Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 101


__ADS_3

Raka dan Reva masih berjalan bergandengan tangan menikmati suasana malam yang dingin. Lampu-lampu menyala dengan indah di sekeliling taman seolah membalas kerlipan bintang yang bersinar terang di atas kepala mereka.


Ternyata, berjalan sambil bergandengan tangan bisa semenyenangkan ini bagi keduanya. Mereka saling lirik kemudian tersenyum satu sama lain layaknya pasangan yang sedang di mabuk cinta.


Raka mengajak Reva duduk di salah satu kursi. Taman tempat mereka olahraga tadi pagi ternyata masih ramai sampai malam hari. Anak-anak berlarian bermain di sekitar taman. Ada beberapa di antara mereka yang membawa kembang api di tangannya, diputar-putar membentuk lingkaran yang berkilauan.


Raka dan Reva duduk di tempat biasanya Wira dan Niken berada. Masih jelas diingatan Raka saat Lana kecil dengan girang berlarian mengejar gelembung udara yang ia buat dari air sabun. Ia tertawa dengan renyah membuat siapapun yang melihatnya ikut tertawa. Ternyata sebahagia itu kebersamaannya bersama Lana.


“Dulu, kamu juga selincah anak itu loh re…” ujar Raka menunjuk salah satu anak perempuan berambut panjang yang berlarian kesana kemari mengejar sang kaka.


“Hem… Aku pasti sangat bahagia saat itu…” Reva membayangkan betapa bahagianya gadis yang terus tertawa dengan gembira.


Raka membaringkan tubuhnya dengan kedua paha Reva sebagai bantalnya. Ia meraih tangan Reva dan menggenggamnya dengan erat. Didadanya ia menempatkan genggaman tangan tersebut.


“Aku mengerti kenapa mamah sama papah begitu bahagia setiap kali melihat kamu tertawa.” Tutur Raka seraya menatap lekat wajah Reva yang berada di atasnya. “Kelak, kita akan ke sini bersama anak-anak kita ya re…” lanjut Raka seraya mengusap pipi Reva dengan lembut.


Reva terangguk seraya tersenyum. Ia bisa membayangkan betapa bahagianya nanti saat ia menjadi ibu untuk anak-anak Raka yang begitu dicintainya.


Reva bisa merasakan tatapan penuh kasih yang Raka berikan padanya. Hatinya selalu hangat saat manik hitam itu menatapanya dengan penuh cinta. Dan Raka, saat ternyaman baginya, adalah saat berada di dekat Reva. Menikmati setiap keindahan senyuman dan tatapan damai yang menyejukkan hatinya.


“Aku cinta kamu…” lirih Raka.


Perlahan Raka meraih sisi kiri dan kanan hoodie Reva. Membuat Reva menunduk dengan jarak yang sangat dekat dengan wajah Raka. Sebuah kecupan hangat menyentuh bibir Reva bersamaan dengan semburat kembang api yang menyala indah di langit malam itu.


****


Reva sudah tiba di depan rumahnya. Saat ia akan turun, Raka masih enggan melepas genggaman tangannya. Sejak dalam perjalanan Raka memang tidak pernah melepaskan genggamannya. Hal ini menjadi kebiasaan baru yang membuat Raka merasa lebih tenang.


“Mas, ini udah malem… Besok kamu kerja..” Ujar Reva dengan tatapan hangatnya.


“Haisshh… Aku masih gag bisa lepasin tangan kamu.” Sahut Raka seraya mengeratkan genggamannya.


“Mas, walaupun gag pegangan tangan, hati kita kan tetap dekat. Kamu ada di sini dan aku ada di sini.” Ujar Reva seraya menyentuh dada kiri Raka.


Raka tak bisa menahan senyumannya. Untuk pertama kali kata-kata seperti itu ia dengar dari mulut Reva.

__ADS_1


“Calon istriku bisa gombal juga yaaa…” goda Raka seraya mencubit gemas hidung Reva.


“Hahahha sekali-kali boleh dong…” timpal Reva yang tersipu sendiri. Bagaimana bisa kata-kata milik abege itu keluar dari mulutnya.


“Hemmm… peluk aku sebentar,” Raka meraih tubuh Reva dan mendekapnya dengan erat. Ia mengecup pucuk kepala Reva dengan penuh perasaan. “Masih aku peluk aja, aku udah ngerasa kangen sama kamu re…” lirih Raka dengan hembusan nafas yang menerpa leher Reva. Ia benar-benar tidak ingin berpisah dengan kekasih hatinya.


“Kita ketemu di mimpi yaaa…” bisik Reva yang juga merasakan hal yang sama.


“Mimpi apa? Mimpi basah?” goda Raka.


“Mas, kamu mah…” Reva memukul lengan Raka perlahan, namun Raka hanya terkekeh.


“Yuk, kita turun, aku gag mau om indra nyariin putri kesayangannya.” Ujar Raka yang mulai bisa melepaskan pelukannya.


