
Jam kerja telah berakhir dan Riana telah menunggunya di tempat parkir. Dengan langkah lebar, Reva berjalan dengan cepat menghampiri Riana.
“Haayy onty cantiikkk” sapa Riana dengan suara khas anak kecil.
“Hayy jagoan onty…” sahut Reva seraya mengusap lembut perut Riana.
Mereka tertawa bersamaan.
Sesuai janjinya, Riana akan mengajak Reva membeli beberapa baju bayi yang sudah ia inginkan sejak lama. Sementara Reva berencana membeli baju kerja dan beberapa barang keperluannya.
Mobil melaju dengan cepat, membelah keramaian dan membawa serta Reva dan Riana menuju salah satu mall besar ibu kota. Lamanya perjalanan tidak menjadi masalah bagi Reva dan Riana yang begitu menikmati waktu bersama mereka.
Tiba di Mall mereka langsung menuju tempat-tempat yang mereka ingin kunjungi. Riana tampak antusias memilih beragam model baju untuk jagoannya. Reva dengan setia menemani dan ikut terlarut dalam suasana warna pastel yang menghiasi toko tersebut.
Dengan cepat Riana mengambil satu per satu barang yang diinginkannya.
“Lo jangan kalap bumil, pilih yang bener. Ini buat kenyamanan ponakan gue.” Cetus Reva seraya mengusap perut Riana dengan lembut.
“Gue emaknya re, lo gag usah khawatir gue pasti pilih yang paling bagus buat anak gue.” Timpal Riana seraya mendelik.
“Lah terus ini apa? Ini bahannya agak kasar ri, kalo kulit anak lo sensitif dia bisa lecet.” Ujar Reva sambil mengangkat sebuah jaket dari bahan rajut yang teraba kasar.
“Heemm, iya juga yaa… Kasian anak gue nanti.” Riana kembali menaruh jaket tersebut di atas tumpukan baju lainnya. Reva hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Ya udah, lo terusin nyari baju yaa… Gue nyari counter handphone bentar, ganti LCD hp.”
“Iya onty, jangan ngayap kemana aja yaaa…” sahut Riana dengan suara anak kecil
“Iyaa jagoan… ingetin mamahmu kalo dia kalap yaaa…”
“Issh bukan mamah, tapi bunda!” Riana tersenyum puas karena sudah menemukan panggilan baru untuk dirinya sendiri. Reva menggertakan giginya dengan gemas melihat sahabatnya yang konyol ini.
Reva segera meninggalkan Riana yang kembali asyik mengacak seisi toko. Matanya masih siaga mencari counter yang ia maksud. Dari kejauhan ia melihat seorang laki-laki berlari dengan terbirit-birit. Di belakangnya seorang wanita berteriak dengan histeris.
“Copeetttt!!!!” teriak wanita itu dengan lantang.
Dalam seketika, Reva menghadangkan kakinya ke arah laki-laki itu dan berhasil membuat laki-laki itu terguling. Tapi rupanya ia tidak sendirian. Seorang laki-laki lainnya menerima lemparan dompet dari temannya yang terjatuh. Ia berlari ke arah berlawanan menghindari Reva yang sedang menghadangnya.
Reva segera mengejar laki-laki itu dan berhasil mendaratkan sebuah tendangan ke dadanya. Reva menghajar laki-laki itu hingga babak belur.
“Berhenti, atau wanita ini mati!” teriak laki-laki di belakang Reva.
Reva segera berbalik. Laki-laki itu tengah mengunci leher wanita dengan sikutnya sementara satu tangan lainnya memegang sebilah pisau tajam.
Wanita tersebut terlihat ketakutan, wajahnya pucat pasi. Orang-orang mulai berkerumun tapi tidak ada yang berani mendekat.
“Tolong, tolong saya…” ujar wanita itu dengan suara bergetar.
“Lo jangan macem-macem. Lepasin perempuan itu!” teriak Reva.
Namun tanpa Reva sadari, laki-laki di belakangnya menendang lututnya dari belakang hingga membuat Reva berlutut, ia pun mengayunkan sebilah pisau yang berhasil menyayat bahu Reva hingga berdarah.
Orang-orang berteriak histeris. Laki-laki itupun panik. Ia menjatuhkan pisaunya tapi Reva tidak bisa melawannya karena tanganya yang terasa nyeri. Tetesan darah memenuhi kemeja dan berjatuhan di lantai. Reva berusaha untuk bangun dan menatap laki-laki di sebrangnya dengan tajam.
