
Reva dan Raka telah bersiap dengan pelindung kepala dan tali yang akan di tambatkan pada clem slink lintasan Flying fox. Reva terlihat begitu antusias tapi Raka masih sangat ragu.
“Re, ini kamu yakin? Ini tinggi banget loh…” ujar Raka sambil melihat ketinggian di bawah kakinya.
“Raka, kalo kamu takut, mending gag usah. Keyakinan itu harus di mulai dari diri sendiri.” Timpal Reva sambil menepuk dada Raka perlahan.
Ia tersenyum dengan yakin, Raka bisa merasakan semangat yang membara di dalam diri Reva.
“Mas, ini aman kan?”
Kali ini tatapan Raka beralih pada instruktur yang ada di samping Reva.
“Aman. Kami melakukannya secara profesional dan terstandar.” Sahut laki-laki berkulit hitam manis tersebut.
Reva menatap Raka dengan penuh tanya. Raka menghembuskan nafasnya perlahan lalu memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan layaknya atlit yang akan bertarung.
“Kita barengan aja ya re..” bisiknya.
“Hahahha boncengan maksudnya? Baiklah tuan muda.” Sahut Reva dengan tawa renyahnya membuat Raka tertunduk malu.
Sang instruktur pun hanya tersipu.
Reva dan Raka tengah bersiap pada posisinya.
“1..2..3” Reva merangkul pinggang Raka dan meluncur bersamaan.
Sontak Raka menutup matanya. Reva hanya terkekeh, laki-laki di sampingnya benar-benar sangat menggemaskan.
“Raka, ayo buka matanya… di bawah indah banget tau…”
“Nggak re,aku gini aja.” Tolak Raka yang semakin memejamkan matanya.
“Raka, nanti kamu nyesel. Kamu gag dapetin apa-apa selain rasa takut. Ayo lawan, nikmati pemandangannya.” Bujuk Reva.
Perlahan Raka membuka matanya. Ia bisa melihat wajah Reva yang tersenyum padanya. Reva memalingkan wajah Raka ke hamparan indah di bawah kakinya. Lintasan sepanjang 300 meter, membuatnya bisa menikmati pemandangan lebih lama.
Mata Raka membulat, saat ia bisa melihat keindahan yang nyaris sama dilihat Reva. Perlahan kengeriannya pun hilang, berganti rasa takjub menikmati keindahan pemandangan ciptaan tuhan.
“Keluarin ketakutan kamu dengan teriak.” Seru Reva dengan senyum bahagianya.
“Aaaaa…….” Teriak Raka dengan semangat.
Reva kembali tergelak, Raka benar-benar menghiburnya.
Tiba di tempat pendaratan, Raka berjalan dengan langkah gontai. Lututnya terasa lemas menahan takut yang masih ia coba sembunyikan. Tapi ada perasaan lega karena ia mendarat dengan selamat.
__ADS_1
“Gimana, seru kan?” tanya Reva yang berjalan di depannya dengan wajah antusias.
Raka hanya tersenyum.
“Mau coba lagi?” tawar Reva.
Dengan cepat Raka menggelengkan kepalanya. Reva kembali tertawa dengan renyah.
Raka bisa melihat, Reva semakin cantik saat ia tertawa lepas. Wanita yang terlihat sangat penuh semangat untuk menutupi kerapuhannya, membuat dirinya semakin takjub.
“Ayo ikut aku….” Reva meraih tangan Raka dan berlari kecil entah menuju kemana.
Raka menatap tangannya yang di genggam Reva. Ia ikut tersenyum dan mengikuti langkah lebar Reva. Sekilas ia seperti dejavu, saat bayangan Lana kembali muncul di kepalanya.
“Kak Raka ayo ikut aku…” seru Lana dengan semangat.
Ia mengajak Raka ke sebuah danau kecil yang di penuhi bunga bermekaran di tepinya. Ia bisa mencium kembali wangi bunga yang diterbangkan oleh hembusan angin yang menerpa wajahnya. Lana berlarian kesana kemari dengan riangnya, membuat Raka ikut tersenyum.
****
Tibalah Raka dan Reva di sebuah tepian sungai. Seorang instruktur arung jeram dengan dayungnya menyambut keduanya dengan senyuman penuh semangat.
“Kita main ini?” tanya Raka tidak percaya.
“Kamu bisa berenang kan?”
“Bisa tapi…”
“Baguslah, soalnya aku gag bisa berenang.” Sahut Reva seraya memberikan Raka pelampung dan pelindung kepala.
“Re, kalo kamu ga bisa berenang kenapa main kayak gini?” nyali Raka kembali menciut
“Kan ada kamu yang nanti jagain.” Sahut Reva dengan santai.
Ia segera memakai perlengkapannya. Melihat Raka yang hanya terdiam, Reva segera memakaikan pelindung kepala pada Raka.
“Tenang aja, kita di temenin mas instrukturnya…” bisik Reva sambil menepuk-nepuk pundak Raka.
Raka hanya menggeleng. Gadis di hadapannya selalu membuatnya kehabisan kata-kata. Melihat Reva yang begitu antusias dan senang, ia tidak berani menolak ajakan Reva. Karena ia sangat menikmati setiap kali melihat Reva tersenyum bahkan tertawa dengan riang. Dunianya seakan ikut berwarna.
