
“Apa perut lo laper?” tanya Jeremy yang mendengar suara perut Riana yang keroncongan. Riana hanya terdiam, ia memalingkan wajahnya melihat keluar jendela mobil Jeremy.
Jeremy melirik Riana yang duduk di sampingnya. Riana yang beberapa hari ia temui sangat berbeda dengan Riana saat ini. Tangannya tersilang di depan dada, seolah tidak peduli dengan apapun yang dilakukan dan diucapkan Jeremy.
Jeremy menepikan mobilnya di sebuah restoran cepat saji. Ia tau, ini adalah salah satu makanan favorit Riana dan Reva.
“Yang bikin gue sama Riana cocok adalah karena gue dan Riana sama-sama budak nasi. Lauk sebanyak apapun tanpa nasi, gag akan bikin kami kenyang.”
Jeremy terkenang ucapan Reva saat ia dengan semangat mendekatkan Riana dengan Jeremy. Kala itu, Jeremy hanya terfokus pada mulut Reva yang begitu lucu mengunyah setiap makanan yang masuk. Tanpa di sangka, pembicaraan yang menurutnya membosankan itu, kali ini sangat berguna. Jeremy selalu menganggap, kalau Reva hanya melakukan usaha yang sia-sia untuk mendekatkan dirinya dengan Riana.
Semua hal tentang Riana, di ceritakan Reva pada Jeremy yang ujung-ujungnya dia akan berkata “Gue yakin, lo bakal jadi cowok yang lebih baik kalo sama Riana. Bukan sama **** girl kayak gue.” Tutur Reva dengan tegas.
Betapa ia merasa beruntung pernah mengenal Reva. Walau kemudian, mungkin ia akan dilupakan seperti halnya Reva melupakan Adrian yang membuatnya kecewa.
“Ini…”
Jeremy menyerahkan sekantong makanan pada Riana. Riana hanya mendelik acuh, tapi tangannya spontan mengusap perutnya yang keroncongan. Wangi makanan yang menusuk hidungnya, berhasil membuat cacing-cacing di perutnya berdemo dan menabuh genderang perang.
“Lo udah janji sama Reva, bakal ngejaga anak lo baik-baik.” Lanjut Jeremy yang kembali melajukan mobilnya.
“Ya, makanan ini gue makan buat anak gue. Bukan buat siapa-siapa.” Sahut Riana dengan kesal.
Kalimat “Anak Lo” yang dilontarkan Jeremy berhasil membuat hati Riana kembali terasa sakit. Ia melahap makanannya dengan rakus. Dadanya terasa bergejolak menahan marah. Matanya berkaca-kaca menahan tangis yang hampir meleleh di sudut matanya.
Jeremy menyadarinya, perkatannya telah membuat luka baru di hati Riana.
“Sory ri, gue bener-bener belum bisa melakukan yang terbaik buat kita. Gue belum bisa menerima semua kenyataan ini.” Batin Jeremy seraya menatap perut Riana yang sedikit membuncit.
****
“Re, kemaren bu Lenna ngomelin gue di telpon. Katanya lo izin tapi hp lo malah gag aktif.” Bisik Tita saat menghampiri Reva di meja kerjanya.
Sesekali ia menoleh ruangan Lenna, khawatir yang dibicarakan muncul tiba-tiba.
“Hape gue rusak.” Sahut Reva tanpa menoleh Tita.
Ia mengintip meja Raka yang terlihat rapi tanpa sebuah berkas pun. Komputernya pun mati. Reva menghembuskan nafasnya perlahan, ia bisa lebih mudah keluar dari zona nyamannya.
Ya, melihat Raka, berbicara dengannya, makan bersamanya dan mendengar suaranya, tanpa Reva sadari sudah membuatnya nyaman. Dan sudah sangat kuat tekadnya untuk keluar dari zona nyaman tersebut. Alasannya tidak lain karena ia tidak mau kembali kecewa dan merasa diabaikan.
“Lo ganti lah re, jangan nunggu bu lenna ngomel lagi.” Ujar Tita yang masih betah duduk di samping Reva.
“Iya nanti sore gue nyari gantinya. Lo ngapain masih di sini, mau kerja boncengan sama gue?”
Reva menoleh Tita yang tampak betah duduk di sampingnya sambil menopang dagunya dengan kedua tangan.
“Sepi hidup gue re. satu-satunya cowok ganteng di ruangan ini pergi dinas keluar kota selama 2 hari.” Dengus Tita sambil menatap kursi Raka.
“Lo lupa ada gue di sini?”
Dimas memukulkan berkasnya ke lengan Tita.
“Iya lo cowok tapi gag ganteng!” ledek Tita dengan kesal. Ia mengusap tangannya yang terasa nyeri.
“Kasar lagi!” sambung Reva sambil terkekeh.
