
Di dalam ruangan, terlihat Leon yang sudah melepas dasinya dan duduk di hadapan ibunya. Ditemani dengan berkas-berkas yang sudah memenuhi meja tamu miliknya.
"Jadi apa yang ibu lakukan saat ini?" dingin Leon lalu menerima minuman kopi yang sudah diseduhkan oleh Luna.
"Tentu saja ingin bertemu dengan anak laki-laki yang sangat ibu sayangi ini" senyum Qarin sambil menatap anak laki-lakinya semangat.
"Karena tujuan anda sudah tersampaikan silahkan keluar" usir Leon yang tidak peduli dan mulai membuka setiap lembar berkas miliknya.
"Ehhh... Leon, ibu sudah lama tidak bertemu denganmu nak. Ditambah apa kamu tidak kangen dengan ibumu ini?" tanya Qarin yang tidak rela kembali ke mansion.
"Saya sudah pulang 2 kali sebelum ke rumah, apa itu tidak cukup?" dingin Leon membuat Qarin menelan salivanya pelan.
"I..itu"
"Luna" tatap Leon membuat Luna mengganguk paham dan meletakkan nampan miliknya. Berjalan cepat ke arah Qarin lalu mengeluarkan senyuman manisnya
"Maaf nyonya, tuan muda sedang sibuk hari ini jadi mari saya bantu anda berkeliling perusahaan" senyum Luna yang tau akan tatapan mematikan atasannya.
'Maaf nyonya, bukan maksud saya untuk mengusir anda, tapi jika saya tidak melakukan nya secepatnya gajih dan bonus saya akan dipotong' pikir Luna yang tidak bisa membiarkan gajihnya hilang lagi.
"Huft... baiklah kalau begitu Leon ibu pulang" pamit Qarin yang pasrah akan sikap cuek dan dingin anak laki-lakinya. Leon yang mendengar perkataan ibunya hanya mengangguk tanpa melihat ibunya sama sekali.
Qarin dan Luna pergi dari ruangan milik Leon, berjalan mengelilingi perusahaan yang berubah pesat. Senyum bangga terlihat di wajah Qarin yang mulanya sedih. Membuat Luna yang ada tersenyum lembut.
"Semua ini merupakan kerja keras dan peraturan yang ditetapkan oleh tuan Leon, sehingga menghasilkan banyak perubahan" jelas Luna.
"Saya benar-benar tidak menyangka anak laki-laki ku akan sehebat itu" senyum Qarin yang melihat perkembangan anaknya.
"Hahaha, benar tuan Leon sangat hebat" senyum Luna dan berjalan menuju pembatas pagar. Melihat pemandangan indah dari atas gedung lalu menghirup udara segarnya pelan.
"Luna, apa kamu berniat menikah dengan anak saya?" tanya Qarin tiba-tiba. Membuat perasaan tenang yang baru saja datang hancur dalam seketika.
__ADS_1
"Sa..saya?" bingung Luna.
"Memang siapa lagi jika bukan kamu? sudah cantik, manis, pekerja keras dan yang paling penting baik hati" puji Qarin membuat wajah Luna tersipu malu.
"Terimakasih atas pujiannya, tapi saya rasa saya tidak cocok dengan tuan muda" malu Luna.
"Ehh kenapa memangnya? apa karena Leon bukan tipe idealnya?" tanya Qarin bingung. Karena dirinya percaya bahwa Luna bisa membuat anaknya yang manis dulu kembali hadir.
"Bukan, bukan itu maksud saya, i..itu karena" gugup Luna dan menyembunyikan wajahnya di balik rambutnya yang panjang lebih dari sebahu.
"Karena apa? karena Leon terlalu baik? terlalu tampan? terlalu pemurah?" bingung Qarin.
'Tuan Leon bukan tampan saja tapi terlalu tampan, dan untuk terlalu baik dan terlalu pemurah itu seperti nya nyonya salah menilai. Setau saya dia adalah orang paling pelit, mengesalkan dan yang paling penting suka mengancam! Tapi saya tidak mungkin mengatakan itu secara langsung, bukan?!' pikir Luna yang tidak bisa menjawab secara langsung.
Dimana kalimatnya dipenuhi dengan ejekan untuk atasan paling diidamkan oleh para wanita yang ada di seluruh dunia.
