
Hari libur hari yang menyenangkan untuk sekedar bermalas-malasan memanjakan diri dan selama beberapa hari ini merasa kelelahan. Sayangnya, ini tidak berlaku bagi Alea. Ia sudah berdandan cantik dan berniat untuk pergi. Ia memutuskan untuk pergi ke rumah Edho yang berada cukup jauh dari kediaman Wijaya.
“Sayang, kamu bisa kan makan siang di rumah? Nanti mau ada tante Niken sama om wira ke sini.” Ujar Nida yang sebenarnya tidak ingin Alea pergi.
“Aku ada janji sama temen mih, tapi aku usahain pulang cepet yaaa…” Alea mengusap bahu Nida yang menghalangi jalannya. “Hari ini baru ngobrol-ngobrol aja kan mih sama keluarga om wira?”
“Iya sayang,…” Nida terlihat sendu.
“Kalo aku gag keburu pulang, mamih gag usah nungguin. Yang jelas aku gag masalah kalo lana nikah duluan okey…” Alea memberikan senyumannya untuk menenangkan hati Nida. Namun bukan seorang ibu namanya jika tidak memahami lubuk hati terdalam putrinya. Tapi paling tidak, Nida yakin Alea sedang berusaha untuk benar-benar ikhlas melepaskan Raka untuk sang adik.
“Iya sayang, makasih.. Kamu putri kebanggaan mamih.” Nida memeluk Alea dengan erat. Alea hanya terangguk sambil berusaha tersenyum.
Setelah Nida melepaskan pelukannya, Alea bergegas pergi. Ia membawa mobilnya pergi menuju rumah Edho dengan kecepatan tinggi. Suara musik terdengar sangat nyaring memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya.
“AAAARRGGHHHH!!!!!”
Alea berteriak sekerasnya. Ia ingin melepaskan semua rasa sakit dan kecewa yang ia rasakan saat ini. Ia terbiasa mendapatkan apapun yang ia mau, tidak ada yang tidak bisa menjadi miliknya tapi hatinya benar-benar hancur, saat mendapati sesuatu hal yang sangat penting baginya tidak akan pernah bisa menjadi miliknya.
“Kenapa? Kenapaaaaaaa?!!!! Apa kurangnya gue hah? Kenapa?!!!” teriak Alea yang entah di tujukan pada siapa.
Sampai di halaman sebuah rumah mewah, Alea menginjak pedal remnya kuat-kuat. Ia tertunduk di atas kemudinya dengan nafas yang tak beraturan. Masih terlihat sisa-sisa air mata di wajah putihnya. Ia mengangkat wajahnya mengingat suasana saat ia kembali bertemu Raka di pesta ulang tahunnya.
Alea mengambil handphonenya dan memandangi sketsa wajahnya yang diberikan oleh Raka sebagai hadiah ulang tahunnya. Begitu sulitnya bagi Alea untuk mendapatkan sketsa ini. Raka hanya mau menggambar Lana, dan baru di ulang tahunnya yang ke 27 ini Raka bersedia menggambar wajahnya. Saat itu Alea benar-benar bahagia. Ia berharap, itu pertanda Raka sudah membuka hati untuk dirinya. Namun nyatanya semua tidak seperti yang ia bayangkan.
Alea kembali memekik, terasa sakit ya sangat sakit. Penantiannya bertahun-tahun lamanya, hanya menjadi waktu yang sia-sia. Ia selalu ingat, saat Lana seorang yang menjadi poros bagi Raka. Raka menggandeng tangannya, mendengarkan celotehnya, menghiburnya saat menangis, mengerjainnya hingga marah bahkan memeluk dan menjaganya seolah Lana adalah sesuatu paling berharga dalam hidup Raka. Tidak ada tempat bagi Alea sama sekali bahkan rasanya ia tidak diberikan hak untuk sekedar berharap.
****
Di tempat inilah Alea sekarang. Ia berdiam diri di kamar yang biasa ia tempati sebelum kedua orang tuanya pulang. Saat masuk ke rumah Edho, ia mengabaikan semua pertanyaan kakak sepupunya dan memilih masuk ke kamarnya. Ia tidak peduli berapa kali Edho bertanya dan mengetuk pintunya.
“Lea, lo buka pintunya sebentar, kita perlu ngomong…” Lagi, Edho hanya bisa merajuk tapi tetap tidak di tanggapi oleh Alea.