Sang instruktur menjelaskan ketentuan saat arung jeram. Raka dan Reva menyimaknya dengan baik. Setelah pemanasan mereka segera naik ke perahu karet dan memegang dayung masing-masing.
Perahu mulai berjalan menyusuri sungai dengan riakan kecil. Reva mendayung dengan semangat. Wajahnya tidak memperlihatkan rasa takut sedikitpun.
Raka yang duduk di sampingnya memegang dayungnya dengan erat. Matanya hanya tertuju pada Reva.
__ADS_1
“Di depan sana , petualangan kita di mulai.” Tutur sang instruktur, agar Reva dan Raka bersiap.
“Okey!” sahut Reva dengan semangat 45.
Raka mendenguskan nafasnya perlahan. Belum sembuh kakinya bergetar, sekarang ia harus kembali menghadapi rasa takutnya.
“Aaaaaa…..” teriak Raka tiba-tiba saat perahu meluncur melewati aliran air yang cukup tinggi.
Reva kembali tertawa. Ia ikut berteriak melepaskan semua perasaan tidak senang dan amarahnya. Belum usai Raka menghela nafas, aliran air lebih curam lagi membawa Raka kembali berteriak bersamaan dengan Reva.
Keduanya tergelak dan bersorak saat kembali riak tenang air membawa mereka menyusuri aliran sungai yang indah dengan berbagai jenis tanaman dan burung-burung yang bertengger di atasnya.
Reva menarik nafasnya dalam-dalam, ia bisa mencium aroma rerumputan di sekitarnya. Pun Raka, ia mulai menikmati setiap penjelajahannya bersama Reva.
Mereka berbincang singkat bersama sang instruktur membahas tentang sungai dan hutan lindung yang ada di sekitar mereka. Pembicaraan singkat ini mampu mengurangi detak jantung keduanya yang semula sangat cepat.
“Aaaaaaaaa….” Lagi-lagi Raka dan Reva berteriak saat luncuran paling tinggi berhasil mereka lewati. Keduanya tertawa dengan puas saat bisa melepaskan semua penatnya.
Penjelajahan berakhir, Reva dan Raka berjalan ketepian sungai. Tubuhnya sudah basah kuyup. Mereka menaiki sebuah mobil jeep untuk kembali ke penginapan. Mereka menggigil saat hembusan angin menerpa tubuhnya.
“Seru kan?!” ucap Reva dengan mata membulat sempurna.
“Iyaaa, lumayan lah ya, bisa lupain keselnya aku sama orang kantor.” Sahut Raka seraya tertawa.
“Aku pikir, kamu menikmati banget kerjaan di kantor, soalnya semua orang muji kehebatan kamu.” Puji Reva yang sering mendengar cerita tentang Raka dari para wanita yang bergosip di dalam toilet.
Raka hanya tersenyum. Ia tahu, sampai saat ini Reva belum mengetahui siapa ia sebenarnya. Raka tidak pernah bermaksud menyembunyikan apapun dari orang kantor, hanya saja ia merasa belum pantas di kenal sebagai penerus Adiyaksa Corp.
“Kamu udah sering main wahana ekstrim kayak gini re?” Raka mencoba mengalihkan pembicaraan.
Reva menggeleng seraya tersenyum. “Ini pertama kalinya.” Sahutnya sambil terkekeh. “Aku sering merasakan kecemasan dan ketakutan yang tidak jelas. Mimpi-mimpi buruk juga beberapa pengalaman masa lalu yang tiba-tiba muncul dan bikin aku bingung. Aku konsul ke salah satu psikolog, menurutnya karena aku terlalu sering melakukan supresi dan represi pengalaman yang tidak menyenangkan. Dan menurutnya lagi, cara terbaik yang harus aku lakukan adalah menghadapi semua rasa takut dan membiarkan semuanya terjadi. Permainan tadi, aku belum pernah tau seperti apa akhirnya, tapi aku coba hadapi rasa takut dan nikmati sisi indah yang ada di permainan tadi. Ternyata tidak terlalu buruk. Aku bisa mengenali diri sendiri lebih dalam saat menghadapi ketakutan. Aku merasakan ketakutan yang sama dengan kamu raka. Hanya saja, aku sedang mencoba menghadapi rasa takut itu.” Terang Reva dengan tatapan penuh keyakinan pada Raka. “Dan ada kamu, ternyata bisa membuatku lebih tenang.”
Reva kembali tersenyum di akhir kalimatnya.
Raka hanya terdiam. Ia tidak pernah tau sedalam apa pengalaman tidak menyenangkan yang pernah di alami Reva, tapi ia yakin Reva bisa menghadapinya.
“Apa kamu berfikir ini juga alasan kamu mau nerima aku?”
Reva terangguk. “Aku pernah kehilangan dan diabaikan. Tapi aku gag pernah tau cara menghadapi semuanya selain berusaha melupakan dengan sengaja. Jika kali ini aku luka lagi, aku tidak akan berusaha sekuat dulu melupakan, aku hanya tidak akan mengingatnya lagi dan membiarkan semuanya berlalu.” Timpal Reva.
Keduanya saling bertatapan, tidak ada yang mereka katakan. Tapi masing-masing berjanji dalam hati, untuk tidak melukai satu sama lain.
"Jika suatu saat kamu terluka gara-gara aku, maka aku akan melepaskan kamu dan membiarkan kamu bahagia meski bukan sama aku." batin Raka.
****
__ADS_1