
"Ti...tidak mungkin" gugup Laura.
"Mom..." desir Navin.
"Mom..." ucap Laura dan menatap ibunya takut.
Mereka berdua bukan ketakutan tetapi mereka berdua hanya terkejut karena mereka tidak pernah menyangka kehidupan mereka akan berkahir sedapat ini. Padahal banyak hal yang ingin mereka lakukan dengan ibu mereka. Namun mereka terkejut saat melihat senjata itu, senjata yang mereka lihat merupakan senjata yang bisa menembakkan peledak dan memiliki radius bermili-mili meter.
'Apa benar ini akan menjadi akhir kami? tidak mungkin bukan? aku bahkan belum menyelesaikan keinginan ku untuk hidup bahagia selamanya dengan ibu di bawah sinar musim semi yang menyenangkan bukan musim semi yang menyedihkan' pikir Navin yang masih mengingat banyak hal belum dia selesaikan.
'Bohong, semua ini adalah rekayasa! a..aku masih belum menyelesaikan keinginan ku loh. Bahkan salah satu keinginan yang sangat dilarang saja belum terselesaikan. Apa aku benar-benar tidak bisa menyelesaikan keinginan terlarangnya, keinginan untuk hidup bersama ayah, ibu dan kakakku secara utuh?' pikir Laura yang menginginkan keluarga complicate.
"Tidak ada yang perlu ditakuti Navin, Laura" ucap Luna meyakinkan keduanya. Ia menggapai Navin yang ada di belakang, meletakkan senjata yang di peluk itu ke lantai dan membawa anak laki-lakinya ke kursi depan.
"Mom..."
"Tenang saja semuanya akan baik-baik saja, mom sudah mengatakan bukan bahwa mom tidak akan pernah bisa mati sebelum dendam mom terbalaskan" senyum Luna lalu memasangkan seatbelt yang ia lepaskan dari Laura. Membiarkan kedua anaknya itu duduk bersama dan berada di dalam perlindungan sabuk pengaman.
"Laura lapisi tubuhmu dengan baju ini secepatnya, mom akan melindungi kalian berdua" perintah Luna yang mengambil baju Anti peluru yang sempat ia pasang.
"Tapi..."
"Laura ini perintah, mohon sekali saja dengarkan ucapan mom kali ini ya" minta Luna yang tidak ingin kedua anaknya terkena bahaya lebih.
Laura yang melihat tatapan tegas ibunya dengan cepat menyelimuti tubuhnya dengan baju Anti peluru.
"Su..sudah" ucap Laura pelan yang membuat Luna tersenyum lembut dan mengecup kedua anaknya.
__ADS_1
"Semuanya akan baik-baik saja percaya pada mom, okay" senyum Luna yang langsung menekan tombol yang ada di dekat pintunya. Membiarkan kaca mobil yang terbuka tertutup kembali.
"mom" gumam Navin dan Laura bersamaan. Mereka saat ini tidak bisa membantu apapun, karena senjata yang mereka lawan adalah senjata yang tidak mereka miliki saat ini. Dimana kini mereka tidak bisa mundur maupun maju karena lawan mereka mengepung mereka yang artinya hanya satu cara yang bisa menyelamatkan mereka.
Sebuah cara yang keluar dari jalan pikir manusia biasa dan sebuah cara yang bisa saja menyelamatkan tapi juga bisa membuat mereka mati dalam seketika. Satu-satunya cara yang sudah dipikirkan oleh Luna, membuatnya menelan salivanya pelan dan menatap ke arah depan, belakang dan juga satu arah yang terbuka lebar.
'Apapun yang terjadi mom akan melindungi kalian berdua. Walaupun mom harus mengorbankan nyawa mom sendiri, mom akan tetap melindungi kalian apapun yang terjadi. Satu-satunya berkah ku, satu-satunya batang berharga ku. Apapun itu mom akan membuat kalian hidup seterusnya.' ucap Luna dalam hati dan memegang setirnya kuat-kuat.
Setir itu ia putar dengan cepat, membuat mobil ban yang sudah mulai menipis bertambah tipis. Merem mobilnya lalu menyentuh pelan pedal gas mobilnya. Ia menoleh ke arah kanannya, kini mobil yang ada belakang nya terlihat di arah kanannya.
