
Reva telah selesai mengemasi barang-barangnya. Ia pun membantu Raka untuk memilah baju yang kotor dan baju bersih. Raka tersenyum simpul, melihat gadisnya yang begitu telaten membereskan semuanya.
“Kita jadi pulang naik kereta?”
Raka menghampiri Reva dan duduk di sampingnya.
“Iya, aku belum pernah naik kereta. Cuma pengen tau aja sebenarnya, bener gag suara kereta itu jugijagijuk” timpal Reva sambil terkekeh.
Raka tidak bisa menahan tawanya. Gadis di hadapannya benar-benar konyol. Naik kereta hanya untuk tahu suaranya.
“Hahhahaha… Kamu tau dari mana suara kereta jugijagijuk”
“Dari Umi Elvy sukaesih.” Sahut Reva dengan suara sengau khas penyanyi dangdut tersebut.
Raka kembali tertawa hingga terpingkal-pingkal. Ternyata pacarnya paket lengkap. Jarang ada orang receh cantik begini, pikirnya.
“Kamu tau banget kayaknya aliran musik rakyat itu.” Lagi-lagi Raka menggodanya.
“Iya, kalo di kampung kan kalo ada acara pasti hiburannya dangdut. Anak-anak di panti juga udah jadi generasi ho-ak ho-ek.” Sahut Reva mengenang wajah-wajah polos adiknya.
“Hahahha okeeyy, ayo kita berangkat. Jugijagijuk-nya udah nunggu tuh!” sahut Raka sambil meresletingkan tasnya.
Reva hanya tersenyum. Ia menatap punggung bidang Raka yang berjalan di depannya. Di kedua tangannya ia membawa tas miliknya dan milik Reva. Ia menyentuh dadanya sendiri yang terasa hangat. Raka telah memberi warna baru dalam hidupnya. Dan itu membuat Reva bahagia.
Reva segera bangkit dan menyusul Raka yang sudah beberapa langkah meninggalkannya.
****
Pemberitahuan untuk naik kereta beberapa kali menggema di seantero stasiun. Reva dan Raka segera masuk ke kereta mencari tempat duduknya. Raka menata barang bawaannya di bagasi atas lalu duduk berdampingan dengan Reva.
Reva tampak asyik memandangi orang-orang yang hilir mudik di luar jendela. Beberapa pedagang asongan menawarkan barang dagangannya dan Reva hanya mengangkat tangannya seraya tersenyum sebagai tanda penolakan. Jemarinya saling bertautan satu sama lain.
Raka melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, jam keberangkatan kereta hanya beberapa saat lagi.
Suara klakson panjang tanda kereta akan berangkat berbunyi nyaring. Saat kereta mulai bergerak, Raka dan Reva saling menoleh dan tersenyum.
“Sekarang udah gag penasaran lagi kan?” bisik Raka dengan senyum ledekannya.
Reva hanya menyikut lengan Raka yang membuatnya mengaduh manja.
“Makanya jangan suka ngeledek!” seru Reva tidak peduli dengan rengekan Raka.
“Re, ini beneran sakit. Tulang rusuk aku kayaknya patah.” Raka masih dengan ekspresi kesakitannya.
“Beneran?” Reva dengan segera memeriksa dada Raka. Sekilas ia melihat Raka yang tersenyum simpul. “Mana yang sakit, coba aku periksa…” lanjut Reva sambil mengusap-usap pinggang Raka.
Raka belingsatan sendiri karena merasa geli. Reva semakin gencar mengerjainnya, menggelitik Raka yang tertawa nyaris kehabisan suara.
“Okey, okey aku bohong.” Raka segera meraih tangan Reva dan menggengamnya dengan erat.
Tanpa mereka sadari jarak keduanya sangat dekat, membuat orang yang duduk di sebrangnya salah tingkah melihat kelakuan mereka. Reva yang menyadari keheningan di antara keduanya segera membenarkan posisi duduknya.
Ia mengambil sebuah buku dari dalam tasnya. Lalu mulai mencatat sesuatu di sana.
“Kamu kidal re?”
Raka baru tersadar saat Reva menulis di buku catatannya. Reva hanya mengangguk.
