My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 126 : Kehancuran (2)


__ADS_3

Disana seorang anak laki-laki dengan langkah kaki kecilnya berjalan cepat menuju ke mobil yang terparkir. Dengan suara terbuka, pintu mobil yang tadinya tertutup kini terbuka dan memperlihatkan seorang wanita dan juga seorang anak perempuan kecil.


"Aku pikir kakak tidak akan berhasil kabur dari penjaga tadi" ucap Laura yang melihat kakak laki-lakinya masuk ke dalam mobil dengan keadaan utuh.


"Kau pikir aku sama denganmu" dingin Navin dan menutup pintu mobilnya. Tangannya yang kecil melepaskan tas ransel yang ia bawa dan meletakkan tas ransel itu di belakang mobil. Mengambil air putih yang ada di depan dan meminumnya secara perlahan.


"Apa kau kelelahan?" tanya Luna yang melihat anak laki-laki nya minum air putih dengan cepat.


"Bukan kelelahan hanya harinya panas" jawab Navin yang tidak ingin mengatakan kebenarannya.


"Panas? harinya panas? sepertinya otak kakak tertinggal di suatu tepat, padahal ini musim dingin tapi kakak bilang panas? wow IQ 200 yang keren" ucap Laura memuji dan juga menyindir kakaknya.


"Mulutmu sungguh manis sekali, Lau" senyum Navin dingin. Membuat Laura yang melihatnya dengan cepat menutup mulut nya dan dengan berhati-hati mengambil makanan ringan yang tersedia, sambil menunggu mobil yang mengantarnya sampai ke tujuan.


Tujuan yang akan membawa mereka menuju kemenangan dan juga kehancuran di pihak lainnya. Sesuatu yang harus dikorbankan demi kemenangan dan di sanalah terdapat korbannya yaitu keluarga Luxury yang kini sedang sibuk mengurus masalah yang mulai bermunculan.


"Bukankah sudah ku katakan untuk memeriksa lagi" tegas Reno terhadap bawahannya.


"Saya sudah memeriksanya tuan dan saya tidak dapat menemukan penyusup yang masuk ke dalam ruang informasi kita" jelas salah satu karyawan yang sudah memeriksa semua hal yang berkaitan dengan masalah ini, dan tidak dapat menemukan satupun klue nya.


"Sial, jika begini terus perusahaan kita sulit untuk bangkit" ucap Reno yang melihat semua laporan saham miliknya setiap detik dan menitnya mulai menurun.


"Tuan sepertinya bukan sulit lagi" ucap sekretaris Reno sambil melihat ke arah tabletnya.


"Apa maksudmu bukan sulit lagi? apa kau ingin dipecat sekarang, Hah?! bentak Reno.


"Mohon ampun tuan, saya...saya hanya mengatakan kebenarannya tuan, mohon ampun" ucap sekretaris itu menunduk hormat. Membuat Reno yang mendengarnya menghela nafas kasar dan menatap wanita itu tajam.


"Kalau begitu jelaskan, kenapa kamu mengatakan seperti itu" tanya Reno yang membuat wanita ketakutan itu mendongak dan menatap atasannya.

__ADS_1


"I...ini tuan, siaran langsung" gugup sekretaris wanita itu.


"Siaran langsung?" bingung Reno dan melihat sekretarisnya memberikan sebuah tablet kepadanya.


Dimana layar tablet itu menyala dan memperlihatkan sebuah tayangan langsung dari acara konferensi pers salah satu perusahaan ternama yang jelas ditonton oleh banyak orang dari seluruh dunia.


"i..ini"


"Ya tuan, Martin Company saat ini sedang melakukan konferensi pers dengan seluruh wartawan di dunia. Bahkan konferensi pers ini sudah ditonton dan menyebar ke seluruh dunia, tuan" jelas sekretaris itu membuat Reno yang mendengarnya mengepalkan tangannya.


"Kenapa kamu baru memberitahu ku sekarang?" tanya Reno dingin.


"Saya minta maaf tuan, jaringan yang ada di perusahaan kita terganggu dan baru sekarang jaringan internet nya normal. Saya minta maaf tuan saya minta ma...... awchh" jelas sekretaris wanita itu dan mengakhirinya dengan teriakan.



"Arghhhh, tuan sakit!" teriak wanita tersebut.


"Sial, kau temani aku" tegas Reno dan menarik wanita tersebut ke suatu tempat. Tempat yang memiliki ruangan gelap berisi beberapa barang yang cukup membuat wanita itu ketakutan dan ketakutan.


