Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 166


__ADS_3

Hembusan angin malam menerpa tirai jendela kamar Raka yang terbuka. Raka masih terduduk di balkon kamarnya seraya memandangi layar ponselnya. Sesekali ia tersenyum, sesekali ia terisak dan seringnya ia tenggelam dalam lamunan dengan ingatan tentang Reva yang terus berputar dikepalanya.


Berakhir. Benarkah kata-kata itu diucapkan Reva dalam keadaan sadar? Raka kembali memejamkan matanya dengan kepala bersandar menengadah pada jendela kacanya. Jemarinya berkali-kali memutar voice note yang kerap di kirimkan Reva saat menjawab pesan text yang dikirim Raka. Raka baru sadar, mungkin inilah fungsi voice note yang sebenarnya.


“Aku mau makan dulu bareng kak lea. Mas raka jangan lupa makan siang yaaa… love you…” satu suara telah Raka putar ulang berkali-kali dan semakin lama kerinduannya semakin dalam.


“Mas raka tau gag bedanya kunci gembok sama mas raka?” ucap Reva menjeda kalimatnya dan Raka dengan setia menunggu. “Kalau kunci gembok buat ngunci pintu kalau mas raka buat ngunci hati aku, eeeaaaa, hahahaha”


Tawa renyah Reva kali ini membuat Raka meringis. Ia menangis sesegukan. Betapa ia sangat merindukan tawa itu. Tawa yang kerap membuat semangatnya kembali bangkit. Raka meremas bajunya sendiri, menumpahkan semua kekesalan dan amarahnya.


Masih banyak lagi voice note Raka putar dan ia dengarkan. Raka meringkukan tubuhnya di lantai. Matanya memandang entah kemana sementara tangannya masih memegang handphone dan memutar voice note Reva. Hanya ini yang bisa ia lakukan untuk membunuh rasa sepi dan rindunya pada Reva.


****


Hari-hari terus berlalu. Reva masih setia menemani Indra yang masih enggan membuka matanya. Hanya lantunan do’a dan ayat suci yang terus tergumam dari bibir Reva dan ia tujukan untuk Indra. Satu tangannya memegangi buku do’a-do’a sementara tangan satunya mengusap perutnya dengan lembut.


Reva melihat detak jantung Indra yang semakin teratur. Selalu, saat Reva menemaninya dan membacakan do’a-do’a di dekat telinga Indra, gambaran di monitor berubah. Ia seperti merespon setiap ucapan Reva dan mungkin ia merasa lebih tenang.


Hari mulai menjelang sore. Seorang perawat datang dengan membawa baki yang berisi obat-obatan Indra. Ini adalah jadwal Indra mendapatkan suntikan obat-obatannya.


“Mba reva, saya permisi untuk memberikan obat pada pak indra ya…” izin perawat tersebut dengan ramah.


“Silakan sus.” Reva berpindah duduk ke belakang.


Terlihat perawat tersebut menyuntikan obat-obatan Indra dengan telaten.


“Sus, itu monitor jantung papih saya apa artinya hari ini?” tanya Reva seraya memandangi monitor yang berada di samping kanan tempat tidur Indra.


“Yang ini artinya detak jantung pak indra sudah normal dan stabil. Tekanan darahnya pun tidak naik turun seperti sebelumnya. Walau obat-obatan sudah dikurangi dosisnya, tekanan darahnya tetap stabil dan itu bagus untuk perkembangan kesehatan pak indra.” Terang perawat tersebut yang dapat dimengerti Reva.


Selalu, setiap ada dokter atau perawat yang memeriksa kondisi Indra, Reva akan aktif bertanya. Ia tidak ingin melewatkan satu perkembangan pun tentang kondisi kesehatan Indra.

__ADS_1


“Sus, kalo dokter anna hari ini ada jadwal praktek gag?” tanya Reva kemudian.


“Maksudnya dokter anna spesialis obgyn?” timpal perawat tersebut. Reva terangguk yakin. “Hari ini jadwal prakteknya jam 16.00. Mba reva ada rencana mau konsultasi?”


“Iya sus. Saya minta tolong untuk di daftarkan.” Sahutnya.


Perawatpun mengiyakan. Tak lama ia beranjak pergi. Dalam hatinya, Reva sudah sangat merindukan buah cintanya bersama Raka.


"Kita akan bertemu sayang." lirihnya seraya mengusap perutnya.


****


Di kantor Adiyaksa corp, Raka tampak berjibaku dengan pekerjaannya. Ia benar-benar tenggelam dalam lautan pekerjaan. Ia berangkat pagi ke kantornya, menyibukan dirinya dengan banyak pekerjaan dan pulang larut malam hanya untuk terdiam di balkonnya dan mengenang Reva. Botol minuman menjadi teman setianya menghabiskan malam. Tak jarang Fery masih mencium bau alkohol di pagi hari namun Raka selalu menghindar saat Fery bertanya tentang kondisi dirinya saat ini.


Ya, entah sejak kapan Raka mulai minum minuman yang memabukkan itu. Ia tidak ingin benar-benar mabuk, ia hanya ingin bisa tidur dan sedikit melupakan kesedihannya selama ini. Bukankah ini sangat menyiksanya?


Fery merasa ia perlu membicarakan kondisi ini dengan sahabatnya. Ia merasa khawatir dan merasa iba dengan kondisi Raka saat ini. Raka tidak seperti manusia normal lagi. Penampilan yang cukup berantakan dan tidak terurus. Bahkan wajahnya sudah mulai di tumbuhi rambut halus jambangnya, sesuatu yang sangat tidak Raka sukai karena tidak terlihat rapi.


