Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 137


__ADS_3

Acara peresmian Resort resmi di gelar. 2 keluarga besar berangkat bersama-sama ke Bali dan tentu saja di tambah Fery. Ia masih dalam misinya membuat pembuktian pada Indra.


Sore ini, sebelum acara di gelar nanti malam, Reva mengajak kedua ibunya dan Alea untuk ber-spa ria. Mereka ingin me-rileks kan tubuhnya yang terasa remuk redam dengan aktivitas yang seperti tidak ada hentinya.


Niken dan Nida meminta ruangan privat untuk mereka. Tentu saja ada banyak bahan obrolan untuk 2 ibu nyentrik itu. Dan Reva berada di ruangan yang sama dengan Alea. Mereka berada di bed spa yang berdampingan, agar masih tetap berbincang sambil menikmati sensasi pijat yang menenangkan dari para therapist.


Alea membuka-buka akun media sosial panti milik Reva. Ia memang sengaja membuat akun ini untuk mempermudah informasi dan kegiatan yang biasa di adakan di panti. Akun media sosialnya sendiri di pegang oleh anak-anak panti yang jelas milenial. Mereka lebih terkini soal media sosial di banding Reva.


“De, gimana kemaren acara di panti, gue liat acaranya meriah banget.” Tanya Alea seraya melihat satu per satu foto kegiatan di sana.


“Iya kak lumayan meriah. Ada beberapa donatur yang ikut gabung. Gue juga gag ngerti mereka tau dari mana.” Sahut Reva yang mulai memejamkan matanya namun kesadarannya masih tetap penuh.


“Ya ini lah kecanggihan media sosial. Anak-anak lo emang pada pinter yaa masalah beginian.” Puji Alea seraya terkekeh.


“Iya kak, gue aja kalah kalo masalah publikasi lewat medsos begitu. Tiap hari mereka update, ada aja moment yang mereka bagiin.” Terang Reva yang tersenyum saat mengingat banyaknya postingan di media sosial panti.


Namun Alea tidak menangapi. Ia tengah sibuk memperhatikan salah satu fotonya yang rasanya ia kenal.


“De, ini theo kan?” tanya Alea yang sontak membuat mata Reva terbuka.


“Dimana?” Reva melihat benda persegi milik Alea. Benar saja itu adalah Theo. Ia terpotret sedang berjabat tangan dengan Ratna dan tertawa bersama beberapa anak.


Reva tidak menyahuti sedikitpun. Ia kembali memejamkan matanya.


“Lo kemaren ketemu sama theo de?” Alea benar-benar penasaran karena Reva tidak bercerita sedikitpun.


“Hem… dia jadi salah satu donatur.” Terang Reva dengan malas.


“Terus lo ngobrol sama dia?” Mata Alea membelalak tidak percaya.


Reva hanya terdiam, rasanya ia tidak perlu menjelaskannya pada Alea.


“Re, lo harus hati-hati sama theo. Dia tuh gag bisa di tebak.” Ujar Alea tiba-tiba.


“Lah bukannya dia temen lo kak?” kali ini Reva menatap Alea penuh tanya.


“Iya sih.. sebenernya nggak temen juga kalo sama gue.” Alea terlihat bingung menjelaskan. Namun melihat Reva yang menatapnya dengan penuh rasa penasaran, ya Alea hanya bisa bercerita seadanya.

__ADS_1


“Gue tau dia dari kak edho. Kalo gag salah dia pernah satu semester bareng kak edho. Ya mereka temenan karena sering nongkrong bareng di bar. Godain cewek-cewek lah ato liburan bareng lah, termasuk waktu ikut camping sama kita.” Terang Alea dengan gamblang.


“Terus yang gag bisa di tebaknya bagian yang mana, maemunah?” tanya Reva yang membuat para therapist menyunggingkan senyum.


“Issh elo yaa… Yang anehnya itu, walopun kak edho sering jalan sama dia, gag ada satupun yang kak edho tau tentang theo. Dia gag pernah sama sekali ngobrolin masalah pribadinya. Kabar temen-temen sekampus gue sih, dia anak pengusaha kaya di inggris. Duitnya gag ada digitnya. Tapi sempet diusir gitu sama orang tuanya.” Terang Alea yang sebenarnya tidak jelas. Entah dari mana ia dapat sumber gosip itu.


“Ah elo kak, ngegosip tapi gag jelas. Kurang materi lo ya?” ledek Reva.


