
“Lea udah lama pulang ke indo tan, tapi tinggal di rumah om. Kalo mamih sama papih baru pulang sekitar sebulan lalu. Raka juga dateng ke ulang tahun Lea tan.” Terang Alea dengan wajah sumeringahnya.
Ia melirik Raka yang sedari tadi hanya terdiam dan memandangi handphonenya.
“Mamih mu ada?” tanya Niken dengan ragu.
Alea hanya mengangguk. “Mamih ada di taman belakang. Kalo papih lagi main golf sama rekan bisnisnya.” Terang Alea dengan hati-hati.
“Bisa tante ketemu mamihmu?”
Alea terdiam sejenak. Ia tampak berfikir dengan keras.
“Boleh tan…” Akhirnya Alea menyetujuinya.
Alea mengantar Niken menemui Nida, sahabatnya sejak SMP dulu. Sementara Raka, pergi ke taman depan, tempat yang menyimpan banyak kenangan untuknya.
“Nida…” lirih Niken saat melihat sosok wanita cantik yang tengah merapikan beberapa tanaman.
Nida berbalik dan tampak terkejut saat melihat Niken yang ada di hadapannya. Niken melemparkan sebuah senyuman yang hanya di angguki oleh Nida.
“Lea tinggal sebentar ya tan…” bisik Alea.
Niken hanya mengangguk.
Sejenak Niken dan Nida saling bertatapan. 17 tahun sudah mereka tidak bertemu sejak Nida memutuskan untuk tinggal di London. Ia terlihat jauh berbeda dengan Nida yang pergi saat dalam kondisi terpuruk. Kini ia terlihat lebih rapi, wajahnya tenang namun sorot matanya tetap memperlihatkan kehampaan.
Niken dan Nida duduk berdampingan memandangi riak air yang dihempas kibasan ekor ikan yang berenang ke sana kemari. Keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing. Dalam pikiran Niken, ia sedang memilah, mana yang bisa mereka kenang dan mana yang harus mereka lupakan.
Di halaman depan, Raka tengah memandangi mawar putih yang merupakan bunga yang sering ia tanam saat kecil. Bayangannya bermain dengan gadis kecil itu terulang jelas di pikirannya. Tawa riangnya, rengekan manjanya dan celoteh polosnya benar-benar mengisi pikiran Raka.
“Bunga mawarnya masih tetap sama tapi pemiliknya sudah berbeda.” Tutur Alea yang mengejutkan Raka.
Raka menoleh Alea yang berdiri di sampingnya. Ia menyodorkan segelas minuman pada Raka dengan disertai sebuah senyuman.
“Dulu, lo ke sini cuma buat main sama ade gue. Kalian tertawa, saling menjahili bahkan lo gendong dia kalo dia ketiduran di dalam tenda di bawah pohon.” Kenang Alea dengan tatapan sendunya. “Tapi gag pernah sekalipun lo datang buat ngajak gue main.” Lanjutnya seraya meneguk minuman di gelasnya.
Raka menatap wajah sendu di sampingnya. Alea yang dulu benar-benar berbeda dengan Alea yang sekarang. Ia lebih terbuka dan bisa tersenyum.
“Dulu lo selalu belajar kalo gue main ke sini, mana berani gue ganggu.” Sahut Raka yang kembali menatap pohon tempat ia biasanya membangun tenda dan mengikatkan ayunan.
__ADS_1
“Sekarang gue udah gag belajar, lo bisa ngajak gue main kapanpun.” Timpal Alea sambil menatap wajah rupawan yang selalu ada dipikirannya.
Raka hanya tersenyum tanpa menoleh Alea sedikitpun.
“Sampai kapanpun, Cuma ada dia dipikiran lo kan Raka? Tapi gue yakin, suatu hari lo akan melihat gue.” Batin Alea dengan penuh harap.
****
“Kita sudah sama-sama tua, tapi kamu masih terlihat cantik.” Tutur Niken seraya menatap Nida yang terdiam dengan tatapan kosongnya.
Nida beranjak dari tempat duduknya, mengambil sekantong pakan ikan dan melemparnya ke kolam.
“Kamu selalu bisa membuatku terenyuh, niken…” sahut Nida tanpa mengalihkan pandangannya pada Niken.
Niken ikut beranjak dan berdiri di samping Nida.
“Bulan depan, Raka akan berusia tepat 28 tahun. Dia semakin dewasa tapi masih seperti anak-anak. Bagaimana dengan Alea?” tutur Niken seraya menatap Nida yang masih terpaku.
