
Di salah satu kamar kini Reva dan Raka berada. Ia tidak pernah beranjak dari sisi Reva yang sedang melepas anting-antingnya. Ia ikut menggulung rambut Reva dan mengikatnya tinggi-tinggi.
“Mas, aku bisa sendiri ko…” Reva berusaha meraih tangan Raka.
“Biar lebih cepet sayang…” lirih Raka yang nyatanya malah mengecup leher jenjang Reva. Ia mengecupi kecil-kecil dan sesekali berusaha membuat tanda kepemilikan di leher putih tersebut. Bulu kuduk Reva meremang seketika. Raka selalu tahu di mana ia harus menyentuhnya. Reva memejamkan matanya, ikut terbuai dalam permainan Raka.
“Mas, aku harus ke kamar mandi dulu. Cuci muka, cuci kaki dan gosok gigi.” Ceraucau Reva, asal.
“Mau sekalian minum susu juga gag, biar aku bikinin?” Raka terkekeh di akhir kalimatnya dan Reva melotot kesal. Reva selalu tidak bisa mengontrol kalimatnya saat ia menggodanya. Dan itu sangat menggemaskan bagi Raka.
“Aku udah gag masa pertumbuhan kalii.” Timpal Reva yang membuat Raka kembali terkekeh.
“Ya udah, jangan lama-lama ya…” bisik Raka seraya mengecup daun telinga Reva. Reva memiringkan kepalanya karena geli, namun Raka berlalu begitu saja dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari bibirnya.
Dengan segera Reva menuju kamar mandi sebelum Raka kembali mengganggunya.
Raka membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia menjadikan tangan kirinya sebagai bantalan sementara tangan kanannya membuka-buka email di handphonenya. Ia mendapat pelaporan tentang proyek-proyek yang mulai berjalan. Bibirnya tersenyum, ia berharap proyek ini bisa berjalan dengan lancar. Setelah ini, ia memutuskan akan mengajak Reva ke tempat yang ia inginkan.
Terdengar suara pintu kamar mandi berderet dan terbuka, terlihat sosok Reva keluar dari sana. Raka menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya sebagai tanda meminta Reva untuk menghampirinya. Dengan segera Reva menghampiri Raka, lalu membaringkan tubuhnya di samping Raka. Raka menjadikan tangannya sebagai bantalan untuk Reva sementara satu tangan lainnya memeluk pinggang ramping Reva.
“Mas, aku boleh nanya?” tanya Reva dengan ragu.
“Hem, mau nanya apa?” ujar Raka seraya mendekatkan wajahnya ke depan Reva dan mempertemukan hidungnya dengan hidung Reva. Ia menggesekkan hidungnya dengan lembut seraya memejamkan mata. Kebiasaan yang sangat ia sukai setelah menempelkan dahi, mengecup punggung Reva dan banyak lagi yang ia sukai dari membangun kedekatan secara intim dengan Reva.
“Kamu beneran gag kenal sama yang namanya laras tadi?” tanya Reva yang membuat mata terpejam Raka kini terbuka.
“Kenapa, kamu cemburu?” terka Raka yang seketika membuat wajah cantik Reva merengut.
“Di tanya ko malah balik nanya.” Gerutu Reva seraya memalingkan wajahnya dari Raka.
Raka hanya bisa tersenyum. “Aku seneng kamu cemburu gini. Biasanya kan cuma aku yang kamu bikin cemburu.” Goda Raka seraya menarik Reva agar semakin mendekat.
“Jadi beneran kamu kenal dia mas?” Reva semakin kesal.
“Tentu aja nggak sayang… Mana pernah sih aku inget muka sama nama perempuan selain kamu dan mamah.” Kilah Raka yang memang benar adanya.
Kali ini Reva tersenyum. Memang seingat Reva, Raka selalu bersikap dingin dan acuh pada wanita manapun kecuali Niken dan dirinya.
