Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 133


__ADS_3

“Reva anasya wijaya. Usia 23 tahun. Aktif bekerja di Wijaya corp di divisi pengembangan. Memiliki 3 panti asuhan dan sering mengadakan kegiatan amal.” Theo tersenyum simpul mendengar Cv yang di bacakan Arya.


Baru kali ini ia mencari tahu Reva secara mendetail. Jika dulu ia hanya mencari tau Reva sebagai pacar bayaran Edho, kali ini ia yakin untuk mencari tahu semua tentang Reva tanpa ada yang terlewat.


“Siapa orang tuanya? Saya akan menemuinya.” Ujar Theo dengan yakin. Ia bahkan merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah sangat rapi.


Arya menarik nafas sebelum kembali membacakan informasi yang ia dapat. “Nona Reva merupakan Putri kedua dari pemilik Wijaya corp dan Istri dari Raka adiyaksa putra.” Tutup Arya.


“BRAK!!!!!”


Theo memukul meja kerjanya dengan keras. Matanya menyalak geram. Lagi, seseorang sudah memilikinya sebelum ia berhasil mendapatkannya. Theo mengacak rambutnya gusar. Andai saja saat pertemuan terakhirnya bersama Reva ia bisa menjaga mulut dan kelakuannya mungkin saja keadaannya tidak seperti ini. Dan andai saja saat itu ayahnya tidak memaksa Theo untuk pulang ke Inggris, mungkin saja semua sudah berjalan seperti yang ia inginkan. Dan masih banyak pengandaian lain yang berada di pikiran Theo.


Satu hal yang kini berada dalam pikirannya, tidak peduli siapa yang saat ini ada di samping Reva, ia pastikan jika tidak ada pintu kesempatan untuknya, maka dia yang akan membuat pintu itu ada.


“Cari informasi tentang Wijaya dan Adiyaksa, sekarang!!!” teriak Theo seraya melempar semua berkas yang ada di mejanya. Nafasnya terengah dengan amarah yang masih bersarang di dadanya.


Dengan cepat Arya menuruti perintah Theo. Ia melakukan semua hal yang ia bisa lakukan untuk mengikuti perinntah tuannya.


Sementara Theo, kali ini ia kembali duduk bersandar di kursinya. Pikirannya menerawang entah kemana. Tangannya mengepal dan berkali-kali menghantam meja kerjanya. “Reva…. now it's my turn.” Lirih Theo seraya memejamkan matanya.


****


“Tok-tok-tok” suara ketukan pintu ruang kerja Reva terdengar jelas.


“Mas Raka….” Ujar Reva dengan sumeringah.


“Hay sayang, masih banyak kerjaannya?” tanya Raka yang segera mendekat pada Reva. Ia sedikit mengintip pekerjaan Reva.


“Sedikit lagi selesai mas. Bentar yaaa… kamu duduk dulu.” Tutur Reva seraya mengusap pipi Raka yang ada di sampingnya.


“Okeeyy…” hanya itu sahutan Raka.


Ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Reva. Ia menopang dagunya dengan tangan kanan dan memandangi Reva yang masih serius menyelesaikan pekerjaannya. Saat serius pun Reva begitu menggoda bagi Raka.


Reva menyadari benar Raka sedang memandanginya. Ia hanya tersenyum dengan sesekali melirik sang suami yang setia menunggunya. Dalam beberapa saat ia mematikan laptopnya dan segera melipatnya kembali.

__ADS_1


Reva mengambil beberapa berkas yang selesai ia kerjakan dan berjalan menuju rak arsip. Pandangan Raka tidak pernah lepas dari istrinya bahkan ia ikut berdiri di belakang Reva.


“Gimana rapatnya hari ini?” bisik Raka seraya melingkarkan tangannya di pinggang Reva. Ia mengecupi punggung Reva yang merupakan kebiasaannya. Ia selalu menyukai wangi tubuh Reva.


“Minggu depan, pemilihan direksi yang baru. Ada beberapa kandidat baru yang masuk dari pemegang saham.” Terang Reva yang tetap anteng merapikan berkasnya.


Sebenarnya Raka tidak tidak terlalu mendengar apa penjelasan Reva karena ia hanya ingin selalu berdekatan dengan candunya. Kali ini bibirnya mengecup leher jenjang Reva membuat bulu kuduk Reva meremang.


“Mas, ira masih belum pulang…” Ujar Reva seraya terengah menahan gairah saat Raka menyentuh lembut bagian-bagian tubuhnya.


“Hem… aku gag peduli.”


Bukan Raka namanya kalau dia mulai peduli pada hal lain selain Reva. Ia semakin bersemangat menggoda Reva dengan mengecup kecil-kecil telinga dan pipi Reva.


