Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 107


__ADS_3

Alea tengah terduduk sendirian di salah satu sudut ruang tunggu. Tidak ada seorangpun yang memperdulikan keadaannya. Begitupun dirinya, ia tidak peduli saat setiap pasang mata memandanginya dengan penuh tanya.


Tangan Alea masih bersimbah darah yang kini mulai mengering. Kilatan kejadian siang tadi tidak pernah lekang dari ingatannya. Ingatan saat ia memberitahukan semua kenyataan masa kecilnya pada Reva.


Perlakuan Indra dan Niken memang sangat berbeda pada Alea dan Alana. Sejak kecil, Alea di didik sebagai seorang anak dengan latar belakang keluarga terpandang. Segala hal bisa ia dapatkan bahkan sebelum ia memintanya. Indra dan Nida benar-benar memikirkan setiap kebutuhan Alea, mereka tidak ingin putri sulungnya merasakan kekurangan apapun.


Namun bersamaan dengan itu, Alea merasakan tuntutan yang sangat besar dari kedua orang tuanya. Alea kecil seolah di paksa untuk dewasa sebelum usianya. Ia bertanggung jawab atas masa depan dirinya dan keluarganya. Ia adalah seorang putri yang kelak harus memberikan kebanggan bagi kedua orang tuanya tanpa boleh memperlihatkan sekalipun kegagalan dalam hidupnya.


Alea bekerja sangat keras untuk mewujudkan tuntutan yang diberikan kedua orang tuanya tanpa mereka sadari. Nida dan Indra cenderung lebih bertanya prestasi di sekolah Alea di banding apa ia berteman dengan baik di sekolah, apa ia senang berada di sekolah tersebut dan apa ia menghadapi kesulitan di sekolahnya.


Tidak ada perhatian mendalam mengenai perasaan Alea. Alea benar-benar di didik dengan keras, ia adalah seorang kakak yang harus menjadi pondasi untuk adik-adiknya kelak.


Indra dan Nida yang saat itu sama-sama bekerja, di sibukkan dengan segudang pekerjaan yang seolah tidak pernah ada habisnya. Keduanya sibuk berlomba meraih apa yang mereka targetkan dalam pekerjaan. Mereka berharap kelak bisa memiliki seorang anak laki-laki yang bisa meneruskan kerajaan bisnis Wijaya yang tidak hanya berkembang di dalam melainkan juga di luar negri.


Alea sangat takut tersingkir. Ia berusaha sangat keras agar ia selalu menjadi satu-satunya putri yang membanggakan bagi kelurga Wijaya. Tidak boleh ada yang menyainginya dan membuat Indra merasakan kebanggan lebih dari kebanggaan yang bisa Alea berikan.


Semua hal Alea lakukan, belajar dengan giat bahkan sekolah di luar negri demi selalu bisa bersama kedua orang tuanya yang tengah di sibukkan dengan kerajaan bisnisnya. Alea tenggelam dalam sebuah kompetisi yang Ia ciptakan sendiri hingga ia lupa, apa sebenarnya yang ia inginkan dan ia butuhkan.


Hadirnya Alana di tengah-tengah keluarga Wijaya nyatanya merubah banyak hal. Perhatian Nida dan Indra mulai terbagi. Meski Nida dan Indra telah menitipkan Alana pada sahabatnya, namun perhatiannya pada gadis kecil yang kerap sakit-sakitan itu tidak pernah surut.


Alana memang tidak sekuat sang kakak. Ia gadis kecil lemah yang sangat mudah merajuk dan bermanja. Limpahan kasih sayang seolah hanya menjadi satu-satu yang ia butuhkan untuk melewati hari demi hari kehidupannya. Namun Alana bahagia, ia seolah menjadi poros perhatian 2 keluarga.


Air mata itu kembali menetes di tangan Alea. Kali ini ia baru merasakan bahwa semua yang ia lakukan di masa lalu hanya membuatnya lelah. Tidak ada perasaan lain yang menghinggapi dadanya selain sebuah penyesalan. Penyesalan karena ia telah merusak semua kebanggan Indra dan Nida yang selalu menjadi alasannya untuk bertahan.