"Tolong, tolong aku'" ucap wanita itu sambil memasuki sebuah ruangan yang gelap dan kelap. Suara teriakan itu semakin menghilang dan menghilang. Meninggalkan kesenyapan di ruangan tersebut, bahkan angin yang berhembus di dekatnya terdengar mengalir ke suatu tempat.


Dimana di saat itu seorang wanita dengan pakaian hitamnya merasakan hembusan angin yang ada di sekitarnya. Membuat hawa dingin yang ada menerpa kulitnya yang ditutupi perban.


"Sepertinya lelaki tua itu sudah memulai gerakan erotis nya" ucap Luna sambil melihat ke arah luar datangnya angin berhembus.


"Luna, apa kau sudah siap?" tanya Rangga, kakak laki-laki Luna.


"Ya aku sudah siap, apa kakak sudah mempersiapkan semua yang aku minta?" jelas Luna dan dengan cepat mengikat rambutnya yang panjang.

__ADS_1


"Semua yang kau minta sudah ku siapkan di bagasi mobilmu dan juga apa kau benar-benar tidak ingin melibatkan kedua anakmu?" tanya Rangga sambil menyerahkan kunci mobil kepada adiknya yang sudah selesai bersiap.


"Kau tau bukan kak ini adalah misi terakhir ku dan aku tidak ingin kedua anak itu terluka. Aku tidak ingin melihat mereka terluka lagi karena aku, oleh karena itu aku mengizinkan mereka memasang bahan peledak di perusahaan yang tidak terlalu mengancam nyawa mereka" ucap Luna yang membiarkan kedua anaknya memasang bahan peledak tapi tidak untuk yang lainnya. Karena kedepannya setiap jam dan detik yang ada akan dipenuhi dengan darah dan kegilaan yang luar biasa.


Luna tidak ingin anaknya mendapatkan masalah lagi dan dirinya tidak ingin keduanya harus mati jika misi ini gagal. Oleh karena itu ia meninggalkan kedua anaknya dan membiarkan kakak laki-lakinya untuk menjaga kedua anaknya.


'Maaf nak, mom tidak ingin kalian ikut serta kedalam masalah yang bisa saja gagal ini' pikir Luna dan mengambil tas ransel miliknya. Walaupun ia juga dipenuhi dengan luka tetao saja ia tidak akan membiarkan anaknya berkorban lagi.


"Baguslah kalau begitu, aku akan tetap di rumah untuk menjaga mereka berdua jadi berhati-hatilah dan pulang dengan selamat paham" pesan Rangga terhadap adiknya.


"Ku harap seperti itu kak" senyum Luna dan berjalan ke arah salah satu ruangan. Dimana di sana terlihat seorang anak laki-laki dan juga seorang anak perempuan tertidur lelap.


Mereka berdua tertidur lelap di atas kasur dikarenakan obat bius yang diberikan oleh Luna saat makan siang tadi. Membuat kedua ormag itu kini terlelap di sana.


Dengan tangan yang lembut dan penuh kasih sayang, Luna mengelus kepala kedua anaknya. Mengecupnya dan membiarkan mereka terlelap di dalam mimpi yang indah.


"Maafkan mom karena membuat kalian tertidur seperti ini, karena hanya dengan ini kalian bisa terdiam dan tidak mengikuti mom ke dalam urusan yang sulit ini" gumam Luna dan menarik nafasnya pelan.


Menutup pintu kamar itu dan pergi ke mobil yang sudah di siapkan. Hari ini akhirnya tiba, sebuah hari yang akan menjadi hati yang paling kelam dan akan berkahir di kegelapan.


Kegelapan yang akan membawa keluarga Luxury ketakutan, teriakan dan juga kegilaan. Hari ini akan menjadi akhri dari hidup mereka yang telah menghancurkan semuanya, dari jiwa dan raganya. Mengubah dirinya yang dulu dan menjadikannya sebagai orang baru yang lebih mengerikan.


'Mata dibalas mata, nyawa dibalas nyawa. Hari ini aku akan membuat kalian mendapatkan balasan dari semua perbuatan kalian' dingin Luna yang mulai menancapkan pedal gas miliknya dan melaju membelah jalan kota Mexico.



🔫 Mari kita penuhi bab-bab kedepannya dengan darah dan kegelapan. Saya DNA_2005 berterimakasih atas support kalian dan juga kesabarannya dalam emnunggu saya menyelesaikan persiapan ujian saya.


Sekian terimakasih, Mata Ne~

__ADS_1


__ADS_2