
Malam itu, Reva termenung sendirian memandangi fotonya bersama Riana. Kenapa harus seperti ini persahabatan mereka saat ini. Semuanya sudah benar-benar berubah tidak ada lagi yang bisa ia kenang.
“Ri, gue ngejauh dari lo, karena pengen mastiin gag akan ada yang nganggap lo rendah seperti gue. Kenapa lo harus sepolos itu ngasih semuanya sama jeremy?” gumam Reva dengan penuh sesal.
Dan yang lebih membuat Reva menyesal karena ia tidak bisa berada di samping Riana saat Riana terpuruk.
Reva menghela nafasnya dalam-dalam, pikirannya terus tertaut pada Riana. Ia mencari nomor telpon Riana dan mulai menghubungina, tapi nomor Riana tidak aktif. Berkali-kali ia terus mengulangnya, tapi berkali-kali juga hanya suara operator yang menjawab panggilan Reva.
Reva beranjak dari tempat tidurnya, ia membuat segelas susu agar bisa tidur lebih awal. Sambil menikmati minuman hangat di depannya, ia memandangi layar laptopnya yang masih menyala.
“Tok tok tok!”
Sebuah ketukan mengalihkan perhatian Reva. Reva melirik jam dinding yang ada di kamarnya, sudah hampir jam 10 malam. Ia segera membukakan pintu.
“Raka?” seru Reva saat melihat sosok Raka yang berdiri di balik pintunya.
Raka masih mengenakan setelan kerjanya, dengan tampilan yang tidak terlalu segar. Sepertinya ia habis mengalami sesuatu yang membuatnya pusing.
“Hay, udah makan malem?”
Raka mengangkat sekeresek makanan yang di bawanya dan menunjukkannya pada Reva.
“Masuklah…”
Reva membukakan pintu lebar-lebar dan mempersilakan Raka masuk. Ini kali pertama Raka melihat tempat tinggal Reva. Sebuah tempat tidur yang hanya muat untuk satu orang, dengan meja rias sekaligus meja kerja di sampingnya. Beberapa langkah dari sana ada sebuah kamar mandi yang terhalang partisi kayu dan memisahkannya dari sebuah ruangan kecil yang hanya muat satu karpet saja. Dan ada dapur kecil di bagian belakang, tepatnya di teras belakang kamar Reva.
“Sory, seadanya yaa…” tutur Reva sambil mengambilkan sebuah bantalan yang biasa ia gunakan untuk duduk.
“Tempatnya cukup nyaman…” puji Raka yang masih menggerakan bola matanya melihat sekitar kamar Reva.
Ada foto Reva dengan wanita setengah baya di atas meja riasnya. Mereka tengah tersenyum dan saling berangkulan. Di belakangnya, anak-anak kecil yang juga ikut tersenyum.
“Mereka keluarga gue.” Tutur Reva saat menyadari tatapan Raka ke arah fotonya.
Raka hanya tersenyum, ia menyerahkan keresek tersebut pada Reva. Reva bisa mencium bau wangi makanan yang Raka bawa.
“Mudah-mudahan lo suka.” Ujar Raka.
“Apapun itu, yang penting bareng nasi, pasti gue suka.” Seru Reva yang segera pergi untuk mengambil piring dan menghidangkan makananya.
Raka hanya terdiam, ia memandangi Reva yang sibuk memindahkan makanan ke atas piring.
“Kenapa kalian sangat mirip?” batin Raka yang tanpa sadar melengkungkan senyuman tipis di sudut bibirnya.
“Yuk makan!” seru Reva dengan semangat. Raka hanya mengangguk.
Mereka mulai menikmati makan malamnya. Raka terlihat sangat lapar, Reva menduga seharian Raka pasti tidak makan.
__ADS_1
“Gimana kerjaan lo? Lo baik-baik aja kan?” tanya Reva tiba-tiba.
Raka menghentikan kunyahannya dan perhatiannya beralih pada Reva yang tengah menatapnya dengan hangat. Tatapan itu, tatapan yang selalu membuat Raka merasa teduh dan tidak asing.
“Ini pertama kalinya lo nanya kabar gue.” Sahut Raka seraya tersenyum menatap Reva.
“Ya seharain lo kerja, kayaknya sibuk banget. Udah kayak karyawan beneran aja, sampe lupa makan segala.” Terang Reva yang berusaha menguasai dirinya agar tidak terlarut dalam tatapan Raka.
“Iya, tadi sibuk banget. Pekerjaan numpuk dan banyak yang harus di urus.” Raka kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
“Tapi, lo juga harus inget waktu. Lo harus ada waktu buat makan, buat nyenengin diri lo sendiri supaya gag terlalu stres. Jadi kerjanya enjoy.” Cerocos Reva dengan kuliah 3 menitnya.
“Makan sama lo…” Raka menganggung kalimatnya dan menatap Reva dengan lekat. “Ya, makan sama lo, minum sama lo, ngobrol, ketawa, dengerin lo cerita, adalah cara gue nyenengin diri gue sendiri.” Tutur Raka dengan penuh kesungguhan.
Sejenak, tatapan keduanya bertemu. Terasa desiran halus yang ikut dalam aliran darah keduanya, membuat jantungnya berdetak tak menentu. Reva segera mengalihkan pandangannya , sambil menyentuh wajahnya yang tiba-tiba terasa hangat. Sementara Raka, masih menatapnya dengan penuh perasaan.
