Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 69


__ADS_3

Satu hari menjelang acara ulang tahun perusahaan sekaligus pengangkatan penerus Adiyaksa corp. setiap sudut kantor sudah di tata dengan indah, karangan bunga pun sudah berjejer di depan perusahaan.


“Re, ini baki buat besok ya… nanti kamu lapisin dulu pake kain ini dan pin nya besok baru saya kasih.” Ujar Tika yang tengah sibuk mengatur setiap detail acara.


“Bu, kalo besok yang di depan siapa aja?” Tita mulai angkat bicara.


“Kamu sama dimas kayaknya cukup. Jangan lupa besok banyak tamu penting, jangan sampe kekurangan apapun.” Tutur Tika.


“Bu, emang raka gag ikut jadi panitia, kan dia anak magang juga.” Protes Dimas yang merasa Raka tidak mendapat tugas apapun.


“Emmm raka ya?” Pandangan Tika berpedar pada ketiga anak magang di hadapannya. Sepertinya ia sedang berusaha mencari jawaban. “Dia ada tugas lain besok. Jadi gag ikut di divisi kita.” Sahut Tika sekenanya.


Ketiga mahasiswa magang itupun hanya terangguk.


“Ya udah, kalian istirahat dulu aja. Nanti kita lanjut dekor ruang utama.” Lanjut Tika sambil kembali menutup berkas di hadapannya.


Reva dan kedua rekannya hanya patuh saja. Mereka segera keluar dari ruangan Tika dan pergi menuju kantin.


Dalam beberapa langkah, Reva merasa kepalanya berputar dan penglihatannya tidak jelas. Iapun merasakan sakit yang cukup hebat di kepalanya. Reva berpegangan pada daun pintu dan hampir terjatuh namun Dimas segera menahannya.


“Re, lo kenapa?” Dimas segera menahan tubuh Reva..


“Gag tau dim, kepala gue tiba-tiba aja sakit dan pusing. Kurang darah kali ya?” Reva menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir rasa sakit di kepalanya.


“Kamu kenapa re? sakit?” Tika segera menghampiri dan berdiri tegak di samping Reva. Ia ikut terlihat cemas.


“Gag pa-pa bu, cuma seleyengan aja.” Reva memijat pelipisnya yang masih terasa pening.


“Ya udah, kalian bawa Reva istirahat. Kalo udah enakan baru masuk lagi.” Tukas Tika sambil mengusap punggung Reva.


Tita memapah Reva untuk duduk sejenak di kursinya. Ia pun memberikan segelas air hangat agar Reva membaik.


Reva membuka laci kerjanya, lalu mengambil botol obat yang selalu ia simpan di sana.


“Lo makan dulu re, nanti lo muntah-muntah lagi kayak waktu itu.”


“Emmm ya udah, yuk kita ke kantin dulu.”


Reva kembali menaruh obatnya di laci. Perhatian Tita kini tertuju pada jemari lentik Reva. Dengan segera ia meraih tangan Reva.


“Re, lo udah tunangan?” tanya Tita dengan segera.


Reva hanya tersenyum tipis. “Udah ah, yuk kita ke kantin.” Iaberusaha mengalihkan pembicaraan.


“Jangan bilang lo sama raka….” Terka Tita seraya menunjuk Reva tepat di wajahnya.


“Lo terlalu banyak mikir.”

__ADS_1


Reva menepis tangan Tita. Bukan Tita namanya kalau akan berhenti begitu saja sebelum mendapat jawaban yang ia inginkan. Semakin Reva menghindar, semakin banyak pertanyaan yang ia lontarkan. Ah sudah lah, Tita memang sulit di hadapi tapi itu tidak mengganggu Reva sama sekali.


****


Makanan sudah tersaji di depan mata. Tita membelalakan matanya melihat menu makanan yang sangat merangsang salivanya untuk menetes. Ia mencicipi semua menu makanan yang tersaji. Dalam rangka ulang tahun perusahaan, semua karyawan di jamu dengan makanan yang enak sebagai bentuk penghargaan atas loyalitas mereka tidak terkecuali bagi anak magang.


“Huwaaaah banyak banget makanannya… Kalo kayak gini, sering-sering deh nih perusahaan ulang tahun.” Seru Tita dengan mulut penuh makanan.


“Ya kalo sering namanya buka ulang tahun lagi ta…” timpal Reva yang terkekeh mendengar ucapan konyol Tita.


“Hahahha iya yaa… Tapi ini beneran gretong kan ya re? takut-takut tar keluar dari sini kita di kasih bill panjang.”


