My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 114 : Malam Penuh Darah


__ADS_3

"Sangat cantik" smirk Luna memuji karya lukis yang ia buat dengan pisau kecilnya. Darah sudah memenuhi tangan milik Jefri yang bewarna kekuningan itu, membuat senyum dingin milik Luna terlukis.


Hingga tidak lama kemudian suara ringisan terdengar di ruangan itu. Ringisan itu menyakitkan bercampur menyedihkan, dimana luka di tangannya terlihat sangat-sangat mengerikan.


"Arghhh" ringis Jefri kesakitan. Matanya perlahan-lahan terbuka, ia merasakan rasa sakit di wajah maupun tangannya. Ringisan bertambah kencang di saat darah mengalir terlihat di tangannya. Bahkan wajahnya yang menyakitkan mengeras saat melihat tangannya terluka parah.


"Apa itu menyakitkan?" tanya Luna dingin. Tangannya mengayun-ayunkan pisau kecil miliknya, memperlihatkan sebuah darah segar menetes sedikit demi sedikit.


"Ka..kamu arghhhhh" ringis kembali Jefri saat merasakan kakinya terkena goresan tajam dari barang.


"Ah maaf, sepertinya aku sengaja" smirk Luna yang sengaja melesetkan pisau kecil miliknya. Luna hanya mengeluarkan ekspresi dingin tanpa ekspresi nya, membuat Jefri yang melihatnya langsung menatap Luna dengan tatapan ingin membunuh.


"Sia-sia saja kamu menatapku seperti itu Jef, karena nyawamu sebentar lagi juga akan pergi" smirk Luna sambil menggoyangkan sebuah cairan bewarna keunguan. Sebuah cairan yang akan membuat lawannya lenyap dalam seketika saat meminumnya yaitu, racun yang dibuat khusus oleh departemen kimia milik keluarganya.


"Kenapa kamu bisa tau namaku?" tanya Jef yang tidak bisa menghentikan rasa sakit di tangan dan di wajahnya.


"Tentu saja itu, Ra..ha...sia"


"Kau... arghhhhh" teriak Jefri meringis kesakitan.


"Ah maaf, sepertinya aku terlalu dalam melukaimu" ucap Luna polos membuat Jefri mengeluarkan decihannya ke arah Luna.


"Cih..." decih Jefri bercampur air liurnya. Membuat sepatu bersih yang Luna gunakan terkena air liur tersebut.


"Ah, liat ini sepatu favoritku terkena kotoran milikmu" jijik Luna yang melihat kilapan di sepatu hitam miliknya.


"Lalu apa aku harus peduli?" ejek Jefri yang tidak peduli sama sekali dengan sepatu yang ia sengaja kotorkan.


"Kalau seperti itu bagaimana kamu berisikan darahmu itu" dingin Luna dan menginjak kepala milik Jefri dengan sepatu hak rendah miliknya. Menyeret pelan sepatu yang terkena air liur itu dan menggantinya dengan darah yang ada di wajah milik Jefri.

__ADS_1


Sepatu hitam itu mengenai luka yang ada di wajah milik Jefri. Membuat suara ringisan semakin terdengar di bangunan kosong tersebut. Suara ringisan itu sangat menyakitkan, seakan-akan mengatakan bahwa saat ini Jefri penuh dengan penderitaan. Dimana sepatu hak rendah itu mengenai wajahnya yang berlumuran darah.


Darah-darah itu bertambah banyak setiap kali Luna menyeret sepatu miliknya. Sepatu yang tadinya terkena air liur dipenuhi oleh darah yang menetes, membuat Luna yang menulikan pendengarannya mengeluarkan senyum tipisnya.


Mengangkat kaki yang ada di wajah milik Jefri dan melihat sepatu yang sudah dipenuhi darah merah segar itu.


"Ah sepertinya masih kurang" senyum tipis Luna dan menatap ke arah Jefri yang wajahnya sudah hancur karena sepatu milik Luna.


"Ka...kamu tidak... tidak mung....arghhhhh"


suara ringisan itu kembali terdengar saat Luna kembali meletakkan sepatunya ke wajah milik Jefri. Menekan permukaan wajah laki-laki itu dengan sepatunya lalu menekannya kuat-kuat. Membuat wajah Jefri yang hancur itu terjatuh ke lantai mengikuti kursi yang tidak bisa menopang dorongan yang diberikan Luna tidak tiba-tiba.



Mata Luna yang melihat Jefri terjatuh hanya menatapnya santai dan menarik kembali kakinya. Melihat sepatunya kembali dan mengeluarkan senyum dinginnya.