“Kak, aku di ledekin sama temen-temen. Katanya aku kidal, gag kayak mereka…” Ingatan Raka beberapa waktu silam memutar kembali rengekan Lana saat Ia pulang sambil menangis karena di ledek teman-temannya.
Raka kembali terpaku. Ia kembali mengingat tanggal lahir Reva, panti, kidal dan tatapan matanya yang tidak asing. Raka menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan kesimpulan yang mungkin tidak sesuai kenyataan. Walau pun ada beberapa persamaan dengan Lana, tapi sifat dan sikap Reva jauh berbeda dengan Lana.
Lana yang manja dan judes sangat berbanding terbalik dengan Reva yang ramah dan mandiri.
“Kenapa, baru pertama kali liat orang kidal?” Suara Reva membuyarkan lamunan Raka.
“Hah, gimana?” Raka gelagapan sendiri.
Reva hanya menoleh lalu tersenyum.
“Berapa lama perjalanan kita?”
Reva mengganti pertanyaannya. Ia yakin Raka tidak mendengar pertanyannya.
“Sekitar 3 jam. Cukup waktu kalo kamu mau tidur.” Sahut Raka sambil terus memperhatikan Reva yang sedang menulis. “Kamu nulis apa sih?” Raka sedikit mengintip tulisna Reva.
“Supaya gag lupa, ada beberapa hal yang aku catet.” Sahutnya sambil menutup buku catatannya.
__ADS_1
Ia memasukkan kembali buku dan penanya. Ia tau benar, Raka merasa penasaran dengan apa yang ditulisnya.
“Aku pernah tidak mengingat sesuatu tanpa alasan yang aku gag tau. Katanya, kalo ingatan itu kembali, sebagian memory yang pernah kita jalani, akan hilang. Makanya aku catet hal penting di buku ini, supaya kalo suatu hari aku gag inget apa-apa, aku bisa buka buku ini.” Terang Reva sambil menepuk tas yang ada di pangkuannya.
Raka hanya terdiam. Ia berfikir mungkin pengalaman menyakitkan bersama mantan pacarnya hilang sebagian dari ingatannya dan jika kembali, mungkin ia yang akan Reva lupakan.
“Kamu udah janji gag akan lupain aku re…”lirih Raka dengan wajah cemasnya.
Reva hanya tersenyum.
“Tidurlah, perjalanan kita masih panjang.” Sahut Reva tanpa menyahuti kata-kata Raka.
Reva mulai memejamkan matanya, sementara Raka masih memandangi Reva dengan penasaran. Tangannya ia ketuk-ketukan di atas pahanya. Ingin sekali ia meraih tangan Reva dan menggenggamnya dengan erat, agar jika suatu saat Reva melupakan sesuatu, itu bukan dirinya.
Dengan segenap keberanian ia menyelipkan jemarinya di sela jemari Reva lalu menggenggamnnya dengan erat. Ia merasakan kehangatan yang mengaliri aliran darahnya,dan Reva hanya tersenyum. Tidak ada alasan baginya untuk menolak karena genggaman Raka membuatnya nyaman. Rakapun ikut memejamkan mata di samping Reva.
****
Beberapa hari setelah workshop, bagian marketing di sibukkan dengan banyaknya permohonan kerjasama dalam berbagai proyek. Reva dengan kedua sahabatnya di tugaskan untuk memilah perusahaan yang mengajukan kerjasama untuk mereka laporkan pada big bos yang mereka tau sebagai Pak Rudy.
“Re, yang ajuan dari Wijaya group, langsung kamu kasih Raka ya. Biar berkasnya dia bawa ke mas Fery.” Ujar Tika yang juga di sibukkan dengan membaca ajuan-ajuan kontrak tersebut.
“Siap mba, ini udah ada 6 kontrak. Aku kasihin dulu.”
“Antar langsung ke ruangan pak Rudy.” Imbuh Tika.
Reva hanya mengacungkan jempolnya. Ia menggunakan lift untuk menuju ruangan Direktur. Dessy menyambutnya di depan pintu.
