
Di meja makan yang besar itu terdengar suara gesekan sendok dan juga piring. Dengan suara gesekan yang bertabrakan, tangan yang memegang alat makan itu berhenti seketika. Dimana keanehan di meja makan membuautnya merasakan ketidaknyamanan.
"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Luna sambil menatap laki-laki dewasa yang sedang duduk di meja makan yang sama dengannya saat ini.
Laki-laki dewasa yang mengetahui ucapan itu menunjuk ke arahnya, mendongakkan kepalanya sedikit. Menyeruput pasta yang ada di sisa mulutnya lalu mengambil air putih yang terletak di sampingnya.
"Paman, kau dengar perkataan ibuku bukan?!" tatap Navin tajam.
"Tunggu sebentar, biarkan aku menyelesaikan makan ku sebentaaar saja" jelas laki-laki dewasa itu.
Memegang peralatan makan yang ada di tangannya kembali lalu memasukkan mie pasta yang ia sisakan di piring. Memutar mie pasta itu menjadi gulungan dan dengan cepat memasukkan gulungan pasta tersebut ke dalam mulutnya.
Dengan suara sendawa, perut yang tadinya kosong menjadi penuh diisi oleh makanan yang enak dan tentunya bernutrisi. Terutama adanya kudapan buah sebagai cermilan malam di meja makan tersebut.
"Uwh, rasanya sungguh manis sekali"
"Paman, bisakah kita melanjutkan pembicaraan paman tadi. Bukankah paman sudah berjanji dengan kami dan sebagai seorang laki-laki dewasa paman harus menepati janji paman" tegur Laura yang melihat laki-laki yang dijadikan target sasaran olehnya di tengah hari, saat ini sedang makan bersamanya tanpa mau berhenti sedikitpun.
"Felix" panggil Luna dingin membuat laki-laki dewasa yang sedang memakan buah-buahan segar itu berhenti dan menatap wanita yang ada di sebrangnya dengan waspada.
"Hehehe, lama tidak bertemu Luna" ucap Felix malu-malu.
Namun sikap kekanakan dan malu itu sama sekali tidak mempengaruhi wanita di sebrangnya. Membuat Navin yang melihatnya menelan salivanya pelan dan mencoba menahan kegugupan miliknya.
"Kembali ke tempat asalmu secepatnya Felix" tatap Luna tajam.
"Bukankah kamu terlalu jahat Luna, padahal kita dulu sering berbicara bersama"
"Felix, ku ingatkan sekali lagi kepadamu cepat pergi dari sini dan kembali ke habitatmu" dingin Luna.
Membuat Felix yang mendengarnya menghela nafas pasrah, mendorong kursinya pelan lalu menatap mata hitam itu lagi. Dimana semua kenangan 8 tahun yang lalu mengalir dengan sendirinya. Terutama kelembutan dan juga kebaikan kekasih tuannya.
"Kau sudah banyak berubah, Luna" gumam Felix yang tidak mengetahui bahwa ucapan miliknya itu terdengar di telinga milik Navin.
__ADS_1
"Tunggu paman Felix"
Laura yang melihat kepergiaan anak buah ayahnya dengan cepat menghentikannya. Mengeluarkan sebuah surat dari saku kecilnya lalu memberikannya kepada anak buah ayahnya itu. Dengan suara bisikan kecil, ia menyampaikan beberapa kata kepadanya.
"Paman, saya harap paman bisa memberikan surat ini kepada atasan paman"
"Ini-"
"Saya senang jika paman bisa membantu saya untuk menyampaikannya. Oleh karena itu mohon bantuannya paman" potong Laura cepat.
Dengan langkah kaki yang kecil ia kembali ke tempat duduknya. Mengambil peralatan makannya kembali lalu memasukkan mie pasta itu ke dalam mulut kecilnya. Seakan-akan memperlihatkan ilusi bahwa dirinya sama sekali tidak beranjak dari kursnya.
"No-"
"Pintu keluarnya ada di sana, tuan" jelas Navin menghentikkan semua keinginan milik Felix.
Sehingga membuat Felix yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas pasrah dan kembali tanpa membawa informasi sedikitpun. Walaupun begitu, hal itu tidak membuat Felix menyerah dalam memata-matai keluarga ini.
