
"Kau" tunjuk Leon. Wajah Luna yang santai tanpa ketakutan menatap wajah laki-laki yang ada di sebrangnya.
"Kenapa? bukannya itu fakta" Smirk Luna.
"Walau anda mengatakan saya hanya bercanda bukankah Anda harus bertanggung jawab" dingin Leon. Dia harus menggunakan pikiran yang dingin dan tidak terbawa emosi. Mau yang ada di hadapannya ini adalah seorang mafia tapi tetap saja dia hanyalah perempuan tentunya.
"Tanggung jawab?" bingung Luna mendengar ucapan Leon. Dimana dirinya tidak ada sangkut pautnya beberapa hari ini dengan laki-laki yang ada di sebrangnya. Bahkan jika ada mungkin hanya di acara pesta yang diadakan di Mexico.
Luna yang berpikir keras mengingat sesuatu hal yang tertinggal dari puzzle. Tanpa sadar membuat Leon tersenyum dingin di saat puzzle terakhir ada di tangan Leon. 'Kena kau' pikir Leon.
"Jika anda masih berpikir tidak ada hubungannya maka seharusnya anda sadar bahwa hal yang anda lakukan di saat malam datang itu berhubungan dengan saya" lantang Leon menjelaskan. Suaranya tenang namun itu cukup membuat Luna mengingat puzzle yang dia lupakan di permainan nya.
'Jangan bilang' pikir Luna.
"Hahaha sepertinya anda sudah mengingatnya nona bukankah anda tau itu berhubungan dengan tunangan saya" lanjut Leon.
"Lalu" dingin Luna.
Entah kenapa di kondisi kali ini dia tidak ingin kalah oleh laki-laki yang ada di hadapannya bahkan jika itu hal yang kecil. Karena dia memiliki firasat yang tidak enak dan ini mengarah ke jalur permintaan Leon tadi, Tunangan.
"Seharusnya anda tau dalang kecelakaan yang di dapatkan oleh tunangan saya bukan? jika anda tidak tau mungkin saya harus melemparkan pisau belati ini ke arah anak buah anda" dingin Leon. Hanya butuh beberapa detik dia sudah mengubah ekspresi dan nada bicara nya. Tangan kanannya mengambil pisau belati bermerek Jagdkommando.
Luna dapat minat pisau belati milik Leon di cahaya bulan yang sedang menerangi mereka. Dia tau pisau itu, senjata yang sering digunakan oleh ke militeran yang memiliki konsep unik yaitu tidak mirip pisau konvensional.
__ADS_1
Pisau ini memiliki tiga sisi tajam yang digabung dan diputar spiral serta memiliki ujung yang sangat runcing. Hal yang berbahaya dari pisau ini adalah efek tusukannya. Ya, dengan desain seperti itu, luka yang dihasilkan jauh lebih lebar. Dokter pun mengakui sangat kesulitan menjahit luka seperti itu. Apalagi ketika ditusuk dengan Jagdkommando darah pun seolah tak bisa berhenti mengalir.
Pisau militer mungkin tak bisa berdesing seperti peluru dan melesat layaknya panah. Tapi, ketika ia dipakai di momen yang sangat pas, senjata ini akan lebih mematikan dari apa pun. Makanya, tak heran kalau sampai ada aturan soal penggunaan pisau militer ini. Misalnya saja Jagdkommando yang dikatakan tak boleh dipakai dalam perang karena saking mematikan dan menyakitkannya.
Namun itulah saya tariknya pisau yang berada di tangan Leon. Tapi sayang pisau mematikan yang lebih berbahaya dari milik Luna sekarang sudah sold out. Habis tanpa stok dan dijual secara resmi. Karena ini digunakan untuk kemiliteran maka dijual secara legal.
Membuat pisau belati itu cepat habis dan membuat Luna harus gagal membeli pisau belati yang sangat berharga. Sedangkan ayahnya mampu membelinya dan Luna hanya bisa meminjam sekali di saat dia ulang tahun dulu. Karena ayahnya sangat menyayangi pisau tersebut.
'Sial kenapa dia bisa memiliki pisau belati itu' pikir Luna geram. Jika dibandingkan dengan pisau belati nya sekarang. Maka pisau belatinya adalah upil jika dibandingkan dengan pisau belati milik Leon.
'Tenang-tenang Luna kau harus berpikir jernih di sini' ucap Luna dalam hati menenangkan pikirannya yang terlalu fokus dengan senjata. Melupakan ucapan Leon yang sebelumnya.
