
Jam istirahat tiba. Tita dan Reva pergi ke kantin, sementara Dimas memilih minum kopi di pantry karena banyaknya persiapan yang harus ia buat.
Lagi-lagi, Reva mendengar pembicaraan yang tidak mengenakan tidak jauh dari tempatnya berada.
“Tadi beneran cowoknya? Pinter juga dia nyari mangsa.” Ujar gadis yang sama dengan yang menatap Reva dengan sinis.
Reva memberanikan diri untuk duduk di salah satu bangku dan menaruh makanannya di meja. Ia melirik 4 orang wanita yang sedang menatapnya dengan tatapan sarkas nya. Ia melihat Reva dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.
“Re, kenapa tuh orang-orang? Ngeliatin lo gitu banget.” Bisik Tita yang mencondongkan tubuhnya.
Reva hanya menggelengkan kepala. Dengan gusar ia mulai menyantap makan siangnya. Baru beberapa suap, kembali terdengar sindiran dari kelompok wanita tersebut.
“Ya gimana ya, kalo emang dasarnya gag punya malu, lagi diomongin juga bisa aja dia makan dengan santai.” Cetus salah satu wanita yang membuat Reva menaruh kembali sendoknya.
Ingin sekali ia menghampiri wanita itu dan merobek mulutnya. Tapi apalah daya, siapa dia saat ini. Hanya bisa menelan sindiran itu tanpa bisa protes. Tanganya mengepal dan dengan kasar ia menelan sisa makanannya. Ia beranjak dari duduknya dan bergegas pergi.
“Gue duluan.” Ujar Reva dengan wajah kesalnya.
Tita hanya ternganga. Reva benar-benar pergi meninggalkannya dengan makanan yang masih setengah utuh. Tita mengerlingkan matanya dengan kesal ke arah kumpulan wanita tadi. Tapi tatapan tajam dari keempatnya hanya bisa membuat Tita terdiam dan melanjutkan makan siangnya dengan perasaan tidak nyaman.
“Gila kok gue berasa nelen batu ya?” batin Tita yang segera meneguk minumannya.
****
Reva masuk ke dalam lift dengan perasaan kesal yang masih menghinggapi hatinya. Ia menekan tombol lantai paling atas dan dengan gusar menunggu lift sampai. Saat pintu lift terbuka, ia memilih berjalan menuju atap lift yang luas tanpa ada benda apapun.
Ia berjalan ke tepian pagar dan menatap sendu kota jakarta di bawah sana. Berkali-kali ia mengatur nafasnya, berusaha mengusir rasa dongkol. Hembusan angin yang cukup kencang, menerbangkan helaian rambut Reva yang berayun dengan indah. Reva memegangi rambutnya agar tidak berantakan.
“Harusnya, lo hadapi mereka bukan memilih pergi.” Tutur suara laki-laki yang berjalan dengan santai mendekati Reva. Reva mengenal benar suara itu. “Lo tatap mereka dengan berani seperti lo natap gue.” Lanjut Raka yang berdiri di samping Reva dengan tatapan lurus ke depan.
__ADS_1
“Bukannya kita udah sepakat buat gag ganggu hidup satu sama lain dan urus urusan kita masing-masing?”
Reva menoleh Raka dan menatapnya dengan tajam. Hembusan angin membuat sebagian wajah Reva terhalangi helaian rambutnya.
Raka mengalihkan pandangannya dan menatap Reva dengan tak kalah tajam. “Sejak detik itu juga, lo selalu ganggu hidup gue. Lo muncul di setiap kedipan mata gue.” Ujar Raka dengan yakin.
“Cik..” Reva berdecik dan memalingkan wajahnya dari Raka.
Raka mengambil sesuatu dari saku celananya dan berjalan ke belakang tubuh Reva. Ia mengambil sebagian rambut Reva dan mengikatnya dengan jepitan putih bermanikan mutiara.
“Lo gag pernah berhenti ganggu pikiran gue.” Bisik Raka dengan hangat.
Reva bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Raka yang menerpa lehernya. Jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Ada sebuah rasa yang tidak bisa Reva jelaskan dan itu hanya muncul saat Raka ada di dekatnya. Pada akhirnya, berbicara dengan Raka selalu menjadi hal paling membuat Reva nyaman.
