My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 97 : Tidak Kenal


__ADS_3

Ke Esokan Harinya


Rumah besar itu dipenuhi dengan kebahagian di mana setiap mata mereka melihat berita yang ditayangkan oleh siaran berita di televisi. Dimana berita itu merupakan berita tentang kejadian bunuh diri yang dilakukan oleh Sisca Made.


Bahkan gambar tali maupun pisau menjadi bukti bahwa Sisca Made melakukan pembunuhan diri atas kemauannya sendiri. Apalagi bagi orang-orang yang ada di sana mengatakan bahwa Sisca Made melakukan gantung diri karena jiwanya yang terganggu akibat masalah yang menimpanya.


"Sepertinya korban mu sudah mulai bepergian, Luna" ucap Rangga yang membuka kaleng sodanya.


Dimana hari ini merupakan hari satu yang mengartikan bahwa orang kerja akan libur berbeda dengan Rangga yang tidak bisa libur kecuali cuti. Sehingga dia akan kembali ke tempat pelatihan militer yang ada sesuai jam latihannya yaitu saat sore.


"Bukan bepergian kak tetapi aku yang membawa mereka pergi ke habitat aslinya" smirk Luna yang sedang berada diwaktu libur kerja miliknya.


"Membawa pergi?"


"Tidak perlu dipikirkan dan ngomong-ngomong bukankah makanan ringan kita habis?" ucap Luna yang melihat meja ruang santai mereka dipenuhi dengan sampah-sampah makanan ringan terakhir yang ada di mansion ini.


"Kalau begitu aku akan minta kepala pelayan untuk membeli makanan ringan lagi" ucap Rangga yang langsung dipotong oleh Luna.


"Jangan merepotkan kepala pelayan uncle, biar kami saja yang pergi berbelanja" senyum Laura yang sudah menarik tangan Navin ke arahnya.


"Apa benar tidak apa-apa?" tanya Rangga yang melihat semangat kedua keponakan nya.


"Yap tidak apa-apa, jadi tenang saja kami akan kembali secepatnya" semangat Laura yang membuat Rangga menyerahkan kartu ATM miliknya.


"Kalian tau pin dan cara penggunaannya, bukan" jelas Rangga yang langsung diangguki oleh kedua anak tersebut.


"Kalau begitu kami pergi dulu, sampai jumpa mom and uncle" teriak Laura yang menarik cepat Navin ke luar mansion. Meminta penjaga untuk mereka ke mini market terdekat dan duduk di dalam mobil degan tenang.


"Kak, kak apa kakak membawa barang itu?" tanya Laura ke arah Navin.


"Sudah ku tebak kamu merencanakan hal-hal yang aneh" dingin Navin yang membuat Laura tertawa.


"Hahaha jelas saja, jarang-jarang kita keluar rumah bukan?! dan juga akukan ingin makan-makanan yang itu" jelas Luna yang hanya dijawab oleh dengusan singkat Navin.


Hingga tidak berapa lama kemudian mobil bewarna silver itu berhenti tepat didepan sebuah mini market. Pintu mobil yang dibukakan oleh penjaga memperlihatkan kedua anak kecil dengan aura yang berbeda satu sama lain.

__ADS_1


Dimana Laura memiliki aura menyenangkan dan manis seperti permen dan Navin yang memiliki aura dewasa nan dingin bagaikan sebuah gunung es. Membuat kedua anak itu terlihat seperti saling melengkapi kekurangan mereka masing-masing.


"Selamat datang, silahkan berbelanja dengan nyaman" sambut karyawan mini market.


"Terimakasih" senyum Laura yang mempesona karyawan mini market sedangkan Navin hanya mengangguk dan menatap dingin.


"Tidak perlu seserius itu lah kak, dan juga kakak yang dorong keranjangnya ya" sneyu. Laura yang hanya bisa dijawab oleh hembusan nafas oleh Navin.


Memasukkan semua makanan ringan ke dalam keranjang, mengambil susu cair, dan beberapa makanan maupun minuman lainnya.


"Keranjang kita hampir penuh, tidak perlu masukkan keju fermentasi lagi" tegur Navin dingin.


"Ta..Tapi ini kurang" ucap Laura yang tidak ingin berhenti menambah pasokan keju miliknya.



