
Luna yang telah menyelesaikan pemeriksaannya, dengan cepat pergi ke lokasi yang berbeda yang telah ia tandai sebelumnya.
Dimana hutan yang ia jumpai kali ini juga bukan hutan yang dia impikan. Walaupun kondisi hutan gelap itu sama persis dalam mimpinya, itu tetap tidak mengubah keadaan bahwa hutan itu bukanlah hutan yang digunakan untuk kasus penculikan.
Setelah berkali-kali berkeliling dan menyesuaikan hutan secara menyeluruh, Laura sudah melewatkan satu malam dengan tidur di alam liar seperti biasanya. Sambil mencari petunjuk yang bisa ia temukan saat ia menyusuri hutan-hutan gelap dan rindang ini.
Dan sisa dua hutan lagi yang akan ia susuri, yaitu hutan yang berada di dekat lokasi pantai dan yang terakhir hutan yang kini diproses menjadi sebuah cagar alam.
Ya, cagar alam yang merupakan kawasan suaka alam buatan yang mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan juga ekosistem yang perlu dilindungi perkembangan nya secara langsung dan juga alami.
Dengan jelad hutan yang dijadikan cagar alam itu dibuat oleh manusia dan bukan secara alami. Dimana lokasi hutan itu berada di tengah kawasan kota yang ramai pengunjung maupun turis.
Maka karena itu pulalah, Luna tidak ingin memasukkan hutan tersebut ke dalam lingkup pencariannya. Tapi setelah berkeliling di tempat-tempat yang bisa menjadi lokasi kejadian itu.
Luna baru mengingatnya bahwa tempat teraman untuk bersembunyi jelas tempat yang paling berbahaya dan tidak memungkinkan orang-orang berpikir bahwa tempat itulah yang digunakan orang-orang untuk melakukan percobaan tersebut.
Yang artinya, Luna saat ini dengan cepat menyelesaikan berpakaiannya. Dan menyisir rambutnya yang basah.
Dimana tubuh yang cantik itu kini sedang membersihkan tumbuhnya di aliran sungai yang ada di hutan tersebut dan membiarkan bau ikan segar yang baru saja ditangkap tercium di hidungnya.
"Hah, jika itu kemungkinan maka akan menjadi pelajaran lagi untukku. Terutama kali ini, hari-hari di gunung sangat menyenangkan." Bisik Luna pada dirinya sendiri dan berjalan menuju ke tempat pemanggangan ikan yang ia letakkan.
Memadamkan api dan meniup ikan panas tersebut. Menghasilkan uap yang lembut di lingkaran udara.
"Hah, baunya sama seperti saat aku kecil." Gumam Lun yang mengingat masa kecilnya yang saat itu berlibur bersama pengasuhnya.
Dimana mereka berdua melakukan liburan tidak jauh dari tempat mereka tinggal, hanya di pesisir danau buatan yang ada di sana. Sambil mengapar tikar di rumput, berjemur, membakar lalu pulang dengan daun teratai saat hujan tiba.
__ADS_1
"Seperti nya itu juga bisa dijadikan referensi untuk liburan bersama anak-anak nanti." Gumam Luna yang telah menyelesaikan makannya dan mengambil tas punggungnya.
Sambil berjalan ke belakang pohon, dimana motor berwarna hitam itu diparkir di belakang nya dan dengan sekali jalan Luna pergi meninggalkan hutan itu dan pergi menuju cagar alam satu-satunya yang ada di negara ini.
Dari kejauhan, Luna melihat cagar alam berukuran besar dan juga luas itu. Dimana banyak orang keluar dan juga masuk dari tempat tersebut.
Membuat Luna yang melihat mau tidak mau tertarik dengan tempat yang dikatakan sebagai perlindungan terhadap tumbuhan dan juga hewan. Apa itu benar-benar melindungi mereka atau hanya untuk melindungi makhluk yang bersembunyi di sana.
"Sepertinya sudah lama aku tidak menyamar." Ucap Luna yang telah memarkirkan motornya di tempat parkir para turis dan masuk ke dalam toilet umum.
Sehingga tak lama kemudian, seorang wanita dengan gaun tang tradisional (China), berjalan keluar dari ruangan itu. Dengan rambut panjang yang digulung ke atas, wanita itu memperlihatkan lehernya yang jenjang dan juga putih.