Laki-laki itu ketakutan dan segera mendorong wanita dalam bekapannya hingga mengenai pagar pembatas yang terbuat dari kaca. Wanita itu bergelantungan di sana, sementara para pencopet kabur dan di kejar oleh petugas keamanan.
“AAAKKk!!!”
__ADS_1
Teriakan pengunjung mall semakin histeris saat melihat wanita paruh baya itu bergelantungan di pagar pembatas. Reva segera berlari menghampiri, tapi tangannya tidak cukup kuat menarik tangan wanita tersebut. Sementara besi pegangannya hampir copot karena tidak kuat menahan beban wanita tersebut.
“Bu, ibu bertahan sebentar ya…” ujar Reva dengan panik namun masih bisa mengendalikan diri.
“Tolong sayaa…” sahut wanita tersebut dengan sorot mata memelas.
Reva melihat kebawah, tampak orang berkerumun dan memasang alas, khawatir wanita itu akan terjatuh.
“Bu, ibu percaya sama saya kan?” tanya Reva seraya mengenggem tangan wanita tersebut.
Wanita tersebut mengangguk dengan yakin.
Reva melompati pagar pembatas tersebut dan ikut bergelantungan dengan wanita tersebut.
“Bu, peluk saya, dan tutup mata ibu.” Pinta Reva dengan nafas terengah.
Ia berusaha mengumpulkan keberaniannya. Wanita itu memeluk Reva dengan erat. Reva membenamkan wajah wanita itu di dadanya dan memegangi kepalanya dengan tangan kirinya, perlahan tangan kanannya mulai melepaskan pegangannya dari besi pembatas.
“Astaga, REVAA!!!!!!” teriak Riana dengan histeris.
“BRUK!”
Reva jatuh bersamaan dengan wanita itu di atas matras. Tubuhnya terkapar merasakan sakit di bagian bahu yang terkena tusukan. Sementara wanita itu terbaring tak berdaya di atas tubuh Reva. Ia benar-benar lemas. Tulang belulangnya terasa rontok.
“Nyonyaa!!! Nyonya gag pa-pa?” teriak seorang wanita paru baya yang menghampiri wanita tersebut.
“Saya, saya gag pa-pa bi…” sahut wanita itu seraya menatap wajah Reva yang masih memejamkan matanya.
Ia berusaha bangkit dari atas tubuh Reva. Tubuhnya masih gemetar. Tanganya mengusap wajah Reva dengan perlahan.
Entahlah, ia merasa sangat sedih wanita cantik di depannya hanya terdiam dan berbaring tak berdaya. Sementara itu, Reva masih dengan kesadaran dan rasa sakit di lengannya, berusaha membuka matanya. Ia melihat wajah wanita dengan penuh kecemasan dan ketakutan menatapnya. Sepasang mata itu, ia merasa sangat familiar.
“Nak, apa kamu baik-baik saja? Mana yang sakit?” ujar wanita itu dengan bibir bergetar menahan tangis.
“Saya baik-baik saja…” sahut Reva dengan suara serak.
Ia berusaha untuk bangun. Dan saat ia sudah terduduk, wanita itu memeluk Reva dengan erat. Ia menangis sejadinya di dada Reva. Reva kebingungan sendiri seraya menahan sakit di bahunya. Ia menepuk-nepuk punggung wanita itu. Beberapa kamera merekam dan mempotret kejadian itu, namun Reva mengabaikannya. Ia fokus menenangkan wanita di pelukannya.
****
Sebuah ambulan membawa Reva menuju rumah sakit. Suara sirine semakin menambah kepanikan di dada Riana yang duduk mendampingi Reva di dalam ambulan.
“Re, lo kalo mau mati pilih tempat yang nyaman dong. Jangan kayak tadi.” Ujar Riana dengan tangis yang tidak bisa di tahannya.
Ia memegangi perutnya yang terasa menegang karena melihat Reva yang nyaris kehilangan nyawanya. Tanpa ia sadari ia berlari menghampiri Reva, sesaat setelah Reva terjatuh. Ia lupa saat ini ada nyawa yang sedang tumbuh dalam perutnya.
“Ri, lo jangan lupa, ada jagoan kecil di dalam perut lo. Lo harus jaga dia baik-baik.” Reva mengusap perut Riana dengan lembut.