“Kata bu tika sih gratis tapi gag tau juga yaa…” sahut Reva yang mulai menikmati makan siangnya. Tita hanya merengut mendengar ucapan Reva tapi kemudian tidak ia hiraukan saat ia dengan yakin membaca tulisan “GRATIS” di meja kasir.


Suasana makan terasa menyenangkan dengan kata-kata pujian yang tak pernah usai dari mulut Tita. Wah ini enak itu enak dan semuanya enak. Hanya kata-kata itu yang terus berulang dari mulut Tita membuat Reva ikut terkekeh melihat tingkah rekan kerjanya ini.


“Reva…” panggil sebuah suara yang tidak asing bagi Reva.


Reva menoleh ke arah datangnya suara. Seorang wanita cantik tengah berjalan ke arahnya.


“Tante niken…” Reva segera berdiri dan menelan makanannya bulat-bulat.


Terlihat senyuman di bibir Niken yang kini berdiri di hadapan Reva. Tita yang melihat kedatangan wanita paruh baya yang cantik dan elegan itu hanya bisa menelan ludahnya kasar-kasar.


“Kamu lagi makan siang ya re?” tanya Niken dengan santai.


“Iya tante..” Reva menyelipkan anak rambut yang menghalangi wajahnya dengan canggung.


“Tentu tante, silakan..” sahut Reva dengan segera.


Tita terlihat kikuk, secara semua makanan di meja sudah ia cicipi. Tita menatap tajam pada Reva tapi Reva hanya tersenyum.


“Oh iya tan, kenalin ini temen kerja reva, namanya tita. Ta kenalin, ini tante niken, mamahnya mas raka.” Ujar Reva menatap 2 sosok tersebut bergantian.


“Mas raka?” Tita mengulang kalimat terakhir Reva dan mendapat kerlingan mata dari Reva. Tita berusaha menahan tawanya. Niken mengangguk anggun pada Tita yang masih memandanginya dengan kagum.


“Gila, secantik apa emaknya si raka dulu? Udah tua aja masih cakep gini.” Gumam Tita dalam hatinya.


“Re, tante gag lama kok. Tante cuma mau ngasihin ini.” Niken menyerahkan sebuah paperbag dengan brand fashion internasional tertulis jelas di bagian luarnya. Reva menatap Niken yang tengah memandanginya dengan penuh tanya. Ia tidak tau harus bersikap seperti apa. Yang jelas barang yang diberikan Niken bukan barang yang murah. “Raka bilang, kamu besok diberi tugas penting di acara perusahaan ini. Jadi tante kepikiran untuk ngasih ini sama reva. Tante harap reva suka.” Terang Niken yang seolah mengerti arti ekspresi wajah Reva.


“Em.. makasih tante, jadi ngerepotin…” tutur Reva  dengan senyuman canggung.


“Enggak kok, gag ngerepotin. Kalo gitu tante pulang dulu yaa…”


“Tante gag ketemu mas raka dulu?”


“Gag usah re, tadi tante udah telpon raka tapi katanya dia lagi sibuk.”

__ADS_1


Melihat Niken yang sangat baik padanya, Reva merasa begitu bersyukur. Ternyata tidak hanya Ratna yang menyayanginya, ada ibu lain yang juga begitu perhatian padanya.


“Kalo gitu tante pulang dulu ya, sukses untuk acaranya besok.” Tukas Niken sambil mengusap punggung Reva.


“Iya tante makasih banyak. Tante hati-hati di jalan ya…” sahut Reva sambil mencondongkan tubuhnya menerima pelukan hangat dari Niken. Sesuatu yang belum pernah ia temukan sebelumnya.


Sejenak Reva merasakan kehangatan yang tak asing dari pelukan Niken. Hatinya berdesir, rasanya ia ingin menangis entah karena terharu atau mungkin karena alasan lain yang juga ia tidak ketahui.


Pelukan itupun terlepas. Jika saja ia bisa meminta kembali Niken untuk memeluknya tapi rasanya terlalu lancang. Nikenpun berlalu dengan lambaian tangan dan senyuman hangatnya.


Reva menyentuh dadanya yang terasa menghangat. Dalam hatinya ia berharap, semoga Niken akan selalu menyayanginya seperti saat ini.


****


Dengan sebuah taksi online, Reva meninggalkan perusahaan tepat di jam pulang kerja. Ia mengirim pesan pada Raka bahwa ia pulang lebih dulu karena ada janji dengan seorang teman.


“Okey, hati-hati di jalan sayang… Nanti malem mas vcall yaa… inget, jangan nakal.” Begitu isi balasan pesan Raka yang di akhiri dengan emoticon love.


