
Dengan suara helikopter yang mulai menjauh, Leon yang berdiri disana menatap kepergian selusin helikopter yang melewati atas kepalanya.
Dimana mata berwarna biru itu mencerminkan rasa dingin yang membeku, sambil menatap kepergian dan juga kata-kata yang diucapkan oleh lelaki itu.
[mengidap penyakit jiwa disebabkan oleh dirimu, tuan Martin?”]
"Tuan, apa kau baik-baik saja?" Tanya tangan kanan Leon sambil menatap tuannya yang kedinginan.
"Tidak, aku sama sekali tidak baik-baik saja.'' Dingin Leon yang sama sekali tidak menolehkan kepalanya ke arah tangan kanannya.
"Tuan-"
"Apa kau pikir aku akan baik-baik saja saat mendengarnya, V?" Toleh Leon sambil menatap ajudan kepercayaan nya, sementara teman yang merupakan salah satu orang kepercayaan nya sedang menyelidiki hal-hal yang ia butuhkan.
Dan V yang mendengar perkataan milik tuannya, terkejut sekaligus gugup saat menerima tatapan kejam dan dingin milik tuannya. Membuatnya menyadari bahwa saat ini tuannya sedang berada dalam kondisi yang kurang baik.
Dimana mata berwarna biru itu menampilkan kegelapan. Seolah laut dalam yang tidak ada ujungnya mencoba menangkap dan membawamu ke pusaran air tersebut.
"Tuan, tolong tahan amarah anda. Ini bukan saatnya untuk menuangkan semua amarah anda kepada bawahan yang ada di sekeliling anda." Ucap V sambil menasehati tuannya yang siap menjelma seperti seekor singa.
"..."
"Tuan?"
"Perintahkan mereka untuk kembali ke pangkalan." Dingin Leon sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Tuan, anda tidak- Tunggu, tuan apa yang anda-"
"Bukankah kamu berkata untuk menahan amarahku, kalau begitu pergilah."
"Ya, saya memang mengatakan seperti itu kepada anda. Tapi apa yang akan tuan lakukan saat kami pergi? Tuan, tidak mungkin untuk melakukan itu bukan!"
__ADS_1
"Menurutmu?" Smirk Leon sambil membalikkan tubuhnya ke belakang dan pergi meninggalkan para pengikut yang ada di sekelilingnya.
Dimana semua mata yang memandang orang itu penuh keterkejutan dan kebingungan. Terutama saat melihat atasan sekaligus pemimpin mereka pergi dengan tenang ke suatu tempat.
Tanpa melukai mereka sedikitpun. Sehingga mereka yang melihatnya sangat terkejut dan bahkan tanpa sadar menjatuhkan senjata api yang ia pegang di tangannya.
Dengan hanya satu kalimat yang ada di dalam pikiran mereka semua,
[Ini, Gila!] Pikir mereka semua.
Dan V yang melihat tingkah laku tuannya, hanya bisa menghela nafas lega sekaligus pasrah saat melihat gerakan tuannya. Yang mana ia lega dengan kondisi para bawahan yang masih hidup tanpa penuh luka dan pasrah dengan kondisi tuannya yang saat ini sedang terobsesi oleh wanita itu.
Seorang wanita yang dulunya merupakan kekasih sekaligus calon pendamping untuk tuannya. Yang sayangnya menghilangkan tanpa kabar dan jejak sedikitpun. Membuat tuan yang dulunya penuh kehangatan berubah menjadi badai salju yang sangat dahsyat.
Seolah-olah menghantam kan badai tersebut ke arah mereka, dan membiarkan orang-orang yang berdampak badai terluka karenanya.
Pikir V yang tidak mengetahui bahwa semua hal yang terjadi di sekeliling mereka. Hingga menyebabkan mereka semua terluka, disebabkan oleh atasan yang selalu mereka hormati dan panuti.
Dimana dibalik badai itu tersimpan sebuah rahasia yang memiliki keterkaitan nya dengan hubungan kedua pasangan itu.
Dimana kini, Leon sedang memikirkan hal apa yang harus ia lakukan untuk membawa wanita kesayangan nya ke dalam pelukannya. Sehingga ia tidak akan bisa lari lagi darinya, entah itu jiwa maupun raga nya yang mempesona.