Edho menyerah, sepertinya Alea memang butuh waktu untuk sendiri. Walau selama ini hanya ia tempat Alea bercerita, tapi baru kali ini ia melihat Alea bersikap sangat ekstrim. Dengan berat hati, Edho meninggalkan Alea seraya berharap semuanya baik-baik saja.
Di balik pintu, Alea terduduk di lantai di samping tempat tidur seraya memeluk kedua lututnya. Ia membenamkan wajahnya di sela lututnya. Ia masih terisak di temani 6 botol minum yang sebagian sudah tandas. Seberapapun ia mabuk, bayangan wajah Raka tak bisa hilang dari pikirannya.
Handphone Alea terus berdering dengan nama Indra dan Nida yang muncul bergantian tampil di layar handphonenya. Ia mengabaikan semuanya. Untuk ikhlas memang sangat sulit.
Saat deringan telponnya berhenti, dengan tangan bergetar, ia meraih benda persegi tersebut. Ia mencari sebuah nama lalu menghubunginya.
“Ya lea…” suara yang tak asing menjawab pangggilan Alea.
__ADS_1
Alea terisak sejenak sebelum berucap. “Fer, bisa temenin gue sebentar?” ujar Alea dengan suara bergetar.
“Astaga, lea lo kenapa? Lo dimana sekarang?” Fery terdengar kalang kabut. Alea menutup telponnya begitu saja lalu mengetikkan pesan singkat untuk Fery. Handphonepun jatuh tergeletak bersamaan dengan Alea yang terbaring lemah.
Alea terbaring dengan tetesan air mata yang masih menetes melewati hidung bangirnya. Bibirnya melengkungkan sebuah senyuman pilu, betapa cinta memang tidak pernah berpihak padanya. Ia berusaha memejamkan matanya, berharap bisa melupakan rasa sakit yang tidak pernah bisa ia hapuskan.
****
Fery sudah seperti orang gila melajukan mobilnya. Klakson dan lampu sein bergantian ia tekan. Ia merutuki setiap kendaraan dan lampu merah yang menghalangi jalannya. Yang terbayang dalam pikirannya, Alea yang angkuh sedang berada di ujung jalan menuju jurang kehidupannya.
30 menit terasa begitu lama bagi Fery untuk sampai di rumah Edho.
“Mana lea?” tanya Fery tanpa permisi.
“Di kamarnya…” Edho gelagapan tidak mengerti.
“Dimana kamarnya?!” gertak Fery tanpa ragu.
Edho paham benar rasa panik Fery. Ia segera berlari menuju kamar Alea.
“Lea… ini gue fery…” ujar Fery seraya mengetuk daun pintu berwarna putih tersebut.
Tidak ada jawaban dari Alea. Fery dan Edho saling berpandangan, seolah mengerti maksud tatapan masing-masing dengan kaki kanannya ia menendang pintu dan berusaha mendobraknya.
“Astaga lea!” teriak Edho dan Fery nyaris bersamaan.
Fery segera menghampiri Alea. Ia menepuk pipi Alea perlahan.
“Lea, bangun lea….” Lanjut Fery dengan cemas.
Perlahan mata Alea mengerjap. Ia menatap Fery dengan seksama lalu ia tersenyum dengan sangat manis.
“Raka kamu datang?” lirih Alea yang berusaha bangkit dengan sisa tenaganya.
Fery melirik Edho yang berdiri di depan pintu, Edho hanya mengangguk, seolah membiarkan Alea menganggap Raka yang datang menemuinya. Fery membantu Alea untuk duduk dan dalam seketika Alea memeluk Fery dengan erat.
“Aku benci sama kamu raka, aku benci!! Kenapa kamu gag pernah mengerti perasaan aku? Kenapa kamu gag pernah ngasih tempat sedikitpun untuk aku? Kenapa selalu lana, lana dan lana yang menjadi poros hidup kamu? Kenapa raka, kenapa?” Alea memukuli dada bidang Fery.
Fery tidak menjawab sedikitpun. Ia memeluk alea dengan erat, ia mengerti benar kesedihan Alea.
“Ssttt… lea, tenang lea….” Ujar Fery seraya mengusap kepala Alea dengan lembut. Alea membenamkan wajahnya di dada Fery. Ia masih bisa mendengar sedikit isakan Alea.
