
Di meja makan berukuran besar terlihat seorang laki-laki dengan wajah menawan duduk dengan tenang. Mata birunya yang gelap, terlihat seperti lautan yang tenang namun dalam. Tidak ada sedikitpun emosi yang terlihat di matanya, membuat Luna, Rangga dan juga Navin menatap laki-laki itu serius. Kecuali anak itu.
Seorang anak perempuan yang saat ini sedang duduk di atas pangkuan milik Leon. Pangkuan yang membuatnya merasakan kehangatan di dalam bau mint yang segar namun dingin itu. Dengan penciumannya yang dalam, ia bisa merasakan kesegaran yang berasal dari tubuh ayahnya tersebut.
'Ternyata tidak terlalu buruk di sini' pikir Laura yang merasakan rasa hangat dan nyaman. Sebuah perasaan yang membuatnya tidak ingin melepaskan kehangatan ini. Walaupun ia sadar bahwa laki-laki yang sedang memangkunya merupakan sesosok laki-laki yang melukai hati ibunya.
Leon yang menyadari perubahan anak perempuan itu dengan lembut mengelus pucuk kepalanya. Mencium rambut panjangnya dan menikmati bau vanilla yang hampir sama dengan ibunya. Bau vanilla itu bercampur dengan bau susu yang jernih, membuat anak perempuan yang ada di dalam pangkuannya terasa manis dan manis.
'Manis dan segar, sama seperti ibunya' pikir Leon sambil mengendus bau anak perempuannya dan melupakan bahwa anak perempuan yang ia anggap manis ini merupakkan peretas yang menyerang perusahaan miliknya sendiri setiap tahun. Dan membuat keributan di setiap tahunnya, hanya dikarenakan perusahaan Martin memiliki kerja sama dengan perusahaan Luxury.
Sedangkan untuk anak laki-laki yang sedang duduk di sebrangnya saat ini merupakan anak laki-laki yang menghancurkan kerja sama antar perusahaan. Hingga menghentikan pengriman material senjata klan Singa dan juga klan Harimau.
Dimana anak laki-laki ini mengetahui siapa saja pemilik klan Singa dan juga klan Harimau. Sehingga membuat daerah pelabuhan yang biasanya tenang mejadi kacau. karena senjata-senjata dan juga amunisi mereka tidak datang tepat waktu.
'Cih, dasar anak kecil mudah sekali kamu termakan kasih sayang laki-laki ini' ucap Navin dalam hati saat melihat adik perepuannya dengan mudah terlena dengan kasih sayang yang diberikan laki-laki dihadapannya.
'Maaf kak, aku tidak bermaksud menghianati kakak. Hanya saja pelukan ini terasa nyaman dan tangan besar ayah membuatku terkejut' balas Laura saat merasakan tatapan tajam dari kakak laki-lakinya.
Sehingga membuatnya merinding ketakutan dan tidak berani mengangkat kepalanya. Apalagi saat ia mencoba mengangkat kepalanya, ia merasakan mata tajam milik ibu dan juga pamannya. Seakan-akan mengatakan bahwa tangan yang sedang mengelus kepalanya saat ini akan putus.
'Ini terlalu menakutkan, nenek tolong aku' gelisah Laura sambil mencoba untuk menundukkan kepalanya kebawah mungkin. Agar tangan yang ada di atas kepalanya bisa mengendur sedikit dan membiarkannya pergi dari pangkuan ayahnya.
Leon yang melihat anak perempuannya semakin menunduk ke bawah dengan lembut mengangkat anak perempuan itu dan mencari posisi nyaman untuk anaknya. Karena berpikir bahwa anak perempuannya saat ini tidak nyaman berada dalam posisinya.
Sehingga menimbulkan ketidaknyamanan. Tanpa tau bahwa anak perempuannya saat ini sedang mencoba untuk lepas dari kekanggan ayahnya secara perlahan-perlahan.
Rangga yang melihat sikap Leon dengan cepat meangangkat suaranya dan menghentikan sikap hangat yang diberikan Leon untuk keponakannya, Laura.
__ADS_1
"Tuan Martin bisakah anda hentikan perilaku tidak sopan anda itu?!" ucap Rangga terus terang.
Sehingga membuat Leon yang memperhatikan anak kecil yang ada di pangkuannya mendongak ke asal suara. Menatap mata laki-laki itu dan mulai mengeluarkan aura ketidaksukaannya. Saat menyadri bahwa wanita yang ia cintai saat ini sedang bersender tenang di bahu milik Rangga.
"Jika anda mengatakan saya tidak sopan lalu anda apa?" dingin Leon yang tidak bisa berhenti menatap tingkah laku ketidakpeduliaan Luna.
