
Dimana leon yang tadinya berdiri di tengah lapangan kini telah menghampiri kedua anaknya dan memegang mereka berdua dengan tangannya yang benar. Membuat Luna yang melihat hal tersebut tidak bisa memahami perasaan dan pikirin Leon saat ini.
Terutama kebaikan hati dan juga pikiran milik Leon, membuat Luna yang melihatnya terkadang bingung. Antara ketulusan atau dia hanya ingin memanipulasi sesuatu hal untuk mengambil kedua anaknya darinya.
Sehingga Luna yang sering membebaskan kedua anaknya dalam melakukan segala hal, harus berhati-hati dan menambah keamanan dalam menjaga keselamatan kedua anaknya tersebut. Agar tidak akan terjadi kecelakaan yang tidak diinginkan olehnya.
“Lun.”
“Maaf.”
“Hmm, kalau begitu apa kau-”
“Ya, aku akan ikut kakak ke sana.”
“Baiklah, kalau begitu mari kita berangkat.”
“Ya.”
Dengan jawaban yang singkat dan dingin, Luna berlari mengikuti kakak laki-lakinya dan meninggalkan kedua anak beserta orang-orang yang ada di sana. Berlari mengikuti kakaknya menun\=ju tempat sahabatnya berada, beserta pasukan lainnya.
Dan tak berapa lama kemudian, suara langkah kaki itu mulai menghilang di sana. membuat Navin dan Laura yang sedang berdiri berdampingan, saling menoleh dan menganggukan kepala mereka singkat.
Menandakan bahwa mereka saling memahami maksud pikiran mereka berdua, dan menyusui pikiran mereka masing-masing.
Dimana setelah pemahaman singkat itu, kedua anak kecil itu dengan cepat melepaskan genggaman tangan milik ayah mereka dan mencoba mengusul ibu mereka yang telah pergi mengikuti paman mereka, Rangga.
Namun sayangnya, langkah kaki yang seharusnya dengan mudah menyusul kepergian ibu mereka dengan mudah dihentikan oleh pelukan seseorang. Yang mana pelukan erat itu membuat mereka berdua kesulitan dalam melawan dan menendang lawan mereka.
Terutama saat merasakan nafas yang mereka kenali, yaitu bau pepohonan ringan dan juga mahal. Dan dengan sekali tengok, mereka melihat wajah yang mereka kenal yaitu ayah baptis sekaligus bawahan yang paling ibu mereka percaya ialah Damian.
Wajah tampan yang biasanya penuh rasa godaan terhadap wanita, ini dipenuhi dengan perasaan liar dan tak terkendali. seolah-olah mereka menggenggam seluruh kekuatan yang ada di muka bumi ini.
__ADS_1
Yang mana wajah itu juga menunjukkan tatapan yang tegas dan penuh penekanan terhadap mereka berdua.
“Apa yang kau lakukan, Damian?” Sebut Navin sambil menatap bawahan ibunya dengan dingin.
“Ya, apa yang kau lakukan ayah baptis. Kenapa kau menghentikan kami berdua, apa ayah baptis tidak melihat gerakan ibu yang tergesa-gesa itu?” Sambung Laura yang setuju dengan perkataan kakak laki-lakinya.
“Kalian juga tau bahwa ibumu saat ini sedang tergesa-gesa, jadi mengapa kalian ingin mengejarnya hmm?”
“Tentu saja kami mengejarnya untuk melihat apa ada sesuatu yang bisa kami bantu, dan juga bukankah ayah baptis mengetahui kemampuan kami.” Jelas Laura masuk akal.
Membuat Damian yang mendengarnya mengeluarkan senyum tipis miliknya dan menatap kedua anak kecil itu dengan dingin. Seolah mata berwarna keemasan itu bisa melihat segala macam hal yang mereka coba tutupi.
“Apa kalian pikir ayah baptis memercayai penjelasan kalian itu?” Balas Damian yang tak lupa menatap tajam ke arah mata kedua orang itu.
Membuat Navin dan Laura yang mendengarnya tertegun dan saling membalas tatapan mata berwarna keemasan itu.
“Dan ingat, ayah baptis telah tinggal bersama kalian berdua melebihi kakak ibumu itu. Oleh karena itu, jangan kalian berdua pikir ayah baptis tidak mengetahui maksud dan rasa keingintahuan kalian selama ini.” Jelas Damian dengan suaranya yang dingin.
Membuat Navin dan Laura yang mendengarkan hal tersebut tidak bisa menahan perasaan kesal dan juga dingin yang mereka miliki. Sehingga tangan kecil yang tadinya tidak bisa bergerak di dalam pelukan itu dengan mudah meluncur keluar dan mengeluarkan senjata tersembunyi di pakaian mereka.