“Bu… oh maaf..” Ujar Ira yang segera berbalik dan keluar ruangan Reva.


“Tuh kan…” ujar Reva yang sadar Ira baru saja melihat adegan tidak seharusnya itu.


“Kenapa, aku kan suami kamu sayang…” Raka tidak peduli dengan Reva yang melototinya.


“Okey, aku tunggu di bawah aja.” Akhirnya Raka menyerah. Ia mengecup bibir Reva sebelum benar-benar pergi. Reva hanya menggeleng seraya tersenyum melihat kelakuan sang suami.


“Ira, masuk aja…” panggil Reva.


Terlihat Ira yang masuk sambil tertunduk. Tidak ada lagi adegan 18+ yang dilihatnya. Ia hanya melihat sorot mata tajam Raka yang tertuju padanya. Wajahnya dingin, sangat jauh berbeda saat Raka bersama Reva.


“Lain kali, ketuk pintu sebelum masuk.” ujar Raka saat ia berpapasan dengan Ira.


“Maaf pak,,” hanya itu jawaban Ira.


****


Hari ini adalah hari kepulangan Alea. Nida dan Indra serta Reva, Raka dan Fery, menunggu di luar pintu lapas. Jam 9 pagi pintu lapas di buka. Tampak Alea yang keluar dengan di antar seorang petugas wanita. Di tangannya ia membawa tas kecil yang berisi baju Alea selama di sana.


Alea berusaha tersenyum saat melihat wajah-wajah yang menunggunya pulang. Ia menoleh sejenak untuk menyeka air mata yang tiba-tiba saja menetes tanpa di minta.

__ADS_1


“Alea, ini hari baru kamu. Mulai lah semuanya dari awal.” Batin Alea seraya melangkahkan kakinya menghampiri keluarganya.


Nida dan Indra tidak bisa menahan laju air matanya. Saat Alea tepat di depan matanya.


“Mih, pih, apa kabar?” tanya Alea dengan suara berat.


Air mata Nida semakin berurai. Tanggannya bergerak untuk menyentuh wajah yang selama ini sangat ia rindukan. Bibirnya bergetar namun suaranya nyaris tidak terdengar.


“Baik, sayang. Kamu apa kabar nak?” mendengar ucapan Nida, Alea hanya bisa tertunduk. Dadanya sesak menahan tangis yang sedari tadi pagi di tahannya.


Tak ada suara di antara mereka. Nida segera memeluk Alea dengan erat. Ia menangis sejadinya di bahu Alea. Diikuti Indra yang memeluk keduanya dengan erat. Putrinya telah pulang, tidak ada kalimat yang bisa menjelaskan betapa ia sangat bahagia saat ini.


Reva ikut terlarut dalam suasana haru ini. Raka meraih tangan Reva dan menyelipkan jemarinya di sela jari Reva. Ia ingin menguatkan istri tercintanya. Betapa pun ia sering menemui Alea, ternyata tidak lantas menghilangkan rasa rindunya begitu saja.


Melepas rindu dengan Nida dan Indra, nyatanya memang tidak ada habisnya. Perhatian Alea kini beralih pada Reva dan Raka.


“Hay..” sapa Alea yang di angguki Reva. Ia memeluk sang adik dengan erat. Bersyukur memiliki Reva adalah perasaan pertama yang di rasakan Alea saat mata sejuk Reva menatapnya dengan lekat.


Beralih pada Raka yang kini juga menatapanya. “Lo jaga reva dengan baik kan? Kenapa dia keliatan kurus dan pucat hah?” tanya Alea seraya meninju dada Raka. Raka hanya terkekeh.


“Welcome home lea…” sahut Raka seraya mengulurkan tangannya pada Alea.


“Hem.. thank you..” Alea menyambut uluran tangan Raka.


Fery yang sedari tadi terpaku melihat Alea, rasanya matanya tidak pernah berkedip sejak Alea keluar dari pintu lapas. Fery tersenyum dengan mata yang memerah. Fery mengulurkan tangannya namun siapa sangka Alea malah berhambur memeluk Fery dengan erat. Sesuatu yang ingin Alea lakukan sejak pertama kali Fery mengatakan kalau dia akan menunggu Alea pulang.


Fery tidak bisa menahan gejolak perasaannya. Ia membalas pelukan Alea seraya mengusap pucuk kepalanya dengan lembut.


“Great girl, you’re stronger than you know, hem…” bisik Fery dengan lembut.


“Cause you’re by my side.” Timpal Alea.


Biarkan sejenak saja mereka terlarut dalam kerinduan. Indra yang awalnya melotot pun, hanya bisa menghela nafas seraya menggelengkan kepalanya. Sebentar lagi, putri sulungnya akan berpindah tangan, dan ia kembali harus menyiapkan mentalnya.


****

__ADS_1


__ADS_2