"Aaah kau benar pertemuan hari ini, untung saja kau mengingatkanku Luna. Terimakasih banyak" ucap Qarin yang baru mengingat bahwa dia ada pertemuan dengan teman-teman sosialitanya.
"Benar bukan? hehehe saya masih ingat jadwal yang pernah anda perlihatkan dengan saya kemarin" senyum Luna membuat Qarin langsung memeluk Luna hangat.
"Terimakasih, kamu memang calon istri Leon yang paling terbaik di dunia ini" senyum Qarin lalu berjalan pergi bersama pelayannya. Membuat Luna yang ditinggalkan tersipu malu karena ucapan ibu atasannya.
"Ehhhhhh.... astaga wajahku seperti nya akan terbakar" malu Luna yang dengan cepat mengibaskan kedua tangannya ke arah pipinya yang memanas.
Qarin yang meninggalkan Luna sendirian hanya bisa terkekeh pelan saat melihat wajah calon menantu nya yang manis. Hingga dirinya sendiri tidak sadar bahwa lift yang dinaiki sudah berdenting.
"Nyonya... nyonya apa nyonya mendengar suara saya?" panggil pelayan yang menemani Qarin.
"Ah maaf-maaf, aku tidak sadar liftnya sudah sampai"
__ADS_1
"Tentu saja anda tidak sadar nyonya, karena anda sepertinya sangat menikmati pertemuan anda dengan calon menantu anda" jelas pelayan yang mengetahui kebahagian atasannya.
"Benarkah? apa aku terlalu keliatan bahagianya? astaga aku benar-benar tidak menyangka akan memiliki seorang anak perempuan yang seperti itu" ucap Qarin yang tidak bisa berhenti bahagia. Bahkan langkah kaki yang biasanya tergesa-gesa kini berubah menjadi lembut. Seakan-akan mengatakan kepada orang-orang bahwa dia enggan pergi jika saja dia tidak memiliki pertemuan hari ini.
"Anda terlihat sangat bahagia nyonya, saya senang melihatnya" senyum pelayan membuat Qarin ikut tersenyum dan masuk ke dalam mobil.
"Terimakasih dan juga apa kamu sudah mengatakan kepada supir untuk mengatakan kita ke tujuan yang baru?" tanya Qarin yang tidak ingin terjadi apa-apa.
"Tentu saja nyonya, Pak jangan lupa antar kami ke tujuan yang tadi saya katakan" ucap pelayan mengingatkan supir yang ada di depan mereka. Supir yang ada di kursi depan menganggukkan kepalanya pelan lalu menyalakan mobil.
"Hei, apa kamu dengar ucapanku?" tanya pelayan yang tidak mendengar satu jawaban apapun. Membuat Qarin yang ada di kursi belakang terkekeh saat melihat sikap pelayan yang selalu menjaganya.
"Hahaha, dia sudah menjawab dengan anggukan. Jadi tidak perlu khawatir lagi Fin" kekeh Qarin.
"Tapi nyonya..."
"Sudah, jika kamu marah lagi nanti nyonya mu ini terlambat loh" ucap Qarin membuat pelayan tersebut mengenal nafasnya pasrah.
"Baiklah, Pak ingat jangan sampai salah" tatap pelayan tersebut ke arah supir yang sudah memulai perjalanan. Supir yang mengantarkan mereka diam-diam mengeluarkan sebuah smirk kecil dibalik topi hitamnya. Membuat perasaan tidak enak pelayan yang ada di samping Qarin sedikit bertambah.
'Perasaan apa ini? kenapa aku merasakan hal buruk akan terjadi' pikir pelayan yang merasakan ketidak nyamanan di dalam mobil.
"Fin, apa kamu mendengar perkataan ku dari tadi?" tanya Qarin yang mencoba memanggil nama pelayannya dari tadi.
"Ah maaf-maaf atas ketidak sopanan saya nyonya, saya hanya melamun sejenak tadi"ucap pelayan meminta maaf.
"Huft, aku kira apa tadi" ucap Qarin. Dirinya tidak merasakan perasaan seperti pelayannya Fin, dan juga tidak menyadari bahwa bahaya sedang menunggunya saat ini.
🔫Maaf siangan, dan juga besok bakal update lagi kalau 500 like nya kecapai°^° jadi mari kita lihat kecelakaan apa yang akan terjadi dan kenapa berkaitan dengan Luna maupun keluarga Luxury...
__ADS_1
Sekian terimakasih, Mata ne~