“Gue seneng ada di samping lo re…” tandas Raka yang kembali menyuapkan nasinya.
Reva berusaha tersenyum dan pura-pura tidak mengerti maksud ucapan Raka.
****
Reva tampak gusar, ia terus berguling ke sana kemari saat mengingat pembicaraannya dengan Raka. Satu sisi hatinya senang tapi di sisi lain ia merasa takut. Ia takut jika suatu hari hatinya sudah terbuka untuk Raka, ia akan merasakan kembali kehilangan yang mungkin lebih menyakitkan.
“Gue gag boleh memulai sesuatu yang mungkin nanti harus gue sesali atau gue lupakan. Karena luka yang sebelumnya pun, masih terasa perih.” Lirih Reva seraya menatap foto sang pendaki yang hendak meraih bunga edelweis.
Di tempat lain, Raka tengah berdiri di balkon apartemennya. Ia memandangi kilauan cahaya lampu dengan di temani segelas minuman hangat. Sudut bibirnya melengkungkan senyum saat ia mengingat tatapan mata Reva yang begitu menyejukan baginya.
“Re, apa lo juga ngerasain yang gue rasain?” lirih Raka seraya mengusap dadanya yang bidang.
Ia meneguk sedikit demi sedikit minumannya dan merasakan hangat yang mengisi tenggorokannya. Ia mulai yakin, perasaannya pada Reva bukan sekedar kekaguman, tapi perasaan yang lebih dalam dari itu. Dalam hatinya ia berjanji, akan melangkah semakin dekat ke arah Reva.
****
Pagi ini Raka terlihat lebih bersemangat. Walau hanya tidur sekitar 3 jam, tapi ia terlelap dengan dalam. Dengan langkah panjangnya ia menghampiri Reva yang sudah berada di meja kerjanya.
“Pagi re..” sapa Raka dengan senyum lebar.
Reva hanya membalasnya dengan senyuman lalu kembali fokus dengan pekerjaannya. Raka menatapnya sejenak, ada perbedaan dengan sikap Reva hari ini. Raka segera duduk di tempatnya. Dari celah kaca di depannya, ia bisa melihat wajah Reva yang tidak tertutup layar monitor. Satu garis senyum terlihat di wajah Raka, ia benar-benar bersemangat hari ini.
“Raka, lo di panggil pak Rudy tuh.” Ujar Dimas sambil menepuk bahu Raka.
“Oh ya, thanks!” sahut Raka yang segera mengambil beberapa berkas yang ia butuhkan.
Ia sempatkan untuk menatap Reva yang masih tertunduk sebelum akhirnya berlalu menuju ruangan Rudy.
__ADS_1
Reva menghembuskan nafasnya dengan kasar. Nafas yang ia tahan sejak Raka menatapnya sebelum pergi. Dari sudut matanya ia bisa melihat Raka yang terus menatapnya.
“Lo bisa re!” seru Reva seraya mengangkat tangannya ke udara.
“Bisa apa re? Bisa bantuin gue kan?” bisik Tita yang tiba-tiba ada di samping Reva.
“Astaga! Lo ngagetin aja sih ta!” seru Reva sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang.
“Ya lagi, tiba-tiba aja lo semangat gitu. Lo bantuin tugas gue bisa gag re? Ada data yang gag gue ngerti cara ngolahnya...” rengek Tita dengan mata yang berkedip beberapa kali.
“Astaga, kelakuan lo ta...” dengus Reva yang tersenyum geli. “Ya udah, lo duluan. Gue selesein dulu ini, nanti gue ke meja lo.” Imbuh Reva.
“Aaaa beneran yaaaa, gue tunggu. Makasih re...” tutur Tita seraya memeluk dan mencium pipi Reva dengan gemas.
“Ikutaann doong...” Dimas tiba-tiba mendekat dan merentangkan tangannya.
“Yeee, ngareepp!” cetus Reva dan Tita bersamaan. Ketiganya tertawa dengan renyah.
Reva kembali fokus mengerjakan pekerjaannya dan Tita kembali ke meja nya, sementara Dimas masih mematung sambil berkacak pinggang. Ia melihat Reva dan Tita bergantian, menjadi satu-satunya laki-laki diantara 2 gadis ternyata tidak semenyenangkan itu.
“Re, nanti makan siang bareng yuk!” ujar Dimas tiba-tiba.
“Nggak! Sibuk!” sahut Reva yang segera berpindah ke meja Tita saat pekerjaannya telah selesai.
Dimas mengikuti langkahnya dan berdiri di hadapan Reva dan Tita.
“Apaan lo liat-liat?” sengit Tita saat melihat Dimas yang memandanginya bergantian dengan Reva.
“Ya elah, lo galak banget sih sama gue. Sarapan apa sih tadi pagi?!”
“Sayur granat sama bubuk mesiu goreng. Puas lo!”
Lagi-lagi Tita menjawab dengan garangnya. Dimas menggelengkan kepala. 2 gadis di depannya ini benar-benar sulit di hadapi.
“Lo ngapain berdiri terus di situ? Kerja sono woy!” lanjut Tita yang merasa terusik dengan kehadiran Dimas.
Dimas melengos begitu saja.
“Lo galak amat sama dimas, nanti gag ada malah kangen lo.” Cetus Reva yang tersenyum kecil.
“Mana ada?”
Tita mendelikkan matanya dan kembali fokus pada layar yang di tatap Reva.
****
__ADS_1