__ADS_1
Seingat Fery, Alea adalah seorang gadis yang angkuh dan keras kepala. Ia tidak pernah menunjukkan kelemahannya pada siapapun. Sejak kecil, berbicara kasar dan mengumpat hanya satu-satunya cara yang dilakukan Alea untuk meluapkan emosinya termasuk saat ia bersedih. Fery tidak pernah melihat Alea menangis sekalipun, meski ia pernah merasa sangat kecewa pada kedua orang tuanya.
Melihat Alea saat ini, hati Fery tergerak, ia merasa benar-benar tidak tega. Gadis keras kepala ini terkulai tidak berdaya dalam pelukannya.
Setelah Alea tenang, Fery membaringkan Alea di tempat tidurnya. Ia memandangi wajah cantik yang kini tengah terlelap. Tangannya tergerak menyibak helaian anak rambut yang menutupi wajah Alea.
“Lo harus kuat lea, seperti biasanya…” lirih Fery.
*****
Nida berjalan mondar mandir di depan rumahnya. Ia terus memandang ke arah pintu gerbang menunggu anak sulungnya pulang. Namun nihil, hingga keluarga Wira datang lebih dulu, Alea masih belum kunjung datang.
Nida dan Indra menyambut dengan ramah saat keluarga Wira datang. Mereka saling berangkulan melepas kebahagiaan. Hingga di ruang tamu, suara tawa sangat jelas terdengar mengisi ruangan.
Tak berselang lama, Reva turun bersama Nida. Ia terlihat cantik dengan dress selututnya. Ia duduk di samping Nida dan tidak pernah lepas dari pandangan Raka yang menatap kagum gadis cantik di hadapannya. Reva hanya tertunduk saat Niken memuji kecantikan putri sekaligus calon menantunya.
Suasana riuh penuh candapun berubah menjadi sedikit lebih serius.
“Kita sama-sama baru pertama kali melaksanakan acara seperti ini. Kira-kira seperti apa acaranya nanti?” Indralah yang memulai perbincangan serius tersebut.
“Wah kalau saya fikir, sebaiknya mereka langsung menikah saja. Toh kita sudah sama-sama cocok. Selagi tubuh masih kuat, saya ingin dikelilingi cucu-cucu yang lucu dan menggemaskan.” Sahut Wira yang di sambut tawa senang dari Indra.
Reva melirik Raka yang sedari tadi hanya terdiam. Ia berusaha mengingatkan Raka atas kesepakatannya untuk bertunangan terlebih dahulu.
Raka mengerti benar arti tatapan sang kekasih. Ia tersenyum penuh arti, kalau saja bisa ia ingin sesegera mungkin menikahi gadisnya.
“Pah, om… mungkin ada baiknya saya dan lana bertunangan dulu. Kamipun harus menyiapkan mental kami ke jenjang tersebut.” Tutur Raka yang diangguki setuju oleh Reva.
“Hem… Gimana wira? Sepertinya punya cucu tidak bisa secepat harapan kita.” Ungkap Indra yang kembali di sambut senyuman seisi ruangan.
“Tidak masalah kalau mereka mau tuangan dulu. Hanya mungkin waktunya yang jangan terlalu lama.” Wira menatap Raka dan Reva bergantian. Ia serasa dejavu, teringat akan saat ia datang melamar Niken dulu. “Gimana kalau tunangan kita laksanakan minggu depan, dan pernikahan satu bulan kemudian?” lanjut Wira yang sudah ingin mewujudkan mimpinya.
“Wah saya setuju… Gimana raka, lana?”
Kali ini Reva dan Raka yang saling bertatapan. Pilihan kini ada di tangan mereka. Dengan keyakinan hati , mereka membulatkan tekad.
“Iyaa…” sahut Reva dan Raka bersamaan.
“Hahahahha…. Akhirnya kita jadi keluarga besar…” seru Indra dengan semangat. Ia berangkulan bersama Wira.
Niken tampak bahagia dan memeluk Nida dengan erat. Kelak mereka tidak hanya jadi sahabat tapi besan dan keluarga besar. Niken dan Nida pun memeluk dan mencium putri kesayangan mereka bergantian. Tak terkecuali Raka yang di rangkul erat oleh Wira dan Indra.
__ADS_1
****