Tamparan Indra masih terasa dengan jelas di wajah Alea. Ia baru tersadar, rasa sakit yang saat ini di tanggung Alana, iapun merasakannya. Ia bisa mengingat bagaimana Alana menghadang tumpukan kayu itu untuknya. Bagaimana Alana menggunakan tubuhnya demi melindungi Alea dari marabahaya yang menganca,nya.


Dada Alea terasa sesak, bagaimana ia harus menghadapi Alana nanti. Maaf, apa kata itu akan cukup menghapus semua kesalahannya?


Andai saja semua bisa di ulang.


Terdengar suara derap kaki yang menghampiri Alea. Seseorang duduk di samping Alea dan meraih tangan Alea tanpa permisi. Dialah Fery.

__ADS_1


Ia membawa seember kecil air hangat dan handuk di tangannya. Ia membersihkan tangan Alea dari sisa-sisa darah. Alea terpekik, hanya laki-laki tidak selevel dengannya ini yang kini peduli padanya. Alea merasa tak layak mendapatkan perlakuan seperti ini dari Fery.


Alea menarik tangannya, namun Fery kembali meraih tangan Alea. Ia kembali membersihkan setiap sela jari Alea. Alea memandangi Fery dengan penuh tanya, mengapa Fery masih peduli dengannya. Namun Fery tak bergeming, ia pun tak membalas tatapan Alea. Ia fokus membersihkan tangan Alea hingga selesai.


Selesai membersihkan tangan Alea, pandangan Fery beralih pada sosok gadis yang tengah menatapnya penuh tanya dan sesal. Ia mengusap sisa air mata di wajah Alea. Bibir Alea bergetar menahan tangis yang hampir pecah.


“Lo harus kuat, bukan untuk orang lain tapi untuk diri lo sendiri. Setidaknya, lo punya tugas untuk minta maaf sama reva.” Tutur Fery yang kemudian beranjak hendak meningggalkan Alea.


Dalam beberapa saat Alea meraih tangan Fery yang sudah berdiri hendak meninggalkannya. Ia butuh Fery saat ini. Katakanlah ia egois, tapi untuk saat ini saja, ia tidak ingin di tinggalkan.


Fery kembali duduk. Ia menatap sepasang mata sembab nan merah itu dengan sekelumit perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Ia tau, Alea bukan tipe wanita yang suka di kasihani tapi kali ini, ia sangat rapuh. Tidak terlihat lagi keangkuhan seorang Alea yang biasa ia lihat.


Alea masuk ke pelukan Fery. Ia butuh tempat untuk bersandar dan menumpahkan kesedihannya. Dada bidang Fery terasa nyaman bagi Alea. Ia menangis sejadinya, tangis yang ia coba tahan sejak tadi, kini meluap begitu saja.


Fery mengusap punggung Alea dengan kaku. Ia masih belum bisa mencerna apa yang harus ia lakukan. Namun dalam hatinya ia yakin ia peduli pada Alea.


*****


“Kak lea… Main yuuukkkk” Lana terus memanggil-manggil  Alea dari luar kamarnya, namun sudah berkali-kali Lana memanggil, Alea tidak juga membuka pintu.


Setelah menunggu cukup lama akhirnya Alea membukakan pintu. Wajahnya terlihat dingin seperti biasanya.


“Kak lea….” Wajah Lana sangat sumeringah melihat Alea yang berdiri di hadapannya. “Kak, main yuk, aku bawa kue yang banyak dari rumah mamah niken. Ini aku yang bikin sama mamah niken.” Lanjut Alana seraya memberikan kue yang di buatnya pada Alea.


Alea mengambil satu cookies lalu melihatnya dengan seksama. Dahinya mengernyit membayangkan seperti apa rasa makanan di tangannya. Alea menggigit sedikit kuenya yang terasa sangat enak tapi ekspresi wajahnya tidak berubah sedikitpun.


“Masuk!” Alea membuka pintu kamarnya lebih lebar.


Mata Alana membulat sempurna dengan binar penuh kebahagiaan. Akhirnya Alea mau bermain dengannya. Biasanya Alea tidak pernah menanggapinya. Setiap Alana mengajak bermain, Alea pasti menolaknya dan memilih sendirian di kamar entah melakukan apa.