Mobil itu sudah siap meluncurkan amunisi berukuran besar itu. Hingga tidak berapa lama asap dan api terlihat mendekat ke arah mobil Luna. Luna yang melihatnya dengan cepat menginjak pedal gas nya dan membuat mobil yang tadinya berhenti melesat cepat ke arah depan.
Mobil itu bergerak melaju ke depan, dimana hanya ada jurang dan di sana. Namun jurang itulah yang menjadi satu-satunya harapan bagi Luna untuk melindunginya kedua anaknya. Mereka menghidari ledakan secara langsung itu walau naasnya api dan juga guncangan nya mengenai tubuh Luna dan juga mobil putih yang merupakan pemberian ibunya, Francis.
Menutup mata mereka dan mengatur nafas mereka agar tidak kehilangan oksigen saat meluncur ke dalam jurang yang dipenuhi pohon-pohon lebat itu.
"Arghhhhh sial kenapa di sini harus terdapat batu besar! ini akan sangat berbahaya, apalagi saat ini remnya tidak bisa digunakan sama sekali" gumam Luna yang melihat batu besar dari kejauhan.
'Tenanh Luna, semuanya akan baik-baik saja percaya pada dirimu sendiri dan keinginan mu. Semuanya akan baik-baik saja' pikir Luna yang mencoba menenangkan pikirannya.
Luna mencoba menenangkan pikirannya untuk melindungi kedua anaknya. Dimana keadaan nya saat ini sangat-sangat dalam kondisi yang tidak baik. Dari kaca-kaca mobil yang retak dan mengenai tubuhnya. Membuat tubuhnya yang sama sekali tidak dilindungi baju Anti peluru itu mengeluarkan darah yang banyak.
'Sial! tangan kananku tidak bisa digerakkan sama sekali' ucap Luna dalam hati saat merasakan tangan kanannya tidak bisa diangkat maupun digerakkan sama sekali. Kaca-kaca itu menusuk ke dalam kukitnya, membuat pembuluh darah dan titik-titik akupuntur nya terhenti.
"Mom..." panggil Laura yang masih memejamkan matanya. Ia memanggil ibunya dalam kondisi bahaya, membuat Luna yang tidak bisa memutar setirnya memutuskan untuk melepaskan seatbelt miliknya. Beranjak dari tempat duduknya dan memalukan kedua anaknya.
__ADS_1
'hanya ini yang bisa ku pikirkan untuk menyelematkan kalian' pikir Luna yang memeluk kedua anaknya sebisa mungkin.
Memunggungi kaca mobil itu dan membiarkan batu besar yang sebentar lagi mendekati mereka mengenai punggungnya.
'Ca...cairan apa ini?' ucap Navin dalam hati yang merasakan banyak cairan menetes ke tangannya.
'Aku mohon tolong lindungi, Daddy tolong kami' pikir Laura yang tidak bisa memikirkan apapun dan di saat itulah suara tabrakan terdengar. Mereka berdua bisa mendengar suara pecahan kaca bening berbunyi di dekat mereka.
Mobil yang mereka kendarai berguling dan terjatuh semakin dalam. Membuat mata Laura dan Navin tidak bisa untuk menutup lagi.
"Mom..." panggil keduanya saat melihat ibu mereka memeluk mereka berdua dan melindungi mereka dari pecahan kaca yang ada di depan mereka.
"Tidak-tidak, mom!" teriak Laura yang melihat ibunya berdarahan.
"Mom akan tetap melindungi kalian, paham" senyum Luna yang mengecup dahi kedua anaknya lalu membiarkan kesadaran nya menghilang. Kesadaran nya memudar tepat di mana sebuah teriakan dari orang-orang terdengar dari luar mobil mereka.
"Tuan satu mobil akan terjatuh lagi ke sini" ucap seseorang dari pos keamanan miliknya.
"Siapkan semuanya dan bawa mereka ke ruang tahanan" perintah seorang lelaki yang merupakan atasan mereka.
"Siap, laksanakan" tegas orang-orang tersebut dan berlarian mengambil persiapan kembali. Membiarkan mobil itu jatuh ke dalam kantung angin besar dan melihat orang yang ada di dalam.
Hingga di saat itulah mereka terkejut dengan orang-orang yang ada di dalam mobil itu. Bahkan laki-laki yang merupakan pemimpin mereka semua terkejut saat mendekat ke arah mobil dan melihat orang yang ada di dalam.
"I...ini'"
"Tolong...tolong... selamatkan mommy..."
__ADS_1