
Luna memulai hari-harinya dengan pekerjaan yang menumpuk. Dia harus memfokuskan semua hal untuk menyelesaikan pekerjaan miliknya. Apalagi beberapa hari ini dia selalu diganggu oleh email-email yang dikirim oleh Leon.
Dari aku mencintaimu, aku menyayangimu, kamulah tunangan ku sampai-sampai sebuah berita ada yang merilis hubungan dekat antara CEO Perusahaan Nypole dan Perusahaan Martin. Dan akhirnya 14 hari tepatnya dua Minggu Luna harus melepaskan handphone miliknya. Menyelesaikan semua pekerjaan sampai lembur dan tidak pulang ke mansion tepatnya rumah.
Meninggalkan kedua anaknya bersama kepala pelayan dan juga kakaknya. Namun usaha selama dua Minggu tersebut memberikan nya hasil. Membuat Luna bisa berisitirahat dua hari dan menyiapkan liburan bersama anak-anaknya.
Untuk pertama kalinya kedua anaknya merasa bingung dan terkejut saat mendengarkan penjelasan tentang liburan oleh ibu mereka. Tapi tidak ada yang bisa menolak untuk liburan di taman bermain bukan?
"Mom apa pakaian ku cocok untuk bermain hari ini?" tanya Laura yang menggunakan baju terbaiknya.
"Ba.."
"Laura ganti rokmu dengan celana" dingin Navin yang sudah rapi dengan koas santainya.
"ehh kenapa memangnya, aku jarang-jarang pakai rok loh?" bingung Laura yang bingung kenapa dia di suruh mengganti pakaian bawahnya. Padahal yang dia tau banyak anak-anak perempuan sering menggunakan rok saat bermain ke taman kanak-kanak.
"Apa kau ingin memperlihatkan dalamanmu di sana, kau tidak mungkin berjalan santai saja kan di taman bermain" jelas Navin.
"Benar juga akukan ingin main Rollercoaster dan beberapa permainan lainnya" gumam Laura yang sadar bahwa yang dikatakan kakaknya benar.
"Kenapa kamu tidak memakai celana panjang yang diberikan nenekmu saja" ucap Rangga yang dari tadi melihat keluarga kecil itu. Dia masih belum pergi ke pelatihan karena dirinya akan mengantarkan ketiga orang tersebut ke taman bermain.
"Celana?"
"Yap itukan celana khusus sebagai pendamping rok agar kamu bisa terlihat feminim namun tetap bisa melakukan hal-hal yang berbahaya" jelas Rangga.
"Seperti stocking" ucap Luna.
"Ya tapi stocking itu kan kaus kaki panjang nah ini celana yang terbuat dari kain dingin namun berkualitas. Bukankah nenekmu selalu membelikan kalian barang yang berkualitas tapi memiliki tujuan yang baik" ungkap Rangga.
__ADS_1
"Hmm sepertinya itu ada di lemari paling bawah, kalau begitu aku pakai dulu. Ingat jangan tinggal Laura" tegas Laura yang langsung berlari ke arah kamarnya.
"Kamu khawatir dengan adikmu, hmm" bisik Rangga tepat di telinga milik Navin. Membuat Navin langsung menutup telinganya dan menatap pamannya tajam.
"ma..mana ada" gugup Navin yang sayangnya jawabannya tidak sesuai dengan ekspresi wajahnya yang memerah sedikit karena ketahuan.
"Tidak apa-apa Navin itu sikap yang wajar" ucap Luna dan mengelus kepala anaknya.
"Hmm" angguk Navin.
"Dan kak jangan goda dia seperti itu dia masih anak kecil" ucap Luna memperingati kakaknya.
"Hanya menggoda nya sedikit saja, kau juga harusnya tau bukan jarang-jarang anak laki-laki mu itu mengucapkan ke khawatiran nya secara langsung" ucap Rangga. Karena memang kebenarannya Navin terlalu memiliki sikap milik Ibunya dan tidak pernah mengeluarkan kata-kata kekhawatiran selain untuk ibunya. Namun untuk pertama kalinya Navin berterus-terang kepada adiknya. Walau Laura tidak sadar karena sikapnya yang tidak terlalu peka itu.
"Sudah ayo kita berangkat Laura sudah turun" ucap Luna mengakhiri pembicaraan.