“Ya kali gue sekolah di luar negri cuma buat nyari gossip!” cetus Alea yang di balas kekehan oleh Reva. “Tapi bener loh de, lo mesti ati-ati dan jangan aneh-aneh sama dia. Kita gag tau si theo tuh kayak gimana.” Alea benar-benar mencemaskan Reva. Terlebih ada kejadian yang tidak mengenakkan pernah Reva alami.


“Mana ada gue aneh-aneh sama orang, kerajinan banget. Hidup gue aja udah pusing, masih mau nyari perkara. Gag ada kerjaan banget.” Timpal Reva yang tetap membuat Alea merasa khawatiir.


“Ya udah lah, pokoknya lo hati-hati aja.” Lagi-lagi Alea memperingatkan, dan membuat Reva harus mulai waspada.


Tapi rasanya memang tidak ada yang aneh dengan Theo. Mereka berbicara sewajarnya dan jadi donatur pun memang bukan atas permintaannya.


“Ah bodo amat lah, gue mau tidur!” batin Reva.


*****


Sejenak ia menoleh Raka namun kembali tertunduk seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Raka bisa melihat sahabatnya ini tengah di landa kebingungan dan kegalauan.


Raka duduk di samping Fery, ikut menikmati minuman yang mereka simpan di hadapannya.


“Kenapa, om indra?” tanya Raka yang membuat Fery menghembuskan nafasnya kasar.


Ia tau sahabatnya sedang berada dalam posisi yang sulit. Karena Raka pun pernah berada dalam posisi yang sama. Menunjukkan diri sebagai seseorang yang layak itu sangat bermakna jamak. Setiap orang memiliki cara sendiri dalam menilai pencapaian seseorang, termasuk Indra.


“Gue mau nerusin perusahaan lo.” Ujar Fery tiba-tiba. Ia menatap Raka dengan yakin. Sepertinya ia memang harus meyakinkan dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum meyakinkan Indra.


Raka terangguk. Matanya tertuju pada riakan air kolam yang tampak tidak terlalu tenang. Sepertinya perasaan Fery lebih dari riakan itu. Dan dalam hatinya jelas ada arus yang deras karena perasaan yang berkecambuk.


“Lo tau, gue selalu percaya kalo lo mampu melakukan hal-hal yang besar termasuk meneruskan perjuangan om rudy. Tapi gue yakin, maksud om indra bukan hanya sebatas pembuktian lo secara financial yang membuat lo layak buat alea. Dan gue yakin, hati lo tau apa yang bisa lo lakuin buat alea.” terang Raka dengan santai.


Fery tenggelam dalam pikirannya. Benar, bukankah seorang ayah akan sangat bahagia kalau putrinya berada di samping seseorang yang bisa menjaganya dengan baik? Pikiran itu terlintas begitu saja.


“Gue masuk dulu.” Pamit Raka seraya menepuk bahu Fery. Sepertinya Fery butuh waktu untuk sendirian memikirkan semuanya. Ia yakin, saat Fery membutuhkan teman bicara, ia bisa berbicara kapanpun.

__ADS_1


Fery hanya terangguk dengan senyum tipis yang ia tujukan pada Raka. Setelah Raka pergi, Fery kembali dalam pikirannya.


Mengingat sosok ayah, rasanya Fery begitu merindukan Rudy. Laki-laki yang berjuang sendirian membesarkan anak semata wayang sejak ia bayi. Ibunda Fery memang meninggal setelah melahirkan Fery dan Wira menjadi satu-satunya yang menjadi penolong saat Rudy terpuruk.


Mengingat kebersamaan Rudy dan Wira, ia selalu teringat dengan kisah tak biasa ayahnya dengan Wira. Rudy adalah karyawan biasa yang bekerja di Adiyaksa sejak Adiyaksa didirikan hampir 30 tahun silam. Wira yang merupakan pucuk pimpinan saat itu memberikan tugas pada para pegawainya termasuk Rudy. Semua yang diberi tugas melakukan segala cara untuk mencapai targetnya hingga lupa bahwa hasil yang mereka capai hanya bisa maksimal saat di lakukan bersama-sama.


Ternyata, apa yang dipikirkan Wira juga di pikirkan Rudy. Rudy dengan teman-teman satu timnya bisa meraih target yang Wira berikan. Dan hal itulah yang menjadikan Rudy selama berpuluh tahun menjadi sahabat sekaligus orang kepercayaan Wira hingga saat ini.


