My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 59 : Tidak Akan Tenang


__ADS_3

Mobil Jeep hitam tersebut masuk ke dalam mansion yang sudah dibukakan pintu gerbangnya. Dengan putaran kemudi yang cepat dan handal, Edwin memberhentikan mobil Jeep hitam mereka di depan pintu mansion.


Pintu tinggi yang terbuat dari kayu jati tersebut terbuka dengan lebar. Walau waktu masih berada di jam dua malam lebih. Namun Navin dan Laura sudah menyambut kedatangan ibunya ditemani oleh beberapa pelayan.


"Mommy dimana Uncle?" Tanya Laura khawatir.


"Ketua ada di dalam nona muda" jawab Edwin. K membukakan pintu belakang mobil dan membiarkan para pelayan membantu Luna berjalan. Karena luka yang ada di kakinya masih ada dan masih menetes.


"Astaga Luna ada apa dengan kakimu?" terkejut Rangga yang masih memakai baju piyama. Rangga terbangun di tengah-tengah malamnya hari karena suara ribut. Ternyata keributan ada di depan mansion dimana adiknya dibantu berjalan oleh para pelayan.


"Tidak apa-apa hanya luka kecil" jawab Luna singkat. Sebenarnya dia bisa memaksakan kakinya untuk berjalan ke dalam. Hanya saja kedua tangannya sudah dipegang oleh para pelayan dan dibopong ke dalam. Jika pelayan biasa dia sudah bisa menghindar tetapi ini pelayan ayahnya. Yang berarti mereka semua terlatih dan terbiasa dengan hal-hal berbau seperti ini.


"Apa kau anak buah adikku?" tanya Rangga sambil menatap tajam Edwin dan K. Kedua orang yang ditatap hanya bisa menggangukan kepalan mereka sebagai jawaban.


"Huft baiklah kalian berdua juga masuk dan ceritakan apa yang terjadi" ucap Rangga pasrah.


"Maaf tuan, saya tidak bisa menceritakan hal yang terjadi jika ini bertentangan dengan peraturan kami" potong Edwin yang menegang teguh nilai kesetiaan.


"Tenang saja Luna adikku yang artinya aku juga merupakan tuan kalian. Tetapi jika kalian tidak percaya aku akan membangunkan ayahku dan buat Navin, Laura kenapa kalian tidak tidur" jelas Rangga yang diakhiri dengan mengomeli kedua keponakannya.


Laura yang kena omel langsung bersembunyi di balik tubuh kakaknya. Memberikan senyum cengir tanpa dosa dan menggosok-gosok belakang kepalanya.


"Hehehe kebangun uncle" cengir Laura tak berdosa.


"Apa benar Navin?" tanya Rangga kepada keponakan laki-lakinya yang lebih terpercaya.


"Hanya melakukan beberapa hal" jawab Navin jujur. Mata Rangga menatap tajam ke arah Laura yang malah membuat Laura dengan cepat kabur dan berlari ke dalam mansion. Rangga yang melihat tingkah keponakan perempuan nya hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepalanya pelan.


Adiknya sudah menjelaskan bahwa Laura memiliki sikap ayahnya. Tapi tidak disangka sikap Laura seperti ini. Jika orang yang melihat Laura mungkin tidak akan percaya bahwa dia adalah anak dari Leonex Martin. Laki-laki yang memiliki sikap dingin nan tegas dibandingkan dengan anak yang suka bercanda, tertawa dan melakukan apapun hal yang dia sukai.


"Ada apa Uncle?" Tanya Navin yang melihat pamannya menghela nafas, seakan-akan beban miliknya baru dihilangkan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Navin, kalian berdua masuklah ikuti anak laki-laki ini. Aku akan memanggil ayah untuk menyusul ke tempat kalian" jelas Rangga yang diangguki oleh kedua orang tersebut.


Navin membawa kedua tamu yang dibawa oleh ibunya untuk masuk ke dalam sebuah ruangan. Navin yang pergi ke ruangan membuat Rangga juga pergi ke ruangan. Tepatnya kamar ayah, ibunya dan berharap saja kedua orangtuanya akan bangun.



Setelah Rangga memanggil ayahnya, Rangga dengan cepat membawa ayahnya ke ruangan rapat. Mereka bertujuh duduk di kursi yang ada di ruangan. Saling berhadap-hadapan dan di tengah-tengah sudah di duduki oleh Henry.