Sebuah ketidakpeduliaan tentang keberadaannya sekarang. Bahkan saat dirinya mengetahui keberadaan kedua anaknya saat ini. Tetapi tidak mengubah pandangan Luna terhadap Leon saat ini. Membuat Leon yang sedang duduk dihadapan mereka tanpa sadar memeluk Laura terlalu erat.
Laura yang merasakan pelukan milik ayahnya terlalu erat refleks memukul tangan ayahnya secepat mungkin. Dimana nafasnya saat ini hampir tersedat karena pelukan ayahnya.
Plak Plak Plak*
"To-tolong lepas-'' minta Laura yang mulai merasakan oksigen semakin menipis.
Leon yang menyadari maksud Luna dengan cepat melepaskan pelukan erat terhadap anak perempuan yang ada di dalam pelukannnya. Lauara yang merasakan pelukan itu melonggar dengan cepat memisahkan dirinya terhadap ayahnya.
Berjalan menjauh lalu memegang dinding yang ada di dekatnya. Salah satu tangannya menjadi penopang untuk tubuhnya. Menarik nafas dalam-dalam dan mencoba menghirup banyak oksigen di dekatnya.
Dengan mata hitam kecilnya Laura memandang lantai yang ada di bawahnya saat ini. Pikirannya saat ini sedang dalam kondisi serius antara bingung dengan kebahagiaan atau bingung karena keamarahan.
Apalagi saat merasakan pelukan ayahnya yang sangat erat itu. Membuat dirinya hampir kehabisan karenanya dan bahkan nafasnya saat ini hampir membuatnya kehilangan kesadaran. Saat merasakan semua oksigen yang ada di sekitarnya tidak ada sama sekali.
'Hah...hah...hah, as-astaga hampir saja aku pingsan di sana hah...' ucap Laura yang mencoba menormalkan pernafannya.
Navin yang melihat gerakan adik perempuannya merasakan perasaan khawatir dan dengan lembut membawa adik perempuannya ke kamarnya. Meninggalkan keempat orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
"Mom, berhati-hatilah" jelas Navin sebelum meninggalkan ruangan itu bersama adik perempuannya, Laura.
Suaranya yang tenang dan santai mampu membuat orang-orang yang ada di dalam ruangan itu semakin dingin. Dimana kata-kata singkat yang diucapkan anak kecil itu cukup membuat orang-orang yang ada di sana saling berjaga. Agar tidak ada kejadian yang seperti itu.
Luna yang mendengar suara pintu tertutup dari kejauhan membuka matanya secara perlahan. Menatap laki-laki di hadapannya lalu megeluarkan suaranya yang tenang namun dingin. Suaranya yang tenang itu terdengar di dlam ruangan, menekan semua aura permusuhan dan menggantinya menjadi aura kepemimpinan yang kuat.
Seolah-seolah mengatakan bahwa ruangan yang mereka tempati saat ini bukanlah ruang makan, melainkan sebuah lapangan gersang yang sangatlah luas. Dimana di lapangan yang luas ini semua orang yang ada merupakan musuh bukan seorang teman maupun sahabat.
"Bisakah kita mulai pembicaraan kita saat ini tuan Martin?" tanya Luna memulai perundingan di meja makan itu.
Dengan matanya yang hitam kelam Luna menatap mata biru laut milik Leon. Tenang dan tenang itulah mata yang diperlihatkan oleh Leon sebelumnya.
Tetapi ketenangan itu berubah menjadi sebuah kepercayaan diri dan juga sebuah kerahasiaan. Membuat mata yang tadinya memperlihatkan sisi pantai yang tenang berubah menjadi pantai yang dipenuhi dengan ombak besar yang kuat.
Menyapu seluruh pesisir pantai yang ada lalu menatap mata hitamnya balik. Dengan hembusan angin musim dingin yang ada, Leon mengeluarkan senyuman dingin nan tipisnya. Memperlihatkan sebuah perasaan yang agung dan agung di sekitarnya.
Dan dalam satu tarikan nafas yang tenang ia mengangkat suaranya yang magnetis dan juga berbahaya untuknya.
"Dengan senang hati, nona Nypole."
🔫 Akhirnya Revisinya udah selesai, terimakasih untuk diriku yang telah berhasil memikirkan ide-ide cemerlang namun melelahkan.
Membuat tubuh ini tertidur lebih dari 10 jam karenanya, oleh karena itu selamat membaca dan mari kita mulai cerita yang penuh dengan pengejaran romantis ini!
🔫Saya DNA_2005 memulai pekerjaan saya kembali setelah mendapat pengarahan dari seseorang dan juga datangnya keyboard saya!
__ADS_1
🔫 Jangan lupa beri tip yaa