“Kalo lo mati, siapa yang jagain gue sama anak gue. Gue gag akan bisa terima. Lo jangan sok jagoan kayak tadi lagi!” gertak Riana sambil menoyor kepala Reva.
“Astaga ri, gue lagi sakit. Lo jahat banget.”
Reva memegangi kepalanya yang terasa pusing.
“Ya lagii, lo bikin gue jantungan. Untung gue gag ngelahirin di mall tadi.” Timpal Riana dengan tangis yang belum berhenti.
__ADS_1
Reva hanya tersenyum. Dalam kondisi seperti ini pun Riana masih bisa membuatnya tertawa.
Tiba di rumah sakit, Reva di bawa ke sebuah ruangan bernama “Triage”. Dengan cepat petugas medis memeriksa Reva.
“Mba, bajunya saya buka yaa…” ujar seorang perawat perempuan yang hendak membuka kancing baju Reva.
“Sust, boleh gunting bagian ini aja gag? Yang luka ini doang kok.” Tunjuk Reva pada bahu kirinya.
Ia merasa tidak mungkin ia harus telanjang dengan beberapa petugas medis laki-laki di sekitarnya. Perawat itupun hanya mengangguk seraya tersenyum.
Luka Reva mulai di bersihkan. Sesekali ia meringis menahan perih luka sepanjang 8 cm itu. Setelah dsuntikan obat bius, luka Reva mulai di jahit. Seorang dokter laki-laki melakukannya dengan telaten.
“Besok jangan dulu di buka ya, lusa baru boleh di buka dan di bersihkan 2 kali sehari. Semoga lekas sembuh.” Ujar dokter tersebut seraya tersenyum.
Reva hanya mengangguk.
Selesai dengan perawatannya, Reva segera keluar dari ruangan pemeriksaan. Beberapa orang tengah menunggunya dengan gusar.
“Reva….” Ujar seorang wanita cantik yang Reva kenali sebagai Alea. Reva masih terpaku. Melihat satu persatu wajah yang ada di hadapannya. “Ya ampun, jadi lo yang nolongin nyokap gue? Makasih banyak Re….” Alea memeluk Reva dengan erat.
“Aaw..” Reva tampak meringis karena Alea mengenai lukanya.
“Sory re, gue gag sengaja.” Alea segera melepaskan pelukannya. Reva hanya tersenyum. “Re, kenalin ini nyokap gue, mamih Nida. Itu bokap dan yang itu, lo pasti kenal, bang Edho kakak sepupu gue.” Terang Alea.
Reva hanya mengangguk. Sebuah senyuman menyapa orang-orang di hadapannya. Edho menatap Reva dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Reva hanya memalingkan wajahnya dan berusaha biasa-biasa saja.
“Nak Reva, terima kasih banyak sudah menolong istri saya. Saya tidak tau lagi harus berterima kasih seperti apa.” Tutur laki-laki bernama Indra yang menggenggam tanganya dengan erat.
“Sama-sama pak. Saya juga senang kalau ibu Nida baik-baik saja.” Jawab Reva dengan formal.
“Nak Reva, kamu bisa panggil saya om, om indra. Dan panggil istri saya tante nida. Anggaplah kami seperti keluarga nak reva sendiri.” Timpal Indra dengan senyuman hangatnya.
“Terima kasih om…”
Tak jauh dari tempat mereka, terdengar suara kaki yang berlarian ke arah Reva.
“Re, lo gag pa-pa? astaga , syukurlah lo baik-baik aja!” seru Raka yang tiba-tiba memeluk Reva di depan semuanya.
Tindakannya benar-benar spontan dan berhasil menarik perhatian orang-orang di sekitarnya, tak terkecuali Alea dan Edho.
Alea menoleh Edho yang sedang terdiam di belakang dengan sorot mata penuh rasa cemburu persis yang ia rasakan saat ini.
“Raka, lepasin gue…” bisik Reva dengan bibir yang masih tersenyum.
“Oh, maaf…” Raka segera melepaskan pelukannya.
“Kalian saling kenal?” tanya Nida yang menunjuk Reva dan Raka bergantian.
“Em iya tante, kami rekan kerja di kantor.” Sahut Reva dengan canggung.
“Syukurlah lo baik-baik aja re. lo emang keren!” sambung Fery sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.
“Orang hampir mati di bilang keren.” Gumam Riana yang masih bisa di dengar oleh yang lainnya.
Reva hanya terkekeh, Riana memang ahlinya mengusir kecanggungan.
*****
__ADS_1