Di belakang sana, Alea sedang menguping pembicaraan Nida dan Niken. Wajahnya bersemu kemerahan saat Niken membahasnya bersama Raka.
Terlihat lengkungan senyum di bibir Nida.
“Yaa,, anak-anak selamanya akan tetap menjadi anak-anak kita. Dengan segala tingkah yang membuat kita jengkel.” Sahut Niken yang di sambut kekehan Nida.
Keduanya tampak semakin akrab. Mereka berbagi cerita tentang anak masing –masing. Sesekali terdengar tawa dari keduanya saat mengingat tingkah konyol mereka saat masih muda.
“Kamu ingat pak amir? Dia bilang nilai matematika ku selalu paling jelek tapi kita selalu jadi idola dia karena aku cantik.” Ujar Nida dengan tawa renyahnya.
“Iya, kamu di sukai banyak guru karena cantik, tapi ingat aku di sukai banyak guru karena aku pintar.” Timpal Niken yang tidak mau kalah.
“Hahaha, niken kamu masih tidak berubah. Tidak mau kalah sedikitpun.”
Nida menyenggol tangan Niken dengan sengaja, tawanya benar-benar tidak bisa ia tahan.
Ini lah kenangan selama 17 tahun yang tidak pernah mereka temui. Karena satu alasan, mereka saling menutup diri masing-masing. Dan hari ini Niken memberanikan diri menemui Nida, dengan harapan semuanya telah berubah seiring berjalannya waktu.
****
__ADS_1
Niken tengah duduk sendirian di ruangan pribadinya. Ia membuka-buka partitur lagu sambil bersenandung. Fotonya dengan Lana persis berada di hadapannya. Sesekali ia tampak menyeka air mata yang menetes di sudut matanya.
“Mah….”
Wira duduk di samping Niken yang terlihat sendu saat melantunkan sebuah lagu dengan lirih. Sudah lama ia tidak memainkan barisan tuts yang berjejer rapi.
“Kamu masih saja bisa melupakannya?” tanya Wira seraya menatap wajah Lana di hadapannya.
“Apa papah pernah bisa melupakannya?”
Niken menoleh Wira yang kini terpaku. Benar, Wira pun memang tidak pernah bisa melupakannya. Setiap kenangan terrekam dengan kuat diingatannya.
Wira teringat saat ia sedang duduk di kursi kerjanya, lalu gadis itu masuk dan duduk di atas pangkuannya. Wajahnya terlihat sendu dengan tatapan penuh kesedihan.
“Pah, kenapa sih susah banget main piano sama mamah Niken? Tangan aku kan masih pendek-pendek, jadi gag bisa neken tuts hitam dan putih sama-sama.” Keluh Lana seraya menatap mata Wira.
“Sayang, nanti kalau kamu sudah besar, kamu pasti bisa sehebat mamah Niken main piano nya. Jadi, makan yang banyak, berlatih yang teratur supaya kamu cepat besar dan makin jago main pianonya.” Bujuk Wira sambil mengusap lembut pucuk kepala gadis tersebut.
“Tapi pah, kalau nanti Lana ulang tahun, papah mau kan kasih Lana kado piano? Nanti Lana mainin lagu yang bagus buat papah, mamah niken sama kak Raka.” Pinta Lana dengan wajah polosnya.
“Tentu sayang.” Sahut Wira sambil mengecup pucuk kepala Lana dengan penuh kasih.
Wira ikut tersenyum mengenang setiap pembicaraannya dengan gadis ceria itu.
“Mamah udah suruh Rudy buat selidiki lagi kejadian 17 tahun lalu. Rudy bilang, banyak hal baru yang dia temukan.”
Wajah Niken terlihat mulai bersemangat. Wira menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Niken lalu tersenyum dengan lembut.
“Sayang, kita gag akan bisa bertanya pada siapapun. Rudy masih belum nenemukan petunjuk apapun selain kabar kematian laki-laki yang bertemu dengan lana.”
“Tapi pah, kita bisa mencari keberadaan keluarganya, siapa tau mereka juga tau.”
“Tapi mah…”
“Pah, tolong sekali ini saja kita berusaha lagi. Apapun hasilnya, mamah akan menerimanya.” Tukas Niken yang tidak ingin di debat lagi.
Wira sadar, seperti halnya dirinya, Niken sangat menyayangi Lana. Ia memposisikan Lana seperti separuh jiwanya dan kehilangan Lana menjadi pukulan yang besar bagi Niken. Pada akhirnya, ia hanya bisa menuruti permintaan Niken. Ia mulai menghubungi Rudy dan menyampaikan keinginan Niken.
__ADS_1
****