"Jadi anda bermaksud agar saya memilih di sini" dingin Luna yang diam-diam di balik tubuhnya dia menyimpan pisau belati dan memasukkan peluru ke dalam pistol miliknya.
Tuk
Bunyi kecil yang mengartikan semua peluru sudah dimasukkan ke dalam pistol milik Luna dan dengan cepat tangannya menodongkan pistol miliknya ke arah Leon.
"Seperti yang saya harapkan dari ketua mafia klan ular, sangat licik" Smirk Leon yang mengeluarkan pistol miliknya juga.
"Jika saya licik maka anda adalah penakut, tuan Leon" sindir Luna. Mereka berdua sama-sama menodongkan pistol mereka di tangan kanan. Di tangan kiri mereka malah memegang pisau belati yang memiliki keunikan dan daya serang yang berbeda.
Luna yang menodongkan pistolnya ke arah Leon. Tentu tidak akan lupa untuk mengambil pisau belati nya menggunakan tangan kirinya. Luna dan Leon melupakan bahwa di antara keduanya masih ada seseorang yang sedang diikat. Diikat di kursi sambil ditutupi mulutnya oleh Leon, K hanya bisa terdiam dan melihat aksi kedua boss Mafia yang mampu membahayakan nyawanya di sini.
__ADS_1
"Jika saya pengecut seharusnya anda melindungi saya nona Luna, bukankah kita teman?" ungkap Leon yang masih mengingat hal yang ada tempat Gym waktu lalu.
"Teman?! hahaha apa anda suka bercanda dengan saya Tuan Leon! Di dunia mafia tidak ada yang namanya teman bahkan jika itu adalah saudara sendiri" dingin Luna. Darahnya berdesir, aura nya mulai mendingin dan lebih mengelap. Ketenangan yang dia ciptakan membuat dirinya mampu berpikir dengan tenang.
"Kalau begitu seharusnya tidak apa-apa bukan jika saya membunuh anak buah anda" dingin Leon yang dengan cepat melempar pisau belati yang ada di tangan kirinya. Namun waktu tidak ada yang tau dimana ular yang mulai melata dengan licinnya. Tangan yang handal dan kecepatan yang hebat.
Luna melemparkan pisau belati miliknya yang bersamaan dengan peluru barunya ditembakkan ke arah pisau belati milik Leon. Mematahkan pisau belati yang dilemparkan oleh Leon ke arah anak buah milik Luna.
"Sepertinya kalimat yang anda katakan itu hanya candaan" ucap Leon yang melihat aksi Luna.
'Sial jika bukan karena ayah yang tidak mengizinkanku untuk mengorbankan nyawa bawahan sendiri. Sudah ku pastikan aku akan membiarkan K mati di sini' pikir Luna yang sebenarnya dirinya sudah memiliki janji kepada ayahnya. Ayah yang merupakan ketua mafia sebelum dia dan memberikan nya ceramah yang lebih panjang dari Ibunya.
Dimana Luna membiarkan anak buahnya mati demi menjalankan penangkapan miliknya.Di sana dia tidak memiliki jiwa dan hanya menganggap pengorbanan atau pembunuhan biasa saja. Tapi berbeda untuk ayahnya yang malah menceramahi dirinya karena membiarkan nyawa anak buahnya hilang.
Untuk mencapai keberhasilan dalam pembunuh mafia lain. Sebuah kalimat yang selalu dikatakan ayahnya berulang-ulang kepadanya.
'Jika tidak ada anak buah yang membantumu maka kamu hanyalah sampai yang meninggal bawahannya'
Sejak saat itulah Luna menghargai bawahannya tetapi tidak akan memaafkan penipu maupun pengkhianat. Sebagai gantinya dia melatih anak buahnya lebih sulit dan berat.
"Baiklah apa pilihanmu?" dingin Luna sambil menatap sosok yang ada di sebrang sana.
"hmm Baiklah aku akan memberikan mu pilihan yang lebih bijaksana" ucap Leon yang hatinya entah kenapa terasa bahagia. Perangkap yang dia pasang ternyata berhasil, perangkap yang sedikit membahayakan nyawa. Tetapi membuat perempuan yang selalu membuatnya terpikir ini mengambil pilihan yang akan dia berikan.
__ADS_1
🔫Seperti biasa 300 like besok bakal update dan pilihan Luna yang diberikan Leon akan ada di bab berikutnya!