
Suara tembakan terdengar di saat pelatuk dari senjata pistol mainan itu dimainkan. Bidikan yang tepat menjatuhkan setiap botol kaleng yang ada. Menarik beberapa orang yang lewat dan membuat pemainan tersebut dipenuhi oleh orang-orang yang menonton.
Tuk* Tuk*
Satu persatu kaleng jatuh dan babak pertama dari pertandingan sudah selesai. Empat belas kaleng dijatuhkan dengan sempurna yang dimana masing-masing orang menjatuhkan tujuh kaleng yang disusun berbentuk Piramida.
"Woah mereka menembak dengan baik"
"aku tebak itu keberuntungan"
"Siapa mereka?"
bisik-bisik para masyarakat yang menonton. Pertandingan kedua dimulai dan Luna memberikan uangnya kepada pemilik permainan. Pengisian peluru dilakukan lagi dan lagi. Suara kaleng yang jatuh membuat orang-orang yang ada di taman bermain penuh dengan kekaguman.
Tuk* Tuk*
Entah sudah beberapa kalinya mereka memainkan game tersebut. Tidak ada yang mengalah dari pihak Navin atau pun Laura. Hingga babak kelima belas tembakan terakhir Laura melesat dari kaleng dan membuat Navin memenangkan pertandingan.
"Ahhhh" geram Laura dan meletakkan pistol tersebut ke tempatnya kembali. Sedangkan Navin hanya memberikan senyum kemenangan nya. Pemilik tersebut hanya bisa melongo karena semua hadiah yang disunting dan dipajangnya dimenangkan oleh kedua anak tersebut. Meninggalkan satu gantungan kunci yang ada di gantung.
Tepuk tangan meriah memuji kehebatan dari kedua anak yang membidik tidak henti-hentinya. Membuat orang tertarik ke arah mereka dan di saat itu pulalah seorang laki-laki yang sedang mengamati perkembangan taman bermainnya melihat kerumunan di satu tempat.
Langkah kaki laki-laki itu memisahkan beberapa pengunjung yang berkerumunan. Aura yang dingin seakan mengintimidasi setiap orang yang tidak menjauh dari jalannya. Hingga laki-laki itu sampai ke inti dari kerumunan dengan orang-orangnya.
Dia mengenal perempuan yang ada di tengah kedua anak yang sedang berdebat. Perempuan itu sedang membicarakan beberapa hal dengan pemilik permainan dan membungkus semua hadiah yang didapatkan dari kedua anaknya bermain.
"Luna" panggilnya jelas membuat perempuan yang bernama Luna menoleh dan terkejut. Luna tidak percaya laki-laki yang beberapa hari ini selalu menggangu hidupnya malah muncul di hadapannya. Di saat dirinya sedang berlibur dengan kedua anaknya.
"Leon.." gumam Luna terkejut. Navin dan Laura yang berada di dekat ibunya mengentikan perdebatan permainan mereka lalu menatap laki-laki yang namanya disebut oleh sang ibu.
__ADS_1
Navin dan Laura saling bertatapan, mata mereka sama-sama mengartikan satu kata.
"Daddy" ucap mereka berdua di dalam hati sambil bertatapan. Semua pengunjung yang ada di sana seakan-akan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dari memfoto mereka ataupun memvideo kedua orang tersebut dengan durasi singkat.
"Kalau begitu maaf pak atas ketidak nyamanan nya" ucap Luna dan memberikan beberapa lebar uang. Dia tau pemilik permainan ini mendapatkan kerugian yang dimana kedua anaknya mendapatkan hadiah dari yang terbesar sampai yang terkecil. Yang tentunya itu cukup membuat pemilik nya rugi besar.
"Terima kasih nyonya" ucap pemilik berterimakasih. Luna berjalan sambil membawa beberapa kantung plastik yang berisi hadiah yang didapatkan kedua anaknya.
"Navin, Laura ayo kita ke tempat lain" panggil Luna dan kepada kedua anaknya. Langkah kaki mereka berjalan melewati kerumunan orang-orang. Mata mereka sebenarnya bertemu tapi sayangnya sikap Luna yang tidak peduli hanya melewati Leon yang berdiri.
