My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 107 : Potongan peta II


__ADS_3

Ke Esokan Harinya~


Luna berdiri di depan pintu rumah sakit. Tangannya menggenggam sebuah parsel yang berisi buah-buahan. Hari ini dia akan menjenguk salah satu temannya yaitu Joe di rumah sakit kemiliteran milik negara Amerika Utara.


Tok** Tok*** Tok****


Suara bunyi ketukan pintu terdengar bersamaan dengan sebuah ganggang pintu yang diputar. Di sana Luna bisa melihat salah satu temannya terbaring di ranjang rumah sakit sambil memegang handphone miliknya.


"Sepertinya aku salah masuk ruangan" dingin Luna sambil menatap Joe tajam.


"Ah Luna-chan lama tidak bertemu" senyum Joe sambil mengeluarkan permen lalipop dari mulutnya.


"Jadi aku diperintahkan ke sini hanya untuk melihatmu makan permen dan bermain handphone saja?" dingin Luna yang sudah membuang waktunya.


"Main handphone? ini bukan main handphone saja Luna-chan ini adalah game yang seru" semangat Joe yang membuat Luna menggelengkan kepalanya dan meletakkan bingkisan buah di atas meja.


"Ehe tte nandayo, agrhhh mengemaskan" ucap Joe yang melihat karakter favorit miliknya.


"Apa kau bisa menghentikan suaramu yang bising itu lebih baik beri tau aku apa yang diberikan oleh atasan mu untukku" dingin Luna yang merasakan sakit di telinganya saat mendengar teriak milik Joe.


"Cih, dasar tidak menyenangkan. ambil ini" dengus Joe dan melemparkan sebuah map bewarna hitam dari bawah bantal miliknya.


"Paimon ku" lanjut Joe yang merasa lucu kepada karakter tambahan dari dalam game miliknya. Tidak mempedulikan bahwa Luna sedang menatap dirinya tajam.


"Sebelum kamu menangis karena aku menjelekkan karakter lucu mu itu cepat jawab kepadaku kenapa kamu bisa berada di rumah sakit kemiliteran bagian Amerika Utara" dingin Luna. Dimana di pagi hari dirinya harus menerima telepon dari ayahnya untuk menjenguk Joe di rumah sakit kemiliteran bagian Amerika Utara.


Membuat dirinya sedikit terkejut karena bagaimanapun juga Joe merupakan mata-mata yang dibesarkan di bagian Benua Asia bukan Benua Amerika. Jelas tidak memungkinkan Joe diobati di rumah sakit yang khusus untuk kemiliteran bagian Amerika Utara.


"Kau tau bukan aku diminta oleh atasanku untuk membantu mu menyelesaikan misi tingkat S ini" jelas Joe yang langsung duangguki oleh Luna.


"Karena itulah aku sedang mencari informasi di bar milik keluarga Luxury dan lupa membatasi kadar alkohol yang harus ku minum, hehehe" kekeh Joe dengan wajah tanpa penuh dosanya. Membuat Luna menghela nafas pasrah melihat teman perempuan nya.

__ADS_1


"Berapa gelas yang kau minum?" tanya Luna dingin.


"Gelas? Luna-chan kau pikir teman sekaligus sahabatmu ini tidak bisa tahan minum alkohol dengan jumlah gelas?" ucap Joe tidak percaya. Jika hanya gelas saja sampai 10 gelas pun dirinya masih bisa menahan semua dosis yang ada.


"Huft... kalau begitu berapa botol?" tanya Luna yang memperbaiki pertanyaan miliknya.


"Hehehe sepertinya kurang lebih 11 botol" kekeh Joe tanpa dosa membuat Luna menekan kepala Joe dengan keras.


"Awch.... awch aku minta maaf jangan marahi aku, aku hanya tidak tahan meminum alkohol itu. Kau tau bukan bar milik keluarga Luxury memiliki wine maupun alkohol dengan jenis terbaik di dunia" ucap Joe cepat. Dia merasakan rasa sakit di kepala miliknya.


"Ya-ya-ya saking enaknya kau tanpa sadar mengemudi dengan keadaan mabuk dan tidak sengaja menabrak pangkalan militer bukan?" dingin Luna yang membuat Joe kembali tersenyum.



Senyuman Joe seperti anak kecil polos nan manis. Seperti seorang anak perempuan yang hanya melakukan kesalahan kecil dan tidak fatal. Membuat Luna mengeluarkan senyum dingin dan aura membunuhnya yang kental.