'Argh, apa yang harus ku lakukan dengannya? Terutama orang itu, apa harus ku perintahkan bawahanku untuk membunuhnya di kastilnya. Tapi bukankah akan sulit jika diketahui bahwa calon penerus tahta ke 2 terbunuh, tetapi orang itu pasti senang saat mengetahui bahwa saingannya terbunuh.' Gumam Leon sambil berjalan memasuki wilayah para tentara yang sedang beristirahat di tenda darurat dan menahan salah satu orang yang lewat di depannya.
"..."
"Apa kau lihat Luna lewat sini?" Tanya Leon sambil mengeluarkan senyumnya.
"..."
__ADS_1
"Sepertinya aku kurang jelas, apa kau lihat Luna lewat sini?" Tanya Leon sambil mengencangkan pegangan tangannya. Membuat wajah tentara yang tadinya tenang dan biasa saja mengeras saat merasakan pegangan tangan yang sangat kuat.
Dan Leon yang menggenggam tangan itu mengeluarkan senyum tipisnya dan mendekatkan wajahnya ke orang tersebut sambil berbisik.
"Tanganmu cukup bagus." Dingin Leon membuat orang tersebut bergidik ketakutan.
Terutama saat melihat mata berwarna biru gelap itu. Seolah-olah akan melahap dan menenggelamkan nya ke dalam lautan. aDimana kini mata itu menatapnya seperti mangsa yang mengenakan dan siap untuk diludahkan tanpa sisa tulang sedikitpun.
"Wa-wakil kapten, ada di tenda gawat darurat." Jawab tentara tersebut sambil menahan rasa sakit dari dislokasi tulang miliknya.
Dimana suara dislokasi yang dihasilkan dari pergelangan tangan itu terdengar di antara mereka berdua. Dengan suara yang halus, bunyi retakan tulang terdengar bersama angin yang tertiup.
"Seharusnya kau menjawab dengan cepat, jadi aku tak perlu merusak tanganmu yang cantik ini." Bisik Leon meninggalkan orang tersebut dan pergi ke arah tenda gawat darurat berada.
Tentara yang melihat kepergian Leon menatap pergelangan tangannya yang terluka. Yang mana di tangan itu terlihat belokan berbeda arah dengan warna biru yang mulai muncul di sana. Seperti sebuah gelang tangan, itu menghiasi tangan bersih miliknya.
'Cantik? Sial, tanganku berubah menjadi berwarna biru seperti ini karenanya! Siapa orang gila itu dan apa hubungan dia dengan wakil kapten? Tapi, tunggu bukankah orang-orang yang berhubungan dengan kapten memang orang-orang gila yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa.'
'Arghhh, kenapa hariku sangat sial sekali hari ini?! Senjata kesayangan ku hilang karena terbakar dan juga aku bertemu orang gila seperti itu.' Ucap orang itu sambil berteriak di dalam hatinya dan berjalan menuju tenda gawat darurat.
Untuk meminta pertolongan pertama terhadap luka yang ada di pergelangan tangannya. Dimana luka ini disebabkan oleh orang lewat yang tidak ia kenal sama sekali.
Dan Leon yang disebut namanya, sedang berjalan dengan ringan menuju tempat Luna berada. Sambil menyenandungkan sebuah lagu, Leon membuang tisu basah bekas sapuan tangannya dan membuangnya ke tempat sampah yang berada samping nya.
Dengan tatapan dingin yang membeku, Leon menatap tisu yang baru ia buang ke tempat sampah itu dengan dingin.
Seolah-olah sentuhan yang ia rasakan tadi sangatlah menjijikkan dan juga sangatlah kotor. Terutama sentuhan yang harus ia lakukan untuk mengetahui keberadaan wanitanya. Dimana sentuhan yang biasanya digunakan oleh Leon hanyalah sentuhan untuk melawan musuhnya, dengan cara mematahkan tulang mereka maupun maupun membunuh mereka dengan tangannya sendiri.
Sehingga Leon yang menyentuh tangan orang tersebut dengan cepat membersihkan sisa-sisa sentuhan tersebut dan melangkahkan kakinya kembali menuju tempat wanitanya berada.
__ADS_1
🔫 Jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.
🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~