Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 165


__ADS_3

Keputusan telah dibuat, meski antara benar atau tidak belum bisa diputuskan oleh Reva, kali ini ia melangkah dengan yakin. Di depan sebuah pintu besar berwarna abu pekat dengan handle berwarna silver kini Reva berdiri. Adalah Arya yang membukakan pintu untuk Reva dan mengangguk mempersilakannya masuk.


“Reva…” ujar Theo yang sontak berdiri saat melihat sosok Reva yang berada di hadapannya. Senyumnya mengembang dengan sempurna dan raut wajah penuh kebahagiaan terlihat jelas di matanya.


Theo segera berjalan menghampiri Reva, begitupun dengan Reva. Mereka berdiri berhadapan tentunya dengan raut wajah yang berkebalikan. Theo mengangkat tangannya pada Billy sebagai isyarat agar ia meninggalkan ruangan. Billy mengangguk sopan dan selintas ia melirik Reva yang tentu saja ia kenali.


“What brought you here, reva?” tanya Theo dengan sumeringah.


Reva melepas kacamata hitamnya dan menatap Theo dengan yakin. “Anda menawarkan sebuah perjanjian bukan?” tanya Reva tanpa ragu.


Kembali, sebuah senyuman terlihat jelas di wajah Theo. “Yaps! Silakan duduk.” Theo mempersilakan Reva untuk duduk. Ia melirik Arya dan seolah memberinya isyarat untuk pergi. Tinggallah Reva dan Theo dalam satu ruangan yang sama dengan udara yang sama namun dalam suasana hati yang berbeda.


“Apa yang kamu minta sweetheart?” tanya Theo dengan tatapan tertuju pada Reva.


Reva dengan berani menatap Theo. Untuk pertama kalinya ia merasa panggilan “Sweetheart” terdengar begitu menjijikan. Jangan salahkan kata-katanya, salahkan laki-laki yang mengucapkan kata tersebut dengan segala keposesifannya.


“Tidak ada kontak fisik, tidak menyakiti keluargaku bahkan bayiku dan cukup diam, tanpa penjelasan apapun pada keluargaku.” Tutur Reva dengan yakin.


Theo terangguk dengan senyum kemenangan di wajahnya. “Deals!” serunya seraya mengulurkan tangan. Tapi Reva hanya memalingkan wajahnya. “Hahahahha…. Maaf saya lupa, kalau berjabat tangan adalah bagian dari kontak fisik.” Ujarnya dengan tawa membahana mengisi ruangan.


Reva hanya terdiam tanpa menimpali. “Reva, syaratmu saya terima. Saya akan membuat keadaan semakin membaik. Dan tentang kontak fisik, saya akan memenuhinya. Tapi saya tidak akan menolak jika kamu ingin menyentuh saya kapan pun.” Tutur Theo dengan penuh penekanan.


Menjijikan, hanya itu yang ada dipikiran Reva. Bukan tertuju pada Theo, tapi pada dirinya sendiri. Lagi, ia harus terjatuh pada kondisi yang sama. Kondisi dimana memang ia sudah tidak berdaya lagi karena suatu keadaan lebih tepatnya karena hatinya terlalu banyak terluka. Salah? Ya! Tapi ia hanya ingin memberikan satu kebaikan dari kesalahan yang ia buat. Entah itu benar atau tidak.


*****


“Bu, lihat!” seru Ira seraya menyodorkan tab dalam genggamannya pada Alea. “Semua berita tentang perusahaan kita udah gag ada. Kolom komentar yang kemaren saya reply juga pada di hapus.” Lanjut Ira dengan penuh keterkejutan.


Benar, selama beberapa hari ini Ira memang terus memantau berita tentang perusahaan tempatnya bekerja. Bahkan ia meluangkan waktu untuk membalas komentar dari jemari yang membuat mentalnya jatuh. Kekanakan memang, tapi ia hanya ingin meluapkan kemarahannya pada komentar yang tidak benar.


Semua berita tentang Wijaya corp dan Adiyaksa corp memang raib entah kemana. Alea hanya bisa mengernyitkan dahinya dan masih berusaha mencerna apa yang terjadi.


“Lea!” seru Edho yang datang dengan tergopoh-gopoh dan raut wajah tidak biasa yang ia perlihatkan pada Alea.


“Kenapa?”


“SM corp membatalkan tuntutannya untuk menarik semua investasi. Ini investor terbesar ke 4 untuk perusahaan kita.” Terang Edho dengan raut kebahagiaan yang tidak bisa ia sembunyikan.