“Mba Desy, aku mau ngasihin ini di suruh mba Tika.” Reva menyodorkan berkas di pelukannya pada Desy.
“Oh kasih langsung aja ke Raka, tuh di ruangan yang itu.” Desy menunjukkan sebuah ruangan sebelah ruang direktur. Reva segera menuju ruangan yang dimaksud Desy.
“Tok tok tok!”
Reva mengetuk pintu dengan perlahan. Seorang wanita yang tidak terlalu ia kenal membukakan pintu dan mengangguk pada Reva.
“Masuk aja.” Bisik wanita yang memberinya senyuman tipis.
Dalam kebingungan Reva hanya mengangguk. Reva membuka pintu lebar-lebar, ruangan yang ada di hadapannya sangat luas. Ada satu set sofa yang menyambutnya dekat pintu masuk dan sosok Raka tampak sedang duduk di kursi dengan meja berukuran tiga kali lipat meja kerjanya.
Reva masih memperhatikan ruangan itu dengan seksama. Ruangan yang sangat rapi dan bersih dengan rak buku yang terisi penuh buku-buku tentang bisnis dan ekonomi dengan berbagai bahasa.
“Kamu nyari apa?” bisik Raka yang suadh berada di belakang Reva.
“Astaga Raka, kamu ngagetin aja.”
Reva bergidik ngeri saat hembusan nafas Raka menerpa lehernya. Raka hanya tersenyum, betapa ia sangat menyukai aroma rambut dan tubuh Reva.
“Pantesan kamu betah di suruh kerja di sini, ruangannya luas, bersih, sepi bikin betah kerja.”
Reva masih melihat-lihat sekelilingnya. Raka mengikuti kemana saja langkah kaki Reva.
“Sini ikut aku.”
Raka menarik tangan Reva dan mendudukannya di kursi tempatnya bekerja. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Reva dengan kedua tangan mengunci di atas pegangan kursi.
“Gimana rasanya duduk di sini?” tanya Raka dengan seringai jenakanya.
“Empuk!”
Reva menguncang-guncangkan tubuhnya menikmati kursi nyaman yang ia duduki.
“Kalo kamu mau, aku bisa kasih kursi ini buat kamu.”
“Iya, terus besok kita gag boleh magang lagi di sini.”
Reva mencubit hidung mancung Raka dengan gemas.
“Astaga, pacar aku kasar banget…”
Raka mengusap hidungnya yang memerah. Reva hanya mendelik sambil menjulurkan lidahnya meledek Raka.
Reva menata beberapa berkas di hadapannya dan mengambil pena yang sejak tadi bertengger di tempatnya. Ia mengetuk-ngetuk berkas dengan pena tersebut dan raut wajahnya berubah kesal dan dingin. Ia berdehem dan menegakkan tubuhnya.
“Raka! Kerjaan kamu payah! Rugi perusahaan ini menggaji kamu!” seru Reva dengan suara yang di buat lebih bass.
Raka hanya terkekeh. Rupanya sang gadis sedang berhalusinasi menjadi direktur.
__ADS_1
“Reva, kerjaan kamu bagus! Kamu akan segera dapat naik jabatan.” Lanjut Reva yang diikuti perubahan air mukanya.
Raka kembali tertawa. Kali ini lebih keras.
“Hahhaha… Dari mana kamu belajar main peran gini re?”
“Raka! Jangan tertawa! Kerja yang betul!” sahut Reva seraya menatap Raka dengan tajam.
“Oh siap bu direktur!” Raka melakukan hormat singkat.
Reva hanya mengangguk-angguk kemudian terkekeh karena geli sendiri.
“Pak rudy sama fery kemana?”
Raka menunjuk jam yang menempel di dinding ruangannya. “Makan siang. Kita makan siang juga yuk!”
“Wah udah jam istirahat lagi aja, pantesan nih cacing di perut udah tanjidoran.” Reva mengusap perutnya sendiri yang berbunyi nyaring.
“Makanya, ayo kita makan.”
Raka menarik tangan Reva dan mengajaknya ke luar ruangan.
“Eh bentar..”
Reva menghentikan langkah Raka.
“Kenapa?”