"Ini baru perfect" smirk Luna yang melihat sepatunya dipenuhi oleh limpahan darah milik Jefri. Mengabaikan suara ringisan dan kesakitan yang di dekatnya.


"Berprikemanusiaan katamu? bukannya seharusnya aku yang mengatakan seperti itu" ucap Luna dingin. Dia menghentikan gerakan membersihkan darah yang ada di sepatunya dengan tisu bersih. Berjalan mendekat ke arah Jefri lalu menatapnya tajam.


"Ka..kamu a..apa yang ing..ingin kamu lakukan?" gugup Jefri yang merasakan aura membunuh yang kental.


"aku hanya ingin memberikanmu sebuah hadiah ini saja" senyum Luna yang mengeluarkan sebuah suntikan yang sudah ia isi dengan cairan racun yang tadi ia perlihatkan.


"I..itu, ka... kamu tidak berencana memasukkannya ke dalam tubuhku bukan?" tanya Jefri ngeri saat cairan ungu jelek itu masuk ke dalam tubuhnya yang sudah berdarah-darah.


"Entahlah, tapi jika kau bisa memberikan apa yang ku inginkan mungkin saja aku tidak menyuntikkan cairan ini ke dalam tubuhmu dan juga melepaskan istri dan juga anak perempuan mu yang ada di kota sebelah" senyum Luna. senyumannya penuh dengan kelicikan, membuat tubuh Jefri yang tadinya lega menegang seketika saat mendengar istri dan anaknya disebut.


"Ka..kamu darimana kau tau?" tanya Jefri.

__ADS_1


"Sudah ku katakan bukan itu Ra... ha... sia" eja Luna yang tidak ingin memberikan info sedikitpun kepada Jefri. Bagaimana dia bisa mengetahui rahasia miliknya.


"Kau..."


"Aku beri waktu 5 detik untuk memilih, satu.... dua....tiga..." hitung Luna cepat membuat Jefri yang kesakitan hanya bisa pasrah dan mengikuti pilihan yang diberikan oleh Luna.


"Baik-baik aku akan mengabulkan semua keinginan mu" ucap Jefri yang tidak bisa membiarkan istri dan anaknya menjadi korban di kejadian ini.


"Baiklah, aku ingin kamu mengatakan di depan kamera semua kalimat yang ada di kertas ini" ucap Luna mengeluarkan sebuah kertas putih yang sudah tercoret tinta pulpen.


"Ini..."


"5 menit waktu penghafalan" potong Luna dingin. Membuat Jefri yang ingin bertanya tidak bisa berpikir panjang dan membaca semua isi yang ada di selembar kertas itu.


Nafas Jefri tercekat setiap melihat kata demi kata yang ada di ada kertas tersebut. Tulisannya rapi dan lembut tapi sayangnya setiap kata disana penuh dengan pengakuan kejahatan. Membuat Jefri menelan salivanya pelan, hingga dia tidak menyadari bahwa waktu yang telah diberikan oleh Luna sudah habis.


"Bukannya sudah ku katakan waktu habis" tegas Luna yang mengambil kertas yang ada di dekat Jefri. Menginjak kursi tersebut dan membiarkan kursi tersebut kembali berdiri kokoh. Matanya menatap Jefri yang gugup dan terlihat ketakutan.


"Jika kau tidak ingin membuat pengakuan sekarang, akan ku pastikan malam ini kedua orang itu akan mati di tanganku" dingin Luna yang melihat keengganan di mata milik Jefri.


"ba...baiklah saya siap" ucap Jefri dan menghela nafasnya. Luka di tubuhnya bertambah parah setiap detik dan menit. Membuat tubuhnya semakin kesakitan.


"Kalau begitu mari kita mulai" ucap Luna dan menyalakan kamera miliknya. Ia mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Jefri. Menatapnya serius dan mengeluarkan senyum smirknya. Kunci kehancuran sebentar lagi akan membawa keluarga Luxury ke jurang. Membuat hatinya seakan-akan ringan seperti di tiup angin yang lembut.


'Hah, apa ini yang dinamakan dengan awal kebahagian? ini benar-benar menyenangkan' smirk Luna yang menganggap setiap kalimat yang diucapkan Jefri seperti alunan lagu kebahagian baginya.



🔫Hah, sebentar lagi keluarga Luxury akan diberantas dan bab Mobil akan dimulai....Tidak sabar melihat kedua anak kembar milik Luna beraksi dan juga tentunya kehebatan Luna.. Jadi jangan lupa buat pantengin ya Fufufu °^°

__ADS_1


Sekian terimakasih, Mata Ne~


__ADS_2