“Astaga, beneran?!” Alea melonjak kegirangan. Lagi-lagi sebuah kabar baik membuat jantungnya nyaris copot.


“Iyaaa… Semoga investor lain  juga mau mendengarkan kita dan gag jadi mencabut kerjasamanya.” Ujar Edho dengan penuh harap.


Alea terangguk mengiyakan ujaran Edho. Ia merasa semuanya perlahan mulai membaik.


Dengan semangat Alea melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sepanjang jalan bibirnya tak henti tersenyum. Keadaan mulai berbalik dan ia tak sabar untuk memberitahukannya kepada Nida dan Reva.

__ADS_1


“Mih! Reva!” seru Alea seraya berlari menghampiri kedua orang yang tengah menikmati makan siangnya.


Ia memeluk Reva dan Nida bergantian.


“Sayang, ada apa ini?” Nida masih tampak kebingungan.


“Mih, re.. Ada berita baik.” Ujar Alea dengan mata berbinar dan senyum merekah, membuat dua orang di hadapannya menatap penasaran. “Salah satu investor kita, membatalkan pencabutan investasinya dan berita tentang perusahaan kita hilang begitu saja.” Alea menggenapkan kalimatnya.


Reva dan Nida ternganga tidak percaya.


“Beneran sayang?” tanya Nida ingin meyakinkan. Alea mengangguk dengan semangat.


Reva segera membuka handphonenya dan mencari nama Wijaya corp dan Adiyaksa corp. Benar, berita kebangkrutan keduanya sudah hilang dari media online manapun.


Bahu Reva melorot. Secepat itu Theo membalik keadaan dan sebesar itu kekuasaan yang dimiliki laki-laki tersebut. Hati Reva semakin ketir. Entah apa yang ia rasakan. Dalam pikirannya terus berdengung kalimat “Jika tidak ada yang bisa menghargai dirimu, maka tinggalkan. Fokuslah pada membahagiakan diri sendiri sebelum membahagiakan orang lain.” Tapi nyatanya, melihat Alea dan Nida yang saling berangkulan membuat sudut hatinya menghangat. Ini kah bahagia yang Reva cari?


****


Tumpukan berkas semakin menggunung di meja kerja Raka. Ia dengan serius membuka satu persatu berkas di hadapannya.


“Pak Raka, ini berkas yang bapak minta.” Lagi, Anwar membawa berkas yang tidak kalah tebalnya.


“Itu proyek yang dimana?”


“Surabaya pak.” Sahut Anwar seraya menunjukkan halaman penting dari berkas tersebut pada Raka.


“Kalian makan sianglah dulu. Kita meeting jam 3 sore.” Ujar Raka seraya menutup berkas di hadapannya. Anwar hanya mengangguk seraya undur diri.


Raka mengambil jas yang tersampir di kursinya. Ia harus pergi ke suatu tempat. Namun saat hendak beranjak, sosok wanita itu sudah ada di hadapan Raka dengan senyum merekah yang ia tujukan pada Raka. Raka menghembuskan nafasnya kasar. Demi apapun ia merasa jengah dengan yang dilihatnya tapi tentu saja ia tetap harus menghadapinya.


Rumah sakit adalah tempat yang Raka tuju. Sudah beberapa hari ia tidak mengunjungi Indra dan ia yakin Reva pun ada di sana.


Tampak Alea berdiri saat melihat kedatangan Raka. Matanya membulat dengan kilatan amarah di matanya terlebih saat melihat sosok yang berdiri di samping Raka.


“Hay lea, apa kabar?” sapa Laras dengan senyum palsunya.


Alea tidak menjawab, ia segera menarik tangan Raka menjauh dari wanita yang kini sedang memainkan rambut ikalnya.


“Lo ngapain bawa perempuan itu ke sini hah? Lo mau bikin reva marah?” tanya Alea yang tidak mengetahui masalah apa saat ini terjadi.


“Gue gag bawa dia, dia yang ngikutin gue. Padahal tadi habis makan siang gue gag bilang kalo mau ke sini.” Terang Raka yang kalut sendiri.


“Astaga, kalian makan siang bareng? Lo gila yak! Gimana kalo reva sampe tau?” Alea benar-benar melotot, tidak habis pikir dengan yang Raka lakukan.


“Dia rekan bisnis gue. Gue kerja secara profesional.” Kilah Raka yang sebenarnya juga tak yakin.

__ADS_1


“Lo jangan bodoh raka! Lo lupa apa yang tuh perempuan lakuin sama lo?” Alea meninju lengan Raka dengan gemas.