“Jangan pegangan tangan, nanti di kira yang nggak-nggak sama orang-orang.”
Reva melepaskan genggaman tangan Raka.
“Loh, kita kan emang pacar, iya kan?” Raka mendekatkan wajahnya pada Reva.
“Iya, tapi….”
“Kamu gengsi, pegangan tangan sama anak magang?”
“Bukan gitu, gag enak pamer pacar di kantor.”
“Tapi aku gag suka kalo mata para laki-laki itu ngeliatin kamu segitunya. Kalau mereka tau kamu pacar aku, ya gag mungkin dong mereka ganggu kamu.”
“Raka, gag ada yang ganggu aku. Mereka ngeliatin aku? Gag mungkin. Ato mungkin di jidat aku ada tulisan eks **** girl gitu?” Reva menunjuk dahinya sendiri di depan Raka.
“Re, berhenti re. gag ada tulisan kayak gitu di jidat kamu.”
Raka meraih tangan Reva dan menggenggamnya dengan erat. Ia tidak mau melihat Reva melakukan hal yang tadi dilihatnya.
“Raka, masa lalu aku itu buruk. Diliat sebelah mata atau jadi bahan cemoohan orang-orang itu hal biasa buat aku dan aku gag akan maksa kamu untuk menerima semuanya. Tapi, kalopun orang lain bisa menghormati aku, aku ingin mereka menghormatiku sebagai Reva yang seperti ini. Bukan karena pacar siapa atau bekerja di mana. Dan lagi, ini lingkungan kerja. Aku gag mau nama kamu juga jadi ikutan jelek. Hampir semua atasan suka sama pekerjaan kamu, jadi jangan rusak itu karena pengen nunjukin sesuatu yang gag relevan sama dunia kerja kamu.” Terang Reva sambil merapikan kerah kemeja Raka dengan lembut.
Raka menarik tubuh Reva ke dalam pelukannya. Ia mendekapnya dengan erat.
“Ke depannya, gag akan ada lagi orang yang bisa mandang kamu sebelah mata. Mereka akan memandang kamu dengan takjub, sebagai Reva. Wanita yang aku cintai” lirih Raka.
Reva hanya tersenyum tipis. Ia bisa merasakan besarnya kasih sayang Raka. Dengan Raka memilihnya sebagai pacar dan tahu latar belakang Reva, itu sudah sesuatu hal yang spesial bagi Reva. Dan mendengar ucapan Raka, membuat Reva merasa sangat dicintai.
“Okey, sekarang kita makan, sebelum aku pingsan.” Reva melepaskan pelukan Raka sambil terkekeh. “Aku jalan duluan, nanti kamu nyusul okey!” lanjut Reva sambil menunjukkan tangannya membentuk huruf O.
Raka hanya terangguk lalu tersenyum. Gadisnya memang menggemaskan.
Reva berjalan dengan cepat, sementara Raka di belakangnya mengikutinya dengan langkah lambat. Sesekali ia tersenyum saat Reva berlari kecil menuju lift. Desy yang melihat Raka keluar dari ruangannya, segera menghampiri.
“Undur rapat berikutnya 2 jam kemudian. Saya ada janji.” Ujar Raka dengan wajah tanpa ekspresinya. Sangat berbeda dari yang dilihat Desy tadi.
“Baik pak.”Desy menyahuti.
Raka pun berlalu dari hadapan Desy dan staf sekretaris lainnya.
Rekan Desy yang sejak tadi duduk di tempatnya, segera mendekat. Ia ikut melihat punggung Raka yang berlalu pergi.
“Itu pacarnya pak raka mba?”
“Iya…. Dia ngiranya pak raka anak magang kayak dia.” Desy tersenyum kecil mengingat tingkah Reva saat memanggil nama Raka tanpa imbuhan apapun.
“Beruntung yaa dia.. Apa jadinya kali dia tau pak Raka itu direktur di sini?”
Desy memalingkan wajahnya menatap gadis di sebelahnya. “Kalo dia sampe tau, saya cari kamu.” Ancam Desy.
“Hah? Nggak kok mba, mana berani saya…” gadis itupun beringsut ketakutan.
__ADS_1
****