Wajahnya yang kini ditutupi oleh topeng manusia buatan anak perempuannya. Telah menutupi kecantikan dari pemilik asli wajahnya tersebut. Dan hanya memperlihatkan sepasang amat indah dengan wajah yang merupakan khas orang Tionghoa asli.
Dimana kecantikan itu menampilkan wajah cantik yang bersahaja, terlihat tenang namun tidak dilebih-lebihkan.
"Seperti biasa nya, anak itu sangat bekerja keras untuk menekuni bisnis nya." Ucap Luna yang tak lupa memuji kemampuan anak perempuannya dan mengambil tas selempang sederhana dari tas punggung hitamnya.
Dimana tas punggung yang biasa ia letakkan di atas tubuhnya kini sedang berada di bawah jok motornya. Sehingga Luna yang tadinya penuh dengan muatan, kini menjadi sangat sederhana.
Seolah-olah hari ini ia memang hanya memiliki niat untuk berkunjung ke tempat-tempat terkenal yang ada di kota ini. Salah satunya cagar alam yang saat ini sedang ia kunjungi.
Dengan memesan tiket seperti pengunjung biasanya, Luna menghindari alat detektor yang mencoba memeriksa tubuhnya. Untuk menghindari bahaya bagi para pengunjung, yaitu barang-barang yang terbuat dari logam.
Dengan mengaktifkan jam tangannya, Luna dengan mudah menghindari alat tersebut. Dan membiarkan orang yang ada di belakangnya mengaktifkan alat detektor tersebut.
__ADS_1
Membuat cagar alam yang tenang penuh tawa terdiam saat mendengar suara alarm dari benda berukuran besar tersebut.
"Ah, kenapa menyala?"
"Aku-"
"Maaf nyonya, bisa minggir sebentar kami akan memeriksa barang-barang Anda." Jelas penjaga keamanan tersebut dan dengan cepat mengamankan wanita tersebut.
Sehingga lingkungan yang tadinya tenang kini mulai kembali bising. Dengan canda tawa, maupun suara cekrekan foto.
Luna yang telah berhasil masuk ke dalam lingkungan tersebut. Dengan mata yang lembut melihat sekeliling nya. Seakan-akan mencari tau apa saja tumbuhan dan hewan yang ada di dalam pusat
Seperti seorang turis asing, Luna mulai memperhatikan hal-hal menarik yang ada lingkungan itu. Dan sesekali mengangkat kameranya untuk memfoto fauna maupun satwa yang cukup membuatnya tertarik.
Dimana foto tersebut memiliki dua tujuan utama, yaitu untuk mengalihkan pandangan orang-orang yang melihatnya dan juga memberikan nya sebuah petunjuk untuk memeriksa lokasi itu nanti.
Yang dengan jelas Luna sangat merasakan bahwa ada beberapa hal menarik di dalam cagar alam itu. Contohnya saja tidak boleh merekam atau memfoto beberapa satwa maupun fauna yang ada di beberapa wilayah yang dengan jelas dijaga ketat oleh keamanan.
Sehingga Luna yang melihatnya mengikuti ekspresi turis yang lain, dan mau tidak mau mengeluarkan ekspresi murung dan juga sedih saat mengetahui bahwa ia tidak bisa mengambil gambar fauna dan satwa lucu itu.
Tapi berbeda dengan wajah murung yang ia tampilkan kepada orang-orang, kini hati dan juga pikirannya penuh dengan rasa kesal dan juga marah. Terutama sikap orang-oran tersebut yang terlalu protektif dengan barang-barang yang jelas hanya dipinjamkan oleh negara tetangga dan akan dikembalikan sesekali.
Membuat Luna yang melihat dan juga mendengarnya dengan jelas menyadari bahwa keamanan makhluk hidup ini sangat ketat melebihi keamanan manusia itu sendiri. Seolah-olah ada sesuatu yang mencoba untuk mereka sembunyikan dan tidak ingin diketahui oleh publik umum.
‘Hah, sayang sekali aku tidak bisa memfotonya. JIka aku tau ada kejadian seperti ini lebih baik aku merakit bom ku terlebih dahulu dan meletakkannya di bawa tanah. Agar bisa meledakkan tempat ini dengan cepat, ini benar-benar membuatku kesal!’ Gumam Luna sambil mengikuti arus turis yang ada di depannya dan pergi meninggalkan tempat dengan pengawasan ketat itu.
__ADS_1
🔫 Jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.
🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~