
"I...ini'"
"Tolong...tolong... selamatkan mommy..." minta Laura yang melihat ada seseorang di kacanya yang pecah. Kesadarannya hampir menghilang tapi gigi kecilnya mengigit bibir mungilnya membuat kesadaran yang akan hilang berubah menjadi tatapan kuat.
"Kamu... bukankah kamu Laura" ucap seorang laki-laki yang merupakan atasan itu.
"Suara ini, Daddy to..tolong bantu mom" minta Laura dan mengeluarkan tangannya dari seatbelt. Menjulurkan tangannya dan mencoba menggapai ayahnya.
"Beberapa di antara kalian cepat persiapkan ruangan untuk perawatan dan sisanya evakuasi" perintah Leon yang dengan cepat menggapai tangan anak perempuan yang memanggilnya ayahnya itu.
Lelaki itu adalah Leon, Leonex Martin. Dia adalah laki-laki yang melihat mereka dan meminta para pasukannya untuk menyiapkan perawatan.
"Terimakasih Daddy, ta...tapi bisakah Daddy dahulukan mom terlebih dahulu" senyum Laura yang merasa kehangatan ditangan milik ayahnya.
"Mom... tunggu jangan bilang" dingin Leon yang dengan cepat membuka pintu mobil dengan paksa dan menyadari bahwa bukan kedua anak saja yang ada di dalam melainkan seorang perempuan yang memiliki luka yang parah.
Leon yang melihatnya merasakan jantungnya berdetak dengan kencang. Dia mengenali tubuh dan rambut itu, dirinya sangat mengetahui siapa perempuan itu. Satu-satunya wanita yang ia cintai seumur hidupnya itu adalah wanitanya, Luna Nypole.
Wanita itu dibaluri oleh cairan bewarna merah cerah nan kental. Serpihan kaca kecil bahkan besar menempel di tubuhnya, membuat kulit putih itu terlihat mengerikan. Bahkan kulit yang dulunya terlihat cerah kini menjadi gelap digenangi oleh darah.
"I..ini, Luna-Luna kau..." gugup Leon yang menyentuh tubuh Luna pelan.
"Dad, mom... tidak sadar hah...hah" jelas Laura dengan nafasnya yang terengah-engah. Membuat Leon yang mendengarnya dengan cepat memanggil semua bawahannya.
"Kalian semua cepat dan pastikan beri mereka perawatan yang terbaik" teriak Leon yang menyentuh tubuh Luna dan mengangkatnya dengan kedua tangannya.
Leon menggendong Luna dengan lembut, bahkan dia membiarkan pakaian jas dan kemeja putih itu terkena darah merahnya. Kedua anak yang ada di dalam mobil ditandu oleh bawahannya dan dengan cepat membawa ke salah satu rumah sakit kemiliteran tersembunyi.
"Tuan Leon itu..."
"Tidak perlu aku yang akan membuatnya ke ruangan, kalian tinggal menyiapkan ruang operasi secepatnya" dingin Leon yang membawa Luna dengan kedua tangannya sendiri.
Jantungnya tidak berhenti berdetak, keringatnya bercucuran saat melihat wanita yang ia sayangi terluka patah. Bahkan matanya kini berubah menjadi sedih dan sangat menyakitkan karena melihatnya dengan kondisi yang seperti itu.
"Luna, kamu pasti akan baik-baik saja, pasti. Aku akan membalas orang-orang yang telah membuatmu seperti ini, Luna ku" gumam Leon sedih.
Membawa cepat Luna dan membiarkan ruang operasi itu tertutup. Lukanya lebih berbahaya daripada kedua anaknya yang menggunakan pakaian anti peluru. Membuat operasinya Luna didahului dan ditangani oleh dokter utama.
__ADS_1
"Tuan muda berhenti tuan muda, saya mohon untuk berhenti luka anda masih belum selesai diperbaiki" teriak seseorang dari kejauhan.
Teriakan itu menggema di ruangan rumah sakit membuat Leon uang menunggu di ruang operasi menoleh dan melihat seorang anak laki-laki berjalan cepat. Auranya dingin dan tegas membuat orang-orang yang ada didekatnya saja tidak berani mendekati dan membantu.
""Tuan muda!" teriak salah satu perawat yang membuat Leon mendekat.
"Apa yang terjadi?" tanyanya dingin.
"Maafkan saya tuan, saat saya membersihkan serpihan kaca dan membalut luka tersebut dari perban... tuan muda berlari keluar dan berakhir seperti ini" jelas perawat yang membuat Leon menggangguk.
"Pergilah"
"Tapi..."
"aku akan mengejarnya" lanjut Leon yang mengikuti anak laki-laki itu pergi.
Dimana bawahannya juga mengikuti anak laki-laki yang berdarah itu. Suara keributan terdengar di luar membuat Leon dengan cepat menemukan lokasi anak itu.