“Lo makan dulu. Jangan kerja kayak orang gila.” Ujar Fery dengan tatapan tajamnya pada Raka.


Namun yang di ajak bicara tak mengindahkan. Ia kembali membuka berkas lain dan mencoret tulisan-tulisan yang menurutnya salah atau perlu dipertanyakan.


“Raka! Kerjapun ada waktunya! Lo tetep harus jaga kesehatan lo! Lo gag cuma harus ngurus masalah kantor. Lo juga harus ngurus hidup lo, ngurus orang tua lo, dan ngurus reva.” Gertak Fery yang kali ini mulai kesal dengan tingkah Raka. Ia benar-benar menjadi manusia dingin yang tidak memperdulikan apapun termasuk dirinya sendiri.


“Jangan sebut nama itu depan gue!!!” seru Raka dengan mata menyalak dan menatap Fery tajam. Ini adalah pengingkaran Raka atas perasaannya selama ini. Hatinya terlalu sedih dan sakit saat mendengar nama Reva. Dan ia tidak ingin menyakiti dirinya sendiri. Walau sebenarnya, ia sendiri tidak tahu, alasan apa yang benar-benar membuatnya merasakan kesakitan ini.


“Raka lo gila?! Dia istri lo! Dia yang lo perjuangin dan lo cinta.” Timpal Fery yang benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Raka.


“Kami akan berpisah. Lo puas?” tegas Raka dengan penuh penekanan.


Fery ternganga tidak percaya. Ia bahkan mundur beberapa langkah mendengar penegasan Raka.

__ADS_1


“Lo yakin? Pikirkan baik-baik. Dia hidup lo raka.” Fery menatap Raka laman.


“Dia yang minta. Dia gag bisa hidup dengan laki-laki brengsek seperti gue.” Lirih Raka pada akhirnya.


Lagi, air mata menetes di sudut mata Raka. Walau ia berusaha menyembunyikannya tapi Fery masih bisa melihatnya dengan jelas. Raka menundukkan wajahnya dengan tangisan lirih yang nyaris tak terdengar. Namun rasanya, kesedihan dan kesakitan semakin jelas terlihat. Fery ikut terduduk di hadapan Raka. Ia memandangi sahabatnya yang kini bahunya bergerak naik turun.


Berat, ini yang pasti dirasakan Raka saat ini dan Fery hanya bisa menemaninya dalam diam.


****


Kembali, Reva memandangi gambaran hitam yang ia lihat di layar LCD. Ia pun bisa mendengar suara detakan jantung dari jabang bayi yang di kandungnya. Hati Reva berdesir, betapa tuhan maha baik. Di sela kemelut perasaan dan pikirannya yang nyaris buntu, Ia mengirimkan seorang malaikat kecil untuk menemaninya dan menguatkannya.


“Usianya 9 sampai 10 minggu bu reva. Ini kepala janin yang telah tumbuh cukup besar dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya.” Dokter Anna memberi titik pada bagian yang ia tunjukkan. “Berat kepala janin sekitar 3 gram. Lalu, ini ujung hidungnya, lipatan kulit di atas mata juga mulai membentuk kelopak mata, beberapa minggu ke depan akan terlihat lebih jelas. Kalau kita lihat dengan mata telanjang, ukurannya seperti buah anggur. Organ tubuhnya terus berkembang. Janin akan bergerak, membungkuk, dan bergoyang, tapi ibu belum bisa merasakannya dulu, karena gerakan ini bisa terlihat melalui USG.” Terang dokter Anna dengan gamblang.


Reva terangguk paham. Hatinya mengucapkan ribuan syukur atas berkah yang ia dapatkan. Selalu ada hal baik lain, saat tuhan menguji kita dengan mengambil satu atau dua hal baik dari hidup kita. Dan mungkin ini alasan untuk Reva kuat dan bertahan saat ini.


“Apa ibu merasakan perubahan emosi yang drastis saat ini?” lanjut dokter Anna seraya beranjak ke tempat duduknya.


“Iya dok.. Saya merasa lebih sensitif dan banyak khawatir.” Sahut Reva.


“Itu hal yang wajar bu di usia kehamilan ini. Sebaiknya ibu luangkan waktu untuk merawat kesehatan mental dan cobalah untuk menemukan beberapa bantuan dari gejala-gejala yang tidak nyaman itu. Ibu bisa saja melakukan beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu agar suasana hati menjadi lebih baik, misalnya, cukup istirahat atau tidur, makan makanan sehat, tetap lakukan olahraga, tapi jangan berlebihan atau habiskan waktu bersama pasangan, keluarga, dan teman.” Terang dokter Anna yang tersenyum di akhir kalimat.


Reva ikut tersenyum. Sudut hatinya meringis mendengar kalimat terakhir dokter Anna. Saat ini ia merasa sendirian dan rasanya dunia telah mengucilkannya. Tidak ada tempat untuknya berbagi selain membiarkan otak dan hatinya yang saling berdebat panjang.


Reva hanya bisa terangguk. Demi sang buah hati, ia harus lebih baik dalam mengendalikan diri dan hatinya. Seraya berdo’a semuanya akan baik-baik saja walau ia jalani sendiri.


*****


 


Haaayyy yang masih baca, jangan lupa like dan komennya yaa... terima kasih..

__ADS_1


Happy reading, laafff


__ADS_2