Terutama dengan surat yang diberikat oleh Laura kepadanya, itu cukup menjadi kompensasi dari misi kali ini.
Dengan rasa lesu dan ketidaknyamanan, Felix pergi meninggalkan mansion megah itu. Dimana saat ia keluar dari gerbang, sebuah mobil militer yang memiliki lambang di pintu melewatinya secara seksama.
"Apa perasaanku saja mobil itu terlihat tidak asing?" gumam Felix yang mencoba mengingat-ingat mobil kamuflase dengan lambang itu.
"Lupakan Felix, kau harus kembali secepatnya dan meminta pengampunan dengan atasanmu itu" sambung Felix yang bergegas meninggalkan mansion tersebut.
Tanpa memikirkan keanehan dan juga keganjalan yang ada di pikirannya tadi.
Mobil yang bersimpangan dengannya kini telah berhenti tepat di pekarangan rumah itu. Pintu mobil yang memiliki lambang itu perlahan terbuka, menampakkan seorang wanita muda dengan pakaian loli miliknya. Dengan senyum manis nan centil, ia memandang ke arah orang-orang yang ada di depan pintu itu.
"Uwaah, apa kalian sedang menunggu kehadiranku? astaga, ini benar-benar membuatku terkejut. Padahal kita baru saja bertemu beberapa hari yang lalu, Luna-chan" ungkap wanita itu semangat.
__ADS_1
"Joe, jaga sikapmu" tegur yang lainnya.
Dengan pakaian kamuflase, sosok laki-laki yang tangguh dan tegas itu terlihat. Alisnya yang tebal menambah ketegasan di tampilannya, ditemani dengan senjata katana di posisi kiri sosok itu mengeluarkan aura samurai miliknya.
"Lama tidak bertemu, Letnan" ucap Luna sambil menyambut sosok laki-laki yang ia kenali beberapa dekade ini.
"Sepertinya waktu pensiunmu akan lebih lama lagi, Luna"
"Hahaha, terimakasih telah mengingatkan saya tentang hal ini Letnan"
Kedua mata hitam itu saling beradu, menimbulkan percikan permusuhan diantara kedua orang tersebut. Hingga suara centil yang kekanakakkan iitu menghentikkan pertikaian mereka. Memberikan rasa dingin di sekujur tubuh mereka berdua.
"Luna-chan, apa kamu tidak ingin memelukku? karena aku sudah mewujudkan keinginanmu" sela Joe centil.
"Aku tidak memiliki niat untuk memberi tau keinginanku kepadamu dan juga kami berdiri di sini bukan untukmu tapi untuk melihat kepergian orang lain" jelas Luna yang tidak ingin Joe terlalu bangga terhadap halusinasi tingkat tingginya itu.
"Kepergian orang lain? apa kau ingin mengusirku secepat ini?!"
"Huh, mommy tidak bermaksud begitu aunty. Yang mommy maksud itu adalah orang lain bukan kalian" jelas Laura yang merasakan bahwa saat ini IQ miliknya lebih tinggi dibandingkan dengan IQ tantenya.
"Orang lain? apa maksudmu lelaki tadi?"
"Ya uncle, apa uncle berbicara dengannya?" tatap Navin ringan.
"Tidak, aku tidak berbicara dengannya. Hanya saja kami berpapasan di gerbang mansion mu tadi" jelas laki-laki tersebut.
"Baguslah, kalau begitu mari kita masuk dan membahas pendapatmu tentang masalah itu"
"Baik, kalau begitu Joe temani kedua anak itu dan pastikan agar mereka tidak menguping ataupun menggangu pembicaraan kami. Jika tidak, aku akan memberitahu komandan tentang pakaianmu hari ini dan membiarkan laki-laki tua itu mengurus dirimu" tekan laki-laki tersebut.
Membuat Joe yang mendengarnya dengan cepat mengganguk dan pergi membawa kedua anak itu ke ruang komputer di lantai dua. Meninggalkan kedua sosok pemimpin itu di lantai satu mansion.
__ADS_1
🔫Update lagi nih, oh iya ngomong-ngomong aku punya novel baru lagi dengan genre romansa kontemporer. Buat yang pengen baca silakan klik link yang ada di bio IG ku ya {yang ada di bawah profile ig ku} Tinggal kalian klik aja^^
🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~