Fery menghembuskan nafasnya perlahan. Saat mengingat sosok Rudy, hatinya selalu hangat. Rudy yang saat ini memilih untuk mengelola sebuah perkebunan sebagai hobinya, selalu membuat Fery merasakan kerinduan dan kehangatan kasih sayangnya. Seorang Rudy cukup membawa Fery pada titik ini dan seorang Alea, membuatnya yakin untuk melangkah ke masa depan.


Setelah pergolakan pikiran dan perasaannya, rasanya ucapan Raka benar. Yang diharapkan Indra bukan sebatas material atau finansial. Tapi bagaimana ia bisa menunjukkan pada Indra, bahwa ia layak untuk menjaga dan mendampingi Alea seumur hidupnya.


*****


Tepuk tangan yang gemuruh menyambut Indra yang kini berdiri di atas podium dengan pidato singkatnya yang memukau. Indra memang sangat kharismatik dengan segala kemampuannya dalam berbagai bisnis.


Setelah mendapat beragam pujian, mata Indra kini tertuju pada kedua putrinya yang tengah saling berpegangan tangan dengan mata yang berbinar-binar. Suatu pemandangan yang sangat membahagiakan di banding banyaknya pencapaian yang ia dapatkan. Melihat sosok Nida, Reva dan Alea, nyatanya ia sadar. Pencapaian tertingginya bukan lagi melulu tentang kerajaan bisnisnya. Tapi saat ia bisa berperan sebagai seorang ayah yang menyayangi dan membanggakan putrinya. Mereka hidup Indra dan mereka tempat Indra pulang.


Mata Indra terlihat berkaca-kaca, saat sang pengatur acara meminta Reva dan Alea untuk berdiri di samping Indra. Mereka berangkulan saling menunjukkan kasih sayang yang kuat di antara mereka.


Ini adalah pencapaian pertama bagi kakak beradik tersebut. Alea mengambil microphone yang disodorkan padanya. Ia memang diminta untuk memberikan speech-nya. Matanya berkaca-kaca seraya memandangi sosok sang adik yang tidak pernah ia lepaskan genggaman tangannya.


“Saya ucapkan terima kasih kepada semua tamu yang hadir. Kepada papih dan mamih. Raka dan Fery, dan tentu saja adik saya tercinta Reva.” Ujar Alea dengan suara bergetar di akhir kalimatnya.


Reva tersenyum tipis. Ia mengusap butiran air mata yang menetes di wajah cantik Alea. “Saya pernah berfikir, bahwa hidup itu hanya sebuah rutinitas dengan segala sesuatu yang bisa kita atur. Makan, minum, berjalan, berbicara atau hal lainnya. Semuanya terasa biasa dan tanpa kesan apapun. Hingga pada satu titik saya kehilangan semuanya. Saya merasa terpuruk dengan hilangnya hal biasa tersebut.” Alea menjeda kalimatnya dengan sebuah tarikan nafas dalam. Suasana riuh pun berubah hening seketika.


“Tapi, adanya orang-orang di sekitar saya mengubah semua pemikiran saya. Saya sadar, merasakan semuanya seperti hanya rutinitas karena saya tidak bahagia menjalani semuanya. Mereka membuat pikiran saya berbalik dan saat itu saya tau, saya hanya ingin pulang dan bersama mereka untuk waktu yang lama.” Alea terisak di akhir kalimatnya. Sejenak ia memeluk Reva dengan erat. Bahunya bergerak naik turun, memperlihatkan tangis yang jelas pecah.


Alea kembali meneruskan kalimatnya dengan sisa-sisa perasaan di dadanya. “Saya tidak ingin sendirian merasakan kebahagiaa ini. Untuk alasan itulah saya menyetujui untuk mewujudkan mimpi kami membuat tempat ini. Kami ingin tempat ini menjadi saksi kehangatan sebuah keluarga, sebuah tempat untuk kalian singgah dan merasakan pulang.” Tukas Alea.


Kembali tepuk tangan bergemuruh mengisi ball room yang sudah di sulap dengan indah. Tidak ada yang tidak merasa terharu. Alea masih memeluk Reva dengan erat. Ia bersyukur Reva telah membuka pikirannya dan menjadi salah satu alasan untuknya pulang.


****


 


Haayy.. d tunggu like dan komennya yaaa... makasih..

__ADS_1


__ADS_2