“Gue tau, tapi…”


Kalimat Raka terhenti saat mendengar suara pintu ruangan perawatan yang berderet. Adalah Reva yang keluar dari sana dengan sebaskom air yang ia gunakan untuk melap wajah, tangan dan kaki Indra. Reva menatap Raka, Alea dan tentu saja Laras bergantian. Tak lama ia segera memalingkan wajahnya tanpa sepatah katapun. Yang terlihat hanya kekecewaan dari sorot matanya. Ia bergegas pergi entah kemana.


“Re, tunggu…” seru Raka yang segera menghampiri Reva.


Reva mengabaikannya dan terus berjalan. Raka berjalan di samping Reva berusaha mengimbangi langkah Reva.


“Re, ada yang perlu kita bicarakan.” Ujar Raka dengan cepat.


Reva menghentikan langkahnya. “Tentu, kita perlu bicara.” Ujar Reva tanpa memandang wajah Raka sedikitpun. Ia menaruh tempat air di tangannya di atas meja.


Tidak kah Raka tau kekecewaan Reva? Tidak kah Raka tahu sakitnya hati Reva? Tidak kah Raka tahu bahwa ucapan Raka terus terngiang di telinganya? Dan tidak kah Raka tahu, melihat Raka dan wanita itu membuat jurang pemisah di antara mereka semakin melebar dan Reva semakin ragu untuk bertahan?


“Kita akhiri semuanya.” Ujar Reva seraya menatap Raka dengan tajam.


“Apa maksud kamu? Apa yang harus di akhiri?” Raka memegangi kedua bahu Reva dan menatapnya dengan lekat.


Reva melepaskan satu per satu tangan Raka. “Kita bisa bahagia dengan pilihan masing-masing dan jalan pikiran kita sendiri. Kamu tidak perlu menarik kembali ucapan kamu sebelumnya. Kamu tidak perlu menyimpan kata-kata itu dan kembali mengatakannya di waktu yang lain. Semua yang kamu katakan tentang aku adalah benar. Dan aku hanya akan memperlambat langkah kamu. Pergilah dengan semua pemikiran yang ada di kepalamu.” Tutur Reva dengan tegas.


Raka tercengang dengan ucapan Reva. Ia masih belum bisa mencerna semua ucapan Reva. Reva mengatakannya dengan penuh keyakinan. Hanya tetesan air mata yang membasahi pipi kanannya.


“Kamu yakin? Kamu udah gag cinta sama aku re? Kamu akan menyerah?” tanya Raka kemudian.


“Ya! Semuanya telah selesai!” tegas Reva.


“Lalu kenapa kamu masih menangis? Kamu yakin dengan perasaan kamu?” mata Raka mulai memerah. Wajahnya terlihat kalut. Ia tidak pernah menyangka ia akan berada pada titik ini. Titik di mana Reva mengatakan sudah tidak mencintainya lagi.


“Aku tidak menangisi cinta kita. Aku hanya menangisi cara berpisah kita, kebodohanku dan perasaan yang tidak seharusnya aku punya.” Tegas Reva.


“Ya perasaan sedih dan kecewa saat aku sadar, kita tak bisa bertahan sementara cintaku masih tetap sama.” batin Reva.


Raka menatap tak percaya. Ia menyentuh wajah Reva dengan tangan gemetarnya. “Reva, pikirkan baik-baik perkataan kamu. Aku tau aku salah re, tapi aku…” Raka terisak. Ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


Reva menepis tangan Raka. “Jangan sebut namaku, karena aku akan luluh. Tapi aku udah gag sanggup bertahan dalam kesakitanku. Aku mohon, kita akhiri semuanya.” Lirih Reva yang kemudian tertunduk layu.


Raka tak sanggup berkata-kata. Ia hanya terpaku melihat Reva berbalik dan pergi meninggalkannya. Raka menekan pangkal matanya untuk menghentikan laju air matanya. Tapi nyatanya tak bisa. Air mata itu terus mengalir, seirama isakan dan bahunya yang bergerak naik turun. Inikah yang dinamakan penyesalan? Penyesalan karena tidak bisa menahan kemarahan dan membiarkan kata-kata dari mulutnya menyakiti Reva. Teramat dalam, ya Raka tahu, teramat dalam luka yang ia torehkan di hati Reva. Namun sayangnya, penyesalannya sudah sangat terlambat.


Tak bisakah ia mengulang semuanya? Tak bisakah waktu kembali dan Raka berjanji tidak akan pernah lagi mengatakan kata-kata yang tidak pantas itu.


*****


 

__ADS_1


Reva,kamu yakin?


__ADS_2