__ADS_1
“Ya ampun re, gue becanda kali… sama si Tita doang gue kayak gini, kalo sama lo, gue elus-elus deh…” timpal Dimas sambil mencondongkan tubuhnya pada Reva.
“Lo kira gue batu akik di elus-elus?!” Reva mendong tubuh Dimas agar menjauh darinya.
“Bukan lah, buat gue lo tuh berlian. Hope diamond.” Tutur Dimas dengan penuh penghayatan.
“Iya, berlian yang cuma bisa lo harapin tapi gag bisa lo miliki.” Timpal Tita.
“Eaaaaa…..” cetus Reva dan Tita sambil tergelak.
“Ah sialan lo kompor!”
Lagi-lagi Dimas memukul lengan Tita dengan berkasnya. Pelan sebenarnya, tapi Tita meringis dengan gaya hiperbolnya.
Mendengar kegaduhan di ruang karyawannya, Lenna berdehem dengan keras. Dimas dan kedua gadisnya langsung terdiam.
“Reva, ke ruangan saya!” seru Lenna dari telpon kantor yang terhubung ke meja Reva.
“Baik bu…”
Reva menggaruk kepalanya walau tidak gatal. Ia sudah bisa menebak apa yang akan etrjadi di ruangan bos nya.
****
Kembali dari ruangan Lenna, Reva membawa setumpuk berkas untuk ia kerjakan. Mata Tita dan Dimas ikut membelalak melihat tingginya tumpukan berkas melebihi tinggi komputer 24 inci. Selain ini, Reva pun mendapat ceramah gratis selama hampir satu jam di ruangan Lenna.
“Gila, banyak banget Re berkasnya…” cetus Tita yang kembali ke meja Reva.
“Gue kira lo mindahin candi prambanan ke sini.” Tambah Dimas seraya menghitung jumlah berkas yang bertumpuk di meja Reva.
“Udah lo pada balik ke meja masing-masing, sebelum ini candi prambanan berubah jadi menara eifel di meja lo.”
Reva mulai mengerjakan pekerjaannya. Hingga jam makan siang tiba, masih ada beberapa berkas lagi yang menyusul berpindah dari meja Lenna ke meja Reva. Makan siangpun terlewat, dan ia hanya memakan roti sisa yang ada di dalam kotak makannya dengan diam-diam.
Di belakang tubuhnya, Tita mempotret pekerjaan Reva dan menguploadnya ke media sosial miliknya.
“Project sangkuriang, semalem kelar. Semangat Re!!!” tulis Tita dengan emoticons strong dan hati di akhir tulisannya.
Satu per satu berkas Reva kerjakan. Berkas yang tertumpuk di sisi kiri berpindah ke sisi kanan saat sudah selesai dikerjakan. Jemarinya dengan lihai bercengkrama dengan keyboard. Jika itu sebah piano, entah berapa lagu yang sukses ia mainkan.
“Re, gue pulang duluan yaa…. Capek banget gue…” keluh Tita sambil bersandar pada lengan Dimas.
“iya lo duluan aja. Gue kayaknya lembur.” Sahut Reva dengan senyum yang masih terkembang di bibirnya.
“Semangat ya re, sory nih gue gag bisa nemenin. Ada nyokap soalnya di kost-an.” Sambung Dimas dengan penuh sesal, padahal ini saatnya untuk ia lebih dekat dengan Reva.
“It’s ok. Salam buat nyokap lo.” Reva tersenyum dengan ringan.
Kedua rekan kerjanyapun berlalu. Reva kembali terlarut dalam pekerjaannya.
****
“Huuaaahhh…”
Reva menguap terus menerus dalam setengah jam terakhir. Matanya mulai lelah dan badannya terasa sangat pegal. Reva melihat jam di pojok kanan monitornya, sudah jam 9 malam. Reva menggeliat, merenggangkan otot sendinya yang terasa kaku. Hanya lampu ruangannya yang masih menyala dengan suasana yang sangat sepi. Sesekali security mengecek kondisi ruangan dan menyapa Reva membuat Reva sedikit lega.
Reva memutuskan untuk ke pantry dan membuat kopi yang entah gelas ke berapa. Ia mengaduk kopinya sambil memiringkan lehernya ke kiri dan kanan. Ia juga berjongkok melakukan peregangan untuk kedua kakinya. Setelah cukup hilang pegalnya, Reva menyeruput kopinya dengan terlahan.
__ADS_1
Samar-samar Reva mendengar derap kaki yang berjalan ke arahnya. Ia menunduk, benar saja dari pantulan keramik lantai Reva melihat bayangan seseorang memakai topi berjalan ke arahnya tanpa suara. Reva bisa memperkirakan, jaraknya semakin dekat.
Reva memejamkan matanya, instingnya mulai berjalan. Tiba-tiba Reva memutar badannya dan melakukan tendangan twieo yeop chagi (Tendangan samping yang dilakukan sambil memutar) dan mengenai pipi kanan orang tersebut.