Tetapi tidak semudah itu untuk melewatkan aura orang tersebut. Karena panggilan khusus yang diciptakan oleh Leon cukup membuat orang-orang yang berkumpul di sana terkejut dan membuat kebisingan.
"Apa itu sikap yang harus dilakukan jika anda bertemu dengan calon tunangan anda nona Luna Nypole?" tanya Leon. Suaranya lantang dan dingin membuat semua orang di sana terdiam dan mengabdikan momen tersebut.
"Maaf siapa ya?" ucap Luna dengan wajah yang pura-pura tidak kenal. Leon berjalan mendekat ke arah Luna dan dengan cepat menyentuh tangannya. Memberikan kecupan lembut di telapak tangan milik perempuan tersebut.
"Tu..tuan Leon" gumam mereka tidak percaya sedangkan para pengunjung membuka topik mereka.
"Apa itu benar-benar Luna Nypole?"
"Sepertinya iya dan bila dilihat lama-kelamaan memang itu benar CEO Persebaya Nypole"
"Jadi berita tunangan mereka itu memang nyata?"
"Astaga kalau nyata aku akan mendukung mereka daripada Lina itu"
"Kau benar"
__ADS_1
"Tapi bukannya dia membawa anak"
"kau benar"
bisikan-bisikan pendapat dari pemikiran orang-orang membuat Luna langsung menatap tajam Leon. Matanya menunjukkan ketidak sukaan dengan laki-laki yang ada di hadapannya.
"Sepertinya urat malu anda sudah putus tuan Leon" tajam Luna dan menarik tangannya dengan kasar.
"Saya masih normal nona Luna" ucap Leon.
"kalau anda normal maka saya pergi dulu" dingin Luna yang ingin cepat-cepat menjauh dari Leon. Tapi sayangnya langkah kakinya harus berhenti karena genggaman tangan Leon yang kuat.
Leon secara refleks menggenggam tangan kanan Luna. Dirinya merasakan sebuah dorongan agar menghentikan langkah kaki milik Luna. Dia merasa bila dia tidak menghentikan nya dia akan kehilangan orang yang berharga lagi dan lagi.
'perasaan apa ini?' pikir Leon bingung. Bahkan banyak mata yang memandang tidak percaya dengan pandangan yang mereka semua lihat. Leonex Martin laki-laki yang 8 tahun ini tepatnya setelah cinta pertamanya pergi. Di saat itulah laki-laki tersebut sangat anti dengan perempuan. Dia tidak akan segan-segan mengeluarkan kata-kata yang tajam, dingin dan pedas. Sampai-sampai membuat banyak perempuan patah hati karena sikap dingin tak tersentuh laki-laki tersebut.
Ditambah dengan berita pertunangan dengan Lina Luxury membuat perempuan-perempuan di muka bumi ingin sekali menghancurkan dan mencukur wajah Lina. Namun perempuan-perempuan tersebut tidak jadi melakukannya karena sikap Leon yang mengganggap Lina seperti bukan tunangan namun orang asing.
untuk bertahun-tahun yang dimana detik, menit maupun jam berlalu untuk pertama kalinya CEO Martin itu memiliki inisiatif dan bahkan menahan kepergian seorang perempuan yang berasal dari CEO Perusahaan Nypole.
"Tidak mungkin" ucap mereka serentak. Semua orang yang ada di sana seakan bermimpi bahwa ini adalah pemandangan yang tidak mungkin terjadi atau hanya khayalan semata.
"Apa matahari terbit dari barat?" tanya seorang pengunjung.
"Jelas saja tidak, itu sama saja dengan kiamat bodoh" jawab pengunjung lain. Beberapa orang diantara mereka menampar kedua pipi mereka dan membiarkan mimpi ini berakhir.
"Ini bukan mimpi, astaga" pekik yang lain. Semua pengunjung mulai mengeluarkan komentar mereka yang terkejut ataupun tidak percaya. Sedangkan orang yang dihentikan hanya bisa menatap dingin dan mengeluarkan auranya.
'Ada apa dengan laki-laki ini, apa dia minum alkohol kebanyakan' pikir Luna.
__ADS_1
🔫 Peraturannya seperti biasa yaa 300 like ya hehe dan jangan lupa bab-bab kedepan bakal banyak hubungan Luna dan Leon (DoubleL/2L).