Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 96


__ADS_3

Handphone Reva berbunyi nyaring  saat ia dalam perjalanan pulang. Adalah Jeremy nama yang muncul di layar hanndphonenya.


“Ya jer?”


“Re, riana mau lahiran, lo bisa ke sini gag? Nyokap gue sama nyokap riana gag berani nemenin katanya gag tega.” Ujar Jeremy dengan cepat.


“Oh ya udah, lo kirimin alamat rumah sakitnya, nanti gue ke sana.”


Panggilanpun terputus. Berkali-kali Reva menarik nafas dalam, ia sangat mencemaskan sahabatnya.


“Kenapa yang? Siapa yang sakit” Raka penasaran dengan perubahan ekspresi Reva yang sangat cepat.


“Riana mau lahiran katanya mas. Ini jeremy udah ngirim alamat rumah sakitnya.” Reva menunjukkan alamat rumah sakit dengan tangan gemetar.


Terlihat senyuman tipis di wajah Raka. Ternyata kekasihnya bisa segugup ini juga.


“Ya udah, kita ke sana sekarang. Tapi kamu tenangin diri kamu sendiri dulu. Masa mau nemenin tapi kamunya gugup gitu..” ujar Raka seraya menggenggam tangan Reva yang gemetaran.


“Iya mas, astaga kok aku jadi gugup gini ya….” Reva terus berusaha menenangkan dirinya. Setelah beberapa kali melakukan eks hale dan in hale akhirnya ia bisa mengendalikan dirinya.


Selama kehamilannya Riana memang sering mengeluhkan sakit perut seperti mau lahiran, tapi menurut dokter itu karena gerak janin yang sangat aktif. Setelah beberapa minggu, akhirnya Riana benar-benar akan bertemu dengan jagoannya.


Raka memarkirkan mobilnya di depan UGD rumah sakit. Ia segera menanyakan keberadaan Riana pada petugas rumah sakit. Setelah mendapat petunjuk dari petugas, Reva dan Raka segera berlari menuju ruangan tempat Riana di rawat.


“Rii….” Reva segera menghampiri Riana yang sedang mengeluh kesakitan. Kedua orang tuanya menunggu di luar bersama Jeremy sementara Riana hanya di temani seorang perawat yang sedang mempersiapkan alat-alat untuk membantu persalinan.


“Re… sakit re….” Akhirnya tangis Riana pecah. Setelah berjam-jam ia menguatkan dirinya sendiri saat ini ia sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya.


“Sssttt… Ri… lo itu kuat….” Tutur Reva seraya mengusap kepala Riana. Sebenarnya iapun merasa panik, tapi seperti pesan Raka, Ia harus kuat di depan Riana. “Lo udah berjuang sejauh ini.. Cuma beberapa lama lagi lo bakal ketemu sama jagoan lo ri…  Gue yakin sakit lo langsung hilang… jadi lo yang kuat ya…” lanjut Reva yang membuat Riana terangguk.


Walau terasa sangat sakit, tapi ada seseorang yang menemaninya membuat Riana semakin siap. Jeremypun sebenarnya sedari tadi menemani tapi karena terlalu cemas, hampir semua yang diminta Riana, Jeremy melakukan kesalahan yang membuat Riana semakin kesal.


“Cewek lo udah kayak pernah lahiran aja…” Cetus Jeremy sambil menatap Riana yang mulai tenang.


“Lo gag tau aja sepanjang jalan dia googling cara menemani ibu bersalin lah, cara merawat bayi baru lahir lah, sampe nanya online ke aplikasi layanan dokter gitu. Baru dia bisa tenang.” Ungkap Raka mengenang selama perjalanan Reva sibuk searching tentang persalinan.


Dan melihat Reva saat ini, kekaguman Raka semakin bertambah. Kekasihnya memang seorang yang hangat dan memiliki kepedulian tinggi. Tidak hanya pada keluarga atau sahabatnya juga pada orang lain yang bahkan tidak ia kenal.

__ADS_1


****


Melewati waktu satu jam berjuang, akhirnya suara tangis bayi terdengar begitu nyaring. Jeremy dan keluarganya tak henti mengucap rasa syukur. Mereka sudah tidak sabar ingin masuk ke dalam ruangan, namun saat seorang dokter keluar, ia mengatakan kalau bayinya sedang dibersihkan dan dalam kondisi sehat dan sempurna.


“Selamat ya bro, lo udah jadi seorang bapak.” Raka mengulurkan tangannya pada Jeremy tanpa di duga Jeremy justru merangkul Raka dan memeluknya dengan erat.


“Makasih bro, makasih…” ungkap Jeremy yang terlihat begitu terharu hingga menangis. Ia benar-benar tidak bisa menggambarkan perasaan bahagianya saat ini. Keluarga kecil ini kini sudah semakin lengkap dengan hadirnya seorang jagoan kecil.


Raka menepuk bahu Jeremy perlahan, iapun bisa merasakan aura bahagia yang terpancar dari Jeremy dan keluarganya.


“Silakan pak, sudah bisa masuk..” Suara seorang perawat membuat Jeremy semakin tak sabar melihat sang istri dan jagoan kecilnya.


Dengan langkah cepat Jeremy segera masuk bersama kedua orang tuanya yang tidak henti menangis.