“Awww!!!” laki-laki itu pun mengaduh dan jatuh tergeletak. Ia memegangi pipinya yang memar dan mengeluarkan darah di sudut kanan bibirnya.
“Astaga Raka!” seru Reva saat menyadari seseorang itu adalah Raka.
Raka masih terbaring sambil memegangi pipinya yang terasa terbakar. Giginya rasanya akan tanggal seluruhnya.
“Lo kenapa ngendap-ngendap sih?” dengus Reva sambil berjongkok membantu Raka untuk berdiri. Raka masih terdiam, ia ikut saja kemanapun Reva membawanya.
Reva mendudukan Raka di salah satu kursi dan menatapnya dengan iba. “Coba gue liat…” tutur Reva sambil menarik perlahan tangan Raka.
Wajah Raka benar-benar memar. Dan bibirnya masih mengeluarkan darah. Reva segera mengambil kotak P3K dan air es. Ia membersihkan luka Raka dengan perlahan, sesekali Raka menyeringai karena kesakitan. Keputusannya untuk pulang lebih awal karena merindukan Reva, mendapat sambutan yang sangat tidak terduga.
“Sebentar lagi, biar gag sakit.” Ujar Reva seraya meniup lembut luka Raka.
Terasa seperti Dejavu. Raka begitu menikmati menatap lekat kedua manik hitam milik Reva. Wajahnya yang kemerahan, hidung yang begitu menggemaskan dan pipi yang membuatnya ingin sekali membelainya.
Reva menghentikan gerakannya. Ia menyentuh kepalanya yang terasa pusing secara tiba-tiba. Reva memejamkan matanya berkali-kali dan menggeleng mengusir rasa sakit di kepalanya.
“Apa lo inget sesuatu?” tanya Raka dengan suara seraknya.
Mata Reva beralih menatap Raka. Wajah ini, terasa pernah ia lihat sebelumnya.
“Aku mau yang rasa coklaat, bukan strawbery…” rengek Reva persis yang muncul di pikirannya.
Bayangan gadis kecil itu muncul begitu saja dan kata-kata itu Reva ucapkan begitu saja tanpa ia sadari.
Raka mengernyitkan dahinya, rengekan Reva mengingatkannya pada sebuah kejadian saat ia membujuk Lana yang jatuh dari sepeda. Agar tidak menangis, Raka berjanji memberinya es krim. Tapi Raka salah memilihkan rasa yang dipilih Lana hingga membuatnya merengek seperti yang dilakukan Reva tadi.
Raka memalingkan wajahnya dari hadapan Reva. Entah mengapa bayangan Lana muncul begitu saja di pikirannya.
Reva memijat pangkal hidungnya yang masih terasa sakit.
“Apa kita pernah ketemu sebelumnya?” tanya Reva yang masih tertunduk dengan rasa sakit yang tidak kunjung hilang.
“Pasar tradisional di Bogor, tanggal 18 maret lalu.” Jawab Raka seraya menatap Reva. Reva hanya terdiam. Berbagai bayangan muncul di pikirannya. “Lo mukul gue karena lo pikir gue copet. Tapi lo langsung minta maaf dan merawat luka gue tepat di tempat yang sama seperti sekarang.” Lanjut Raka yang tidak melepaskan pandangannya dari Reva. “Apa pertemuan kita juga sesuatu yang coba lo lupain?”
Reva tersentak. Ia tidak menyangka Raka mengetahui banyak hal tentang dirinya.
“Re, sesuatu yang buruk buat lo, belum tentu buruk buat orang lain. Lo coba lupain semuanya, tapi buat gue, saat bersama lo, itu sesuatu yang penting yang gag akan pernah gue lupain. Termasuk saat pertama kita ketemu.” Tutur Raka dengan penuh kesungguhan.
Kini, kedua mata Revapun menatap Raka dengan lekat. “Gue gag pernah berusahan lupain kejadian apapun sama lo. Gue cuma gag bisa nyimpan terlalu banyak kenangan yang mungkin suatu saat gag mau gue ingat lagi.” Terang Reva seraya beranjak dari duduknya.
Raka berusaha menahan tangan Reva agar tidak pergi tapi Reva tetap berbalik. Raka mengeratkan genggamannya.
“Kenapa lo selalu berfikir kalo semua akan berakhir dengan buruk? Kita belum memulai apapun tapi lo udah ngehindar.”
“Karena menutup luka lebih sulit buat gue di banding mencoba untuk gag terluka.”
Reva mengibaskan tangannya. Ia segera pergi meninggalkan Raka yang masih terdiam dan tertunduk lesu.
Raka menyentuh wajahnya yang terasa masih sakit. Dengan es yang di bawa Reva, ia berusaha mengurangi rasa sakitnya. Penolakan Reva, menjadi salah satu penambah sakitnya saat ini.
****
__ADS_1
Hah, Reva... Rumit ya neng...
Jangan lupa like dan komennya yaaa... Makasiihh