Luna memegang kedua anaknya dan berjalan memasuki taman bermain. Tiket masuk sudah dibeli dan beberapa hal yang diperlukan. Permainan pertama yang mereka coba adalah rollercoaster sesuai keinginan Laura.
Permainan dimulai dimana setiap teriakan ketakutan atau kebahagiaan terdengar. Namun untuk mereka bertiga yang sedang menaiki Rollercoaster, tidak ada suara dan hanya memandangi pandangan dari atas.
Setelah selesai Luna, Laura dan Navin duduk di tempat kosong. Dengan suara helaan nafas seakan bosan dengan permainan pertama mereka. Padahal rollercoaster itu memiliki ketinggian yang bisa membuat orang takut. Apalagi putaran dan kecepatan yang bisa membuat orang copot jantung tapi tidak membuat keluarga itu ketakutan.
"Huft ku kira akan sangat menyenangkan, itu hanya berputar dan tidak seru" ucap Laura menghela nafas.
"Aku heran dengan orang-orang yang merekomendasikan permainan rollercoaster" ungkap Navin yang biasa saja. Sedangkan Luna hanya bisa tersenyum tipis, inilah dampak karena dirinya mengajarkan anak-anaknya tentang beberapa hal yang tidak seharusnya. Bahkan permainan yang seperti itu dianggap biasa.
"Mau rumah hantu?" tawar Luna yang di angguki oleh kedua orang tersebut.
__ADS_1
"Baiklah ayo mom, katanya rumah hantu di sini mengerikan" semangat Laura. Mereka berjalan dan masuk ke dalam rumah hantu yang terkenal di wilayah mereka. Tapi seperti kejadian di rollercoaster yang biasa saja ucap mereka. Di saat mereka semua memasuki rumah hantu yang banyak suara hantu bahkan teriakan ketakutan.
Mereka bertiga hanya diam melihat hantu-hantu yang lewat mencoba menakuti mereka. Dan tidak beruntungnya adalah seorang hantu yang menggunakan baju hitam mengejutkan Navin dan membuat Navin refleks menjatuhkan hantu tersebut ke lantai.
Brak*
Suara orang yang dijatuhkan oleh Navin, membuat orang yang menyamar menjadi hantu tersebut meringis kesakitan dan mereka diusir rumah hantu karena membahayakan orang.
"Pffft hahaha astaga kak kau benar-benar mengerikan. Seharusnya kau tau dia manusia bukan hantu beneran" tawa Laura yang berjalan menjauhi rumah hantu.
"Aku hanya terkejut dan kelepasan" jawab Navin singkat. Jangan salah kan dirinya yang sudah terlalu biasa membanting orang.
"Tidak apa-apa Navin" ucap Luna yang membuat hati Navin merasa tenang. Matanya menatap ke arah lain dan seketika matanya yang sedih itu menjadi bersemangat.
"Laura lebih baik kau berhenti tertawa kenapa kita tidak bermain tantangan saja" ucap Navin yang mendapatkan ide untuk membalas ejekan adiknya.
"Tantangan?" bingung Laura dan melihat ke arah yang ditunjuk kakaknya. Itu permainan menembak dan targetnya adalah botol kaleng.
"Baiklah jika kau menang aku akan membantu apapun dan jika kau kalah kakak harus melakukan apa yang ingin ku lakukan" ucap Laura menerima tantangan.
"Baik, mom yang akan jadi juri" ucap Navin.
"Deal" ucap mereka berdua dan berjalan ke arah permainan tembak-tembakan yang lumayan ramai. Banyak mainan tergantung dan sisanya di letakkan di satu tempat sebagai pajangan untuk menarik hati pelanggan.
"Peraturannya biasa jika anda mengenai kaleng semuanya, maka anda dapat memilih hadiah yang tergantung maupun yang terpajang di sini" jelas pemilik permainan. Navin dan Laura saling bersebelahan yang dimana Luna sudah ada di belakang mereka untuk menjadi juru yang paling adil.
Senjata tembak ringan yang diisi peluru plastik yang digunakan untuk menembek kalengan. Ada beberapa senjata yang memiliki peluru yang setiap pelurunya berisi berat yang berbeda. Membuat kedua anak itu harus menilai dan memilih senjata yang tepat. Hingga pemilik tersebut membuka suara dan memulai permainan.
"Siap dan mulai!" teriaknya
__ADS_1
🔫jangan lupa like 300 bakal update :) dan masih bertahap yaa... spoiler mereka ketemu di taman hiburan yaitu bab Esok!