“Apa sulitnya lupain gue? Gue bukan siapa-siapa.” Timpal Reva seraya mengusap tengkuknya yang terasa meremang.
Raka tersenyum tipis. Betapa ingin ia memeluk tubuh gadis keras kepala di hadapannya. Namun ia urungkan niatnya dan kembali berdiri di samping Reva.
“Lo gag pernah mau mengingat apapun tentang gue. Nyimpen kontak gue, bertanya kabar gue, megang tangan gue bahkan mungkin lo nolak mikirin gue. Apa lo sangat takut kalo gue jadi bagian kenangan di hidup lo dan nanti harus lo lupain?” tanya Raka dengan serius.
Lagi, mulut Reva benar-benar mengkhianati hatinya. Ingin sekali Reva mengupati dirinya sendiri yang begitu munafik saat ini.
Bibir Raka melengkungkan senyuman pilu. Ia menatap Reva dengan sendu. “Ya, kita bukan siapa-siapa. Tapi ,boleh sekali aja gue minta bantuan lo?”
“Jadi pacar pura-pura buat lo pamerin ke nyokap lo?” terka Reva yang balik menatap Raka.
Raka menggeleng. “Gue gag pernah minta lo jadi pacar pura-pura gue. Itu Fery yang minta. Gue hanya akan minta lo untuk mencoba mikirin gue sekali aja. Sebagai seorang laki-laki yang mengisi kenangan lo. Sekali aja re…” ujar Raka dengan serius.
Reva tersenyum tipis. “Lo cowok paling gag romantis yang pernah ngungkapin cinta depan gue.”
“Seromantis apapun cowok yang nyatain cinta sama lo, gue yakin mereka cuma bisa berjanji dan gag berarti apa-apa di hati lo.”
__ADS_1
“Dan lo juga gag berarti apa-apa buat gue.”
“Lo bohong! Lo gag akan minta gue menjauh, lo gag akan selalu bilang gue gag berarti apa-apa buat lo cuma buat sekedar ngeyakinin perasaan lo sendiri kalo lo emang gag punya perasaan apa-apa sama gue.” Tukas Raka dengan cepat.
“Ish!”
Reva menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ucapan Raka telah benar-benar membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Ia kalah telak. Ia tak bisa lagi membohongi perasaannya karena pada akhirnya yang akan ia ucapkan hanya penyangkalan yang tidak pernah memiliki dasar.
Raka membalik tubuhnya menghadap Reva. Di raihnya tangan Reva dan menggenggamnya dengan erat.
“Re, gue cinta sama lo. Gue gag bisa jauh dari lo. Kalopun lo memilih untuk gag bersama gue, perasaan gue akan tetep sama buat lo. Tapi paling tidak, lo jangan pernah menjauh dari gue.” Tutur Raka dengan penuh kesungguhan.
Reva hanya tertunduk. Iapun tak berniat untuk melepaskan genggaman tangan Raka yang ia pandangi dan ia rasakan begitu hangat.
Reva hanya tersenyum. Sejenak ia terdiam memandangi Raka yang juga sedang menatapnya. Benar adanya bahwa hatinya mengakui perasaan yang kini sedang di rasakan Raka. Ia memang takut jika suatu hari haus melupakan Raka tapi ia lebih takut jika nanti ia menyesal karena tidak pernah mengakui perasaannya.
“Gue butuh waktu…” lirih Reva seraya mengangkat wajahnya. Kedua manik hitam itu tampak sendu.
Sementara Raka, tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya. “Berapa lama? 3 hari?” tawar Raka.
“Seminggu!” sahut Reva
“Kasih diskon dong, 5 hari.”
“Gue gag lagi jualan!”
“Hahahha… Gue akan nunggu. Saat 5 jari di tangan kiri gue terlipat semua, tangan kanan gue akan nagih jawaban lo”
“Kepedean!”
“Tapi kepikiran kan?”
__ADS_1
Reva berdecik sebal, Raka selalu berhasil membungkam mulutnya.
*****