
“Sayang, ayo ikut sama mamah…” Niken menarik tangan Reva yang tengah asyik mengeringkan piring yang selesai ia cuci.
“Kemana mah?” Reva segera menaruh piring yang berada di tangannya dan menyerahkannya pada Bi Lastri.
Niken tidak menjawab, Ia malah tersenyum dan terus membawa Reva menuju sebuah ruangan. Niken memutar handle pintu ruangan tersebut dan begitu pintu terbuka, Reva bisa melihat sebuah piano yang terpajang dengan beberapa bingkai photo kecil di atasnya.
“Duduk sini.” Niken mendudukan Reva di depan piano dan diikuti olehnya yang duduk di samping Reva.
Reva bisa dengan jelas foto-foto dirinya saat kecil bersama Niken, Raka dan Wira.
“Kamu inget gag sayang, ini foto kamu waktu mau masuk Tk. Kamu begitu semangat karena memakai baju seragam. Kalau ini waktu kamu ulang tahun yang ke empat dan ini, waktu kita berlibur ke bali.” Kenang Niken.
Reva mengambil salah satu foto dan memandanginya. Tidak ada ingatan apapun yang terlintas di kepalanya.
“Maaf mah, rere…”
“Jangan di paksakan sayang… mamah cuma ingin kamu tau, walau tidak ada yang kamu ingat sedikitpun kenangan kamu di masa kecil, kami akan tetap mengenang setiap kebahagiaan bersama kamu. Karena kamu berarti buat kami sayang…” tutur Niken seraya mengusap bahu Reva.
Reva tertunduk lesu. Dalam hatinya ia penasaran seindah apa masa kecilnya namun ia kadang merasa takut jika yang ia alami tidak seindah bayangannya. Reva menaruh foto tersebut. Ia mulai membuka penutup tuts piano.
Reva mulai menempatkan jemarinya di atas barisan tuts. Satu tuts mulai ditekan menghasilkan bunyi yang merdu. Reva memejamkan matanya, membiarkan jemarinya menari dengan sendirinya. Niken terpaku, lagi-lagi Reva memainkan lagu yang ia ajarkan.
Niken menyambung nada yang Reva mainkan bersamaan. Terdengar lebih harmonis. Sejenak pikiran Reva serasa terbuka. Berbagai bayangan muncul di benaknya. Reva semakin memejamkan matanya, ia membiarkan setiap kenangan itu muncul. Alunan musik yang terdengar indah mengisi rongga telinganya seolah memantik memorynya untuk mengingat setiap kenangannya bersama Niken.
Tanpa terasa butiran air mata meleleh di pipi Reva. Sakit kepala itu kembali muncul namun Reva tetap membiarkannya. Ia berusaha sekuat tenaga menahan rasa sakit itu. Puzzle kenangannya terlihat semakin nyata. Hanya bayangan Niken, Raka dan Wira dengan seorang gadis kecil yang muncul di benaknya.
“Treng….”
Reva mengakhiri permainan pianonya. Ia tak sanggup melanjutkan. Ia memeluk Niken yang berada di sampingnya dan menangis tanpa isakan. Ia hanya perlu waktu dan perlu ruang untuk mencerna semuanya.
Niken mengusap punggung Reva dengan lembut. Sepertinya beberapa ingatan Reva telah kembali. Tidak sia-sia usahanya untuk menemui seorang psikiater dan menceritakan kondisi putrinya beberapa hari ke belakang. Dan yang membahagiakan bagi Niken, ia adalah orang pertama yang di peluk Reva saat potongan ingatan itu kembali. Ia tidak ingin serakah, ia membiarkan Reva menghadapi semuanya perlahan. Ia tidak mau jika ada trauma yang muncul membuat Reva ketakutan.
*****
Sesuai janjinya sore ini Raka mengajak Reva untuk pergi ke sebuah toko perhiasan. Ia telah membuat janji dengan sang empunya toko.
Di hadapan Reva, berjejer berbagai macam model cincin pertunangan atau pun pernikahan. Raka meminta agar sang pelayan memberikan model terbaik untuk Reva coba. Reva tampak tidak terlalu antusias, bahkan sering melamun.
Sejujurnya, pikiran Reva masih tertaut pada ingatan yang tadi berputar di kepalanya. Banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan tapi entah harus pada siapa.
“Sayang, ada yang kamu suka?” bisik Raka yang membuyarkan semua lamunannya.
__ADS_1
“Hah, gimana mas?” Reva balik bertanya karena rasanya pertanyaan Raka tidak terlalu jelas di dengar olehnya.
Raka hanya tersenyum. Ia menyentuh wajah Reva kemudian mengusapnya dengan lembut.
“Apa kita ke sini lain waktu aja?” tawar Raka dengan tatapan hangatnya.
“Em gag usah mas, sekarang aja sekalian.” Reva kembali memfokuskan pikirannya. Ia mengalihkan pandangannya pada jejeran cincin yang berada di etalase. “Liat yang ini mba..” tunjuk Reva pada salah satu cincin.
Raka hanya tersenyum, melihat setiap gerak-gerik Reva yang menarik perhatiannya.
Sang pelayan pun mengambilkannya lalu Reva mencobanya.
“Bagus gag mas?” Reva menunjukkan jari manis yang tersemat cincin pada Raka.
“Bagus.. Kamu suka yang itu?”
“Em bentar, aku nyari lagi…” kilah Reva yang masih ragu.
Tak berselang lama, pemilik toko datang. Ia mengenali Raka dan menjabat tangannya.
“Gimana desain yang saya kirim kira-kira bisa di buat berapa lama?” tanya Raka yang membuat Reva celingukan.
“3 hari, saya hanya perlu ukuran yang pas saja agar bisa segera kami buat.” Ujar laki-laki berpenampilan rapi tersebut.