“Tapi kayaknya kak fey kenal ya?” pertanyaan Reva kali ini membuat Raka ikut berfikir. Iya benar, Fery sepertinya mengenalnya. Bahkan wajahnya terlihat pucat saat wanita bernama Laras itu menyapanya.
“Ah udah sih, ngapain kamu mikirin fery segala. Yang boleh ada di kepala kamu cuma aku, aku dan aku. Okey!” tutur Raka seraya mengecup kepala Reva kuat-kuat.
“Iya lah, masa aku mikirin cowok lain. Mikirin kamu doang aja dah bikin memory otak aku full!.” Ungkap Reva seraya menggerakan jemarinya di dada Raka. Sesuatu yang sangat Raka sukai tentunya.
__ADS_1
“Oh ya?” Raka mengeratkan pelukannya.
“Iya…” jawab Reva.
“Beneran…” kali ini Raka berbisik seraya mengecup telinga Reva cukup lama hingga membuat Reva menggelinjang. Lebih dari itu, tangannya sudah bergriliya kesana kemari menyentuh tempat-tempat favoritnya yang membuat Reva mendesah.
“Iyaa…” Reva masih berusaha menjawab dengan gairah yang tertahan.
Setelah ini, tentu saja Reva tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
****
Liburan telah usai, hari ini Raka dan semua orang yang ikut ke Bali akan pulang ke Jakarta. Mereka harus mempersiapkan diri menyambut hari kerja yang baru. Di dalam pesawat Reva terus tertidur sementara Raka asyik melukis atau sesekali memfoto dan memvideokan Reva, hingga perjalanan yang cukup lama begitu ia nikmati. Ia sangat menyukai ketika wajah cantik yang terlihat lelah itu, terlelap dengan damai.
“Kamu gemesin sih.” Lirih Raka seraya mengusap lembut pipi Reva membuat sang empunya menggeliat kecil.
Raka hanya tersenyum kecil, Reva memang selalu menjadi poros dunianya dalam kondisi apapun.
Mata Reva mengerjap perlahan, ia berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya yang masuk. Saat matanya terbuka lebar, ia melihat Raka yang sedang memandanginya seraya tersenyum.
“Hay…” sapa Raka yang mencubit pipi Reva dengan gemas.
“Hay…” Suara serak Reva terdengar sangat menggoda Raka. “Udah nyampe belum mas?” Reva membenarkan posisi duduknya. Tidur sambil duduk memang sangat nikmat apalagi saat kepala kita hampir terbentur sesuatu tapi sepertinya sejak tadi tangan Raka selalu menjaganya. Setiap kali ada guncangan pesawat yang menembus awan-awan tipis, dengan segera Raka bersiap khawatir Reva terbangun.
“Masih setengah jam lagi kita landing sayang.” Raka menyodorkan segelas juice yang tadi ia minta pada seorang pramugari.
“Kamu capek banget kayaknya, semalem gag tidur nyenyak ya?” goda Raka yang jelas saja Reva tidak bisa tidur nyenyak semalam karena Raka selalu mengganggunya
“Masih nanya aja....” Cetus Reva yang membuat Raka terkekeh.
“Ya udah, kamu tidur lagi aja. Nanti aku bangunin.” Raka membelai lembut rambut Reva.
“Nggak ah nanggung.” Sahutnya yang kali ini menoleh menatap Raka. Suaminya selalu terlihat segar padahal Reva yakin Raka pun pasti lelah.
“Kamu gag tidur sih mas. Kan lumayan 2 jam perjalanan.” Reva mengusap wajah Raka. Dengan segera Raka meraih tangan Reva dan mengecupnya.
“Habis nonton, seru banget.” Sahutnya.
“Nonton? Nonton apa?” Reva keheranan karena sepertinya Raka tidak menyalakan sama sekali monitor LCD di hadapannya yang masih terlipat rapi.
“Nonton kamu tidur.” Bisik Raka yang membuat mata Reva membulat.
