
Navin yang memikirkan perkataannya dengan cepat menghapus bayangan gelap yang ada di dalam hatinya menenangkan dirinya membuka bungkusan permen baru yang ada di dalam sakunya.
untuk menenangkan jiwa juga hatinya, di mana kebiasaan ini terlahir dari kebiasaan milik ayah juga ibunya. di mana kegelapan berasal dari ayahnya ketenangan berasal dari ibunya hanya dirinya lah yang mengetahui tentang hal gelap seperti itu.
“Kak?”
“Hmm.”
“Apa hanya itu saja yang jadi alasan kekalahan ayah baptis, bukankah itu tidak realistis?”
“Ya, itu memang tidak serealistis pikiranmu. karena saat bertarung, lelaki tua itu tidak sepenuhnya mengeluarkan kekuatannya.”
“Maksudmu?”
“Artinya, stamina energi yang dimiliki oleh ayah yang paling kamu cintai itu melebihi milik ayah baptis aku sama sekali tidak bisa menilainya.” Jelas Navin yang tak lupa mengeluarkan senyum tipisnya.
Membuat Laura yang mendengarnya merasakan perasaan ketakutan, terutama saat ini dia merasakan bahwa dia sedang ditatap oleh hewan buas yang siap memangsanya.
“Kak, bisakah kau tidak tersenyum?” Tanya Laura pelan sambil menyodorkan keripik kentang ke arah kakaknya.
“Bukankah kau menyukainya?”
“Tidak, tidak perlu kak. Lebih baik aku melihat senyuman hewan peliharaanku daripada melihat senyumanmu. Hehe.” Kekeh Laura yang lebih menyukai senyuman hewan peliharaannya, walaupun senyuman hewan peliharaannya lebih mengerikan dibanding senyuman hewan peliharaan yang biasanya yang paling penting hewan peliharaan milik kakeknya itu tidak pernah mengeluarkan senyuman kecuali untuk ibu mereka.
‘Walaupun mustahil, itu lebih baik daripada melihat senyuman tulus milik kakakku!’ Seru Laura dalam hati.
Navin yang mendengarnya memutar bola matanya ringan kembali memperhatikan orang-orang yang mulai berkelahi juga bercanda itu. Sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan kedepannya, agar bisa berguna untuk membantu ibunya nanti.
Sama seperti Navin, Laura yang sedang memegang bungkusan keripik kentang itu saat ini sama-sama memikirkan cara untuk meringankan beban ibunya. tidak lupa merencanakan program yang akan membantu ibunya untuk melacak maupun mematai para musuh.
Dengan pikiran yang rumit juga lucu, kedua anak kecil itu tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing tidak memperhatikan bahwa seorang lelaki dewasa berjalan ke arah mereka mengangkat mereka berdua dengan kedua tangannya yang kokoh.
“Apa yang kau-”
“Woahhh! Kau membuat kami terkejut uncle.”
“Tidak, hanya kamu saja yang terkejut juga uncle bisakah kau turunkan aku. Aku bukan anak kecil lagi, paham.” Dingin Navin yang tidak lupa membantah perkataan milik kembarannya itu.
Membuat Rangga yang mendengarnya tertawa menurunkan keponakan kesayangannya ke bawah. Sambil tersenyum lembut, Rangga yang memiliki aura seperti singa di Padang pasir mengelus lembut pucuk kepala mereka.
__ADS_1
Membuat Laura yang mengetahui tindakan pamannya itu dengan cepat menghindar bersembunyi di balik tubuh kakaknya. tidak lupa menatap mata pamannya dengan tatapan mengeluh.
“Uncle! Bukankah sudah kukatakan untuk jangan mengelus pucuk kepalaku. Hampir saja potongan rambutku rusak karena paman.” Keluh Laura sambil menatap tajam ke arah tangan pamannya yang hampir saja merusak model rambut kesukaannya.
“Hahaha, maaf Laura paman lupa. Kedepannya aku pastikan aku akan mengingatnya.”
“Huh(*´ω`*)!”
“Paman, apa ada sesuatu yang ingin paman katakan kepada kami?” Tanya Navin yang dengan jelas menyadari bahwa pamannya saat ini sedang dalam kondisi yang buruk.
Terutama mata cokelat yang biasanya memiliki sinar kini mulai redup, dan perlahan berubah menjadi gurun yang luas dan dalam. Seolah-olah bisa menyedot seseorang saat melihat matanya yang berwarna coklat itu.
