Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 89


__ADS_3

Adalah suara Alea yang memecah keheningan sore itu. Ia baru datang bersama Edho yang tampak lelah sepulang kerja.


“Tante Niken, om wira, raka, tumben main ke sini?” sapa Alea seraya menyalami Niken dan Wira.


Ia pun melirik Raka dan Reva yang duduk berdampingan.


“Lea baru pulang nak?” tanya Niken basa-basi.


“Iya tante, sekarang lea kerja di kantor papih. Tapi kok reva bisa ikut?” Ekspresi wajah Alea berubah drastis saat melihat Reva.


“Em iya, hay lea…” Reva berusaha seramah mungkin pada wanita yang katanya kakak kandungnya ini.


Alea tersenyum sarkas mendengar sapaan Reva. Rasanya kekesalannya ingin ia tumpahkan begitu saja.


“Kebetulan, reva sekarang tinggal bersama kami, jadi dia ikut ke sini.” Sahut Niken dengan ragu. Ia terus memandangi wajah gadis cantik yang tengah diliputi ketegangan ini.


“Apa tinggal sama tante? Gag salah?” Alea membelalak tidak percaya.


“Iya, memang kenapa lea?” Niken terkejut dengan reaksi Alea yang tiba-tiba dan terlihat tidak suka.


“Tante sama om udah tau siapa perempuan ini?” tanya Alea dengan suara meninggi. Sepertinya ia tidak bisa lagi menahan amarahnya. Ia menatap Reva dengan penuh kebencian dan rasa jijik.


Mendengar suara Alea yang meninggi, ternyata mengusik Nida yang sedari tadi terdiam di kamarnya dan tenggelam dalam lamunannya. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya. Ia penasaran hal apa yang membuat putrinya meninggikan suaranya.


Ia keluar kamar dan menuruni satu per satu anak tangga di rumahnya.


“Biar aku kasih tau…” Alea kembali menatap sinis Reva dengan senyuman tipis yang mengancam.


“Lea , cukup… Jangan kayak gitu.” Edho berusaha menahan Alea saat mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


Edho tau benar apa yang akan di lakukan adik sepupunya ini, karena selama perjalanan pulang, ia terus merutuki Reva dan mengatakan ketidaksukaannya.


“Lo gag usah ikut campur kak!” Alea mengibaskan tangan Edho.


“Alea, ada apa ini? Kamu harus sopan bicara sama tamu.” Gertak Indra yang melihat gelagat tidak biasa putrinya.

__ADS_1


“Hah, papih akan tau sekarang juga.” Alea melempar beberapa foto kehadapan Wira, Niken dan Indra.


Foto Reva bersama beberapa laki-laki yang terlihat dekat. Niken mengambil salah satu foto tersebut,foto saat Reva menemani seorang laki-laki di sebuah bar.


Tubuh Reva rasanya mau roboh, ia masih belum menyiapkan dirinya untuk kejadian di hari ini.


“Perlu om, tante dan papih tau, perempuan ini perempuan ******!” kalimat pertama Alea menyentak siapapun yang mendengar ucapannya.


“Lea, berhenti!” gertak Raka, tapi Alea malah tersenyum sinis.


“Kenapa, lo takut kartu pacar lo ketauan?” tantang Alea dengan tatapan jijik pada Reva. “Perlu kalian tau, reva ini cewek panggilan! Laki-laki manapun bisa dia temenin asal punya uang! Kak Edho, Fery, dan masih banyak lagi laki-laki yang jatuh ke jeratan perempuan menjijikan ini. Dan sekarang lo! Buka mata lo lebar-lebar, kenalin siapa perempuan yang lo suka!” teriak Alea pada Raka.


Semua tatapan kini tertuju pada Reva. Dengan tangan bergetar Ia mengambil satu per satu  foto yang di tunjukan Alea. Air matanya menetes begitu saja, ia malu, ya sangat malu, bahkan hanya untuk mengangkat wajah dan menatap orang-orang di sekitarnya pun ia tidak sanggup.


“Mau lo bawa kemana itu foto *******?!” Teriak Alea seraya memukul tangan Reva hingga foto-foto tersebut jatuh berhamburan.


“PLAK!!!”


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Alea. Adalah Niken yang tanpa sadar mendaratkan tamparan tersebut pada Alea.


“Tante, tante mukul lea gara-gara ******* ini?!” Teriak Alea yang tidak terima. Ia memegangi wajahnya yang terasa panas karena tamparan keras dari Niken. Matanya memerah dengan sorot mata penuh kebencian.


Alea dan Indra ternganga tidak percaya. Begitupun Edho dan Nida yang mendengar jelas ucapan Niken.


Dengan langkah gontai Nida menghampiri. Seperti ada sambaran petir yang kemudian mengumpulkan semua kesadarannya. Ia mengenal betul gadis cantik yang kini tengah tertunduk dalam tangisnya yang dalam tapi ia tidak pernah tau bahwa itu adalah putrinya.


Indra menjatuhkan tubuhnya di sofa, ia masih belum bisa percaya dengan yang di dengarnya.


“Niken, apa benar dia?” suara bergetar Nida bersahutan dengan deru nafas memburu Niken.


“Iya nida, dia lana. Putri kita yang hilang 17 tahun lalu.” Tutur Niken sambil terisak.