Sampai dimana saat mereka berbeluk barang yang ada di tangan milik Laura berjatuhan dari mengenai tubuhnya. Di saat itu pulalah seorang laki-laki yang sangat mereka kenali terlihat di depan mereka.


"Kalian harus berhati-hati, nak" ucap laki-laki tersebut membuat Navin maupun Laura membeku di tempat.


'Apa yang dilakukan pria ini di sini?' pikir Navin yang kembali sadar dan mengeluarkan tatapan permusuhan. Berbanding terbalik dengan Laura yang malah mengeluarkan tatapan kagum atas ketampanan ayahnya.


'Apa ayahku baru selesai olahraga? aura ketampanan nya bertambah' pikir Laura semangat.


"Sepertinya aku mengenali kalian" senyum Leon yang membuat Navin secepatnya memasukkan barang berjatuhan yang ada di lantai ke dalam keranjang tambah yang ada. Menarik Laura yang terpesona dan secepatnya menjauh dari laki-laki bernama Leonex Martin.


"Tidak kenal, dan tidak perlu kenal" sindir Navin yang menarik Laura dan membawa keranjang miliknya menjauh dari Leon.


"Tunggu bukankah ini berat, nak" ucap Leon yang menghentikan dorongan dari keranjang milik Navin.


'Sial! kenapa aku harus bertemu dengan laki-laki yang telah mengkhianati ibuku?' pikir Navin kesal.


"Tidak berat dan juga sepertinya kita tidak pernah saling kenal, bukan" dingin Navin yang mencoba menahan amarah yang ada.


'Bahaya, sepertinya kakak benar-benar marah' ucap Laura dalam hati sambil merasakan tangannya diremas erat. Sedangkan Leon yang merasakan aura dingin dari anak laki-laki itu hanya mengeluarkan senyuman tipisnya.

__ADS_1


'Anak ini sangat mirip dengannya' smirk Leon yang melihat aura dingin yang dikeluarkan oleh Navin.


"Benarkah kita tidak saling kenal? tetapi kita pernah bertemu di taman bermain, bukan" senyum Leon.


"Sayangnya saya sudah lupa dengan anda" jelas Navin singkat.


"Huh, sepertinya kau melupakan seorang laki-laki sehebat aku ini ya" smirk Leon penuh percaya diri. Membuat Navin hanya mengernyitkan keningnya melihat tingkah laku ayahnya yang begitu narsis.


'Apa dia benar ayahku?' pikir Navin yang tidak percaya dengan sikap narsis sang ayah.


'Ahhh kau keren, dad' pikir Laura yang tidak mempedulikan rasa sakit dari tangannya.


"Begini ya tuan, jika anda mengatakan anda merupakan laki-laki hebat maka saya akan mengatakan nya." senyum manis Navin dan memecahkan pikiran milik Laura.


'Ahh semakin bahaya ini, Dad sepertinya kau harus menerima serangan milik kakakku' ucap Laura yang sudah kembali dari alam hayalannya.


"?" bingung Leon sambil menatap anak laki-laki tersebut tersenyum.


"Huh, sepertinya anda tidak pernah tau kesadaran anda tentang hebat dan lemah. Dimana banyak laki-laki di luar sana yang sering melamar ibu saya dan mengatakan dirinya hebat tanpa tau kedudukan ataupun posisi mereka yang sangat rendah. Bukankah itu sangat menjijikkan?" sindir Navin yang menatap Leon tajam.


'Ahhh ini dia kalimat kebencian yang penuh dengan kekasaran' pikir Laura lalu melihat reaksi ayahnya.


"Pfffttt, hahahaha" tawa Leon pecah.


'Ehhhh, kenapa dad tertawa? apa dia benar-benar gila seperti kata mom?' pikir Laura terkejut.


'Sepertinya dia benar-benar gila' pikir Navin yang sama persis dengan adiknya. Tetapi Leon yang tertawa malah memiliki pemikiran yang berbeda dengan kedua anak yang ada dihadapannya.


'Ternyata anak ini lebih menarik dari dugaanku' smirk Leon.



🔫Apa Leon kehilangan akalnya karena ditolak oleh Luna? atau Leon merasakan hubungan yang sangat dekat dengan kedua anaknya sehingga mengganggap semuanya hanya candaan?


Kita lihat jawabannya di Bab 98!

__ADS_1


Sayonara~


__ADS_2