Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 171


__ADS_3

Reva di bawa ke sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang santai. Ia disuguhi secangkir teh Chamomile dan beberapa kudapan. Pelayan yang menjamu Reva tampak sesekali memandangi Reva. Ia masih dalam keterkejutannya karena untuk pertama kalinya Theo pulang dengan membawa seorang wanita cantik.


“Prank!” tanpa ia sadari, ia menyenggol sendiri cangkir yang di taruhnya.


“Astaga! Maaf nona.” Ujarnya dengan suara bergetar.


“Tidak apa-apa biar saya bantu.” Ujar Reva seraya mengambil pecahan gelas yang terserak di bawah kakinya.


“Aw!” Tanpa sengaja, tangan Reva tergores pecahan cangkir tersebut.


“Ada apa ini?!” seru Theo yang datang dengan tergesa-gesa karena suara gaduh yang di dengarnya. Matanya membulat saat ia melihat pecahan cangkir yang terserak.


Reva segera menghisap darah yang menetes dari jari telunjuknya.


“Bodoh kau!” teriak Theo seraya mendorong pelayan di hadapan Reva. “Berapa lama kamu bekerja di sini sampai  menyajikan secangkir teh saja tidak bisa?!” teriak Theo dengan mata menyalak dan wajah dinginnya.


“Ma-maaf tuan… Saya tidak sengaja.” Ujar pelayan tersebut dengan gemetar.


“Berhentikan dia! Jangan ada pelayan bodoh di rumah ini!” lanjut Theo yang membuat semua pekerjanya gemetar ketakutan.


“Sudah theo, dia tidak sengaja.” Ujar Reva mencoba menengahi.


“Dia hampir mencelakai kamu reva.” Theo masih tidak terima.


“Hentikan.” Lirih Reva seraya menatap Theo. Seketika Theo terdiam.


“Pergi kalian! Kali ini kalian selamat!” akhirnya Theo luluh.


Para pelayan bergegas pergi. Sungguh ini pengalaman pertama bagi mereka melihat Theo tunduk di hadapan seorang wanita.


“Bagaimana tanganmu?” Theo berusaha meraih tangan Reva tapi Reva segera mengibaskannya.


“Aku baik-baik saja.” sahut Reva dingin. “Kamu keterlaluan theo. Pelayanmu tidak sengaja.” Imbuh Reva yang membuat Theo menatapnya bingung.


“Mereka membuat wanitaku terluka dan mereka hanya pelayan yang sudah aku gaji lebih dari cukup.” Kilah Theo.


“Kalau begitu mereka lebih baik dariku.” Cetus Reva. Theo mengernyitkan dahinya tak mengerti. “Mereka menggunakan tenaga mereka untuk bekerja di sini. Sementara aku, aku berada di sisimu karena mengemis kebaikanmu. Bukankah itu berarti mereka lebih terhormat daripada aku?” tanya Reva dengan tatapan tajamnya pada Theo.


Theo tak bisa menjawab pertanyaan Reva. Bagaimana mungkin wanita yang ia perlakukan seperti ratu, merasa dirinya sebagai pengemis?


Keheningan di antara Reva dan Theo pudar seketika saat mendengar suara tawa seorang laki-laki.


“Kumohon, tahan dulu marahmu. Kita sapa dady sebentar.” Ujar Theo seraya menatap Reva dengan penuh sesal.


Reva hanya terdiam. Ia mengikuti langkah kaki Theo menyambut laki-laki yang ia panggil “Daddy.”

__ADS_1


“Oohhh my son… how are you doing?” Sapa laki-laki tersebut seraya merangkul Theo.


“I’m great dady. How about you?” timpal Theo.


“Of course I'm pretty good.” Tutur laki-laki yang berusia sekitar 60 tahunan.


Ia melirik Reva yang berada di belakang Theo. Reva hanya terangguk sopan. Rasanya ia familiar dengan suara yang di dengarnya namun entah pernah mendengarnya dimana.