Saat masuk ke dalam ruangan perawatan, tampak Jeremy junior sedang berada di atas dada Riana. Ia bergerak perlahan mencari sumber makanannya, sangat menggemaskan.


“Hay sayang….” Lirih Jeremy yang kemudian mengecup Riana dengan penuh kasih. Sungguh pemandangan yang indah. “Makasih ri, makasih udah berjuang buat anak kita…” lanjut Jeremy dengan suara bergetar.


“Sama-sama ayah, jaga kami baik-baik ya…” sahut Riana dengan air mata haru yang tak henti menetes.


“Tentu, dengan segenap jiwa dan raga…” janji Jeremy dengan penuh kesungguhan.


Reva bisa melihat raut kebahagiaan di wajah Riana dan keluarganya. Ia berharap, kelak ia pun bisa mendapatkan kesempatan untuk merasakan kebahagiaan ini.


****


Beberapa hari ini Reva disibukkan dengan proyek yang ditugaskan Indra. Di ruang kerja Alea saat ini mereka membahas dengan semangat proyek yang akan mereka buat. Jam-jam berlalu hingga hari menjelang malam.


Reva masih sibuk menggambar sketsa yang sebenarnya bukan kemampuannya. Tapi ia berusaha menggambarkan keinginan yang sebelumnya ia gambarkan lewat tulisan namun belum yakin untuk di serahkan pada para arsitek di kantornya.


Alea yang sejak tadi bergelut dengan angka-angka tampak sudah kekelahan. Ia tertidur di depan laptop yang masih menyala. Reva tersenyum melihat sang kakak yang sudah sangat bekerja keras.


Reva mengambil bantal kecil yang tadi ia gunakan untuk menopang punggungnya. Ia memindahkan beberapa berkas dan membantu Alea untuk pindah ke sofa. Reva menyelimuti sang kakak dengan jaket yang tadi di pakai Alea.


Reva kembali berkutat dengan pekerjaannya. Ia mulai memasukkan beberapa berkas seperti yang di ajarkan Edho tempo hari. Hanya masalah desain yang menurutnya sangat sulit.


Pintu ruangan Alea berderet, tampak Raka yang sudah datang untuk mengajak Reva pulang.

__ADS_1


“Sssttt..” Reva menaruh jari telunjuknya di bibir kemudian menunjuk Alea yang tengah tertidur. Raka mengangguk paham. Ia berjalan mendekati Reva yang tampak lelah dengan pekerjaannya.


“Gimana, udah ada progres baru?” ujar Raka setengah berbisik. Tak lupa ia mendaratkan sebuah kecupan di kening sang kekasih.


“Kita ngobrol di balkon aja, biar gag ganggu kak lea…” Reva beranjak dari duduknya dan membawa kertas desain yang masih acak-acakan.


Raka mengikuti saja langkah kaki sang kekasih. Di depan balkon dengan semilir angin malam Reva memperlihatkan desain yang ia bikin.


“Kayak gambar anak TK gag sih mas?” Reva terkekeh sendiri melihat gambar yang dibuatnya.


Raka ingin ikut tertawa tapi ia tahu kekasihnya sudah sangat bekerja keras menuangkan idenya. Raka berdiri di belakang Reva, bersama-sama memandangi gambar buatan Reva.


“Yang ini apa re?” tunjuk Raka pada salah satu bagian.


“Ini tuh maksudnya kolam arus… Dan ini sekoci-sekoci kecilnya…” terang Reva dengan semangat.


Ia menceritakan dengan detail konsep yang dibuatnya, Raka menyimak dengan serius. Sesekali mereka tertawa saat melihat gambar yang sangat jauh dari maksud Reva.


“Kamu bisa pake narasi re buat di sampein ke arsiteknya…” saran Raka yang mendapat gambaran dari konsep Reva.


“Iya udah mas, jadi gambar ini nanti ada penjelasannya. Makanya aku kasih kode-kode gitu.” Tutur Reva yang kembali terkekeh dengan gambar absurbnya.


“Good job, aku yakin om indra bakal suka sama konsep kamu.” Puji Raka seraya memeluk Reva dari belakang. Ia menempatkan dagunya di bahu kanan Reva.


“Mas jangan gini ah, gag enak di liat kak lea..”


“Ya ampun, di luar negri lea udah sering liat lebih dari ini kali re..” lirih Raka dengan nafas yang menerpa leher Reva membuatnya bergidik.


“Ya tapi beda, di sini kantor loh ya…”


“Gag ada bedanya, yang liat sama-sama lea..” Raka benar-benar tidak mau mengalah.


“Isshh jauh-jauh sih mas…”


“Kamu yakin mau aku jauh-jauh?” Raka menatap Reva dengan lekat. Reva menggeleng pelan, ia tersipu, betapa Raka selalu berhasil membuatnya terpaku.


Obrolan demi obrolan di dengar oleh Alea. Kedua matanya sedari tadi terbuka tepat saat Raka membukakan pintu. Alea membalik tubuhnya membelakangi pemandangan yang membuat hatinya berdenyut ngilu. Ia tak rela ya tak rela dan air mata itu menetes begitu saja walau ia coba tahan.

__ADS_1


****


__ADS_2