Telapak kaki Luna sudah dibalut oleh perban dan di berikan obat luka. Di dalam ruangan tersebut hanya ada keheningan dan aura yang mencekam. Bahkan Rangga yang jarang mengikuti pertemuan ayahnya dalam mengurus hal tentang dunia gelap. Bisa merasakan hawa yang sangat menusuk tulangnya, melebihi aura yang dia keluarkan untuk melatih dunia kemeliteran.


Hingga sebuah suara dari Henry mengawali pembicaraan di waktu tengah malam tiba.


"langsung ke intinya" awal Henry dengan suara yang dingin.


"Kenapa kakimu bisa terluka Luna, tidan mungkinkan kau terluka karena tidak melihat sesuatu hal atau kalah dengan musuh?" tanya Henry sambil menatap tajam anak perempuannya.


"Hanya sebuah masalah yang harus diselesaikan" jawab Luna.


"Dad aku.." belum sempat Rangga meminta tatapan tajam dari ayahnya, yaitu Henry membuatnya terdiam dan berjalan lesu.


Setelah ketiga orang tersebut keluar, jawaban dari Luna mulai diluncurkan setiap katanya. Dimana mereka hanya ada berempat dan merupakan pejuang kegelapan. Alasan itulah yang membuat Rangga, Navin dan Laura harus di usir keluar ruangan. Mereka bertiga tidak boleh mengetahui lebih dalam tentang masalah dan juga misi yang didapatkan oleh Luna.


"Salah satu anak buahku menjadi sandera di klan Singa" ucap Luna menjawab pertanyaan ayahnya. Mata Henry menatap satu persatu orang yang ada di samping Luna.


"Maafkan saya Pak saya lalai dalam melakukan tugas tadi" ucap K minta maaf. Aura yang dikeluarkan Henry memang tidak sekuat milik Luna. Namun tetap saja aura milik Henry mampu membuat bulu kuduk berdiri.


"Baiklah aku maafkan dan Luna itu bukan sembarang luka bukan? dad tau kamu tidak akan mungkin terluka banyak untuk mengambil sandera" tanya Henry dingin. Sudah 8 tahun ini dirinya minat perkembangan Luna dan mengajarkan anak angkatnya itu menjadi orang yang kuat. Dan dia tau Luna tidak mungkin terluka banyak jika bukan karena hal mendesak.


"Aku tidak bisa membiarkan nyawa anak buahku pergi, aku sudah berjanji dengan dad" ungkap Luna.


"Kalau begitu dia memberikan mu pilihan?" tanya Henry.

__ADS_1


"Ya"


"Apa pilihannya?" tanya Henry yang tidak dijawab oleh Luna. Mata Henry menatap K meminta jawaban yang tidak diberikan oleh anak perempuannya.


"Salah satunya adalah bertunangan dengan ketua klan Singa" jawab K Cepat. Henry yang mendengar jawaban cepat dari K hanya bisa tertawa dan menepuk tangannya.


Prok Prok Prok


"Hahaha apa itu benar Luna?" tanya Henry mempastikan.


"Itu benar" singkat Luna. Henry mendorong kursinya, berjalan menjauh dan menatap ke luar jendela. Dia mengambil pematik dan membiarkan asap rokok mengepul di udara. Hal yang dilakukan nya di saat hal-hal tertentu seperti hal-hal yang membuat dirinya terkejut.


"Aku tidak menerimanya dan membawa mereka berdua pergi" ucap Luna


"Jadi lukamu di dapat untuk menghindari hal itu"


"Iya" singkat Luna.


"Baiklah jika itu pilihanmu Daddy akan menerimanya. Namun hidupmu mungkin tidak akan tenang" ucap Henry dan menggepulkan asap rokoknya lagi.


"Maksdunya?" bingung Luna.


"Dia tidak akan membiarkan mu" jawab Henry singkat. Sebagai pemimpin klan ular dia mengetahui banyak pemimpin. Namun hanya Leonex Martin yang paling susah untuk di atasi. Dimana laki-laki muda itu memiliki banyak tipuan dan muslihat. Membuat Leon sering di sebut sebagai QM (question Mark) yang artinya penuh tanda tanya dan sudah ditebak.


Panggilan yang merupakan panggilan Leon di dalam dunia gelap. Pemimpin kuat yang tidak memperlukan senjata karena dia memiliki tenaga yang seperti baja. Karena itulah Klan singa memiliki ciri khas kuat dan tangkas.


"Sepertinya ini tidak akan mudah" gumam Henry.



🔫300 like besok bakal update dan juga jangan lupa buat vote, Comment Karena itu sangat membantu author ^^

__ADS_1


__ADS_2