Gerakan yang cepat dan juga ringan itu, seolah-olah menampilkan kepada orang-orang yang melihatnya bahwa mereka berdua sering melakukan hal tersebut. Dan telah melatihnya hingga mahir tanpa sedikitpun kesalahan.
Tetapi sayangnya lawan yang mereka hadapi bukanlah orang asing maupun orang lain, melainkan Damian yang merupakan kelinci percobaan mereka. Yang sering menerima dan menonton gerakan mereka ribuan kali.
Sehingga dengan gerakan yang cepat Damian yang tadinya memeluk kedua anak tersebut dengan lengannya besar, dengan mudahnya menghindari gerakan tersebut dan menangkap moncong senjata panas yang diarahkan oleh Navin kepadanya.
Yang dimana tangan itu dengan mudah mengarahkan moncong yang diarahkan oleh navin ke kepalanya ke samping dan membiarkan peluru yang ada di dalam sana mengarah langsung ke arah pohon cemara yang berdiri kokoh di sana.
Dan tidak lama kemudian, terdengar suara pohon umbang berasal dari arah sana. Membuat orang-orang yang melihatnya tanpa sadar menelan saliva mereka pelan. Terutama saat melihat kengerian peluru yang ditembakkan oleh senjata panas tersebut.
__ADS_1
“Cih.”
Dengan suara decihan, Damian dengan mudah menghalau tembakan yang diarahkan oleh anak lelaki yang ada di hadapannya. Namun tidak cukup sampai di situ saja, Damian yang telah menghindari tembakan tadi dengan cepat menjungkir balikkan tubuhnya.
Melompat dan juga mendudukkan tubuhnya, untuk menghindari jarum tipis yang dilemparkan oleh Laura kepadanya. sehingga telinga putih itu mendengarkan suara benda tajam melewati telinganya yang tipis dan tertusuk di rerumputan berwarna hijau.
Yang mana kini rerumputan yang tadinya memiliki warna kehijauan dengan cepat mengering dan berubah menjadi debu. Seolah-olah tanaman berwarna kehijauan itu disiram oleh cairan krosi.
“Ahhh, sayang sekali percobaan ku terbuang sia-sia. Padahal aku ingin memberikan barang itu sebagai hadiah selamat datang untuk ayah baptis.” Desah Laura sedih.
Membuat orang-orang yang melihat adegan itu berkeringat dingin. Apalagi saat melihat perubahan signifikan dari tanaman hijau menjadi tanaman mati berbentuk debu. Dan jika digantikan oleh manusia, sudah dipastikan mereka sama sekali tidak memiliki jejak tubuh.
Bahkan Leon yang berdiri di belakang kedua anaknya terkejut saat melihat proses tersebut. Dimana jantungnya saat ini berdetak sangat keras, dan Leon menyadari bahwa saat ini ia sangat bersemangat dan juga takut saat melihat penampilan kedua anaknya.
Yang mana perasaan semangat itu berasal dari pencapaian kedua anaknya yang sangat hebat dalam menangani musuh menggunakan kemampuan dan peralatan yang mereka sesuaikan. Adapun perasaan sedih dan takut yang ada di dalam hatinya, saat melihat kengerian kedua anaknya.
Karena jujur, walaupun dia baru saja mengenali kedua anaknya. Itu tetap tidak bisa mengubah hubungan darah yang mengalir dalam diri mereka, dan karena itulah Leon takut kedua anaknya akan tenggelam dalam kegelapan yang ada di dalam diri mereka.
Dan tanpa sadar menggunakan kemampuan yang mereka miliki untuk menyakiti orang yang ada di sekeliling mereka. Entah itu orang yang bersalah maupun orang yang sama sekali tidak bersalah.
Dimana Leon tidak ingin kedua anaknya mewarisi sifat gelap yang ia miliki. Yang mana di dalam darahnya terdapat darah kotor yang tidak bisa ia hilangkan. Sehingga sejak dulu tangannya sudah berlumuran darah orang-orang yang tidak ia kenali.
‘Aku harap aku masih bisa menyelamatkan kedua anak itu.’ Pikir Leon sambil meremas kedua tangannya kuat.
Namun sayangnya Leon tidak tau, bahwa salah satu dari kedua anaknya telah terkontaminasi oleh darah kotor yang ada di dalam dirinya. Sehingga anak tersebut memiliki kegelapan yang tersembunyi di bawah dasar hatinya.
Tanpa diketahui oleh siapapun. . .
🔫 Jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.
__ADS_1
🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~