Richard melirik Reva dan Theo bergantian. Terlihat Theo yang tersenyum penuh arti.


“She’s Reva.” Theo sepertinya paham dengan lirikan Richard.


Reva menatap Richard rasanya mata itu memang benar-benar tidak asing bagi Reva.


“Gadis yang manis.” Ujar Richard yang kemudian tertawa.


“Ctak!” rasanya ingat Reva membawanya pada sesosok wajah yang pernah di lihatnya.


Tawa dan suara itu juga tak asing. Reva melihat tangan Richard yang terulur, luka di tangan itu membuat Reva mengurungkan niatnya untuk menjabat tangan Richard. Tunggu, ia masih belum yakin. Lalu, kalung dengan liontin yang melingkar di leher Richard?


Reva terhuyung seketika. Semuanya sama dan ia pernah melihatnya. Kilatan wajah Richard muncul di ingatan lamanya. Benar, Reva mengenal laki-laki ini. Laki-laki yang sama yang ia temui 18 tahun silam. Laki-laki yang telah memisahkan Reva dengan keluarganya dan laki-laki yang nyaris membuatnya kehilangan nyawa.


Dialah Richard, laki-laki yang menculiknya.


Tubuh Reva gemetar, matanya memerah dengan buliran air mata yang menetes begitu saja. Ia menutup matanya seraya memegangi kepalanya yang terasa sakit.


Reva mengibaskan tangan Theo. Ia bahkan tidak ingin ada yang menyentuhnya. Reva memandangi kedua pergelangan tangannya yang terasa sakit. Bayangan tali yang mengikat tangannya erat terlihat jelas hadapan Reva. Nafasnya terasa sesak dan tidak bisa mengeluarkan suara hingga beberapa saat kemudian Reva terkulai tak sadarkan diri.


“Reva!!!” teriak Theo.


*****


Theo masih memandangi Reva yang belum sadarkan diri. Ia masih tak habis pikir dengan apa yang terjadi pada Reva secara tiba-tiba. Sungguh ia sangat cemas. Dokter yang memeriksa Reva pun sudah pamit dan mengatakan tidak lama lagi Reva akan sadarkan diri. Namun hingga saat ini Reva belum juga membuka matanya.


Theo meminta salah satu pelayan menemani Reva dan ia bersiap akan membawa Reva ke rumah sakit jika satu jam kemudian Reva masih belum sadarkan diri. Theo keluar dari kamarnya dan terlihat Richard yang sedang menunggunya.


“Bagaimana kondisinya?” tanya Richard.


“Dia masih belum sadarkan diri, dad.” Sahut Theo seraya mengguyar rambutnya frustasi.


“Do you love her?” selidik Richard kemudian. Theo hanya terangguk. Untuk pertama kalinya ia jatuh cinta pada seorang wanita dan itu Reva.


“Jaga dia sebaik-baiknya. Jangan sampai kamu menyesal.” Tutur Richard seraya menepuk bahu Theo.


Richard meminta Theo untuk menemaninya ke taman belakang. Tempat biasanya ia berbincang dengan sang putra. Hampir satu tahun mereka tidak bertemu dan saat ini Richard memutuskan untuk pulang karena ingin pensiun.

__ADS_1


Di kamar Theo, pelayan tampak lekat memandangi Reva. Ia melihat Reva yang perlahan mulai mengerjapkan matanya.


“Nona anda sudah sadar?” tanya pelayan tersebut dengan segera. “Saya panggilkan tuan muda terlebih dahulu.” Lanjutnya.


“Tunggu!” Reva mencoba menahan tangan pelayan tersebut. “Tolong jangan dulu beritahu theo kalau saya sudah sadar. Cukup bawakan saya minum dan semangkuk soto ayam.” Pinta Reva yang membuat pelayan tersebut mengernyitkan dahinya. “Saya mohon, saya sedang lapar.” Lanjut Reva merajuk.