“Kau-”
“Apa sesuatu terjadi padamu, paman?” Tatap Laura linglung yang sama-sama menyadari bahwa kondisi pamannya saat ini sangatlah tidak benar. Entah itu aura yang dibawa oleh tubuh, maupun tatapan matanya yang kering.
“Aku-”
“Apa sesuatu sedang terjadi di sana, Kak?” Tanya Luna sambil berjalan mendekat ke arah kakaknya.
Membuat Rangga yang mendengarnya tidak bisa menahan perasaan sedih miliknya dan memeluk tubuh adiknya dengan erat. Seolah melampiaskan kekesalan dan kekecewaan yang ia miliki selama ini.
“Maaf, ini semua kesalahanku.” Gumam Rangga membuat Luna yang mendengarnya tertegun dan menatap kakak nya aneh.
“Apa yang terjadi kak?”
“Aku-”
Luna yang mendengarkan penjelasan milik kakaknya melangkahkan kakinya mundur dan menatap kakaknya dengan tajam.
“Apa benar apa yang kakak katakan tadi?”
“Ya.”
“Damian.” Panggil Luna dingin dan dengan cepat sebuah bayangannya menghampiri dirinya dengan cepat. Dimana wajah tampan itu kini penuh dengan luka biru dan juga merah. Namun sama sekali tidak memudarkan ketampanan yang ia miliki, malah menambah perasaaan liar di wajahnya tersebut.
“Ya, sayang. Apa ada sesuatu yang kau butuhkan?” Tatap Damian tak lupa mengecup rambut panjang milik Luna.
__ADS_1
Membuat Luna yang melihat gerakannya menendang lutut belakang Damian dan menjatuhkan Damian yang sedang berdiri di sampingnya ke depan. Dengan suara ketukan, terdengar suara desissan di sekeliling mereka.
Terutama saat melihat gerakan Luna yang kasar dan tanpa sopan santun sedikitpun. Membuat orang-orang yang melihat gerakan tersebut merasakan rasa sakit dan juga ngilu di bagian bawah kaki mereka.
‘Mengerikan.’ pikir mereka serentak.
Berbeda dengan Leon yang saat ini berdiri tidak jauh dari mereka. Mata berwarna biru gelap miliknya kini menampilkan bayangan menyenangkan. Terutama saat melihat wanita kesayangannya tanpa ampun menendang kaki milik Damian.
Membuat perasaan buruknya menghilang seketika dan digantikan dengan arus yang hangat.
‘Lebih bagus lagi jika kaki lelaki itu patah. Aku akan menambah poin plus untuk tendangan wanitaku.’ Pikir Leon yang sayangnya tidak direstui oleh sang maha pencipta.
Terutama Damian yang tadinya berada di posisi duduk di lantai kini telah berdiri di samping Luna dengan tegap nya sambil menepuk-nepuk debu dan juga pasir yang ada di celana putihnya.
“Hah, untung saja aku termasuk orang yang memiliki tulang spesial dibandingkan tulang milik orang lain.” Gumam Damian yang sudah selesai mengecek bagian lututnya.
“Apa sudah selesai?” Tatap Luna dingin.
“Yap.”
“Baik, aku minta kau jaga kedua orang itu dan pastikan agar mereka berdua tidak berkeliaran ke sana kemari.”
“Apa kau memintaku untuk menjadi pengasuh mereka?”
“Ya.”
“Tunggu-”
“Damian.”
“Huh, baiklah. Aku pasti akan menjaga mereka agar tetap aman, tapi apa baik-baik saja aku membawanya ke tempat tinggalku?” Tanya Damian pasrah dan tidak bisa menolak permintaan milik tuan sekaligus kesayangannya.
“Tidak, kamu tidak perlu membawa mereka ke tempat tinggal milik mu. Kamu hanya perlu membawa mereka ke wilayah distrik militer milik kakakku, karena kedua orang tuaku yang akan menjemput mereka.” Jelas Luna yang memastikan bahwa kedua orang tuanya akan sampai ke distrik militer di bagian barat jam 8 malam nanti.
Sehingga dia bisa yakin untuk meninggalkan kedua orang tersebut. Agar tetap aman dan menghindari bencana yang akan terjadi. Entah itu secara terbuka maupun secara diam-diam seperti kali ini.
‘Apapun yang terjadi aku harus memastikan bahwa kedua anak itu akan tetap aman hingga mereka besar nanti.’ Pikir Luna sambil menatap ke arah kedua anaknya yang kini sedang berada di dekat Leon.
__ADS_1
🔫 Jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.
🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~