“Mas kamu mesen desain sendiri? Kok aku gag tau?” bisik Reva dengan penuh penekanan.
“Kalo kamu tau, gag kejutan dong…” sahut Raka santai dengan senyum tipis di bibirnya.
“Terus ngapain kamu nyuruh aku milih?” Reva menyenggol lengan Raka dengan sengaja, Raka hanya terkekeh mendengar pertanyaan Reva. Ia memang berniat mengerjai kekasihnya yang sedari tadi banyak melamun.
“Ya sudah, kabari saya kalau sudah selesai. Ini ukurannya.” Raka menyerahkan ukuran cincin untuknya dan Reva.
“Baik pak raka, akan kami kabari setelah selesai.” Timpal pemilik toko tersebut.
Mereka pun segera pergi dari toko perhiasan.
Lagi-lagi Reva tercengang, bagaimana bisa Raka tau ukuran jarinya. Bak gayung bersambut, Raka mengerti benar kernyitan dahi Reva.
“Aku sering megang tangan kamu seperti ini,” Raka mengangkat tangannya yang saling menjalin dengan jemari Reva. “Jadi aku tau ukuran jari kamu.” Terang Raka seraya mengecup tangan Reva dengan lembut.
Reva hanya menggelengkan kepala. Laki-lakinya memang sangat ajaib. Hal seperti itupun ia tau. Selanjutnya mereka berjalan bergandengan tangan, menunjukkan pada banyaknya pasangan mata yang menatap mereka, bahwa mereka saling memiliki satu sama lain.
__ADS_1
Hal yang paling tidak Raka sukai kali ini benar-benar terjadi. Saat beberapa pasang mata laki-laki menatap Reva dan tersenyum. Ia benar-benar risih dengan semua tatapan yang tertuju pada kekasihnya.
Raka mendudukan Reva di salah satu bangku kemudian melepaskan jaket parka miliknya dan memakaikannya pada Reva. Tak lupa iapun menutup kepala Reva dengan hoodienya. Ia tidak rela jika kekasihnya menjadi bahan lirikan banyak mata laki-laki.
“Jangan di buka sampe kita masuk mobil.” Ujar Raka seraya menangkup kedua belah pipi Reva dengan kedua telapak tangannya. Reva mengangguk patuh. “Jangan senyum juga kalo ada yang senyumin kamu.” Lagi, Reva kembali mengangguk. “Jangan bertatapan sama laki-laki manapun selain aku.”
“Massss… iya aku paham… tapi ayo kita jalan, aku lapeerr…” Rengek Reva sang pemuja nasi.
“Hem… Tapi ingat pesan aku ya…” Raka menutupi sebagian wajah Reva dengan hoodienya agar tidak terlihat jelas oleh siapapun. Cukup ia yang bisa memandanginya.
“Baik calon suami…” sahut Reva yang segera menarik tangan Raka menuju sebuah resto. Raha terkekeh gemas dan mengikuti langkah Reva.
****
Tiba di sebuah restoran cepat saji, Raka pergi memesan makanan sementara Reva menunggu di tempatnya. Dalam beberapa menit saja Raka sudah kembali dengan sebaki makanan di tangannya. Ia menaruh makanan di depan Reva beserta minuman favorit Reva.
Setelah membersihkan tangan mereka mulai menikmati makanannya. Saling bercerita hal ringan yang semakin mendekatkan keduanya. Sesekali mereka tertawa saat membahas hal receh.
Menikmati es krim sesuatu yang tidak bisa Reva lewatkan begitu saja. Ia mengambil beberapa kentang goreng milik Raka lalu menancapkannya di atas es krim.
“Loh kok makannya gitu?” Raka tampak heran melihat tingkah Reva yang baru ia tahu.
“Emm… kamu mau?” Reva menyodorkan es krimnya pada Raka tapi Raka malah bergidik geli. Dalam pikirannya ia membayangkan betapa anehnya rasa gurih kentang goreng bercampur dengan es krim yang mulai lumer.
Tapi tidak demikian dengan Reva. Ia tampak asyik menikmati kentang goreng yang tertancap di atas es krimnya. Raka tersenyum kecil melihat Reva yang begitu menggemaskan dengan lelehan es krim di pipinya. Ia mulai penasaran, bagaimana bisa kekasihnya begitu menikmati es krim yang ia makan.
Dalam beberapa saat Raka mendekat dan langsung menyantap salah satu kentang goreng yang tertancap, membuat hidung keduanya bertemu. Mata Reva membelalak sementara Raka menatapnya dengan lekat. Raka menikmati sensasi makan baru yang ternyata sangat unik dan menyenangkan.
“Manis…” bisiknya membuat Reva terdiam seketika.
Terlihat jelas rona merah di wajah Reva. Ia kembali bersembunyi menutupi wajahnya dengan hoodie yang ia pakai, ia tertunduk berharap tidak ada yang memperhatikan kelakuan Raka tadi.
Tanpa ia duga, seorang anak laki-laki memperhatikan sepasang kekasih tersebut sejak tadi. Ia menatap dengan penuh keheranan.
“Mah, aku mau es krim kayak gitu…” ujar anak tersebut seraya menarik-narik baju ibunya.
Pandangan sang ibu pun mengikuti pandangan anaknya. Reva berusaha tersenyum dan menyembunyikan rasa malunya sambil terangguk.
“Iya ayo kita beli,” sahut sang ibu yang seolah mengerti benar arti ekspresi Reva. Ia membawa anaknya untuk segera membeli es krim.
Reva benar-benar menyembunyikan wajahnya, sementara Raka hanya terkekeh sambil sesekali kembali menggoda Reva yang tampak malu.
__ADS_1
****