“Baik nona, tolong tunggu sebentar, saya buatkan dulu,” sahutnya seraya berlalu.


Sepeninggal pelayan tersebut Reva segera bangun. Ia masih sangat ketakutan membayangkan orang yang menculiknya ada di dekatnya.


“Aku harus mencari bukti kalau laki-laki itu yang menculikku. Ya aku harus mencarinya. Pasti ada petunjuk di sekitar sini.” Gumam Reva pada dirinya sendiri.


Dilihat dari ruangan yang di tempatinya saat ini, Ia yakin ini adalah kamar Theo. Hal ini terbukti dari banyaknya foto Theo dan seorang wanita juga Richard yang tergantung di dinding. Reva keluar dari kamar Theo dengan mengendap-endap. Ia membuka-buka pintu ruangan lain yang mungkin saja menyimpan petunjuk. Waktu yang digunakan untuk membuat soto ayam oleh pelayan tersebut pasti cukup untuknya menggeledah rumah Theo.


Reva masuk ke salah satu kamar yang lebih besar dari kamar Theo. Dari foto yang tergantung di dinding ia yakin ini adalah kamar Richard. Reva segera menuju salah satu meja dan membuka-buka lacinya tapi tidak ada petunjuk apapun. Ia mulai frustasi.


Tidak sampai di sini, Reva kembali masuk ke kamar lainnya. Kamar yang lebih kecil dan di penuhi buku-buku. Mungkin ini semacam ruang baca. Ada sebuah meja di sana dengan banyak laci. Reva membuka satu per satu laci tersebut tapi lagi-lagi nihil. Reva membanting laci tersebut cukup kuat. Hingga tanpa sengaja sebuah amplop terjatuh dan sela meja yang tidak ia ketahui asalnya.


Reva segera membuka amplop tersebut. Ada sebuah handphone yang sudah usang dan sebuah CD. Tertulis tanggal yang mulai pupus di sana. Reva berusaha melihtanya dan ia yakin tanggal tersebut adalah beberapa hari sebelum tanggal ulang tahunnya. Reva segera mengambil CD tersebut dan menyelipkannya di dalam baju. Dia bergegas keluar dari ruangan tersebut.


“Nona.” Ujar sang pelayan.


“Astaga!” hampir saja jantung Reva copot. Reva mengusap dadanya seraya bersandar pada daun pintu untuk mengembalikan kesadarannya.


“Nona sedang apa?” tanya pelayan yang sudah membawa semangkuk soto ayam.


“Saya- saya… mencari theo, tapi malah tersesat.” Ujarnya berbohong.


“Oh, tuan muda di bawah. Mau saya panggilkan?”


Reva hanya terangguk. Selama pelayan itu memanggil Theo, Reva segera kembali ke kamar Theo. Ia berpura-pura kembali berbaring dengan keringat dingin yang bercucuran.


“Reva….” Ujar Theo seraya menghampiri Reva. “How do you feel, re?” lanjut Theo seraya menaruh punggung tangannya di dahi Reva.


Reva melepaskan tangan Theo. “Saya baik-baik saja. Saya hanya ingin pulang.” Ucap Reva tanpa menatap Theo sedikitpun.


“Okey, saya akan mengantar kamu pulang. Tapi kamu makan dulu soto ayamnya.” Bujuk Theo.


Reva menggeleng. “Mereka terlalu banyak ngasih seledri dan daun bawang.” Elak Reva, beralasan.


Theo menoleh soto tersebut dan memang benar ucapan Reva. Tidak ada alasan lagi untuk Theo menahan Reva di sini. Walau hari sudah larut, akhirnya ia memutuskan untuk mengantar Reva pulang.


****


 

__ADS_1


"Huwaaa apa lagi ini?" tanya author ;D


Jangan lupa like dan komennya yaa... Happy reading


__ADS_2