Di sana ia melihat sesosok laki-laki yang berlari ke arah mobil yang hancur. Langkah kakinya lebih cepat dan cepat, membuat Leon yang ada di belakangnya juga ikut mempercepat langkah kakinya. Walaupun dia memiliki tubuh yang kecil namun langkah kaki dan kecepatan nya itu tidak normal. Sehingga Leon harus menambah kecepatan kakinya.
"Diam! tidak ada yang boleh mendekat" perintah Navin dingin. Ia tidak peduli dengan luka yang ada di tangan kanannya saat ini yang ia pedulikan adalah musuhnya. Musuh yang sekarang sedang berbahagia karena kehancuran ibunya.
'Sial-sial, aku akan membalas kalian' pikir Navin yang mengambil beberapa senjata yang ada di dalam mobil dan memasukkan nya ke dalam saku.
"Navin apa yang sedang kau lakukan?" tanya Leon yang melihat tingkah laku aneh milik Navin.
"aku akan membalas mereka, aku membalasnya" gumam Navin yang sama sekali tidak mendengar pertanyaan dari Leon.
Hingga tangan besar itu menyentuh pundaknya dan memutarnya. Membuat mata biru laut itu saling bertatapan dengan mata biru laut. Mereka berdua memiliki wajah yang sama, bahkan mata mereka juga sama. Namun sayangnya kehidupan mereka berbeda, dibesarkan dengan cara yang berbeda.
"Apa yang sedang kau lakukan Navin?" tanya Leon tegas. Auranya yang dingin menekan semua orang yang ada. Bahkan para bawahan yang tadinya mendekat kini mulai mundur. Tetapi berbeda dengan Navin yang dengan cepat mengisi pistol miliknya dengan peluru, menodongkan nya lalu mengeluarkan aura membunuhnya yang kental.
"Jangan pernah menyentuhku dan jangan pernah ikut campur dengan apa yang akan ku lakukan. Jika tidak aku akan menembakmu sekarang juga bahkan jika kau memiliki hubungan darah denganku" ancam Navin sambil menodongkan pistol ke arah ayahnya.
"ini... tuan..."
__ADS_1
"Cobalah, tembak jika kau bisa" tantang Leon yang tidak tau bahwa anak yang di tantangnya bisa menggunakan senjata apapun.
Dor****
Tembakan itu terdengar menggema di belantara hutan. Membuat Leon yang tadinya mendatang terkejut dengan ketidaktakutan anak laki-laki tersebut. Matanya tenang dan tenang seperti ibunya, tetapi jiwa yang ada di dalamnya memberontak. Seakan-akan dia tidak akan pernah menampilkan ekspresi nya kecuali aura menakutkannya saja.
"Sudah ku katakan bukan aku akan menembakmu, bahkan jika hanya goresan itu bisa membuat efek yang besar" dingin Navin yang membiarkan tembakannya melesat dan tetap menggores bagian lengan Leon.
'Apa perasaanku saja anak ini memiliki fitur ku?' pikir Leon yang menyadari kehebatan anak ini.
"Kak Navin! kakak!" teriak Laura dari kejauhan.
Dia berlari sambil diikuti oleh para perawat, membuat area luar ruangan dipenuhi orang-orang lagi.
"Kenapa kamu ada di sini?" dingin Navin.
"Tidak perlu banyak bertanya, lebih baik kita mencari siapa yang melakukan ini. A...aku aku... aku tidak menerima kegagalan kita hari ini" ucap Laura yang tidak memercayai dia harus gagal dalam pelarian ini
"Apa kalian tidak tau siapa orang yang mencelakai kalian?" tanya Leon yang juga ingin tau siapa yang berani melukai orang yang paling disayangi.
"Kami tidak tau sama sekali Dad, karena saat itu kami..."
"Laura!" potong Navin cepat yang membuat Laura dengan cepat menutup mulutnya.
"Baiklah jika kau tidak ingin memberitahuku, tapi untuk kali ini saja apa kita tidak bisa bekerja sama?" tawar Leon yang tidak ingin membuang-buang tenaga dan waktunya berlebihan.
"Kak..."
'Sial, jika aku tidak menerima ini akan menghambat apalagi saat ini laptop yang diberikan mom sudah rusak. Bahkan kami tidak bisa mendapatkan informasi dari kamera tersembunyi milik Laura jika tidak ada komputer atau laptop sama sekali' pikir Navin
"Jadi bagaimana?"
"Itu....baiklah aku akan menerima penawaran mu tapi aku memiliki syarat" ucap Navin yang menerima tawaran milik Leon.
🔫Keluarga Luxury seperti nya sebentar lagi kamu akan punah dari dunia°^° Dimana seorang singa yang garang kau bangunkan juga.
__ADS_1
Xixixixi akan tambah seru seperti nya.