"Arghhhh baiklah-baiklah aku mengaku aku salah dan aku juga tidak sengaja menabrak pangkalan milik mereka" ucap Joe meminta ampun atas perlakuan nya.


"Bagus" dingin Luna yang melepaskan tekanan kepala milik Joe dan duduk ke sofa yang ada di dalam ruangan. Dia membuka setiap kertas yang diberikan oleh Joe dan melihat semua informasi yang dibutuhkan.


'Apa mereka memintaku untuk membunuh orang sekarang?' pikir Luna sambil membuka amplop yang bersegel tersebut. Matanya sesekali melihat sekeliling ruangan. Dimana matanya mencoba mencari kamera pengawas ataupun perekam yang bisa membuatnya kesulitan.


'Baguslah tidak ada' smirk Luna dan mulai melihat isi amplop bewarna hitam. Mengambil dua kertas yang ada dan membulat kan matanya terkejut.


'i..ini bukankah Potongan peta?' pikir Luna terkejut.


'Dear Luna~


Ku harap kau sudah melihat potongan peta tersebut, karena itu merupakan salah satu potongan yang berhasil kami curi dari markas Keluarga Luxury. Yang berarti di tanganmu sekarang terdapat 2 potongan peta yang bisa membahayakan dunia!


Ku harap kau menjaga potongan peta tersebut dan jangan lupa untuk mendapatkan kunci maupun sesuatu hal tentang lokasi dari Klan Singa.

__ADS_1


Tertanda, klan Elang~'


Luna membaca semua tulisan yang ada di dalam surat tersebut. Jika dia bahagia karena potongan peta mulai berdatangan maka jawabannya ialah tidak. Dimana setiap potongan yang diterimanya merupakan sebuah potongan yang akan membahayakan dunia.


Sebuah potongan yang memiliki arti bahwa nyawanya juga berada dalam kondisi yang berbahaya saat ini. Hingga tangannya tidak sadar mencengkram erat kertas tersebut.


'Sial, apa kalian ingin membahayakan nyawaku sampai memberikan potongan peta yang bisa kalian simpan di brankas negara!' pikir Luna kesal. Walaupun dirinya rela mati dan membiarkan nyawanya pergi tapi untuk kali ini dirinya tidak bisa membiarkan nyawanya pergi. Di saat dendamnya masih belum tuntas sampai ke akar yang paling dalam.


"Cih, Joe aku akan pergi sekarang" ucap Luna dingin. Dia memasukkan semua kertas dan informasi yang dia dapatkan ke dalam tas yang dia bawa.


"Ehh tunggu luna-chan tunggu" panggil Joe.


"Ada apa?" dingin Luna yang memiliki mood yang buruk.


"Aku lupa memberitahu mu, bahwa ibunya Leonex Martin sedang di rawat di sini" ucap Joe pelan. Membuat Luna yang tadinya memiliki aura yang menyeramkan menjadi tenang seketika.


"Ibu? maksudmu Qarin Martin?" dingin Luna yang langsung duangguki oleh Joe.


"Ya, tadi malam aku dibawa ke rumah sakit ini dan tidak sengaja melihat Leonex Martin dan juga Levi Martin memasuki lift ditemani oleh dokter khusus" ucap Joe.


"Lantai berapa?" tanya Luna dingin. Dia harus menyelesaikan semua masalahnya dari dendam, misi maupun hubungan tidak jelasnya dengan Leon.


"Saat aku bertanya dengan perawat yang ada di sini mereka mengatakan itu merupakan lantai VIP yaitu lantai 3" jelas Joe yang membuat Luna mengangguk.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi" ucap Luna dan menutup pintu kamar milik Joe. Luna bukan berjalan menuju pintu keluar rumah sakit. Namun kakinya mengarah ke arah lift dimana matanya menatap dingin pintu tersebut.


'Aku harus menyelesaikan semuanya dan mengakhiri hubungan yang berbahaya ini' pikir Luna.



🔫Huhuhu sebentar lagi kita bakal tau apa yang terjadi di kecelakaan Qarin! jadi jangan lupa buat meratapi layar handphone kalian^^

__ADS_1


Dan juga saya mau bilang bahwa action nya bakal ditambah nanti^^ dimana di beberapa bab berikutnya akan penuh dengan pistol, darah, mobil maupun mayat^^


Sayonara~


__ADS_2