Reva terangguk setuju. Raka mengantar Reva sampai depan pintu. Asisten rumah tangganya membuka pintu untuk keduanya. Ia hanya mengangguk seraya tersenyum melihat Reva yang datang bersama Raka.


“Papih sama mamih ada bi?”


“Nyonya di kamar, kalo tuan di ruang baca.” Terang wanita paruh baya tersebut.


“Oh, makasih bi…” sahut Reva yang mendapat anggukan dari bi Tina. Tak lama ia pun undur diri.


“Okey, good night sayang…” Raka mengecup kening Reva dengan lembut membuat wajah cantik itu kembali merona.


Raka mulai melangkah pergi. Reva menyandarkan tubuhnya pada daun pintu, ia masih memandangi lelakinya yang sesekali masih menoleh padanya. Reva melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam rumah.


****


Rumah memang sudah benar-benar sepi. Hanya cahaya redup yang menerangi beberapa ruangan yang Reva lewati. Reva segera menuju kamar tidurnya, ia merasa tubuhnya sangat lelah.


Reva membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Wajahnya tampak bahagia dengan lengkungan senyum yang tidak pernah hilang dari garis bibirnya. Matanya menerawang ke langit-langit, mengingat betapa indahnya hari ini. Ia masih bisa merasakan hangatnya kecupan, eratnya genggaman tangan dan nyamannya pelukan yang Raka berikan. Tak bisa ia pungkiri, ia sangat bahagia bersama Raka.


Lamunan Reva berakhir saat handphonenya menyala. Ia memang menggunakan mode hening pada handphonenya karena ingin menikmati waktunya bersama Raka.


Adalah nama Fery yang muncul di layar perseginya. Reva segera bangkit dan menerima panggilan tersebut.

__ADS_1


“Ya kak fey…” sapa Reva dengan suara riang.


“Astaga syukurlah akhirnya lo angkat telpon gue re..” Suara Fery terdengar sangat tergesa-gesa.


“Loh ada apa kak?”


“Lo dimana sekarang re?” Fery malah balik bertanya.


“Gue di rumah, baru nyampe. Kenapa emang?”


“Lo udah ketemu lea?” cerca Fery tanpa jeda sedikitpun.


“Belum kak.. emang ada apa kak?”


Terdengar tarikan helaan nafas kasar dari Fery. Reva melihat layar handphonenya dan panggilan masih tersambung.


“Kak, kak fey… Halooooo…” ujar Reva menyadarkan Fery dari lamunannya.


Fery masih bimbang, seperti apa ia harus menceritakan kejadian tadi pagi. Ia tidak ingin salah bicara dan memperkeruh suasana. Ia pun tidak ingin membuat Reva merasa bersalah.


Setelah menemukan cara yang tepat, akhirnya Fery yakin untuk memberitahukan kejadian tadi pagi pada Reva. Ia mulai menceritakan duduk masalah yang membuat Alea dan indra bersitegang. Tidak terdengar sanggahan sedikitpun dari Reva, ia mendengarkan dengan seksama dan mulai mengerti kenapa kondisi rumahnya tidak sehangat biasanya.


“Kak lea mabuk karena gue kan kak?” Tepat, hal yang di hindari Fery malah benar-benar terjadi.


Reva merasa sangat bersalah. Kalau saja Alea mengatakan ia tidak setuju dengan rencana pertunangan dan pernikahan ini, mungkin ia akan mengundur waktunya bersama Raka karena bagaimanapun ia tidak ingin membuat kakak perempuannya merasa sedih.


“Re, alea cuma butuh waktu. Sebenernya gue ragu ngomong ini sama lo, gue gag mau ini jadi masalah buat hubungan lo sama raka.”


“Tapi gue juga gag bisa ngorbanin perasaan kakak gue kak…”


“Re, jangan mikir macam-macam. Lo harus percaya pikiran kakak lo gag sedangkal itu. Dia cuma perlu waktu dan gue harap lo bisa tetap ngerangkul kakak lo. Kebahagiaan keluarga kalian baru di mulai, gue gag mau semuanya hancur.” Terang Fery dengan penuh kesungguhan.


Sejenak Reva terpaku, ia masih perlu mencerna semua perkataan Fery.


“Re, gue minta bantuan lo. Gue harap lo bisa jadi jembatan buat bokap lo sama kakak lo. Alea hanya butuh pengakuan kalo ia masih sangat penting buat kalian. Gue mohon re, gue gag mau liat alea hancur…” imbuh Fery yang membuat perasaan Reva semakin tak karuan.

__ADS_1


Panggilanpun berakhir. Reva masih memikirkan perkataan Fery. Dalam benaknya, apa mungkin Alea merasa tersingkir dengan kehadirannya di keluarga Wijaya. Tapi ia tidak ingin berfikiran buruk. Ia bertekad akan melakukan apa saja untuk membuat hubungan keluarganya kembali seperti sedia kala.


****


__ADS_2