“Ih kamu mah gag ada kerjaan banget sih.” Gerutu Reva. “Tapi kamu gag gambar apa-apa kan di muka aku?” Reva parno sendiri dan segera menyentuh wajahnya yang sepertinya baik-baik saja.
__ADS_1
“Nggak lah, aku bukan lagi anak kecil yang iseng kayak dulu.”
Masih teringat jelas di pikiran Raka saat ia iseng menggambari wajah Reva kecil yang sedang tertidur dengan beberapa krayon. Ia terkekeh geli sementara sang korban marah hingga tidak mau bicara padanya
“Kamu bukan iseng, tapi bengal!” timpal Reva seraya mengerucutkan bibirnya.
“Jangan gitu dong, nanti aku gigit baru tau.” Raka menyentuh bibir Reva dengan lembut.
Reva segera memalingkan wajahnya, kalau tidak, Raka yang tidak tahu tempat pasti akan segera menyerangnya.
Melihat Reva yang merona selalu membuat sudut bibir Raka melengkungkan senyum.
“Kamu gemesin.” Batinnya.
*****
Pesawat mendarat dengan mulus. Para penumpang segera menuju tempat pengambilan bagasi. Kedua orang tua mereka sudah melambaikan tangan dari pintu pengambilan bagasi, sepertinya barang-barang sudah seluruhnya di bawakan.
“Fery, lo pulang hari ini juga?” tanya sebuah suara yang rasanya tidak asing.
Alea, Raka dan Reva sontak menoleh. Benar, lagi-lagi terlihat Laras yang tersenyum dengan sumeringah.
“Oh hay, iya..” jawab Fery dengan kaku.
“Tau gitu kita bareng ya…” Laras mengibaskan rambutnya dengan menggoda membuat Alea mengerlingkan matanya kesal. Fery hanya terpaku sambil melirik Alea. “Oh iya, gue boleh minta nomor hp lo gag? Kabarnya mau ada reunian, nanti biar gue kasih tau lo kalo kita ngumpul. Siapa tau lo bisa dateng kan.” Sambung Laras yang seolah tidak peduli pada tatapan tidak suka Alea.
“Oh, iya.” Jawab Fery singkat. Ia segera mengeluarkan benda persegi dari saku celananya. Tidak ada maksud lain selain membuat gadis di hadapannya bergegas pergi.
Alea mendekat dan menggenggam tangan Fery satunya, seolah ingin memperlihatkan pada Laras bahwa Fery adalah miliknya. Laras melirik tangan Fery yang di genggam Alea, ia hanya tersenyum tipis dengan raut wajah yang tidak bisa di tebak.
“Okey, berapa nomor lo?” Laras tampak menunggu dengan tenang.
Fery mulai menyebutkan nomor handphonenya dan Laras menekan-nekan layar handphonenya dengan jemari lentiknya.
”Okey, thanks fer…” Laras segera memasukkan handphonenya ke dalam tas. Ia melangkah beberapa langkah dan mendekati Fery. “Isn’t she?” bisiknya yang membuat mata Alea membulat seketika.
Entah apa yang dibisikan Laras di telinga Fery, Alea tidak mendengarnya. Tapi ia benar-benar tidak suka. Ia melepaskan genggaman tangannya dan melipat kedua tangannya di depan dada. Terlihat jelas, Alea marah.
Fery hanya terpaku tanpa sepatah katapun. Perasaannya mulai tak nyaman.
“Kalo gitu, gue duluan yaa.. See you…” tukas laras seraya pergi dengan kibasan rambut yang hampir mengenai wajah Fery.
Fery tidak menjawabnya. Ia melihat Laras yang melangkah semakin jauh dan tampak mengenakan kembali kacamata hitamnya. Sementara gadis di sampingnya ikut pergi menghampiri Reva dan Raka.
__ADS_1
“Mampus gue!” batin Fery.
****