut bila Leonex Martin mengetahui mu dan juga keluarga luxury akan mengenalimu karena mantan ayahmu itu akan datang dan duduk di deretan pemimpin klan!" lantang Rangga sambil menatap tajam adiknya. Semua tatapan menoleh ke arah teriakan itu dan terlihat Rangga dan Luna yang sedang berdebat di sana.

__ADS_1


"Apa yang harus kutakutkan bila mereka membocorkan rahasia maka bunuh saja mereka, mudah kan" jawab Luna enteng yang membuat Rangga menatap tajam adik perempuan nya itu dan mengengam erat tangan adiknya itu.


"Apa kau kira nyawa itu adalah mainan yang bisa kau mainkan" tegas Rangga.


"Ingat Luna mereka hanya memiliki satu nyawa dan itu bukan mainan yang bisa kau perbaiki atau tukar beli" lanjut Rangga. Luna berdiri dari tempat duduknya dan menatap kakaknya balik lalu mengempaskan tangan kakaknya itu kasar.


"Lalu apa perasaan adalah permainan bukannya lebih baik sakit jiwa dari pada sakit hati?" tanya Luna lalu menatap Rangga tajam ya dia pasti akan bertikai dengan Kaka laki-lakinya saat beberapa hari sebelum pertandingan. Kakak laki-lakinya yang mengurus tentara dan tidak pernah bermain licik tetapi menggunakan kekuatannya untuk perang dan hal penting. Berbeda dengan Luna yang sudah dijerumuskan dalam permainan kasar dan tentu saja permainan nyawa.


"Ingat kak, aku tidak pernah mengambil nyawa orang yang salah tapi aku mengambil nyawa orang yang bermain-main di sini" ucap Luna lalu mengeluarkan smirknya.


"Bukannya begitu?" tanya Luna lalu menatap para tentara yang mengganguk membenarkan.


"Kenapa kalian menyetujuinya" protes Rangga yang membuat Luna menentang kedua pipi Rangga dan membuat muka Rangga menatap wajah Luna.


"Kak tangan inilah yang membuat nyawa pergi dan dengan tangan ini lah yang membuatku menghancurkan kehidupan mereka yang harus mereka bayar dengan sana persis bahkan harus 20× lipat besarnya" ucap Luna. Membuat Rangga mengembuskan nafas lalu menatap lembut mata adiknya yang tak kenal gentar itu.


"Aku percaya padamu dan juga bila kamu memang memilih jalan ini jangan membawa perasaan ke dalamnya" ucap Rangga yang diangguki oleh Luna. Ya Rangga yakin adiknya tidak akan menghilangkan nyawanya sendiri dalam permainan kotor yang sudah menjadi takdirnya. Entah kenapa setiap pertandingan yang dilaksanakan sekali setahun itu dirinya memiliki sikap khawatir berlebihan kepada adiknya itu.


Perempuan yang datang kepadanya dengan tatapan kosong dan selalu mengurung diri di dalam kamar hingga dirinya keluar dan tatapan kosong itu berubah menjadi tatapan penuh dendam dan kedengkian.


"Jangan kau buang nyawamu sembarangan" bisik Rangga.


"Hmm"


Laura berjalan mendekat ke arah ibu dan pamannya yang pertikaian nya akan berkahir dengan drama yang menyentuh hati.


"Ehem mohon maaf Mom dan uncle Rangga pesawat kita sebentar lagi kita landing jadi bisakah jangan dramatis begini?" ucap Laura sambil mengeluarkan wajah polosnya yang membuat semua penumpang yang ada di sana hanya bisa tertawa melihat sikap Luaran yang menggemaskan itu.


"Baiklah ayo kita siap-siap dan yang lainnya bawa barang-barang kalian jangan Samapi tertinggal bila tertinggal keliling 50× putaran setiap pagi, siang, sore dan malam!" tegas Rangga.


"Siap Laksanakan!"


__ADS_1


__ADS_2