Dengan senang hati Alana melangkahkan kakinya ke kamar Alea. Kamar Alea tertata sangat resik. Boneka-boneka yang berjejer rapi di atas lemari kecil sangat berbeda dengan boneka miliknya yang sudah lecek karena selalu ia mainkan.

__ADS_1


Alea yang mulai beranjak remaja, memilih warna-warna tanah untuk kamarnya sangat jauh berbeda dengan kamar Reva yang di penuhi pernak-pernik anak kecil.


Mereka bermain cukup lama. Alana berceloteh dengan riang memainkan boneka kesayangannya. Berbeda dengan Alea yang bermain dengan buku-buku gambar dan membuat beberapa gambar dengan cat airnya.


“Kak, aku juga mau gambar…” Alana memperhatikan gambar yang di buat Alea, sangat menarik pikirnya.


“Aku cuma punya 1 buku gambar, kamu main boneka aja.” Sahut Alea tanpa menoleh sedikitpun. Alana kembali terdiam. Penolakan dari Alea sudah menjadi hal biasa baginya. “Kakak udah selesai mainnya, mau tidur siang. Kamu tidur aja di kamar kamu.” Alea mulai menutup buku gambarnya dan merapikan cat air yang ia pakai.


“Iya kak..” hanya itu jawaban dari Alana. Sudah pasti saat sang kakak ingin sendirian, Alana tidak akan bisa menolak.


Keluar dari kamar Alea, Lana memilih untuk menemui orang tuanya yang baru 2 hari pulang dari inggris. Alana berlari kecil menuju kamar Nida dengan pintu yang terbuka lebar.


“Tiketnya udah dapet mih?” suara Indra terdengar jelas dari luar kamarnya.


“Udah, nih.” Nida memberikan 3 lembar tiket pada Indra.


“Kok Cuma 3 mih? Bukannya kita akan ngajak lana juga pulang ke inggris?” Indra duduk di tepi tempat tidur sambil memegangi ketiga tiket pesawat tersebut. Melihat tatapan sang suami, Nida segera duduk di samping Indra.


“Pih, kayaknya kita belum bisa bawa lana deh. Dia masih kecil dan harus aku urus, sedangkan aku juga banyak kerjaan di sana. Dan lagi, di sini Niken bisa menjaga dia dengan baik.”


“Iya sih, dia masih kecil dan manja. Tapi kita udah bisa kan ngasih dia adik laki-laki?” ujar Indra seraya menarik Nida kepelukannya.


“Bisa, tapi gag sekarang yaa… Kalau aku hamil lagi, banyak proyek kita yang bakal terhambat.”


“Hemm,,, kamu benar… Andai saja putri kedua kita itu seorang anak laki-laki, aku pasti akan sangat bahagia. Kita memiliki keluarga yang sempurna dan penerus bisnis kita di masa mendatang.” Ujar Indra sambil mengeratkan pelukannya pada Nida.


Tanpa mereka sadari, gadis kecil itu mendengar semua pembicaraan mereka. Bukan baru kali ini saja Alana mendengar kata-kata itu. Ia seolah menjadi anak yang tidak diharapkan kedua orang tuanya.


Alana berjalan dengan gontai menuju kamarnya. Hatinya kecilnya kembali terluka. Walau ia baru akan menjelang usia 5 tahun, Alana bisa mengerti setiap pembicaraan kedua orang tuanya tentang dirinya. Nida dan Indra lebih sering tinggal di inggris mengurus kerajaan bisnisnya dan Alea ikut tinggal bahkan bersekolah di sana. Hanya sesekali mereka pulang. Dan keluarga Adiyaksa adalah satu-satunya keluarga yang dipercaya untuk menjaga Alana dengan penuh kasih.


“Lana udah gag ngompol. Lana juga bisa makan dan mandi sendiri. Lana udah bisa baca dan berhitung. Lana gag akan ngerepotin papih dan mamih. Tapi kenapa papih dan mamih gag mau ngajak lana pergi?” kata-kata itu berulang diucapkan Alana dalam hatinya.

__ADS_1


Sampai di kamarnya, Alana duduk sendirian di samping tempat tidurnya. Ia memeluk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya di sana. Ia menangis sendirian. Andai ia bisa mejadi anak yang diinginkan Indra dan Nida, mungkin ia tidak akan sendirian seperti ini.


****


__ADS_2