Reva hanya tersenyum. Ternyata seorang Raka bisa memakai emoticon love juga di dalam tulisannya. Pandangan Reva pun tertuju pada paperbag yang ada di sampingnya. Niken, mengingat pelukannya membuat Reva merasakan sebuah ketenangan. Semuanya benar-benar terasa tidak asing bagi Reva dan rasanya ia pernah bertemu Niken sebelumnya.


Beralih dari pikirannya tentang Niken dan Raka, pikiran Reva kembali mengingat mimpinya semalam dan rasa sakit di kepala yang tidak kunjung hilang bahkan setelah ia minum obat. Maka untuk alasan ini lah Reva menghentikan taksi tersebut di halaman sebuah rumah yang tidak asing baginya. Di pintu rumah, sudah ada Marini yang menyambutnya dengan senyuman hangat.


Suasana tenang dan damai kerap mendominasi ruangan tempat Reva mengikuti terapi. Reva mulai menyandarkan tubuhnya setengah duduk dengan mata yang tertutup. Ia mengatur nafasnya dengan perlahan merasakan aura tenang yang menelusuk hatinya.


“Gimana perasaan reva hari ini?” Selalu, pertanyaan yang dilontarkan Marini membuat Reva merasa diakui perasaannya.


Terdengar hembusan nafas perlahan dari mulut Reva. Ia mulai menceritakan mimpi yang kembali di alaminya. Yang berbeda dari mimpi ia sebelumnya, jika dulu ia hanya sekedar menyaksikan anak kecil iu berontak dan berteriak kali ini ia merasakan benar apa yang dirasakan gadis itu.


Rasa sesak yang sama, rasa sakit yang sama juga rasa takut yang bahkan tidak hilang meski ia telah keluar dari alam mimpinya. Iapun menceritakan beberapa kejadian yang seolah dejavu. Ingatan dalam pikirannya saling bertubrukan, entah mana yang lebih dulu. Ia pun tidak bisa mengenali mana ingatan yang ia coba lupakan dahulu dan mana ingatan yang kembali muncul begitu saja tanpa pernah ia ingat kejadian tersebut.


“Apa reva pernah menceritakan mimpi ini pada orang lain selain saya?”


Marini mengusap lembut lengan Reva yang masih gemetaran.


“Ibu saya selalu bilang, mimpi buruk itu jangan di ceritain ke orang lain nanti akan berakibat buruk.” Tuturnya dengan suara bergetar.


Marini hanya tersenyum.


“Ibu reva benar. Hanya saja, saat kamu tidak menceritakannya pada orang lain, bukan berarti kamu harus melupakan mimpi buruk itu. Mungkin saja itu sebuah ingatan yang muncul setelah kamu mengalami trauma. Dan itu bagian yang harus reva hadapi.” Marini menjeda kalimatnya. Ia membukakan penutup mata Reva agar bisa melihat wajah gadis yang masih ketakutan itu. “Apa yang reva rasakan saat semua ingatan reva saling bertubrukan di kepala reva?”


“Saya merasa sangat pusing selain itu dada saya juga terasa sangat sakit. Seperti ada perasaan sakit hati tapi saya gag tau apa penyebabnya.”


Reva menekan-nekan dada kirinya yang saat inipun terasa sakit dan sesak.


“Dalam medis ada namanya sindrom patah hati. Hal ini bisa di karenakan sebuah trauma atau perasaan sedih yang berkepanjangan. Yang di alami reva itu diperberat dengan kebiasaan melakukan supresi dan represi terhadap hal menyedihkan atau mengecewakan yang reva alami. Seperti pernah saya sampaikan, seseorang boleh merasa sedih dan tanpa kita sadari sistem di otak kita akan membantu kita melupakan hal menyedihkan tersebut. Tapi hal terbaik yang harus kita lakukan adalah menghadapinya. Saat ingatan itu berputar di kepala reva, coba biarkan mereka terbuka satu per satu. Biarkan dia muncul dan hadapi dengan berani apapun yang ada di ingatan reva.” Terang Marini.


Kali ini pandangan Reva tertuju pada wajah tenang yang ada di hadapannya. Ia mengeratkan kepalan tangannya seolah bertekad untuk melakukan sesuatu.

__ADS_1


“Reva itu kuat, melebihi yang reva tau. Karena semua yang terjadi pada reva telah tuhan berikan tanpa melebihi batas kekuatan reva. Jadi, apapun itu, hadapilah…” tukas Marini yang beberapa saat kemudian diangguki Reva.


****


__ADS_2