Detik itu juga, mata sayu itu melelehkan butiran air mata tanpa permisi. Nida menatap lekat wajah gadis yang ada di hadapannya. Ia menyentuh wajah pucat pasi itu dengan tangan bergetar.


“Lana….” Lirih Nida dengan suara bergetar. Reva hanya terangguk pelan, ia tidak mampu berkata-kata.

__ADS_1


“Mamih! Janga percaya!” seru Alea dengan bibir bergetar. “Ini pasti Cuma akal-akalan perempuan ini doang!” Alea masih belum bisa terima. "Lo jual harga diri lo buat dapetin duit, sekarang ini cara lo buat nyari duit lebih banyak hah? Pura-ppura jadi adek gue gitu? Lo gila reva!" sambung Alea yang benar-benar tidak terima.


“Cukup!” Teriak Nida. Ia menatap Alea dengan penuh amarah. Pertama kali dalam hidupnya, ia membentak sang putri tanpa ia sadari.


Alea terangguk paham. Posisinya saat ini sangat tidak mungkin melawan Nida. Ia pun paham, sebesar apa perbandingan kasih sayangnya untuk ia dan adiknya. Dengan segera Alea berlari ke kamarnya dan Edho segera mengejarnya.


“Lana, sayang…. Ini benar-benar kamu nak?” Nida membelai rambut Reva dengan lembut. Reva kembali terangguk. Dalam sekejap, Nida segera memeluk putrinya dengan erat. Ia menangis sejadi-jadinya menumpahkan setiap kesedihan yang ia coba tahan selama bertahun-tahun. Mereka berangkulan seolah tidak ingin terpisah satu sama lain.


Indra yang sejak tadi memperhatikan, segera berlari menghampiri sang istri dan putri yang dirindukannya. Mungkin inilah alasan perasaan tak asing yang ia rasakan saat berbicara dengan gadis ini.


****


Nida membawa Reva ke kamarnya saat masih kecil. Mereka duduk berhadapan di pinggir tempat tidur. Mata Nida tak lepas dari pandangannya pada Reva. Air mata yang masih belum mengering namun senyum itu jelas terlihat di wajah cantik yang kini seperti mendapat jutaan energi baru. Benar, saat ia menatap gadis cantik di hadapannya ini, ia seperti bercermin.


Nida membelai rambut Reva dengan lembut dan satu tangannya menggenggam erat jemari lentik tersebut. Bahagia, lebih dari itu yang Nida rasakan saat ini.


“Kamu pergi begitu lama nak, sampai mamih gag ngenalin kamu.” Tangan Nida menjelajah setiap titik wajah Reva. “Liat, alis sama mata kamu mirip mamih, tapi hidung dan bibir kamu mirip papih.” Nida tersenyum dalam nafasnya yang dalam. Rasanya ia belum puas memandangi putri yang begitu dirindukannya.


“Dulu, tidak banyak waktu yang mamih habiskan sama kamu dan setelah kamu pergi, mamih sadar mungkin ini cara tuhan menyadarkan mamih kalau kamu sangat berarti buat kami.” Tukas Nida dengan senyum hangat di akhir kalimatnya.


Reva ikut tersenyum, tak bisa dipungkiri iapun merasa sangat bahagia. Walau masih ada perasaan yang mengganjal di dadanya.


Tak berselang lama, terdengar pintu kamar Reva berderet dan terbuka. Tampak wajah laki-laki yang tengah tersenyum pada 2 wanita yang dicintainya.


“Sini pih….” Nida menepuk tempat di sampingnya. Indrapun mendekat dan duduk di samping Reva.


“Kamu sudah dewasa sayang, papih masih merasa ini seperti mimpi…” Ujar Indra seraya mengecup pucuk kepala Reva, sesuatu yang sudah sangat lama sekali tidak pernah ia lakukan.


“Makasih mih, pih, makasih udah mau terima reva. Maaf kalau banyak hal yang sudah reva lakukan dan mungkin mengecewakan kalian.”


Reva menatap Indra dan Nida bergantian. Ia benar-benar menyesal. Harusnya, ia tidak pernah melakukan sesuatu yang mungkin akan mempermalukan dirinya sendiri bahkan orang di sekitarnya. Tapi semua sudah berlalu, cerita buruk akan tetap menjadi cerita buruk. Dan kali ini Reva tidak akan melakukan represi lagi, ia harus mengingatnya, agar kelak ia tidak melakukan kesalahan yang sama.


“Kami gag pernah tau seberat apa hidup kamu selama ini nak. Tapi kami tau, kamu adalah anak yang kuat. Mamih sama papih gag pernah merasa kecewa, bisa kembali melihatmu jauh memberi kami rasa syukur yang tidak bisa kami ungkapkan. Terima kasih nak, sudah kembali di hidup kami.” Tukas Nida seraya memeluk putrinya. Diikuti dengan Indra yang memeluk kedua wanita di sampingnya ini.


Kebahagiaan ini terasa lengkap bagi Nida dan indra. Tak henti mereka mengucap syukur dalam hatinya.

__ADS_1


****


Makasih untuk sampai saat ini masih baca... Terima kasih untuk semua dukungannya.


__ADS_2